Rusak Tatanan Kehidupan, Himpunan Psikologi Indonesia Tolak LGBT

Bagi pengusungnya, Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT) dianggap sebagai gaya hidup alternatif yang terkait dengan orientasi seksual. Menanggapi hal ini, Himpunan Psikologi Indonesia yang tergabung dalam IPK-HIMPSI menolak gerakan tersebut.

“Ikatan Psikologi Klinis (IPK-Himpsi) menentang segala upaya eksploitasi, manipulasi dan penyalahgunaan kecenderungan LGBT termasuk membujuk dan menghalang-halangi pemulihan,” tulis lembaga itu dalam sebuah pernyataan pada Ahad (14/02).



Lembaga yang menaungi para lulusan fakultas psikologi itu juga tidak membenarkan keberadaan organisasi maupun komunitas formal atau informal yang mendukung LGBT, karena bertentangan dengan budaya bangsa dan berpotensi merusak tatanan kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

Hal itu berdasarkan alasan ilmiah, dimana Tinjauan Psikologi Klinis memandang dan memahami hakekat manusia beserta berbagai manifestasi perilakunya, sebagai makhluk multidimensional. Yaitu dimensi biologis, psikologis, sosial, kultural dan spiritual. Masing-masing dimensi tersebut tidak dapat dipisahkan dan mempunyai kriteria umum dalam mewujudkan hakekat kemanusiaan seutuhnya yang sehat dan sejahtera. 

“Kecenderungan LGBT merupakan bagian dari tidak terpenuhinya satu atau lebih kriteria umum dimensi-dimensi tersebut,” lanjut pernyataan itu.
“Kecenderungan LGBT merupakan bagian dari tidak terpenuhinya satu atau lebih kriteria umum dimensi-dimensi tersebut.” 
 ~ Ikatan Psikologi Klinis - Himpunan Psikologi Indonesia (IPK-Himpsi)

Lembaga yang bermula dari Ikatan Sarjana Psikologi ini memandang bahwa kecenderungan LGBT merupakan bagian dari pergumulan individu untuk menemukan jatidiri yang hakiki dan harkat kemanusiannya. Oleh karenanya penyandang LGBT perlu diperlakukan secara manusiawi, berkeadilan dan beradab.

Dari sinilah, pihaknya berkomitmen untuk memberikan layanan yang professional baik preventif (pencegahan) maupun kuratif (pengobatan) bagi individu atau kelompok dengan kecenderungan LGBT yang membutuhkannya.

Selain itu, berpegang kepada Kode Etik Psikologi Indonesia, lembaga yang bermula pada tahun 1959 tersebut berkomitmen untuk senantiasa mengupayakan kesejahteraan (well-being) dari klien yang membutuhkan pertolongan.



Foto: Ahmad Zubaidi/Okezone http://goo.gl/DXl0om

Riset Himpunan Dokter Spesialis Jiwa: LGBT termasuk Orang Berpenyakit Jiwa

Melihat maraknya fenomena Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT), Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) mengeluarkan hasil telaah yang menunjukkan bahwa LGBT masuk dalam kategori ODMK (Orang Dengan Masalah Kesehatan Jiwa).

“Hal itu merujuk pada terminologi ODMK pada UU No. 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa,” lanjut pernyataan yang dikeluarkan Ketua Seksi RSP PDSKJI, Dr. dr. Fidiansjah, SpKJ, MPH pada Jum’at, 5 Februari 2016.

Pernyataan tersebut keluar sebagai kontribusi Seksi RSP selaku perwakilan resmi PDSKJI untuk mengoptimalisasi kesehatan jiwa individu pelaku LGBT. Setelah melakukan pertemuan dengan ormas perempuan Islam, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta beberapa Ormas Keagamaan Perempuan Lintas Agama.

Selain menegaskan tentang status pelaku LGBT, dalam hal ini RSP PDSKJI juga membuat panduan tatalaksana promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif bagi individu LGBT dari perspektif religi, spiritualitas dan kearifan lokal bangsa Indonesia. 

Reporter: Ibass
Editor: M. Rudy
KIBLAT.NET 16\02\2016 http://goo.gl/zxoiPP
REPUBLIKA.CO.ID http://goo.gl/QZfLIV



Foto: bbc.com

Penjelasan Psikolog Berdasarkan Pengakuan Pasien Gay

Psikolog keluarga dan anak, Roslina Verauli mengungkapkan beberapa teori yang mengacu pada faktor-faktor psikososial yang memicu seseorang menjadi Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).


Roslina Verauli
Di dinding Facebook-nya, Roslina menjelaskan LGBT mulai dari masalah emosional terkait pengalaman cinta masa lalu, dengan orang tua maupun cinta romantis saat remaja, hingga pengasuhan orang tua.

"Dari sejumlah profil klien gay, umumnya merupakan anak lelaki yang memiliki penghayatan negatif tentang ayahnya, hingga absennya figur ayah, termasuk tentang relasi intim ayah dan ibunya," tulis Roslina, Sabtu (6/2). (LGBT Bawaan Lahir atau Bukan?).

Absennya Ayah mengakibatkan kelekatan secara berlebihan anak pada figur ibu. Anak juga memiliki kedekatan yang tinggi dengan profil ibu yang relatif dominan.

Beberapa yang lainnya adalah individu yang pernah mengalami pelecehan dan paksaan seksual oleh orang dewasa berjenis kelamin sama di usia anak-anak. Kelak di usia remaja, saat fantasi seksualnya aktif, ingatan dan pengalaman seksual sejenis dari masa lalu membayangi. "Mereka mengira, aktivitas seksual tersebut yang membangkitkan gairah," katanya.

Ada pula yang menyebutkan pengaruh faktor lingkungan pertemanan yang turut memengaruhi orientasi seksual. Namun, belum ada satu pendekatan pun yang dapat memberikan uraian meyakinkan untuk dapat dianggap sebagai faktor penyebab. Sebab, ada banyak pula individu dengan profil psikososial di atas yang tidak menjadi homoseksual.

REPUBLIKA.CO.ID 06\02\2016 | http://goo.gl/cPF0wC


Aming di Parade Gay New York. http://goo.gl/N3koXu

1 komentar:

Jumat, 19 Agustus 2016 09.21.00 WIB menang BERSAMA mengatakan...

LGBT itu penyakit masyarakat
Bagaimana mengatasinya?
Ya harus lewat masayarakat yang telah di edukasi tentang tata cara penganganan dan pencegahan munculnya penyakita masyarakat LGBT

Poskan Komentar

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
23