6 Fakta Depresi Akibat Media Sosial

Depresi akibat media sosial bisa timbul, antara lain karena kita membandingkan hidup dengan orang-orang yang kita lihat melalui dunia maya.

Meski membantu atau memudahkan kita untuk terhubung dengan orang lain tanpa dibatasi waktu dan tempat, ada kemungkinan kita terjerumus ke depresi akibat media sosial.

Cara terbaik untuk menghindari jerat depresi ini adalah dengan memperlakukan media sosial hanya sebagai sumber rekreasi dan informasi. Juga, jangan hanya bergantung pada komunikasi melalui internet. Komunikasi manusia yakni tatap muka yang melibatkan bahasa tubuh, gerak tubuh, ekspresi wajah, juga penting.

Inilah 6 fakta tentang depresi akibat media sosial yang harus Anda ketahui.


1. Beragam emosi pada saat yang sama. Menggunakan media sosial dapat membangkitkan banyak emosi dalam diri kita, terutama emosi negatif yang dapat menyebabkan depresi. Anda terus-menerus dibombardir dengan update tentang berbagai hal menarik, yang terjadi dalam kehidupan teman-teman Anda, dibandingkan dengan kehidupan Anda yang jadi tampak membosankan.

Jadi, ketika kita melihat seorang teman yang bepergian keliling dunia atau bersenang-senang dengan pacarnya, Anda justru merenungkan hal itu dan merasa tak beruntung karena tak mengalaminya. Media sosial, pada saat yang sama, juga membuat kita merasa senang jika mendapatkan komentar yang baik pada update Anda sendiri atau ketika seseorang mendoakan Anda di hari ulang tahun, atau untuk beberapa prestasi yang Anda buat.
 
2. Membandingkan kehidupan dengan orang lain. Depresi media sosial timbul karena kita membandingkan hidup kita dengan orang-orang yang kita lihat lewat potongan-potongan update-nya di dunia maya. Situs media sosial bisa sangat menyesatkan karena kita hanya melihat apa yang orang pilih untuk dibagi ke timeline. Karena memang, Anda akan memilih untuk berbagi hanya aspek yang paling menarik dan yang baik dari hidup Anda di social media dan meninggalkan yang tidak begitu baik.

Hal yang sama berlaku untuk orang lain. Mereka semua punya aspek kehidupan yang buruk, yang tidak mau mereka bagi. Sebaiknya, Anda sadari hal itu dan berhenti membandingkan diri Anda dengan kehidupan orang lain, karena kita semua sama-sama punya aspek baik dan buruk dalam kehidupan.


3. Belum masuk daftar penyakit mental, tapi sudah berdampak nyata. Media sosial memang belum tepat diterima sebagai istilah terkait gangguan mental, juga belum masuk dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, buku resmi yang mencatat nama-nama semua gangguan mental yang dikenal. Namun, depresi akibat media sosial sudah memberi dampak sangat nyata yang mempengaruhi remaja dan bahkan orang dewasa saat ini.

4. Anak-anak, remaja, dan perempuan lebih rentan. Telah ditemukan bahwa situs media sosial dapat mempengaruhi kesehatan mental beberapa orang. Penelitian telah menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja lebih rentan terhadap jenis depresi dan bahwa perempuan lebih mungkin akan terpengaruh dibandingkan laki-laki.


5. Sakit hati karena tak direspon. Depresi yang disebabkan oleh penggunaan media sosial sangat tergantung pada cara menggunakan media tersebut. Sebagai contoh, depresi lebih mungkin muncul jika Anda menggunakan media sosial hanya untuk follow atau berteman dengan seseorang, dan orang tersebut tidak merespon, maka dapat menyebabkan sakit dan membuat Anda merasa ditinggalkan atau ditolak.


6. Berpura-pura bahagia. Alasan lain mengapa media sosial dapat menyebabkan depresi adalah ketika Anda berpura-pura untuk menjadi bahagia hanya untuk menampilkan diri kepada dunia. Anda hampir tidak menjadi diri kita sendiri ketika menulis sesuatu atau mengunggah gambar. Anda hanya menunjukkan yang terbaik dari hidup Anda ke dunia luar, dan ini dapat menyebabkan depresi pada orang lain. Pelaku posting tersebut dapat juga merasa kesal bahwa hidupnya tidak begitu baik dan memuaskan hingga ia harus melakukan itu.

Untuk menghindari depresi yang disebabkan oleh media sosial, para ahli menyarankan untuk berhenti membandingkan hidup Anda dengan orang lain. Situasi dan kondisi dalam kehidupan setiap orang berbeda, dan membandingkannya adalah sia-sia. Apa yang orang lain miliki, Anda mungkin tidak memilikinya. Apa yang Anda miliki, orang lain mungkin ingin memiliki juga.


"Situasi dan kondisi dalam kehidupan setiap orang berbeda, dan membandingkannya adalah sia-sia. Apa yang orang lain miliki, Anda mungkin tidak memilikinya. Apa yang Anda miliki, orang lain mungkin ingin memiliki juga."


"Apakah Anda merasakan media sosial menyebabkan atau memberikan kontribusi untuk depresi dalam hidup Anda... -sekarang??" ^_^


1 komentar:

Jumat, 25 September 2015 15.07.00 WIB Anonim mengatakan...

Haha saya juga merasakan hal yang sama....

Poskan Komentar

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
23