You Must Believe...

Beberapa tahun lalu, profesor-profesor di Amerika Serikat berkumpul. Mereka mengeluhkan, mengapa pada generasi sekarang tidak muncul ilmuwan-ilmuwan atau tokoh hebat sekaliber Einstein, Newton, Kennedy, dan sebagainya. Lalu mereka berdiskusi mengenai penyebab apa yang merupakan kemunduran bangsa Amerika dibanding sebelumnya. Akhirnya dari diskusi tersebut keluar satu kesimpulan bahwa mereka harus membenahi dunia pendidikan dasar. Maka pergilah profesor-profesor tersebut mengunjungi satu sekolah dan mereka melakukan survey di sana.

Murid-murid sekolah diminta menjawab soal dan hasilnya diteliti. Dari hasil tes tersebut seorang profesor mendatangi sang guru. Terjadilah dialog seperti ini :

“Saya mau bertanya kepada bu guru tentang dua anak ini. Dari 40 siswa di kelas kenapa dua anak ini bisa ranking 39 dan 40?”
“Iya prof, mereka anak yang bandel. Suka bolos dan bodoh. Pantas saja mereka ranking paling akhir.”
“Wah, ibu salah,” kata sang profesor. “Dari hasil tes kami, dua anak ini terbukti sangat cerdas. Dia calon ilmuwan besar.”
“Coba ibu perhatikan dua anak ini. Kami akan datang setahun lagi untuk melihat hasilnya.”

Selepas tim profesor itu pergi maka sang guru mulai memperhatikan dua anak yang selama ini dinilainya bandel dan jarang diperhatikan. Kalau tidak masuk, langsung ditelpon atau dikunjungi rumahnya. Ketika hasil ulangan jelek, sang ibu guru dengan penuh ketekunan mengajari kembali dua anak tersebut sehingga mereka mengerti. Dan akhirnya sesuai janji, tahun berikutnya profesor-profesor tersebut datang lagi ke sekolah tersebut.

“Bagaimana hasilnya, bu?” tanya para professor tersebut. “Betul prof. Seperti professor bilang, anak ini termasuk cerdas. Dari tahun lalu mereka ranking 39 dan 40, sekarang menjadi rangking 3 dan 4. Bagaimanya professor bisa tahu anak ini cerdas?” tanya sang ibu guru. Profesor tersebut menjawab, “Sebetulnya kami telah berbohong dalam mengadakan tes. Kami tidak melakukan apa-apa. Kami hanya ingin tahu, kalau guru tekun mendidik dan percaya bahwa anak didiknya bisa, maka mereka akan bisa. Dan inilah hasilnya.”

Rupanya ketekunan dan kepercayaan saja kuncinya. Anak-anak itu tetap sama.
“Sebetulnya kami telah berbohong dalam mengadakan tes. Kami tidak melakukan apa-apa. Kami hanya ingin tahu, kalau guru tekun mendidik dan percaya bahwa anak didiknya bisa, maka mereka akan bisa. Dan inilah hasilnya.”

Itulah yang terjadi ketika Master Shifu akan mendidik Panda menjadi jagoan, Pendekar Naga dalam film animasi terkenal anak-anak The Kungfu Panda. Ketika Master Oogway memilih Panda sebagai Pendekar Naga yang bakal menandingi penjahat Ta Lung, semua meragukan termasuk calon gurunya Master Shifu. Master Oogway hanya mengatakan, “There is no accident. You must believe…” lalu beliau pergi diikuti hembusan angin.


“There is no accident. You must believe…”

Kita tidak mungkin berhasil mendidik dan mengembangkan anak didik kita sebelum mempercayai kemampuan yang dimiliki oleh anak tersebut, dan-tentu saja kita percaya kemampuan kita mendidik anak tersebut. Cara Master Shifu melatih Panda menjadi seorang Dragon Warrior sangat menarik. Bagaimana mungkin, dengan badan yang begitu besar Panda menjadi seorang jagoan kung fu. Master Shifu menemukan kegemaran Panda yang doyan makan menjadi “titik masuk” untuk melatih kungfu. Dengan kegigihan Panda berlatih sesuai dengan keinginannya, ditambah dengan kepercayaan luar biasa Master Shifu atas kemampuan Panda, jadilah Panda seorang jagoan kungfu yang berhasil mengalahkan Ta Lung.



Setiap anak didik mempunyai keunikan tersendiri, mempunyai kelebihan masing-masing. Tugas seorang guru adalah membantu menemukan, mengembangkan dan memotivasi sang anak agar tercapai cita-citanya. Kita bisa berkaca pada tokoh-tokoh besar, pada dasarnya mereka mempunyai seorang mentor. Mike Tyson, anak jalanan bisa menjadi petinju hebat karena ada seseorang yang memperhatikan bakatnya. Seorang guru pun dalam mendidik muridnya harus seperti itu, penuh percaya diri, memberi motivasi dan mengajarkan ilmunya.

Terakhir, tidak ada kata kebetulan. Yang ada hanya kesungguhan seorang murid yang dibimbing seorang guru. Seperti kata Master Oogway, “There is no accident.” ^^

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
23