8 Warga Asing Ini Mengabdi dan Mencintai Indonesia Lebih Dari Hidupnya

“Jangan tanyakan apa yang negara ini berikan kepadamu tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu.”  
~ John F. Kennedy 


Seberapa besar cintamu pada Indonesia? Apa yang sudah kamu berikan pada Ibu Pertiwi? Dibawah ini adalah beberapa nama, bukan nama besar dan mentereng laiknya artis infotainment yang setiap hari wira-wiri di TV saban hari, mereka hanya WNA yang memiliki cinta yang besar, warga negara asing yang ternyata sangat mencintai Indonesia. Bahkan cinta mereka bisa jadi lebih besar daripada warga negara Indonesia pada umumnya. Tidak percaya, siapa saja mereka?


1. Andre Graff (Perancis). Si Tukang Gali Sumur dari Sumba


Bahkan untuk tukang gali sumur, Indonesia butuh tenaga asing dari Perancis!

Nama aslinya Andre Graff, tetapi masyarakat Sumba memanggilnya ”Andre Sumur”. Warga di tempat tinggalnya, Lamboya, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, menyapa dia Amaenudu, orang yang baik hati. Ini karena perjuangannya mengadakan sumur gali bagi warga Sumba dan Sabu Raijua.
Padahal, latar belakang Graff adalah pilot balon udara. Selama puluhan tahun ia juga memimpin perusahaan balon udara di Perancis untuk pariwisata. Dia suka menerbangkan balon udara melewati Pegunungan Alpen.
Tahun 1990 dan 2004, Graff mengunjungi Bali sebagai turis. Dari Bali dia menyewa perahu layar dan bersama tujuh wisatawan asing dari sejumlah negara menjelajahi beberapa pulau di Nusa Tenggara Timur (NTT), seperti Sabu Raijua, Sumba, Solor, Lembata, Alor, dan Kepulauan Riung.

”Teman-teman turis itu latar belakangnya beragam, ada yang dokter bedah, ahli planologi, dan ahli pertanian,” katanya. Sejumlah aktivitas masyarakat, budaya, dan tradisi lokal pun menjadi obyek foto mereka. Saat itu Graff berjanji akan mengirimkan foto yang mereka buat kepada warga setempat. Jumlahnya mencapai 3.547 lembar, seberat 25 kilogram. Agustus 2004, ia memutuskan mengantar sendiri foto tersebut kepada sejumlah warga di NTT.

Juni 2005, dia singgah di Sabu Raijua dan menetap di kampung adat Ledetadu. Warga di kampung itu kesulitan air bersih. Setiap hari mereka harus berjalan 2 kilometer untuk mengambil air sumur di dataran rendah. ”Saya prihatin. Saya lalu bertemu Pastor Frans Lakner, SJ yang sudah 40 tahun mengabdi di Sabu. Dia mengajari saya bagaimana mencari air tanah, menggali sumur, dan membuat gorong-gorong dari beton agar air tak terkontaminasi lumpur. Gorong-gorong itu bertahan sampai bertahun-tahun kemudian,” katanya.
Graff pun membuat satu unit sumur bagi 127 keluarga di Ledetadu. Merasa puas atas hasilnya, dia lalu menggali sumur dan memasang gorong-gorong beton lain bagi warga sekitar Ledetadu.

Pada 2005-2007, dia berhasil membuat 25 sumur gali bagi 1.250 keluarga yang tersebar di tiga desa. Graff juga mengajarkan warga setempat untuk mencari air, menggali, dan membuat gorong-gorong yang berkualitas. Pengetahuan itu terus dia tularkan kepada desa-desa di sekitar Ledetadu dan Namata.

Pada 2007-2011, sebanyak 35 sumur berhasil dikerjakan Graff bersama GGWW.

Berkat air sumur, warga bisa menanam sayur, jagung, buah, dan umbi-umbian di sekitar rumah. Mereka bisa menjual hasil kebunnya ke pasar untuk membeli beras dan kebutuhan lain.

Akhir 2007, ia memutuskan pindah ke Lamboya, Sumba Barat, setelah warga Sabu Raijua bisa membuat sumur sendiri. Ia tinggal dengan Rato (Kepala Suku) Kampung Waru Wora, Desa Patijala Bawa, Lamboya. Disini, ia membentuk kelompok pemuda beranggota sembilan orang untuk membuat gorong-gorong yang disebut GGWW (Gorong-gorong Waru Wora). Melihat kualitas dan fungsi gorong-gorong itu, warga kampung dan desa lain di sekitar Patijala pun memesan gorong-gorong kepada GGWW dengan harga Rp 300.000 per potong (sekitar 1 m x 1 m).

Pada 2007-2011, sebanyak 35 sumur berhasil dikerjakan Graff bersama GGWW. Mereka melakukan pencarian air dengan kemampuan khusus yang dimiliki para rato dalam menentukan lokasi sumber air tanah.
”Orang kampung tak memakai alas kaki. Telapak kaki mereka langsung kontak dengan tanah dan mampu merasakan lokasi di mana ada air,” kata Graff.



Permukiman warga di Sumba dan Sabu umumnya berada di dataran tinggi dengan jarak tempuh ke lembah yang ada sumber airnya 1 km hingga 3 km.
”Setiap pagi, kaum perempuan menghabiskan 2-3 jam untuk mengambil air 20 liter. Air untuk memasak, mencuci alat dapur, dan memberi minum ternak. Anak-anak ke sekolah tak mandi. Warga kampung pun buang hajat di sembarang tempat. Ini membuat sanitasi kampung jadi buruk,” katanya.
Graff mencari solusi tanpa mengotori lingkungan dengan mesin diesel berbahan bakar minyak. Energi matahari diupayakannya untuk menaikkan air dari lembah ke perkampungan. Ia menemui seorang ahli tenaga matahari di Denpasar.
Mereka mengevaluasi masalah air sumur dan permukiman warga Sumba, lalu terbentuklah Pilot Project Waru Wora (PPWW) berupa sinar sel.

Graff kekurangan modal. Namun, ia berhasil mendapat bantuan Rp 330 juta dari Rotary Club Belanda. Dana itu belum cukup untuk mewujudkan proyek tersebut. Masih dibutuhkan dana sekitar Rp 500 juta.
Salah satu upaya yang dilakukannya adalah mengadakan pameran foto tentang Sumba dan Sabu Raijua di Jakarta dan Denpasar.
”Sayang, foto-fotonya tak laku. Orang hanya kagum, tetapi tak membeli. Namun, saya bertemu orang dari Shimizu yang bersedia membantu pompa, pipa, tangki air, dan bahan lain. Ada pula teman yang membantu Rp 50 juta, tetapi kesulitan belum teratasi,” kata Graff yang juga mendapat bantuan dari Bupati Sumba Barat sebesar Rp 65 juta.

Menurut dia, komponen termahal proyek ini adalah solar sel berukuran 6 meter x 6 meter untuk menampung energi matahari guna menaikkan air dengan ketinggian 1.300 meter ke permukiman warga yang berjarak 110 meter.
Apabila proyek ini terwujud, 11 kampung di Desa Patijala Bawa atau sekitar 1.600 jiwa bisa menikmati air bersih. Sampai kini baru 600 jiwa atau tujuh kampung yang terlayani.

”Saya bukan orang LSM (lembaga swadaya masyarakat) yang (sebagian) asal kerja. Saya punya pilot project. Orang bisa belajar di sini karena proyek dengan sinar matahari guna ’menarik’ air ini merupakan (salah satu) terbesar di Indonesia. Ke depan, wilayah ini bisa menjadi pusat wisata,” katanya.
"Saya bukan orang LSM yang asal kerja. Saya punya pilot project. Orang bisa belajar di sini karena proyek dengan sinar matahari guna ’menarik’ air ini merupakan (salah satu) terbesar di Indonesia. Ke depan, wilayah ini bisa menjadi pusat wisata.” ~ Andre Graff
Jika proyek itu terwujud, Graff sudah punya program lain, yakni melakukan filtrasi (penjernihan) air, program pengadaan rumah mandi untuk kelompok masyarakat di setiap kampung, dan program pertanian pekarangan rumah atau lahan terbatas. (KOMPAS.com)


2. Alm. Husin Abdullah a.k.a Gavin Edward Birch (Selandia Baru). 'Turis Gila' Pemungut Sampah di Senggigi


Birch datang ke Lombok sebagai turis, lalu dia mengabdi memunguti sampah selama 25 tahun!

Kalau kita menyebut nama Gavin Edward Birch mungkin tidak ada yang tahu siapa beliau, tetapi kalau kita menyebut Pak Husin, atau si Bule Gila orang akan langsung tahu. Berangkat dari kecintaannya pada alam dan tekadnya untuk membersihkan Senggigi, beliau rela dijuluki Bule Gila.

Husin Abdullah adalah seorang Warga Negara Selandia Baru. Beliau pertama kali datang ke Lombok pada tahun 1984 dan prihatin melihat keindahan Lombok tertutup sampah. Dua puluh lima tahun silam beliau kembali ke Lombok, menikah dengan Ibu Siti Hawa dan memulai usahanya dalam membersihkan Pantai Senggigi. Beliau pula yang pertama membangun toilet bagi warga yang kala itu belum memiliki toilet. Dua bulan yang lalu Pak Husin wafat karena malaria, kini usaha membersihkan pantai tengah dibenahi dan dilanjutkan oleh putra pertamanya Abdul Aziz Husin. Kami menemui Aziz dan Ibu Siti Hawa ketika berkunjung ke Pondok Siti Hawa pada 12 Oktober 2010 silam.

Semasa hidupnya Pak Husin mengumpulkan sampah yang ditemuinya sepanjang Batu Layar hingga Senggigi. Sampah plastik ia buang ke TPS, sampah organik beliau olah menjadi pupuk. Rutinitas beliau dimulai sebelum matahari terbit. Setiap pagi beliau bangun pukul lima pagi, lalu akan menenangkan diri di Brugag (berego) belakang rumahnya yang menghadap pantai hingga matahari terbit. "Beliau tidak bisa hidup tanpa pantai." Ujar Aziz. Rutinitas beliau dilanjutkan dengan memungut sampah plastik yang ditemui sepanjang pantai untuk dibuang ke TPS. Pada siang hari beliau melanjutkan pekerjaan, entah ke Mataram untuk ke kantor pemerintahan, belanja kebutuhan sehari-hari atau mengolah pupuk.

"Pupuknya sekarang masih saya kerjakan, pelan-pelan. Untuk pembersihan pantai mungkin ditunda sampai tahun depan." Ujar Aziz. Pupuk hasil olahan sampah ini digunakan sendiri dan sebagian dijual kepada toko bunga. Tetapi jangan bayangkan Pak Husin meraup untung, uang hasil dari penjualan hanya menutup biaya produksi dan untuk membayar pekerjanya. Untuk menjalankan programnya tak Jarang Pak Husin menggunakan uangnya sendiri. Setelah program berjalan barulah jika mendapat dana dari pemda sebagian uang beliau akan diganti. 


Abdul Aziz Husin, putra pertama Husin Abdullah yg melanjutkan perjuangan ayahnya. Foto: Yudi F, detik.com

Kami kemudian berjalan ke pantai yang berada tepat dibelakang Pondok Siti Hawa. Aziz mengakatakan, setiap tahun ketika musim penghujan tiba, semua sampah dari sungai akan meuju ke laut, lalu terbawa angin dan terdampar di pantai. Pak Husin prihatin dengan pemerintah yang tidak melakukan preventif agar sampah tak sampai ke pantai. "Aku pernah surfing di Kuta, waktu itu surfingnya sama sampah, mandi di pantai juga sama sampah." Ujarnya prihatin.

Untuk meneruskan usaha sang ayah, Aziz bercita-cita untuk membuat suatu organisasi agar kegiatan dapat berjalan dengan lebih teratur. Pembersihan pantai, edukasi tentang kebersihan kepada anak usia sekolah dasar, pembangunan TPS, menyediakan program untuk sukarelawan, adalah beberapa dari program yang ia rencanakan. Ia juga ingin memiliki area percontohan yang mengutamakan kebersihan untuk membuka mata masyarakat tentang dampak langsung kebersihan terhadap lingkungan. 

"Papaku menerapkan prinsip untuk langsung terjun ke lapangan. Tak perlu banyak bicara," kenang Aziz tentang sang ayah. "Mengikuti apa yang dia lakukan memang susah, aku tidak bisa mengatur waktuku, mungkin nanti setelah beberapa tahun aku baru bisa seperti Papa."


Husin Abdullah bersama istrinya yg asli Lombok dan 2 anaknya. Foto: Dokumentasi Keluarga

Cemoohan tak jarang dilontarkan pada beliau, hampir setiap hari beliau mendapat hinaan. Bahkan label "Bule Gila" diberikan untuk beliau. Tapi Pak Husin tidak menghiraukannya. Aziz ingat bagaimana ayahnya mengajarkan pada Aziz untuk menanggapi ejekan masyarakat "malah dia yang gila, buang sampah sembarangan. Kalau lingkungan bersih kan enak."
"Malah dia yang gila, buang sampah sembarangan. Kalau lingkungan bersih kan enak." ~ Husin Abdullah
:")

Meneladani cinta alam dan kebersihan dari Pak Husin, dari si Bule Gila. Benar kata beliau, siapa yang gila? Yang mencintai alam dan membersihkan lingkungan atau yang membuang sampah sembarangan? Selamat jalan Pak Husin, Anda patut mendapat tempat terbaik di sisiNya.
Aziz dan program Indonesia Bersih dan Hijau dapat ditemui di Pondok Siti Hawa, Batu Layar. Juga melalui Facebook "Indonesia Bersih & Hijau" dan blog di http://indonesiabersihdanhijau.blogspot.com. (Tulisan oleh Hanindita - @sihanin)


3. Aurelien Francis Brule (Perancis). 16 Tahun Mengabdikan Diri & Pendiri Organisasi Perlindungan Owa-Owa di Kalimantan dan Sumatera


Tidak banyak orang yang sangat peduli terhadap kelangsungan hidup satwa primata di hutan-hutan Sumatera dan Kalimantan. Karena itu, kiprah Aurelien Francis Brule, warga Prancis yang sudah 16 tahun mengabdikan diri mengonservasi kehidupan owa-owa, salah satu jenis primata, patut diapresiasi.

Aurelien Francis Brule mulai tertarik dengan owa-owa saat diajak orang tuanya mengunjungi kebun binatang di kota kelahirannya di Prancis. Pada usia 12 tahun, Chanee "panggilan Aurelien Francis Brule" merasakan ada yang aneh dengan owa-owa. Binatang bernama latin Hylobates muelleri itu terlihat selalu menyendiri. Ketika hewan-hewan lain aktif bergerak dan bermain dengan kawanannya, hewan yang satu itu justru diam dan terlihat sedih.

Rasa penasaran itulah yang akhirnya membuat laki-laki kelahiran 2 Juli 1979 tersebut memutuskan untuk mengunjungi kebun binatang setiap Rabu guna mengamati primata tersebut. Saking penasarannya, rutinitas itu sampai berlangsung selama lima tahun!

"Awalnya saya penasaran mengapa owa-owa selalu tampak sedih, tidak gembira seperti yang lain. Tidak terasa selama lima tahun saya mendatangi dan mengamati perilaku owa-owa itu. Saya selalu diantar ibu," ungkap Chanee kepada Jawa Pos yang menghubunginya pekan lalu.
Tidak hanya melihat apa yang dilakukan owa-owa setiap berkunjung, Chanee akhirnya ikut membantu kebun binatang itu untuk merawat si owa dan memberinya pasangan agar bisa berkembang biak. Betapa sayangnya kepada owa-owa, pada usia 16 tahun, Chanee sudah bisa membuat buku yang bercerita tentang kehidupan owa-owa di kebun binatang itu. Judulnya Le Gibbon " Mains Blanches.

Buku tersebut menarik perhatian media di Prancis karena jarang ada remaja yang peduli terhadap kehidupan satwa langka. Sampai-sampai, aktris papan atas Prancis, Muriel Robin, terharu dan bersedia membiayai Chanee untuk pergi ke Thailand guna melihat dari dekat kehidupan owa-owa di habitatnya.

Pada usia 18 tahun, Chanee mulai menggeluti kehidupan owa-owa liar di hutan Thailand. Namun, dia belum tahu apa yang harus dilakukan untuk membantu kehidupan kera-kera tersebut. Dia baru mendapatkan inspirasi ketika membaca berita tentang terbakarnya hutan Kalimantan.

"Saat itu saya berpikir, jika ingin menolong owa-owa, saya harus pergi ke Indonesia. Sebab, di Indonesia paling banyak jenis owa dan banyak persoalannya," ungkapnya.
Pada 1998, Chanee terbang ke Indonesia. Gelombang demo reformasi yang meledak di Jakarta membuat dirinya langsung menuju ke Kalimantan untuk melakukan observasi. Baru tiga bulan kemudian Chanee kembali ke Jakarta untuk menjalin kerja sama dengan Kementerian Kehutanan dan Kelautan (saat itu bernama Departemen Kehutanan) untuk melindungi owa-owa.

Suasana Indonesia yang sedang ricuh menyusul tumbangnya rezim Orde Baru ditambah pemahaman yang kurang akan budaya Indonesia membuat Chanee sulit mendapat kepercayaan dari pemerintah RI. Namun, tanpa kenal menyerah, dia terus berjuang untuk mendapatkan izin penggunaan hutan sebagai kawasan konservasi owa-owa.


 Di usia muda, saat Chanee berusia 19 tahun ia telah melakukan observasi selama lima tahun terhadap primata yang ada di kebun binantang di Perancis, kemudian menuliskannya menjadi sebuah buku. Hal ini menarik perhatian publik di Perancis, hingga seorang artis komedian Perancis, Muriel Robbin, bersedia mendanainya untuk membuat sebuah program konservasi pada hewan primata ini.


"Setahun saya bolak-balik ke kantor kementerian untuk mendapatkan izin itu. Syukurlah, akhirnya saya dapatkan juga, mungkin mereka bosan melihat saya setiap hari hahaha..," cerita dia.

Menurut Chanee, persoalan di hutan Kalimantan awalnya terkait dengan penebangan liar kayu-kayu berharga jual tinggi. Tapi, kemudian ditambah pembukaan lahan-lahan baru untuk perkebunan kelapa sawit yang menggiurkan pemilik modal. Habitat hewan-hewan di hutan pun tergusur, termasuk owa-owa.

"Setelah reformasi, kawasan konservasi satwa yang pada zaman Soeharto tidak disentuh menjadi persoalan. Tidak ada kawasan konservasi yang aman. Bahkan, kawasan di luar hutan konservasi mulai dihancurkan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit. Nasib owa dan binatang lainnya tidak mempunyai masa depan," ungkapnya.

Meski begitu, Chanee tidak putus asa. Dia bersama para aktivis Kalaweit, organisasi perlindungan binatang yang didirikannya, terus berjuang agar habitat owa-owa tidak rusak. Dia pun menjalin kerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk tiga hal.

Pertama, menerima semua binatang yang ditangkap karena binatang itu termasuk hewan dilindungi yang disita pemerintah atau diserahkan secara sukarela. Kedua, membantu pemerintah mengamankan beberapa kawasan hutan dari para penjarah. Ketiga, berkampanye kepada masyarakat melalui media tentang pentingnya perlindungan satwa.

Untuk mencapai misi ketiga itu, Chanee kemudian mendirikan stasiun radio lokal yang diberi nama Radio Kalaweit. Dengan konsep anak muda, dia menggandeng generasi muda Kalimantan untuk ikut menyelamatkan hutan dan satwa liar di tanah kelahiran mereka.

"Saya juga tengah menjalin kerja sama dengan Metro TV untuk pembuatan program penyelamatan satwa langka," ujar bapak dua anak dari istri yang asli Kalimantan itu.

Perhatian Chanee terhadap pelestarian satwa liar dan habitatnya sangat besar. Dia rela tinggal di tengah hutan Kalimantan dan bolak-balik Kalimantan-Sumatera untuk melihat langsung binatang-binatang yang ditangani Kalaweit. Selain itu, dia rela membeli 135 hektare hutan di Kalimantan untuk dihibahkan kepada Kalaweit. Sebab, di Indonesia, yayasan tidak diizinkan memiliki lahan sendiri.

"Saya bersyukur masih ada masyarakat yang peduli sehingga 100 persen pendanaan Kalaweit berasal dari mereka. Saat ini masih dari luar negeri. Semoga secepatnya dari masyarakat Indonesia sendiri," tuturnya.

Tentu saja banyak yang menentang perjuangan Chanee itu. Dia pernah diteror lewat ponsel, ditodong pisau, dan rumah kapalnya ditenggelamkan oleh orang-orang yang tidak dikenal. Namun, Chanee tetap tidak peduli dan merasa itu semua sudah menjadi risiko perjuangan.

Kecintaannya kepada satwa Indonesia membuat Chanee jatuh cinta kepada negara ini. Dia berusaha keras mendapatkan status kewarganegaraan Indonesia agar bisa memiliki hak untuk menyuarakan penyelamatan hutan.

Meski telah menikah dengan perempuan asli Kalimantan bernama Nurpradawati pada 2002, dia masih belum bisa mendapatkan status kewarganegaraan yang diinginkan itu. Baru setelah tampil dalam acara KickAndy beberapa tahun lalu, Chanee mendapat kemudahan informasi untuk menjadi WNI.
"Saya sempat melontarkan candaan saat itu. Saya bilang, sepertinya harus menjadi pemain bola dulu jika ingin menjadi warga negara Indonesia. Tapi, setelah itu, saya dibantu beberapa orang untuk bisa mendapatkan status kewarganegaraan Indonesia yang saya inginkan," ujarnya lantas tertawa.
"Saya sempat melontarkan candaan saat itu. Saya bilang, sepertinya harus menjadi pemain bola dulu jika ingin menjadi warga negara Indonesia. Tapi, setelah itu, saya dibantu beberapa orang untuk bisa mendapatkan status kewarganegaraan Indonesia yang saya inginkan." ~ Aurelien Francis Brule

Sudah 15 tahun Kalaweit beraktivitas. Bukan hanya owa-owa yang diurusi. Satwa-satwa liar lain yang diserahkan pemerintah maupun masyarakat kini menjadi concern mereka. Chanee dan aktivis Kalaweit melakukan itu karena tidak ada organisasi-organisasi perlindungan satwa"lain yang mau menerima binatang selain orang utan.

"Yayasan saya menerima semua binatang. Bukan hanya orang utan. Ada beruang, ular, buaya, dan sebagainya," tegasnya. (MARISQA AYU/unikom.ac.id)


4. Robin Lim (AS). Bidan Bali, Mother Hero of the Mothers, Beraksi untuk Negeri


Robin Lim adalah bidan yang diakui secara internasional, terkenal penulis dan penyair berbakat. Non-profit nya melahirkan bahasa Indonesia dan klinik pendidikan telah menyelamatkan ratusan nyawa dan disampaikan ribuan bayi selama dekade terakhir, melayani warga miskin dan tersingkir medis Bali dan, jauh, di provinsi yang dilanda tsunami di Aceh, Sumatera.

"Ibu Robin," atau "Ibu Robin" saat ia disebut oleh penduduk setempat, bekerja untuk perubahan yang dengannya Yayasan Bumi Sehat (Sehat Ibu Bumi Foundation) klinik kesehatan. Suaka ini menawarkan perawatan kehamilan persalinan gratis, layanan persalinan dan bantuan medis untuk siapa saja yang membutuhkannya. Robin organisasi ini didanai sepenuhnya oleh sumbangan pribadi.

Dan kebutuhan yang luas di Indonesia. Rata-rata keluarga mendapatkan setara dengan $ 8 hari, menurut Dana Moneter Internasional, tetapi rumah sakit persalinan normal tanpa komplikasi biaya sekitar $ 70. Sebuah bagian raja dapat biaya lebih dari $ 700.

Lim percaya tingkat tinggi di Indonesia angka kematian ibu dan bayi disebabkan sebagian oleh biaya-biaya, yang banyak perempuan tidak dapat memenuhi. Pada gilirannya, kehidupan mereka dan kehidupan bayi mereka beresiko.


Pengakuan regional dan global (2011 CNN HERO OF THE YEAR).

"Ibu" (Ibu) Robin telah mendapat pengakuan regional dan global. Baru-baru ini dia telah dinominasikan Pahlawan CNN, dan telah tampil di Indonesia setara acara Oprah. Setelah 13 tahun pelayanan dan tantangan keuangan konstan, Ibu Robin kenal lelah tetap berkomitmen untuk mengubah dunia, satu kelahiran lembut pada suatu waktu.

Bekerja sebagai seorang bidan di Indonesia bukan sesuatu Lim, seorang warga negara AS dan penulis banyak buku yang berkaitan dengan kesehatan bayi dan ibu, direncanakan untuk hidupnya. Tapi setelah beberapa tragedi pribadi, hidupnya bergeser ke arah yang baru.

"Dalam rentang satu tahun, aku kehilangan sahabatku dan salah satu bidan yang mengantarkan anak saya," kata Lim, yang memiliki delapan anak. "Adik saya juga meninggal karena komplikasi kehamilan ketiga, dan begitu pula bayinya aku hancur, hanya hancur.. Tapi saya memutuskan untuk tidak marah. Saya memutuskan untuk menjadi bagian dari solusi. Jika saya bisa membantu bahkan satu keluarga mencegah hilangnya seorang ibu atau seorang anak, saya akan melakukan itu saya akan mendedikasikan hidup saya untuk itu.. "

Lim dan suaminya, Will, menjual rumah mereka di Hawaii dan pindah keluarga ke Bali untuk "menemukan kembali kehidupan mereka". Setelah di Bali, Lim mengajukan diri untuk membantu bidan lokal memberikan berbagai bayi di rumah. Dan sebagai permintaan untuk layanan itu tumbuh, ia memutuskan untuk menerima sertifikasi bidan formal.

Pada tahun 1994, Robin mulai menyediakan layanan kesehatan bagi perempuan hamil dan anak balita secara gratis di daerah Ubud, Bali. Dari pertama, tak ada yang memalingkan muka, tidak peduli betapa miskinnya mereka. Segera penuh-matang, organisasi resmi dibentuk. Selama dekade berikutnya karena permintaan tumbuh dan pengetahuan layanan Bumi Sehat itu menjadi luas, yang lain bergabung untuk mendukung inisiatif menyediakan perawatan bagi perempuan dan anak-anak kebutuhan.

Didirikan pada tahun 1995, Bumi Sehat adalah nirlaba, organisasi berbasis desa yang menjalankan dua oleh sumbangan-pusat kesehatan masyarakat di Bali dan Aceh, Indonesia. Kami menyediakan lebih dari 17.000 konsultasi kesehatan untuk anak-anak dan orang dewasa per tahun. Kebidanan layanan untuk memastikan kelahiran lembut adalah jantung dari Bumi Sehat dan klinik kami menyambut sekitar 600 bayi baru ke dunia setiap tahunnya.

Pada tahun 2002 dan lagi pada tahun 2005, Bali diguncang bom teroris, yang menghancurkan ekonomi wisata nya. Pekerjaan Bumi Sehat itu menjadi bahkan lebih penting, seperti kelahiran rumah sakit menjadi lebih terjangkau bagi warga negara tergantung kerajinan.

Pada awal 2005, sebuah klinik kedua didirikan di Aceh, Sumatera 1.000 mil jauhnya, di tanggapan langsung kepada 26 Desember 2004 tsunami. Salah satu LSM yang pertama untuk menjangkau daerah tersebut, YBS memberikan banyak dibutuhkan pasokan medis untuk korban, layanan darurat yang ditawarkan, dan mulai melayani kematian ibu mengejutkan penduduk.

Pada awal 2010, menyusul gempa bumi tragis di Haiti, Robin & Bumi Sehat memimpin tim bidan dengan pasokan dan membantu untuk membangun kesehatan ibu dan anak dan pusat kelahiran di Jacmel, dilisensi oleh Departemen Kesehatan. Pada bulan Juni 2010, Robin dan Bumi Sehat Dewan klinik Haiti berbalik ke LSM lain sehingga bisa berjalan seperti instalasi permanen, melayani korban gempa.

Robin Lim, suaminya, Will Hemmerle, dengan putri mereka, Lakota Moira. (JG Photo)

Beberapa selebriti Indonesia dan ekspatriat memilih Bumi Sehat kelahiran anak-anak mereka, dan mereka sering memberikan sumbangan. Tapi Lim mengatakan 80% keluarga yang dilayani oleh klinik hampir tidak bisa membayar apapun.

"Bintang Rock atau pelacur, semua orang akan diperlakukan (seperti) VIP di Bumi Sehat ... dengan kebaikan dan rasa hormat," katanya. "Ini sesuatu untuk melihat keluarga datang tahun demi tahun, setiap kali pohon mangga mereka memberikan buah, dan memberikan beberapa mangga staf untuk mengucapkan terima kasih".
"Bintang Rock atau Pelacur, semua orang akan diperlakukan (seperti) VIP di Bumi Sehat... dengan kebaikan dan rasa hormat." ~ Robin Lim
Di samping semua ini, yayasan Robin Lim juga memfasilitasi peningkatan kapasitas di Indonesia, mentor mahasiswa bidan dari Bali dan dari seluruh dunia, dan telah mendirikan Pusat Pemuda gratis di Ubud yang mengajarkan keterampilan bahasa Inggris dan komputer untuk remaja lokal.

Dia terkenal di lingkup internasional, dan saat ini dicalonkan untuk menjadi Pahlawan 2011 Year oleh CNN media massa bersama dengan 9 kandidat lainnya. (jagatbali.com)



5. Annette Horschmann (Jerman). "Kutambatkan Hati di Danau Toba Indonesia"


Bagi sebagian warga Indonesia, nama Annette Horschmann mungkin masih asing. Tapi bagi masyarakat di Sumatera Utara, nama wanita asal Jerman ini aman populer. Annette merupakan wanita yang sangat peduli dengan kelestarian Danau Toba. Bahkan ia tak segan memunguti sampah demi menjaga keindahan dan kebersihannya. Di sisi lain, Annette juga sering mempromosikan Danau Toba di negaranya. Ia menyebut bahwa Danau Toba tak kalah indah dibanding tempat populer lainnya di Indonesia.

Annette Horschmann, telah melanglang buana ke beberapa negara sejak ia lulus kuliah di tahun 1984. Di Thailand tahun 1993 ia mendengar cerita tentang Danau Toba dari turis-turis lainnya. Sejak saat itu rasa penasarannya terhadap Danau Toba mulai muncul. Puncaknya saat ia di New Zeland. Hanya beberapa hari di New Zeeland ia kemudian memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan langsung ke Danau Toba.

Sesampainya ia di Danau Toba ia tertegun melihat keindahan Danau Toba. Namun rasa takjubnya terganggu oleh banyaknya sampah yang berserakan di danau toba, sebagai orang Jerman yang sangat sadar lingkungan ia kemudian memutuskan untuk melakukan aksi bersih Danau Toba.


Danau Toba dan keindahan alamnya di Pameran Pariwisata Internasional Berlin (ITB Berlin) 2013. Dia mempertontonkan video klip dan foto-foto Danau Toba.

Ia mengajak tetangganya yang turis Belanda untuk bekerja sama membersihkan danau Toba dari sampah dan enceng gondok. Mereka kemudian mengajak pemuda-pemuda lokal untuk membantu mereka.

Annette belajar bahasa Batak tujuannya selain untuk bisa berinteraksi dengan masyarakat lokal juga untuk melancarkan misi pembersihan tersebut. Menurutnya, jika menggunakan bahasa daerah maka orang yang ditegur akan cepat mengerti dan itu lebih sopan. 

Karena kecintaannya terhadap Danau Toba ia pun bertemu dengan jodohnya yang merupakan orang asli Toba, Anthony Silalahi. (Kick Andy di Metro TV)


"Nunga hudapot di son ngolukku. Hidup dan masa depan saya ada di sini. Keluarga saya ada di sini. Saya hidup bahagia bersama suami dan anak-anak." 
~ Annette Horschmann
Jika ingin informasi bisa menghubungi www.tabocottages.com
 


6. Elizabeth Karen Sekar Arum (AS). Sinden Keren from USA 


Nama Karen Elizabeth Sekararum sudah tak asing di antara deretan penggiat seni Jawa Timur. Berangkat dari padepokan seni Mangun Dharma Malang, dia meretas konsistensi dan berjuang menghidupkan lagi seni tradisional yang mulai terpinggirkan.

Hobi menari dan nyinden kini telah menjadi sebuah identitas yang tak terpisahkan dari sosok perempuan kelahiran Chicago, Amerika Serikat, itu. Istri dalang Ki Soleh Adi Pramono tersebut kini lekat dengan identitas sinden bule. Satu-satunya di Jatim, mungkin di Indonesia.

“Saya mengawalinya sebagai penikmat seni tradisional Jawa. Eeh, suwe-suwe kok kepincut, ya sekalian saja nyemplung,” tuturnya sambil tersipu.

Ibu dari Sonya Condro Lukitosari dan Kyan Andaru Kartikaningsih itu mengatakan, budaya tradisional Indonesia, khususnya Jawa Timur, adalah seni budaya yang sangat langka. Sayang, kata dia, generasi muda Jawa cenderung mengabaikannya. “Saya sangat mengaguminya. Terus terang, saya eman jika seni adiluhung itu hilang percuma,” ujarnya.

Elizabeth mengaku akan kecewa jika seni budaya tradisional sering diposisikan di tempat kedua setelah kebudayaan modern. “Setiap mendengar gending Jawa, saya merasa ayem. Anehnya, anak-anak muda sekarang cenderung anti terhadap irama warisan nenek moyangnya,” katanya.

“Tidak ada yang melarang jika orang suka musik rok atau dangdut. Tapi, jangan lupakan seni tradisional sendiri,” sambung wanita bermata biru tersebut.
“Tidak ada yang melarang jika orang suka musik rok atau dangdut. Tapi, jangan lupakan seni tradisional sendiri." ~ Elizabeth Karen
Sebagai bentuk keprihatinannya, Elizabeth merumuskan sebuah ide untuk disampaikan kepada generasi muda Indonesia. “Sebaiknya, para pelestari budaya mulai memikirkan cara mengawinkan seni modern dengan tradisional untuk menumbuhkan kecintaan pemuda terhadap seni tradisional,” ucapnya.

Dia menilai, seni itu ada karena ada yang menikmati dan mengapresiasi. Jadi, walaupun dimuseumkan, kalau tidak ada lagi yang menikmati, seni menjadi tidak berguna. “Kalau nggak gitu, ya muspro (percuma),” tuturnya.

Jika pencinta seni tradisional cukup banyak, kesenian tersebut pun akan terjaga dengan sendirinya. “Meski tidak disimpan dalam museum, kesenian itu akan terjaga oleh masyarakatnya,” katanya.


Tentang Elizabeth Karen
 
Nama: Karen Elizabeth Sekararum
Penggilan: Elizabeth
Tempat, tanggal lahir: USA, 19 Desember 1964
Alamat: Padepokan Seni Mangun Dharma Tumpang, Malang
Suami: Ki Sholeh Adi Pramono
Anak: Sonya Condro Lukitosari (13) dan Kyan Andaru Kartikaningsih (8)
Pendidikan: Universitas Wisconsin, dan Universitas Virginia, Amerika Serikat
Ayah: David Schrieber
Ibu: Janet Schrieber
Hobi: Menari, menyanyi
Makanan favorit: Masakan Padang





7. Carlos Ferrandiz (Spanyol). Guru Bahasa Inggris yang Mengabdi di Sumbawa


Bagi sebagian besar warga negara asing, Indonesia adalah negara indah yang biasa dijadikan tujuan untuk berwisata. Namun bagi Carlos Ferrandiz, Indonesia memiliki arti lebih dari itu.

Pria asal Spanyol ini begitu mencintai Indonesia. Berawal dari kekagumannya atas pantai-pantai di Indonesia, ia mulai tertarik berpetualang lebih dalam di Indonesia.

Kualitas pendidikan adalah hal yang paling disorot oleh Carlos. Ia menganggap pendidikan di Indonesia, khususnya di Sumbawa sangat memprihatinkan.

Tak ingin berdiam diri, Carlos memutuskan untuk tinggal lebih lama di Sumbawa. Singkat cerita, Carlos mengajarkan anak-anak Sumbawa berbahasa Inggris. Kelas Bahasa Inggris pun ia buka setiap sore. Dari situlah ia akhirnya membentuk Harapan Sumbawa Proyek.

"Terpacu dari keinginan masyarakat ini untuk belajar, saya memutuskan bahwa hidup saya harus berubah untuk membantu orang orang ini. Pada titik tersebut, Harapan project telah lahir," tulis Situs www.proyectoharapan.org.  

Proyek Harapan Sumbawa







"Terpacu dari keinginan masyarakat ini untuk belajar, saya memutuskan bahwa hidup saya harus berubah untuk membantu orang orang ini. Pada titik tersebut, Harapan project telah lahir." 
~ Carlos Ferrandiz
Kunjungi Carlos Ferrandiz dan muridnya di http://www.facebook.com/ProyectoHarapanSumbawa



8. Daniel Ziv (Kanada). 7 Tahun Berjuang Naik Turun Bus demi 'Jalanan'  


Daniel adalah seorang sutradara film dokumenter 'Jalanan'. Tidak tanggung-tanggung, Daniel mengikuti dan mendokumentasikan para pemeran utama dalam filmnya selama 7 tahun. 

Pengalaman Daniel sebagai wartawan di Ibu Kota menjadi bekal dalam membuat film ini. Banyak sisi kehidupan di perkotaan yang menarik untuk ditelusuri. Selama hidup di Jakarta selama 11 tahun, Daniel tinggal di Cikini. Sebelumnya, pria berkebangsaan Kanada itu pernah menetap di Bali.

 Saat di Bali. Pria berkebangsaan Kanada itu pernah menetap di Bali.

'Jalanan' adalah sebuah film yang mengangkat kehidupan tiga pengamen Jakarta dan subkultur jalanan yang ada di Ibu Kota. Untuk film ini, Daniel mengaku, harus melakukan audisi rahasia sebelum memutuskan untuk mengangkat kehidupan tiga pengamen sebagai pemeran utama. Dia meluangkan waktu naik turun bus umum mencari pengamen yang memiliki karakter sesuai filmnya.

Dengan menyorot tiga kehidupan pengamen dengan latar belakang yang berbeda-beda, Daniel berhasil menampilkan wajah lain dari kota Jakarta yang gemerlap penuh mal serta hotel berbintang. Film dokumenter yang ia suguhkan memiliki paket komplet dengan menyinggung sisi sosial hingga politik dari kaca mata para karakternya.


 Bersama Ho, Titi, dan Boni di film Jalanan.

Film ini pun berhasil memenangkan Best Documentary dalam Busan International Film Festival, festival film terbesar di Asia yang dihelat di Korea Selatan pada Oktober 2013 lalu. "Ini merupakan sejarah, selama 18 tahun ajang ini diadakan baru kali ini film Indonesia keluar sebagai pemenang," kata Daniel.


"Ini merupakan sejarah, selama 18 tahun ajang ini diadakan baru kali ini film Indonesia keluar sebagai pemenang." ~ Daniel Ziv




Setelah baca, jadi merasa malu sama diri sendiri hehe...  ^^'


8 komentar:

Selasa, 10 Februari 2015 21.58.00 WIB Safwan Murtadha mengatakan...

andai banyak orang indonesia yang seperti ini, Thanks For Sharing that...........

Senin, 20 April 2015 14.58.00 WIB Diana Putri mengatakan...

Terimakasih sudah sharing artikel ini, semoga di Indonesia banyak orang seperti yang dipaparkan dalam artikel ini.

Selasa, 19 Mei 2015 17.06.00 WIB Michael Twin mengatakan...

Nice Post, Thanks for your very useful information...

Senin, 08 Juni 2015 00.10.00 WIB Anonim mengatakan...

nice

Rabu, 02 September 2015 14.07.00 WIB Michael Husen mengatakan...

I was about to say something on this topic. But now i can see that everything on this topic is very amazing and mind blowing, so i have nothing to say here. I am just going through all the topics and being appreciated. Thanks for sharing.

Senin, 09 Mei 2016 18.06.00 WIB Dian Oktavia mengatakan...

Merasa tersentuh sekaligus malu pada diri sendiri... Padahal orang Indonesia asli, tapi tidak sedikitpun tindakanku yang 'satu level' dengan perjuangan-perjuangan mereka... salut^^
thanks for sharing^^

Rabu, 01 Juni 2016 19.39.00 WIB Bahasa-Corner.com mengatakan...

Mari bersama membangun negeri tercinta ini agar kembali maju dalam berbagai bidang dan selalu mencintai budaya dan bahasanya.

Salam

Sabtu, 30 Juli 2016 16.40.00 WIB abby rafa muhammad mengatakan...

terharu sekali,,kita org indon aja gak ada apa2nya ya soal aku cinta indonesianya,,,knpa ya

Poskan Komentar

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
23