Korupsi Karena Nafsu Dunia

Masyarakat Indonesia boleh berbeda-beda, tetapi korupsi dan perilaku rakus sepertinya sudah menjadi kesepakatan dalam usaha mempertahankan diri di belantara hutan “manusia adalah serigala bagi manusia lainnya”. goo.gl/KVy67k

Korupsi berasal dari bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutar balik, menyogok. Secara psikologis, korupsi yaitu perilaku pejabat publik (pejabat pemerintahan), yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.

Korupsi seolah menjadi adat di Indonesia saat ini. Beragam elemen mulai dari yang paling bawah hingga paling atas, sudah sering kita lihat terlibat dalam kasus ini. Bahkan, di tingkat keluargapun mungkin sudah kita jumpai. 

Korupsi bisa timbul karena adanya nafsu serakah. 

Selalu kurang. 

Tidak puas dengan apa yang dimiliki. 

Selalu ingin memiliki yang lebih banyak, lebih baik dengan cara apapun. 

Sikap konsumerisme. Semua hal dianggap merupakan kebutuhan dan wajib dibeli. 

Kalau keinginannya belum menjadi kenyataan, perasaannya tidak tenang.

Menurut Jack Bologne dengan Teori Gone-nya, akar penyebab korupsi ada 4, yaitu Greed, Opportunity, Need, dan Exposes. 


1. Greed terkait keserakahan dan kerakusan para pelaku korupsi. Koruptor adalah orang yang tidak puas akan keadaan dirinya. Punya satu gunung emas, berhasrat punya gunung emas yang lain. Punya harta segudang, ingin punya pulau pribadi.
2. Opportunity terkait dengan sistem yang memberi lubang terjadinya korupsi. Sistem pengendalian tak rapi, yang memungkinkan seseorang bekerja asal-asalan. Mudah timbul penyimpangan. Saat bersamaan, sistem pengawasan tak ketat. Orang gampang memanipulasi angka. Bebas berlaku curang. Peluang korupsi menganga lebar.
3. Need berhubungan dengan sikap mental yang tidak pernah cukup, penuh sikap konsumerisme, dan selalu sarat kebutuhan yang tak pernah usai.
4. Exposes berkaitan dengan hukuman pada pelaku korupsi yang rendah. Hukuman yang tidak membuat jera sang pelaku maupun orang lain.


Keempat akar masalah tersebut merupakan halangan besar pemberantasan korupsi. Tapi, dari keempat akar persoalan korupsi tersebut, pusat segalanya penyebab korupsi adalah sikap rakus dan serakah. 

Sistem yang bobrok belum tentu membuat orang korupsi, namun jiwa serakahlah yang membuat semuanya berantakan. 

Kebutuhan yang mendesak tak serta-merta mendorong orang korupsi. 

Perilaku koruptif memiliki motivasi dasar sifat serakah yang akut. Adanya sifat rakus dan tamak tiada tara. Dapat dikatakan bahwa korupsi paralel dengan sikap serakah.  



Psikologis Koruptor


Banyak hal yang melatarbelakangi seseorang khususnya para pejabat negara melakukan tindakan korupsi. Salah satu faktor tersebut adalah faktor psikologis. Faktor psikologis bisa diartikan berasal dari dalam diri si pelaku sendiri.

Perbuatan korupsi memang berbeda dengan pencurian biasa/maling, perbuatan ini yang notabene dilakukan oleh oknum pejabat publik cenderung memiliki dampak luas, yang menyangkut suatu sistem pemerintahan dimana dia berada, dan bahkan bisa membuat kehancuran suatu negara, ini yang membedakan dengan perilaku kriminal biasa di level masyarakat umum yang efeknya sebatas lingkup per-individu dan tidak mempengaruhi sistem pemerintahan. Memprihatinkan bahwa Indonesia menempati ranking 3 besar dunia untuk kasus korupsi ini.

Secara umum korupsi bisa disebabakn oleh banyak hal, termasuk dari sifat psikologis seseorang. Bahkan ada orang yang katanya baik-baik ternyata juga melakukan korupsi? Kaum behavioris* mengatakan, berarti lingkunganlah yang secara kuat memberikan dorongan bagi orang untuk korupsi dan mengalahkan sifat baik seseorang yang sudah menjadi ciri/karakter pribadinya (Baca: Mengapa orang baik bisa menjadi jahat dan begitu pula sebaliknya.. di goo.gl/GtQJLv). Lingkungan dalam hal ini malah memberikan dorongan dan bukan memberikan hukuman pada orang ketika ia menyalahgunakan kekuasaannya.


Penelitian-penelitian empiris mengenai korupsi mengonfirmasi anggapan tersebut. Pada umumnya faktor penyebab korupsi bersumber pada 3 aspek yaitu: 


1. Kerusakan pada lingkungan makro (negara) di mana sistem hukum, politik, pengawasan, kontrol, transparansi rusak. Kerusakan tersebut menjadi latar lingkungan yang merupakan faktor stimulus bagi perilaku orang. Tentunya menjadi jelas ketika sistem tidak secara kuat memberikan hukuman terhadap pelanggaran dan imbalan terhadap sebuah prestasi, tingkah menyimpang (korupsi) malah akan diulang-ulang karena akan memberikan konsekuensi yang menyenangkan, 
2. Pengaruh dari iklim koruptif di tingkat kelompok atau departemen, dan 
3. Karena faktor kepribadian.


Jadi cukup jelas bahwa lingkungan secara tidak langsung sangat berpengaruh terhadap psikologi seseorang melakukan tindak korupsi. Jika memang Indonesia ingin bebas dari korupsi, maka semua calon PNS/TNI/Polri/politisi/pejabat publik dan lain-lain harus mengikuti tes psikologi yang ketat, misalnya tes kepribadian khusus. Di samping itu, perlu dibuat sistem pencegahan korupsi yang efektif.



SAHABAT PEMBERANI 










 Video Najwa Shihab Menyanyi Korupsi


Speech Composing Raditya Dika, Najwa Shihab, dkk - Indonesia Harus Bebas Korupsi






"Tak banyak pemimpin seperti Bung Hatta, memimpin tanpa menguras harta negara." 
~ Najwa Shihab

*)Behaviorisme merupakan aliran revolusioner, kuat dan berpengaruh, serta memiliki akar sejarah yang cukup dalam. Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak).
 
Behaviorisme ingin menganalisis bahwa perilaku yang tampak saja yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Behaviorisme memandang pula bahwa ketika dilahirkan, pada dasarnya manusia tidak membawa bakat apa-apa. Manusia akan berkembang berdasarkan stimulus yang diterimanya dari lingkungan sekitarnya. Lingkungan yang buruk akan menghasilkan manusia buruk, lingkungan yang baik akan menghasilkan manusia baik. Kaum behavioris memusatkan dirinya pada pendekatan ilmiah yang sungguh-sungguh objektif. Kaum behavioris mencoret dari kamus ilmiah mereka, semua peristilahan yang bersifat subjektif, seperti sensasi, persepsi, hasrat, tujuan, bahkan termasuk berpikir dan emosi, sejauh kedua pengertian tersebut dirumuskan secara subjektif. (www.edus.web.id/2010/12/teori_behavioristik_paud.html).  


0 komentar:

Poskan Komentar

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
23