10 Hal yang Membuat Koruptor Tidak Pernah Jera

Koordinator Bidang Monitoring Hukum dan Peradilan Indonesia Corruption Watch (ICW), Emerson Yuntho, menilai hukuman terhadap koruptor di Indonesia terlalu ringan.

Emerson menyebutkan, ada 10 hal yang membuat koruptor di Indonesia tidak merasakan efek jera.

"Pemantauan ICW, khusus untuk kasus korupsi pada tahun 2015, rata-rata hukuman cuma 2 tahun 2 bulan," kata Emerson dalam diskusi Gerakan Antikorupsi di Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (18/2/2016).

"Jaksa menuntut hanya 3 tahun, kita agak sulit menyatakan koruptor akan jera," ujarnya.

Emerson Yuntho
1 Pertama, menurut Emerson, vonis bagi koruptor di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi terlalu ringan.

2 Kedua, proses hukum hanya menjerat pelaku korupsi, bukan hanya keluarga atau kerabat yang terkait dalam kasus pencucian uang.

3 Ketiga, hukuman hanya berupa pemenjaraan, tidak memiskinkan pelaku korupsi. Padahal, menurut Emerson, rata-rata koruptor itu lebih takut disita harta dan kekayaannya ketimbang dipenjara dalam waktu lama.

4 Keempat, menurut Emerson, dalam beberapa kasus, hakim menjatuhkan hukuman uang pengganti, tetapi hukuman itu bisa diganti dengan subsider pemenjaraan. Pada akhirnya koruptor memilih dipenjara.

"Bayar uang pengganti adalah wajib, kalau tidak bayar, koruptor itu tidak boleh lolos dari penjara. Jangan berikan hak subsider dalam undang-undang," kata Emerson.
"Bayar uang pengganti adalah wajib, kalau tidak bayar, koruptor itu tidak boleh lolos dari penjara. Jangan berikan hak subsider dalam undang-undang."
~ Emerson Yuntho, Koordinator Bidang Monitoring Hukum dan Peradilan Indonesia Corruption Watch (ICW)

Ada istana di penjara.

5 Kelima, pemerintah melalui petugas lapas dinilai masih memberikan kemewahan bagi para koruptor. Misalnya, lapas khusus yang menyediakan berbagai fasilitas bagi koruptor.

6 Keenam, mantan terpidana koruptor masih bisa mengikuti pemilu legislatif dan pemilihan kepala daerah. Hal ini sebagai dampak tidak dicabutnya hak politik bagi terpidana kasus korupsi.

7 Ketujuh, para koruptor dalam status tersangka dan terdakwa masih dapat menjadi pejabat publik dan masih mendapat pensiun.

8 Kedelapan, walaupun ditetapkan sebagai terdakwa, seorang koruptor tidak dilakukan penahanan dan pencekalan.

Artalyta Suryani alias Ayin, didampingi pengacaranya OC Kaligis. Foto: ANTARA

9 Kesembilan, hukuman tidak membuat jera, misalnya, ada terdakwa kasus korupsi, yakni Nazaruddin dan Artalita Suryani, yang masih bisa menjalankan bisnis.

10 Kesepuluh, walaupun berstatus tersangka atau terdakwa, seorang koruptor masih bisa menduduki jabatan publik.

"Di Riau, kepala dinas Kehutanan adalah mantan terpidana kasus korupsi. Di Kepulauan Riau, gubernur sempat ingin mengangkat kepala dinas Kelautan yang dari terpidana," kata Emerson.
 

Rusak Tatanan Kehidupan, Himpunan Psikologi Indonesia Tolak LGBT

Bagi pengusungnya, Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT) dianggap sebagai gaya hidup alternatif yang terkait dengan orientasi seksual. Menanggapi hal ini, Himpunan Psikologi Indonesia yang tergabung dalam IPK-HIMPSI menolak gerakan tersebut.

“Ikatan Psikologi Klinis (IPK-Himpsi) menentang segala upaya eksploitasi, manipulasi dan penyalahgunaan kecenderungan LGBT termasuk membujuk dan menghalang-halangi pemulihan,” tulis lembaga itu dalam sebuah pernyataan pada Ahad (14/02).



Lembaga yang menaungi para lulusan fakultas psikologi itu juga tidak membenarkan keberadaan organisasi maupun komunitas formal atau informal yang mendukung LGBT, karena bertentangan dengan budaya bangsa dan berpotensi merusak tatanan kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

Hal itu berdasarkan alasan ilmiah, dimana Tinjauan Psikologi Klinis memandang dan memahami hakekat manusia beserta berbagai manifestasi perilakunya, sebagai makhluk multidimensional. Yaitu dimensi biologis, psikologis, sosial, kultural dan spiritual. Masing-masing dimensi tersebut tidak dapat dipisahkan dan mempunyai kriteria umum dalam mewujudkan hakekat kemanusiaan seutuhnya yang sehat dan sejahtera. 

“Kecenderungan LGBT merupakan bagian dari tidak terpenuhinya satu atau lebih kriteria umum dimensi-dimensi tersebut,” lanjut pernyataan itu.
“Kecenderungan LGBT merupakan bagian dari tidak terpenuhinya satu atau lebih kriteria umum dimensi-dimensi tersebut.” 
 ~ Ikatan Psikologi Klinis - Himpunan Psikologi Indonesia (IPK-Himpsi)

Lembaga yang bermula dari Ikatan Sarjana Psikologi ini memandang bahwa kecenderungan LGBT merupakan bagian dari pergumulan individu untuk menemukan jatidiri yang hakiki dan harkat kemanusiannya. Oleh karenanya penyandang LGBT perlu diperlakukan secara manusiawi, berkeadilan dan beradab.

Dari sinilah, pihaknya berkomitmen untuk memberikan layanan yang professional baik preventif (pencegahan) maupun kuratif (pengobatan) bagi individu atau kelompok dengan kecenderungan LGBT yang membutuhkannya.

Selain itu, berpegang kepada Kode Etik Psikologi Indonesia, lembaga yang bermula pada tahun 1959 tersebut berkomitmen untuk senantiasa mengupayakan kesejahteraan (well-being) dari klien yang membutuhkan pertolongan.



Foto: Ahmad Zubaidi/Okezone http://goo.gl/DXl0om

Riset Himpunan Dokter Spesialis Jiwa: LGBT termasuk Orang Berpenyakit Jiwa

Melihat maraknya fenomena Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT), Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) mengeluarkan hasil telaah yang menunjukkan bahwa LGBT masuk dalam kategori ODMK (Orang Dengan Masalah Kesehatan Jiwa).

“Hal itu merujuk pada terminologi ODMK pada UU No. 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa,” lanjut pernyataan yang dikeluarkan Ketua Seksi RSP PDSKJI, Dr. dr. Fidiansjah, SpKJ, MPH pada Jum’at, 5 Februari 2016.

Pernyataan tersebut keluar sebagai kontribusi Seksi RSP selaku perwakilan resmi PDSKJI untuk mengoptimalisasi kesehatan jiwa individu pelaku LGBT. Setelah melakukan pertemuan dengan ormas perempuan Islam, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta beberapa Ormas Keagamaan Perempuan Lintas Agama.

Selain menegaskan tentang status pelaku LGBT, dalam hal ini RSP PDSKJI juga membuat panduan tatalaksana promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif bagi individu LGBT dari perspektif religi, spiritualitas dan kearifan lokal bangsa Indonesia. 

Reporter: Ibass
Editor: M. Rudy
KIBLAT.NET 16\02\2016 http://goo.gl/zxoiPP
REPUBLIKA.CO.ID http://goo.gl/QZfLIV



Foto: bbc.com

Penjelasan Psikolog Berdasarkan Pengakuan Pasien Gay

Psikolog keluarga dan anak, Roslina Verauli mengungkapkan beberapa teori yang mengacu pada faktor-faktor psikososial yang memicu seseorang menjadi Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).


Roslina Verauli
Di dinding Facebook-nya, Roslina menjelaskan LGBT mulai dari masalah emosional terkait pengalaman cinta masa lalu, dengan orang tua maupun cinta romantis saat remaja, hingga pengasuhan orang tua.

"Dari sejumlah profil klien gay, umumnya merupakan anak lelaki yang memiliki penghayatan negatif tentang ayahnya, hingga absennya figur ayah, termasuk tentang relasi intim ayah dan ibunya," tulis Roslina, Sabtu (6/2). (LGBT Bawaan Lahir atau Bukan?).

Absennya Ayah mengakibatkan kelekatan secara berlebihan anak pada figur ibu. Anak juga memiliki kedekatan yang tinggi dengan profil ibu yang relatif dominan.

Beberapa yang lainnya adalah individu yang pernah mengalami pelecehan dan paksaan seksual oleh orang dewasa berjenis kelamin sama di usia anak-anak. Kelak di usia remaja, saat fantasi seksualnya aktif, ingatan dan pengalaman seksual sejenis dari masa lalu membayangi. "Mereka mengira, aktivitas seksual tersebut yang membangkitkan gairah," katanya.

Ada pula yang menyebutkan pengaruh faktor lingkungan pertemanan yang turut memengaruhi orientasi seksual. Namun, belum ada satu pendekatan pun yang dapat memberikan uraian meyakinkan untuk dapat dianggap sebagai faktor penyebab. Sebab, ada banyak pula individu dengan profil psikososial di atas yang tidak menjadi homoseksual.

REPUBLIKA.CO.ID 06\02\2016 | http://goo.gl/cPF0wC


Aming di Parade Gay New York. http://goo.gl/N3koXu

Jangan Bersedih, Tunggulah Akan Selalu Ada Jalan Keluar di Setiap Masalah!

Saudaraku,

Ada saatnya untuk kita menunggu jalan keluar atas segala masalah yang kita hadapi. Tentunya menunggu jalan keluar di sini tidaklah hanya sekadar menunggu. Ketika kita mulai dihimpit masalah dan tak tahu apa yang harus dilakukan, maka tugas kita adalah menunggu jalan keluar dengan terus berikhtiar semaksimal mungkin. Karena, bukankah Allah hanya akan mengubah takdir suatu kaum jika kaum itu mau berusaha dan berubah?

Jangan Bersedih, Tunggulah Jalan Keluar! 

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi disebutkan: 
"Sebaik-baik ibadah adalah menunggu jalan keluar."

Allah telah berfirman dalam surat cinta-Nya,

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath-Thalaq: 2)

“Dan, barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahalanya.” (QS. Ath-Thalaq: 5)

“Dan, barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan menjadikan baginya jalan kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4)

Salah seorang penyair berkata, 

Betapa banyak jalan keluar yang datang setelah rasa putus asa dan betapa banyak kegembiraan datang setelah kesusahan. 

Siapa yang berbaik sangka pada Pemilik 'Arasy dia akan memetik manisnya buah yang dipetik di tengah-tengah pohon berduri. 

Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan: "Aku sesuai sangkaan hamba-Ku kepada-Ku, maka ia bebas berprangsaka apa saja kepada-Ku."

Saudaraku,

Sudah seharusnya kita percaya dan yakin bahwa Allah akan senantiasa memberikan jalan keluar atas segala masalah yang tengah kita hadapi. Seperti yang telah Allah ungkapkan, jika kita ingin jalan keluar dan kemudahan dalam masalah-masalah kita, maka sudah seharusnya kita bertakwa kepada-Nya.

Sebagai makhluk yang lemah, tugas kita hanya terus meminta dan memohon kepada-Nya tanpa rasa lelah. Dia-lah yang akan mengatur hidup kita dengan sempurna, dan Dia pula yang akan memberikan jalan keluar atas masalah-masalah yang tengah kita hadapi.

Saudaraku,

Mari kita simak firman Allah yang satu ini,

“Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi tentang keimanan mereka dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkanlah orang-orang yang Kami kehendaki.” (QS. Yusuf: 110)

“Maka, sesungguhnya bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan: “Ketahuilah bahwa pertolongan itu ada bersama dengan kesabaran dan jalan keluar itu akan selalu beriringan dengan cobaan.”

Seorang penyair berkata, 

Jika persoalan telah sangat sulit, tunggulah jalan keluarnya, sebab ia akan segera menemukan jalan keluarnya. 

Penyair yang lain berkata, 

Banyak mata yang tetap melek dan banyak pula yang tidur dalam masalah yang mungkin terjadi atau tidak akan terjadi 
Tinggalkanlah kesedihan sedapat yang engkau lakukan sebab jika engkau terus bersedih engkau akan berubah menjadi gila
Sesungguhnya Rabb yang telah mencukupimu sebelumnya 
Dia kan mencukupimu besok dan hari-hari mendatang 

Penyair yang lain mengatakan, 

Biarkanlah takdir berjalan dengan tali kekangnya 
dan janganlah engkau tidur kecuali dengan had yang bersih 
Tak ada di antara kerdipan mata dan meleknya kecuali Allah kan mengubah dari kondisi ke kondisi lainnya.

Referensi

Jangan Merasa Diri Paling Suci

Saudaraku,

Selain Nabi SAW, tak ada orang yang suci. Tak ada orang yang luput dari kesalahan dan dosa. Sebaik apapun dia. Sebening apapun hatinya, selalu ada debu yang mengotorinya, meski nyaris tak terlihat.

Sebaik apapun ia, selalu ada khilaf yang membuatnya perlu memohon kemurahan Allah untuk mengampuni dosa-dosanya. Sebagus apapun akhlaknya –selagi ia bukan Nabi- pasti pernah melakukan keburukan dan dosa.

Saudaraku,

Tak ada orang yang terbebas dari dosa kecuali Nabi. Allah yang memberi penjagaan langsung kepada Nabi, sehingga terlindungi dari kesalahan. Di luar itu, meski ia adalah sahabat Nabi yang paling baik, tak ada yang memiliki sifat ma’sum*.
*)Maksum adalah orang yang terjauhkan, berkat kemurahan khusus Tuhan, dari segala macam kontaminasi dosa, segala perbuatan buruk dan tercela.
Lebih-lebih kita yang hidup sekarang ini, ketika ilmu tak ada pada kita kecuali sangat sedikit. Tak layak jika kita merasa suci hanya karena melihat ada orang yang pernah berbuat dosa, atau bahkan terang-terangan masih melakukan maksiat.

Allah telah berfirman, “Janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang paling bertakwa.” (QS. An-Najm 53: 32)

Saudaraku,

Janganlah kita merasa bahwa diri kita suci. Karena setiap dari kita tentunya pernah melakukan kesalahan. Jangan pula diri kita merasa bangga dengan amalan yang kita anggap sudah sangat baik. Padahal, bisa jadi amalan kita hanyalah amalan yang sedikit dibandingkan dengan orang yang sering kita rendahkan. Wallahu ‘alam.

Referensi: Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan/Mohammad Fauzil Adhim/Pro-U Media

Wahai Muhammad, Terangkan padaku Tentang Islam!

Dari Umar bin Khaththab ra., ia berkata : “Ketika kami sedang duduk di dekat Rasulullah SAW tiba-tiba muncul seorang lelaki berpakaian putih, berambut hitam pekat, bekas jalannya tidak terlihat dan tidak seorangpun di antara kami mengenalinya. Ia duduk menghadap Beliau SAW, lalu menyandarkan kedua lututnya ke lutut Nabi dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha Nabi, seraya berkata,

“Wahai Muhammad, terangkan kepadaku tentang Islam!”

Rasulullah SAW menjawab, “Islam adalah hendaknya engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, memberikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan melakukan ibadah haji ke Baitullah jika memenuhi syaratnya.”

Ia berkata : “Engkau benar!” Kami keheranan karenanya, dia bertanya tetapi membenarkannya. Lebih lanjut ia berkata, “Sekarang terangkanlah kepadaku tentang Iman!”

Rasulullah SAW menjawab, “Yaitu engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab- Nya, para Rasul-Nya dan hari akhir, serta engkau beriman kepada baik dan jeleknya taqdir.”

Ia berkata, “Engkau benar.”

“Selanjutnya terangkan kepadaku tentang ihsan!”

Rasulullah menjawab, “Yaitu hendaknya engkau beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya. Ketahuilah, bahwa Dia selalu melihatmu.”

Orang itu kembali bertanya, “Beritahukan kepadaku kapan terjadinya hari kiamat?”

Rasulullah SAW menjawab, “Tidaklah orang yang bertanya lebih mengetahui daripada yang ditanya.”

Orang itu berkata lagi, “Kalau begitu beritahukanlah tanda-tanda (terjadinya) hari kiamat!”

Rasulullah SAW menjawab, “Yaitu apabila budak perempuan melahirkan bayi perempuan yang akan menjadi majikannya dan engkau akan melihat orang yang asalnya tidak bersandal, telanjang, papa, penggembala kambing, menjadi orang-orang yang saling berlomba meninggikan bangunan rumahnya.”

Kemudian orang itu berlalu. Kami terdiam beberapa saat. Lalu Rasulullah SAW bertanya, “Hai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?”

Umar menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”

Rasulullah SAW memberitahukan, “Dia adalah Jibril. Ia datang untuk mengajari kalian tentang agama Islam.” (HR. Muslim)


Referensi: Ensiklopedia Hadits-hadits Adab/Imam Al-Bukhari

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
23