Israel, Amerika, dan Iran di Balik Proyek Pecah Belah Umat Islam


ISU pemecahbelahan terhadap dunia Islam tidak semuanya fakta; sebagaimana tidak seluruhnya isapan jempol belaka. Sebab, upaya untuk melumpuhkan kekuatan umat Islam merupakan proyek yang disepakati banyak kelompok. Posisi umat Islam persis seperti yang disinyalir dalam hadits: “gerombolan pemangsa yang berebutan terhadap makanannya.”

Sejarah sendiri menunjukkan bahwa kekuatan umat Islam terdapat dalam empat komponen vital: menegakkan manhaj yang hak, bersatu dalam manhaj tersebut, mengajak manusia kepadanya, dan akhirnya upaya membela manhaj itu. Keempat komponen inilah yang dikandung misi Ilahiyah kepada umat Islam dalam Al-Qur’an:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS. Ali Imran/3: 301)

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imran/3: 110)

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu…” (QS. al-Hajj/22: 78)

Dalam upayanya, musuh-musuh Islam senantiasa merongrong keempat komponen vital tersebut, baik global atau parsial. Biasanya dimulai dengan menyasar manhaj yang hak, kemudian meniupkan angin perpecahan, demi menciptakan friksi dalam internal umat sehingga kekuatannya lumpuh, tidak mampu lagi mengajak manusia kepada Islam atau melindungi dirinya.

Strategi ini tampak klise, namun selalu aktual. Musuh Islam kerap mendapatkan hasilnya, sementara umat yang menjadi korban menderita kekalahan yang pahitnya dirasakan hingga ke generasi berikutnya. Musuh-musuh Islam memecah negeri-negeri Muslim dan saling membagi hasil-hasil buminya.

Faktor-faktor perpecahan, berupa fanatisme jahiliyah kepada ego pribadi, ras, tanah air, bangsa, atau keturunan; merupakan penyakit yang mengendap dalam jiwa manusia (QS. Hud: 118-119). Oleh karena itu, faktor-faktor tersebut hanya menunggu manipulasi serta provokasi, khususnya terhadap pribadi-pribadi yang lemah.

Dalam konteks ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan umat agar tidak terpancing lewat faktor-faktor tersebut. Dalam kasus upaya kelompok Yahudi memantik fanatisme jahiliyah dalam diri kaum Muslim, dimana sebagiannya berhasil terprovokasi, Rasulullah menegur dengan keras:
“Jauhi seruan-seruan itu, sesungguhnya perkara tersebut tidak baik!” (HR. Bukhari, no. 3518)
Strategi ini menjadi senjata bagi generasi serta komprador Yahudi sepanjang zaman. Strategi yang berhasil menggiring generasi terbaik di era Nubuwah untuk memanggil dengan sentimen kelompok: “Wahai orang-orang Anshar!” yang dibalas pihak lawannya: “Wahai orang-orang Muhajirin!” Kendati kedua pihak segera tersadar setelah mereka diperingatkan.

Namun ketika kaum Muslim lengah, kelompok phobia Islam memanfaatkan kembali sentimen serta fanatisme kelompok tadi. Akibatnya, umat Islam terpecah dan negeri-negeri mereka terpisah. Proyek besar memecahbelahan umat selalu memanfaatkan faktor fanatisme jahiliyah, yang jelas dilarang Al-Qur’an. Fanatisme yang menjadikan standar cinta dan benci, kawan dan lawan; bukan karena ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Proyek besar memecahbelahan umat selalu memanfaatkan faktor fanatisme jahiliyah, yang jelas dilarang Al-Qur’an. Fanatisme yang menjadikan standar cinta dan benci, kawan dan lawan; bukan karena ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam banyak kasus, untuk tidak menyebut semuanya, lawan Islam tidak perlu menciptakan perbedaan pendapat di kalangan umat Islam. Mereka cukup memblow up serta memanipulasi perbedaan pendapat yang ada. Untuk menciptakan friksi dan persaingan yang sengit, hingga menghasilkan konflik yang kadang sampai kepada tingkat pertumpahan darah.

Sejak kolonialisme berhasil memecah negeri-negeri Islam pasca unifikasi di bawah payung kepemimpinan Khilafah Utsmaniyah, musuh-musuh umat tidak henti-hentinya mengembangkan strategi untuk menciptakan perpecahan baru. Proyek tersebut menggunakan beragam cara dan metode, tidak jarang intensitasnya berkurang; namun yang pasti tidak pernah berhenti. Kerap mengalami kegagalan, tapi tak mengenal putus asa. Sebab, apapun hasilnya, musuh Islam akan memetik keuntungan ganda.

“Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu.” (QS. al-Baqarah/2: 105)

  Dengan kata lain, politik belah bambu senantiasa membuahkan keuntungan ganda bagi lawan: kekuatan baru serta ekspansi, atau lumpuhnya kekuatan umat Islam.


Turkey in the First World War. (www.turkeyswar.com)

Pasca kekalahan Turki Utsmani di PD I, Inggris dan Prancis membagi dunia Timur Arab sesuai dengan kepentingan jangka pendek pada saat itu. Perjanjian tahun 1916 M yang dikenal dengan Sykes-Picot Agreement tersebut sesungguhnya disusun secara acak, yang sengaja menyimpan potensi konflik perbatasan. Potensi konflik tersebut lahir dari perbedaan agama, ras, atau aliran. Tiga sumbu “sektarianisme” yang sengaja dipelihara di daerah perbatasan negara yang telah terpecah, dan menjadi “bom waktu” yang sewaktu-waktu bisa meledak.


Peta Sykes-Picot Agreement. (Encyclopædia Britannica, Inc.)

Era perpecahan politik pertama merupakan proyek Eropa. Salibis Nasrani dengan berbagai sektenya membagi-bagi kekuasaan atas negeri-negeri kaum Muslim, pra dan pasca runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. Juga setelah menjamin tersedianya tanah rampasan buat komunitas Yahudi. Inggris menganeksasi Irak, Palestina, Mesir, dan Sudan. Prancis dijatah Suriah dan Maroko. Italia merampas Libia dan negeri-negeri tanduk Afrika. Tidak ketinggalan Belanda, Spanyol, dan Portugis yang mendapat bagian terhadap negeri Islam lainnya.

Di era kolonialisme tersebut, Salibis Nasrani menanamkan benih-benih disintegrasi, yang kelak bisa dimanfaatkan dalam menciptakan perpecahan baru, baik itu secara geografis, geopolitik, atau kekayaan alam. Tanpa kepentingan itu pun, cukup menimbulkan friksi agar kekuatan lawan (Islam) senantiasa dalam kondisi lumpuh, sibuk mengatasi konflik dan permasalahan internal.

Penulis akan mengangkat sejumlah proyek pemecahbelahan/separasi yang terbuka ke publik dalam beberapa dekade terakhir. Fakta yang membuktikan bahwa proyek tersebut sistematis dan terorganisir. Musuh-musuh Islam bermain di belakangnya, demi melumpuhkan kekuatan serta elemen vital umat yang disinggung di atas.


Afghanistan - Iraq - ISIS

Sebelum masuk ke detail proyek tersebut dengan segenap dinamika dan dampaknya, ada beberapa benang merah yang harus digarisbawahi terkait dengan proyek pemecahbelahan itu:

Pertama, bahwa proyek tersebut tidak sekadar teori di atas kertas, tapi dijalankan dan menjadi policy yang berlaku sejalan dengan kondisi yang ada.

Kedua, pihak yang menjadi korban utama dalam seluruh proyek tersebut adalah umat Islam umumnya, dan secara khusus Ahlus Sunnah, terlebih lagi bangsa Arab. Arab menjadi kawasan yang paling miskin dan terisolasi.

Ketiga, pasca era kolonialisme Inggris dan Prancis, ada tiga pihak yang menjalankan proyek tersebut dewasa ini: Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Keempat, ketiga pihak yang tersebut itu memiliki strategi ekspansinya masing-masing, yang berusaha membentangkannya ke wilayah dan kekayaan kelompok Sunni.

Kelima, ketiga pihak tersebut bisa saja berbeda pendapat dalam segala hal, kecuali permusuhan terhadap Muslim Sunni, sebagai rival ideologi; atau Arab, sebagai lawan ras.

Keenam, ketiga pihak tersebut memiliki agen yang bermain di tengah umat, beraksi di kelompok-kelompok minoritas. Nama-nama mereka sebagaimana Muslim pada umumnya, tapi dengan spirit dan militansi yang tidak jarang lebih tinggi daripada “sang majikan,” demi kepentingan sesaat dengan mengorbankan kepentingan kaum Muslim.

Ketujuh, ada banyak kemiripan yang sangat kentara dari sejumlah proyek tersebut, walaupun aktor dan waktu terjadinya berbeda. Semuanya sama memandang pentingnya berkonsentrasi kepada empat wilayah yang merepresentasikan jantung umat Islam: Syam, Mesir, Irak, dan Jazirah Arabia. Selanjutnya adalah daerah-daerah yang punya nilai strategis sendiri.

Kedelapan, Zionisme global, baik itu sayap Yahudi atau Nasrani, memiliki peran sentral dalam menanamkan proyek pemecahbelahan tersebut, sekaligus yang memetik hasilnya. Tidak ada satu pun proyek pemecahbelahan yang tidak melibatkan tangan-tangan Zionisme, sebagai teoritikus atau pihak yang diuntungkan.

Israel

Pada tahun 1982, sebuah dokumen rencana proyek pemecahbelahan yang menyasar sebagian besar negara Arab terungkap. Isi dokumen tersebut demikian berbahaya. Sebagian besar rencana yang dimuat di dalamnya telah terwujud di Irak dan Sudan; sedangkan yang menunggu adalah Mesir, Suriah, Yaman, dan Libya, bila kita tidak mengubah sikap. Dalam laporan organisasi Zionisme internasional yang dimuat majalah Kivunim (14/2/1982) yang dikutip koran Mesir al-Ahram al-Iqtishadi, tersebut skenario persis sebagaimana yang terjadi di Irak saat ini dan diberlakukan terhadap Suriah sejak saat itu.

Laporan tersebut di antaranya menulis: “Irak yang kaya dengan minyaknya merupakan negari (a) yang rawan konflik internal, dan dapat disasar oleh Zionisme. Kehancuran Irak bagi kami lebih penting daripada Suriah. Sebab, dalam jangka dekat Irak adalah ancaman paling berbahaya bagi negeri Ibrani.”

Sedangkan untuk Suriah, laporan tersebut menulis:

Suriah secara mendasar tidak berbeda jauh dengan Libanon yang terdiri dari faksi-faksi yang berbeda, kecuali dari segi pemerintahan junta militer yang berkuasa. Tapi konflik vertikal antara mayoritas Sunni dengan minoritas Syiah-Nushairiyah (12%) yang berkuasa mengindikasikan potensi konflik yang rumit. Memecah Suriah dan Irak berdasar kelompok ras atau agama menjadi negara-negara kecil yang indipenden di masa depan merupakan tujuan jangka pendek Zionisme di kawasan Timur. Suriah kelak akan menjadi negara-negara kecil sesuai dengan komponen ras dan sekte di dalamnya.

Laporan tersebut selanjutnya mencatat rencana terhadap Sudan dan Mesir, sebagaimana perkembangan kondisi yang terjadi akhir-akhir ini.


ISIS Exposed: MUST SEE Shocking Interview! http://goo.gl/BluYsx

Sebelum rencana yang detail tersebut dimuat majalah Kivunim tahun 1982, terbit sebuah buku berjudul Khanjar Israil/Belati Israel (1957) oleh penulis bernama R.K. Karanjia. Buku tersebut memuat dokumen yang dikenal dengan nama Dokumen Karanjia sesuai dengan nama jurnalis India tersebut. Gamal Abdel Nasser, Presiden Mesir saat itu, yang menyerahkan dokumen tersebut kepada Karanjia, setelah bocor atau dibocorkan dari Staf Angkatan Bersenjata Zionis.

Dokumen itu berisi rencana memecah negara-negara Arab pasca Sykes-Picot Agreement. Suriah dibagi kepada negera Druze (sekte, pent.) di daerah selatan, Nushairiyah di Latakia, Sunni di Damaskus dan sekitarnya. Selanjutnya Syiah di Selatan Lebanon, lainnya Maronites, Sunni di wilayah tengah dan utara. Tidak lupa negara merdeka bagi suku Kurdi di Irak, Syiah di selatan, sedangkan Sunni terisolasi di wilayah tengah Irak, Baghdad dan sekitarnya.

Amerika Serikat

Amerika, sebagaimana juga Israel, melihat bahwa Inggris dan Prancis sesungguhnya melakukan dua kekeliruan dalam konteks Sykes-Picot Agreement yang membagi sisa-sisa Turki Utsmani. Salah satunya adalah bahwa kesepakatan tersebut dibuat secara acak, terdorong oleh kepentingan sesaat, tanpa mengoptimalkan sekat-sekat sektarian berupa agama atau aliran keyakinan. Lantaran itu, pernyataan-pernyataan politik AS dan Israel tentang pemecahan negara-negara Arab senantiasa berangkat dari revisi terhadap Sykes-Picot Agreement itu.

Kesalahan kedua adalah terlalu sedikitnya negara yang berhasil dilahirkan lewat kesepakatan tersebut. Seharusnya, versi AS dan Israel, lebih banyak lagi jumlah negara yang lahir.

Hingga beberapa tahun terakhir, AS memiliki ambisi ekspansi yang besar, yang bertumpu pada penguasaan terhadap sumber-sumber minyak dunia yang strategis: Irak, Iran, laut Kaspia, dan negara-negara Teluk Arab. Proyek tersebut dikenal sebagai Project for the New American Century (PNAC), yang dipromotori oleh kelompok konservatif baru Yahudi yang berada di pusat kekuasaan era Bush Junior. Hanya saja proyek tersebut gagal akibat dampak dari perlawanan terhadap pendudukan AS terhadap Irak dan Afghanistan, yang menurut rencana sesungguhnya menarget lima negara lainnya.

Di tengah larutnya AS dalam berbagai invasinya, dalam rangka mewujudkan New American Century itu, mencuat banyak wacana tentang proyek AS dalam rangka pemecahan negara-negara, khususnya tentang Geater Middle East. Satu yang sangat populer adalah proposal yang diterbitkan oleh Bernard Lewis, Yahudi Inggris berkebangsaan Amerika. Dalam serangannya terhadap Irak dan Afghanistan, AS berkgerak mewujudkan visi Lewis, yang digagasnya di era 40-an. Gagasan yang diperbaruinya di awal era 80-an dan diterapkan pada awal dekade yang sama.

Proyek Lewis dalam rangka memecah negara-negara Islam dan Arab berdasar kepada tiga fondasi, sesuai perspektif AS dan Israel, yaitu perbedaan agama, sekte, dan ras. Lewis juga menuntut untuk mengubah institusi Islam dan Arab tidak lebih sebagai “bangunan yang terbuat dari kertas karton,” yang senantiasa lemah sehingga menjamin eksistensi kekuatan Yahudi.

Sejak dini, proposal Lewis menginginkan agar Irak dibagi menjadi tiga, persis dengan rencana Yahudi yang disinggung sebelumnya. Sedangkan Suriah menjadi empat bagian: Alawiyyin/Nushairiyah, dua bagian buat Sunni, dan sisanya buat Druze. Mesir diproyeksikan untuk menjadi empat bagian: Sina dan timur Delta buat kekuasaan Zionis (dalam rangka Israel Raya), utara Mesir buat Koptik Mesir dengan ibu kota Iskandariyah, selatan buat Nobian dengan pusatnya Aswan, dan sisanya buat kaum Muslim dengan ibu kotanya Kairo.

Dalam proyeksi Lewis, Sudan menjadi empat bagian: selatannya buat kelompok Nasrani dan masyarakat pagan, ujung utara buat Nobian, yang akan terkoneksi dengan Nobian di selatan Mesir; Darfur buat kaum Muslim non-Arab, sedangkan Muslim Arab di bagian tengah.

Adapun Yaman, dia bagi kepada utara dan selatan. Negara-negara Teluk menurut Lewis harus dibagi kepada negara Syiah Arab yang terletak di pantai barat Teluk Arab, yang akan mencakup selatan Irak bila kelak terpisah; utara semenanjung Arab yang digabung dengan Urdun, sebagai negara alternatif bagi bangsa Palestina, rencana yang gigih diperjuangkan oleh Ariel Sharon. Selanjutnya Lewis menginginkan agar manajemen Makkah dan Madinah dipergilirkan, hal yang juga dituntut oleh sekte Rafidhah sejak bertahun lamanya. Adapun jantung Jazirah, maka dibiarkan bagi Sunni Arab, tanpa kekuatan dan potensi kekayaan alam!

Tahun 2006, majalah Angkatan Bersenjata AS edisi Juni mengangkat sebuah artikel oleh Ralph Peters, seorang pensiunan pejabat intelijen AS, yang mengajukan proposal untuk membagi ulang negara-negara Arab dan Islam berdasar ras dan keturunan. Dia membuat peta yang disebutnya “blood borders” yang diajukannya kepada otoritas AS agar dijalankan, sebagaimana Inggris dan Prancis dengan Sykes-Picot Agreement.


Endless War

Dalam peta yang dibuatnya, Peters mengulang kembali detail proyek pemecahbelahan sebelumnya yang pernah ada, khusus yang terkait dengan negara-negara Arab inti. Tapi dia menambahkan usulan sejumlah negara baru setelah negara lama yang dibubarkan.

Visi Ralph Peters dangkal dan tidak realistis. Akan tetapi dia mengungkapkan, meminjam pernyataan Abdulwahab Musayri, simpul pemikiran di kalangan pemegang kebijakan AS terhadap dunia Islam. Sebab, penulis artikel tersebut adalah seorang kolonel yang dekat dengan pemegang kebijakan di samping posisinya di institusi intelijen. Artikel tersebut juga dimuat di majalah resmi angkatan bersenjata, yang merepresentasikan kebijakan lembaga.

Kelak, proposal Peters terbukti tidak lahir dari ruang hampa. Tepat setelah perang Lebanon berkobar tahun 2006, menlu AS saat itu, Condoleezza Rice segera mengumumkan bahwa peta Timur Tengah sedang direkonstruksi! Rice menduga bahwa perang akan semakin melebar hingga ke kawasan sekitarnya, sehingga proyek tersebut akan berjalan.

Iran

Ketika revolusi Iran pecah yang disusul oleh perang berdarah Iran-Irak, yang berlangsung selama delapan tahun di bawah dukungan Barat, beberapa tuntutan mengemuka untuk merebut kembali wilayah yang dicaplok Iran, seperti Shatt al-Arab, Arabistan, dan pulau-pulau Emirat Arab. Khomeini saat itu menjawab: “Jika kalian menginginkan daerah tersebut karena merupakan daerah Arab secara historis, maka sesungguhnya Imperium Persia, dalam sejarahnya, membentang dari Khurasan (Iran dan Afghanistan) hingga Yaman!”


Sayyid Ayatollah Ruhollah Khomeini ialah tokoh Revolusi Iran dan merupakan Pemimpin Agung Iran pertama. Lahir di Khomeyn, Iran. (Wikipedia). Khomeini adalah keturunan India, keluarganya beragama Sikh. (http://goo.gl/ogJEnP)

Beberapa dekade setelah pernyataan itu, konspirasi Revolusi Iran terhadap kawasan Khurasan hingga Yaman tidak pernah berhenti. Di Yaman, pengaruh Syiah-Persia di wilayah utara menjadi ancaman serius bagi seluruh semenanjung Arab.

Boleh jadi Iran tidak memiliki rencana yang dibuka ke publik, sebagimana kasus Israel dan AS, apalagi karena Syiah bertumpu kepada doktrin “taqiyah” yang merambah sampai ke urusan politik. Akan tetapi jelas bahwa Iran mengambil keuntungan dari setiap proyek pemecahbelahan yang lain. Baik itu lewat kolaborasi langsung, atau keuntungan tidak langsung. Karena setiap kali posisi Ahlus Sunnah melemah, maka akan menambah defisit kekuatan Iran, rival historis Ahlus Sunnah sejak Shafawiyah mengintrodusir Syiahisme ke negeri Faris.

Irak, yang diumumkan oleh Israel akan dipecahbelah sejak empat dekade lewat, tidak hanya direngkuh sepertiga bagiannya, yang kaya sumber daya alam, oleh Syiah. Bahkan seluruh daerah Irak sesungguhnya telah jatuh ke dalam kekuasaan Syiah, lewat koalisi semu dan dengan tokoh sekuler yang menjadi kaki tangannya. Lebanon, yang sebelumnya diproyeksikan akan dibagi menjadi delapan bagian berdasar kelompok sekte, telah dikuasai seluruhnya oleh Syiah yang pro-Iran, dalam gerakan yang mirip kudeta politik.

Jika Yaman diwacanakan terbagi kepada utara dan selatan yang terpisah, maka proyek Syiah mencakup keduanya. Iran bermain di belakang kemarahan kelompok separatis di selatan Yaman, sambil mendukung gerakan di utara Yaman yang bersuara menuntut persamaan. Itu dilakukannya dengan blow up media yang sitematis dan tanpa henti terhadap gerakan Houthi.

Gerakan separatis di Bahrain telah melampau batas obsesi, menjadi serakah. Iran tidak hanya menginginkan salah satu laut Bahrain, tapi kedua-duanya. Menjadi sebuah republik Syiah revolusioner yang pertama di Teluk Arab yang Sunni. Yang akan menjadi “magnet” bagi “republik-republik” Syiah selanjutnya.

Suriah dewasa ini menjadi buah bibir proyek pemecahbelahan pasca rezim Ba’ath-Nushairiyah. Peta lama menginginkan wilayah utara dengan ibu kota Latakia diserahkan kepada Nushairiyah (Alawiyah). Adapun Iran, berusaha keras untuk tidak menyia-nyiakan momentum demi menjamin kepentingannya berupa jalur masuk lewat Laut Tengah, melalui sebuah negera boneka kecil yang dihuni kelompok Nushairiyah. Negara bentukan Rafidhah tersebut akan menjadi duri abadi di jantung wilayah Syam (Islam-Sunni).

Iran bertaruh dengan semua proyek pemecahbelahan yang mengacu kepada faktor sektarianisme aliran. Di samping berusaha mencabut bagian-bagian dari wilayah Ahlus Sunnah yang berpenduduk mayoritas Syiah, Iran juga tidak ketinggalan menanamkan pengaruhnya di negeri-negeri mayoritas Sunni lainnya. Upaya infiltrasi dilakukan Iran secara intensif di Mesir, Palestina, Sudan, dan banyak negara Afrika dan Asia.

Artikel ini tidak mampu menyorot semua bahasan terkait proyek krusial pemecahbelahan yang terjadi di negeri-negeri Islam. Apa yang diketengahkan tidak lebih merupakan garis besarnya saja. Paparan yang lebih rinci akan dikemuakakan pada tulisan yang lain, dengan izin Allah. [pz/albayan.co.uk/Islampos]

10 Hal yang Membuat Koruptor Tidak Pernah Jera

Koordinator Bidang Monitoring Hukum dan Peradilan Indonesia Corruption Watch (ICW), Emerson Yuntho, menilai hukuman terhadap koruptor di Indonesia terlalu ringan.

Emerson menyebutkan, ada 10 hal yang membuat koruptor di Indonesia tidak merasakan efek jera.

"Pemantauan ICW, khusus untuk kasus korupsi pada tahun 2015, rata-rata hukuman cuma 2 tahun 2 bulan," kata Emerson dalam diskusi Gerakan Antikorupsi di Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (18/2/2016).

"Jaksa menuntut hanya 3 tahun, kita agak sulit menyatakan koruptor akan jera," ujarnya.

Emerson Yuntho
1 Pertama, menurut Emerson, vonis bagi koruptor di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi terlalu ringan.

2 Kedua, proses hukum hanya menjerat pelaku korupsi, bukan hanya keluarga atau kerabat yang terkait dalam kasus pencucian uang.

3 Ketiga, hukuman hanya berupa pemenjaraan, tidak memiskinkan pelaku korupsi. Padahal, menurut Emerson, rata-rata koruptor itu lebih takut disita harta dan kekayaannya ketimbang dipenjara dalam waktu lama.

4 Keempat, menurut Emerson, dalam beberapa kasus, hakim menjatuhkan hukuman uang pengganti, tetapi hukuman itu bisa diganti dengan subsider pemenjaraan. Pada akhirnya koruptor memilih dipenjara.

"Bayar uang pengganti adalah wajib, kalau tidak bayar, koruptor itu tidak boleh lolos dari penjara. Jangan berikan hak subsider dalam undang-undang," kata Emerson.
"Bayar uang pengganti adalah wajib, kalau tidak bayar, koruptor itu tidak boleh lolos dari penjara. Jangan berikan hak subsider dalam undang-undang."
~ Emerson Yuntho, Koordinator Bidang Monitoring Hukum dan Peradilan Indonesia Corruption Watch (ICW)

Ada istana di penjara.

5 Kelima, pemerintah melalui petugas lapas dinilai masih memberikan kemewahan bagi para koruptor. Misalnya, lapas khusus yang menyediakan berbagai fasilitas bagi koruptor.

6 Keenam, mantan terpidana koruptor masih bisa mengikuti pemilu legislatif dan pemilihan kepala daerah. Hal ini sebagai dampak tidak dicabutnya hak politik bagi terpidana kasus korupsi.

7 Ketujuh, para koruptor dalam status tersangka dan terdakwa masih dapat menjadi pejabat publik dan masih mendapat pensiun.

8 Kedelapan, walaupun ditetapkan sebagai terdakwa, seorang koruptor tidak dilakukan penahanan dan pencekalan.

Artalyta Suryani alias Ayin, didampingi pengacaranya OC Kaligis. Foto: ANTARA

9 Kesembilan, hukuman tidak membuat jera, misalnya, ada terdakwa kasus korupsi, yakni Nazaruddin dan Artalita Suryani, yang masih bisa menjalankan bisnis.

10 Kesepuluh, walaupun berstatus tersangka atau terdakwa, seorang koruptor masih bisa menduduki jabatan publik.

"Di Riau, kepala dinas Kehutanan adalah mantan terpidana kasus korupsi. Di Kepulauan Riau, gubernur sempat ingin mengangkat kepala dinas Kelautan yang dari terpidana," kata Emerson.
 

Rusak Tatanan Kehidupan, Himpunan Psikologi Indonesia Tolak LGBT

Bagi pengusungnya, Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT) dianggap sebagai gaya hidup alternatif yang terkait dengan orientasi seksual. Menanggapi hal ini, Himpunan Psikologi Indonesia yang tergabung dalam IPK-HIMPSI menolak gerakan tersebut.

“Ikatan Psikologi Klinis (IPK-Himpsi) menentang segala upaya eksploitasi, manipulasi dan penyalahgunaan kecenderungan LGBT termasuk membujuk dan menghalang-halangi pemulihan,” tulis lembaga itu dalam sebuah pernyataan pada Ahad (14/02).



Lembaga yang menaungi para lulusan fakultas psikologi itu juga tidak membenarkan keberadaan organisasi maupun komunitas formal atau informal yang mendukung LGBT, karena bertentangan dengan budaya bangsa dan berpotensi merusak tatanan kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

Hal itu berdasarkan alasan ilmiah, dimana Tinjauan Psikologi Klinis memandang dan memahami hakekat manusia beserta berbagai manifestasi perilakunya, sebagai makhluk multidimensional. Yaitu dimensi biologis, psikologis, sosial, kultural dan spiritual. Masing-masing dimensi tersebut tidak dapat dipisahkan dan mempunyai kriteria umum dalam mewujudkan hakekat kemanusiaan seutuhnya yang sehat dan sejahtera. 

“Kecenderungan LGBT merupakan bagian dari tidak terpenuhinya satu atau lebih kriteria umum dimensi-dimensi tersebut,” lanjut pernyataan itu.
“Kecenderungan LGBT merupakan bagian dari tidak terpenuhinya satu atau lebih kriteria umum dimensi-dimensi tersebut.” 
 ~ Ikatan Psikologi Klinis - Himpunan Psikologi Indonesia (IPK-Himpsi)

Lembaga yang bermula dari Ikatan Sarjana Psikologi ini memandang bahwa kecenderungan LGBT merupakan bagian dari pergumulan individu untuk menemukan jatidiri yang hakiki dan harkat kemanusiannya. Oleh karenanya penyandang LGBT perlu diperlakukan secara manusiawi, berkeadilan dan beradab.

Dari sinilah, pihaknya berkomitmen untuk memberikan layanan yang professional baik preventif (pencegahan) maupun kuratif (pengobatan) bagi individu atau kelompok dengan kecenderungan LGBT yang membutuhkannya.

Selain itu, berpegang kepada Kode Etik Psikologi Indonesia, lembaga yang bermula pada tahun 1959 tersebut berkomitmen untuk senantiasa mengupayakan kesejahteraan (well-being) dari klien yang membutuhkan pertolongan.



Foto: Ahmad Zubaidi/Okezone http://goo.gl/DXl0om

Riset Himpunan Dokter Spesialis Jiwa: LGBT termasuk Orang Berpenyakit Jiwa

Melihat maraknya fenomena Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT), Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) mengeluarkan hasil telaah yang menunjukkan bahwa LGBT masuk dalam kategori ODMK (Orang Dengan Masalah Kesehatan Jiwa).

“Hal itu merujuk pada terminologi ODMK pada UU No. 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa,” lanjut pernyataan yang dikeluarkan Ketua Seksi RSP PDSKJI, Dr. dr. Fidiansjah, SpKJ, MPH pada Jum’at, 5 Februari 2016.

Pernyataan tersebut keluar sebagai kontribusi Seksi RSP selaku perwakilan resmi PDSKJI untuk mengoptimalisasi kesehatan jiwa individu pelaku LGBT. Setelah melakukan pertemuan dengan ormas perempuan Islam, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta beberapa Ormas Keagamaan Perempuan Lintas Agama.

Selain menegaskan tentang status pelaku LGBT, dalam hal ini RSP PDSKJI juga membuat panduan tatalaksana promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif bagi individu LGBT dari perspektif religi, spiritualitas dan kearifan lokal bangsa Indonesia. 

Reporter: Ibass
Editor: M. Rudy
KIBLAT.NET 16\02\2016 http://goo.gl/zxoiPP
REPUBLIKA.CO.ID http://goo.gl/QZfLIV



Foto: bbc.com

Penjelasan Psikolog Berdasarkan Pengakuan Pasien Gay

Psikolog keluarga dan anak, Roslina Verauli mengungkapkan beberapa teori yang mengacu pada faktor-faktor psikososial yang memicu seseorang menjadi Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).


Roslina Verauli
Di dinding Facebook-nya, Roslina menjelaskan LGBT mulai dari masalah emosional terkait pengalaman cinta masa lalu, dengan orang tua maupun cinta romantis saat remaja, hingga pengasuhan orang tua.

"Dari sejumlah profil klien gay, umumnya merupakan anak lelaki yang memiliki penghayatan negatif tentang ayahnya, hingga absennya figur ayah, termasuk tentang relasi intim ayah dan ibunya," tulis Roslina, Sabtu (6/2). (LGBT Bawaan Lahir atau Bukan?).

Absennya Ayah mengakibatkan kelekatan secara berlebihan anak pada figur ibu. Anak juga memiliki kedekatan yang tinggi dengan profil ibu yang relatif dominan.

Beberapa yang lainnya adalah individu yang pernah mengalami pelecehan dan paksaan seksual oleh orang dewasa berjenis kelamin sama di usia anak-anak. Kelak di usia remaja, saat fantasi seksualnya aktif, ingatan dan pengalaman seksual sejenis dari masa lalu membayangi. "Mereka mengira, aktivitas seksual tersebut yang membangkitkan gairah," katanya.

Ada pula yang menyebutkan pengaruh faktor lingkungan pertemanan yang turut memengaruhi orientasi seksual. Namun, belum ada satu pendekatan pun yang dapat memberikan uraian meyakinkan untuk dapat dianggap sebagai faktor penyebab. Sebab, ada banyak pula individu dengan profil psikososial di atas yang tidak menjadi homoseksual.

REPUBLIKA.CO.ID 06\02\2016 | http://goo.gl/cPF0wC


Aming di Parade Gay New York. http://goo.gl/N3koXu

Jangan Bersedih, Tunggulah Akan Selalu Ada Jalan Keluar di Setiap Masalah!

Saudaraku,

Ada saatnya untuk kita menunggu jalan keluar atas segala masalah yang kita hadapi. Tentunya menunggu jalan keluar di sini tidaklah hanya sekadar menunggu. Ketika kita mulai dihimpit masalah dan tak tahu apa yang harus dilakukan, maka tugas kita adalah menunggu jalan keluar dengan terus berikhtiar semaksimal mungkin. Karena, bukankah Allah hanya akan mengubah takdir suatu kaum jika kaum itu mau berusaha dan berubah?

Jangan Bersedih, Tunggulah Jalan Keluar! 

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi disebutkan: 
"Sebaik-baik ibadah adalah menunggu jalan keluar."

Allah telah berfirman dalam surat cinta-Nya,

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath-Thalaq: 2)

“Dan, barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahalanya.” (QS. Ath-Thalaq: 5)

“Dan, barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan menjadikan baginya jalan kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4)

Salah seorang penyair berkata, 

Betapa banyak jalan keluar yang datang setelah rasa putus asa dan betapa banyak kegembiraan datang setelah kesusahan. 

Siapa yang berbaik sangka pada Pemilik 'Arasy dia akan memetik manisnya buah yang dipetik di tengah-tengah pohon berduri. 

Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan: "Aku sesuai sangkaan hamba-Ku kepada-Ku, maka ia bebas berprangsaka apa saja kepada-Ku."

Saudaraku,

Sudah seharusnya kita percaya dan yakin bahwa Allah akan senantiasa memberikan jalan keluar atas segala masalah yang tengah kita hadapi. Seperti yang telah Allah ungkapkan, jika kita ingin jalan keluar dan kemudahan dalam masalah-masalah kita, maka sudah seharusnya kita bertakwa kepada-Nya.

Sebagai makhluk yang lemah, tugas kita hanya terus meminta dan memohon kepada-Nya tanpa rasa lelah. Dia-lah yang akan mengatur hidup kita dengan sempurna, dan Dia pula yang akan memberikan jalan keluar atas masalah-masalah yang tengah kita hadapi.

Saudaraku,

Mari kita simak firman Allah yang satu ini,

“Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi tentang keimanan mereka dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkanlah orang-orang yang Kami kehendaki.” (QS. Yusuf: 110)

“Maka, sesungguhnya bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan: “Ketahuilah bahwa pertolongan itu ada bersama dengan kesabaran dan jalan keluar itu akan selalu beriringan dengan cobaan.”

Seorang penyair berkata, 

Jika persoalan telah sangat sulit, tunggulah jalan keluarnya, sebab ia akan segera menemukan jalan keluarnya. 

Penyair yang lain berkata, 

Banyak mata yang tetap melek dan banyak pula yang tidur dalam masalah yang mungkin terjadi atau tidak akan terjadi 
Tinggalkanlah kesedihan sedapat yang engkau lakukan sebab jika engkau terus bersedih engkau akan berubah menjadi gila
Sesungguhnya Rabb yang telah mencukupimu sebelumnya 
Dia kan mencukupimu besok dan hari-hari mendatang 

Penyair yang lain mengatakan, 

Biarkanlah takdir berjalan dengan tali kekangnya 
dan janganlah engkau tidur kecuali dengan had yang bersih 
Tak ada di antara kerdipan mata dan meleknya kecuali Allah kan mengubah dari kondisi ke kondisi lainnya.

Referensi

Jangan Merasa Diri Paling Suci

Saudaraku,

Selain Nabi SAW, tak ada orang yang suci. Tak ada orang yang luput dari kesalahan dan dosa. Sebaik apapun dia. Sebening apapun hatinya, selalu ada debu yang mengotorinya, meski nyaris tak terlihat.

Sebaik apapun ia, selalu ada khilaf yang membuatnya perlu memohon kemurahan Allah untuk mengampuni dosa-dosanya. Sebagus apapun akhlaknya –selagi ia bukan Nabi- pasti pernah melakukan keburukan dan dosa.

Saudaraku,

Tak ada orang yang terbebas dari dosa kecuali Nabi. Allah yang memberi penjagaan langsung kepada Nabi, sehingga terlindungi dari kesalahan. Di luar itu, meski ia adalah sahabat Nabi yang paling baik, tak ada yang memiliki sifat ma’sum*.
*)Maksum adalah orang yang terjauhkan, berkat kemurahan khusus Tuhan, dari segala macam kontaminasi dosa, segala perbuatan buruk dan tercela.
Lebih-lebih kita yang hidup sekarang ini, ketika ilmu tak ada pada kita kecuali sangat sedikit. Tak layak jika kita merasa suci hanya karena melihat ada orang yang pernah berbuat dosa, atau bahkan terang-terangan masih melakukan maksiat.

Allah telah berfirman, “Janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang paling bertakwa.” (QS. An-Najm 53: 32)

Saudaraku,

Janganlah kita merasa bahwa diri kita suci. Karena setiap dari kita tentunya pernah melakukan kesalahan. Jangan pula diri kita merasa bangga dengan amalan yang kita anggap sudah sangat baik. Padahal, bisa jadi amalan kita hanyalah amalan yang sedikit dibandingkan dengan orang yang sering kita rendahkan. Wallahu ‘alam.

Referensi: Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan/Mohammad Fauzil Adhim/Pro-U Media

Wahai Muhammad, Terangkan padaku Tentang Islam!

Dari Umar bin Khaththab ra., ia berkata : “Ketika kami sedang duduk di dekat Rasulullah SAW tiba-tiba muncul seorang lelaki berpakaian putih, berambut hitam pekat, bekas jalannya tidak terlihat dan tidak seorangpun di antara kami mengenalinya. Ia duduk menghadap Beliau SAW, lalu menyandarkan kedua lututnya ke lutut Nabi dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha Nabi, seraya berkata,

“Wahai Muhammad, terangkan kepadaku tentang Islam!”

Rasulullah SAW menjawab, “Islam adalah hendaknya engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, memberikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan melakukan ibadah haji ke Baitullah jika memenuhi syaratnya.”

Ia berkata : “Engkau benar!” Kami keheranan karenanya, dia bertanya tetapi membenarkannya. Lebih lanjut ia berkata, “Sekarang terangkanlah kepadaku tentang Iman!”

Rasulullah SAW menjawab, “Yaitu engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab- Nya, para Rasul-Nya dan hari akhir, serta engkau beriman kepada baik dan jeleknya taqdir.”

Ia berkata, “Engkau benar.”

“Selanjutnya terangkan kepadaku tentang ihsan!”

Rasulullah menjawab, “Yaitu hendaknya engkau beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya. Ketahuilah, bahwa Dia selalu melihatmu.”

Orang itu kembali bertanya, “Beritahukan kepadaku kapan terjadinya hari kiamat?”

Rasulullah SAW menjawab, “Tidaklah orang yang bertanya lebih mengetahui daripada yang ditanya.”

Orang itu berkata lagi, “Kalau begitu beritahukanlah tanda-tanda (terjadinya) hari kiamat!”

Rasulullah SAW menjawab, “Yaitu apabila budak perempuan melahirkan bayi perempuan yang akan menjadi majikannya dan engkau akan melihat orang yang asalnya tidak bersandal, telanjang, papa, penggembala kambing, menjadi orang-orang yang saling berlomba meninggikan bangunan rumahnya.”

Kemudian orang itu berlalu. Kami terdiam beberapa saat. Lalu Rasulullah SAW bertanya, “Hai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?”

Umar menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”

Rasulullah SAW memberitahukan, “Dia adalah Jibril. Ia datang untuk mengajari kalian tentang agama Islam.” (HR. Muslim)


Referensi: Ensiklopedia Hadits-hadits Adab/Imam Al-Bukhari

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
23