Nenek: Tentang Kenangan, Pelajaran, dan Pengalaman Hidup


7 November 2013.

Hari ini, 2 tahun yang lalu…

Nenek pergi selama-lamanya meninggalkan kami. Bagi kami, nenek adalah sosok seorang ibu dan nenek yang luar biasa hebatnya, juga pendidik sekaligus aktivis persamaan hak perempuan pada masanya. Nenek adalah satu dari sekian perempuan Gerwani yang beruntung karena masih dapat tetap hidup tenang dengan idealisme, tanpa pernah diperkosa atau diancam dibunuh, selayaknya teman-temannya yang lain.

Kakek dan nenek adalah interpretasi tentang pernikahan dan cinta sejati menurut saya. Hingga masa-masa terakhir hidupnya, mereka masih bergandengan tangan ketika berjalan. Walau tidak jarang juga kakek tersulut emosi karena nenek berjalan terlalu lama. Tapi, ketika nenek berkata dengan lembut dan sedikit menggoda, "Sabar pak. Jelek lho kalau marah. Aku gak doyan kalau mukamu marah begitu.",  seketika kakek luluh dan pada akhirnya, mereka akan tertawa bersama. Manis.

Saat ibu saya masih kecil, kakek dan nenek pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidup. Kakek saya, yang saat itu bertugas di sebuah kantor di Jawa Timur, kehilangan pekerjaannya karena diduga terlibat dalam pergerakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Untuk mengatasinya, nenek dengan rela dan tanpa keluh berjualan tempe di pasar setiap hari demi bertahan hidup dan menyekolahkan anak-anaknya.

Sebelum berangkat ke pasar, nenek masih sempat menyiapkan makanan terbaiknya untuk suami dan anak-anaknya. Katanya, itu adalah wujud pengabdiannya kepada keluarga. Lalu sepulangnya dari pasar, setiap sore nenek selalu menyempatkan diri untuk berdiskusi dengan kakek tentang segala hal di beranda rumah mereka.

Kakek dan nenek memang senang berdiskusi, mengenai hal yang paling kecil hingga yang terbesar dalam hidup mereka, terutama saat memutuskan sesuatu. Sehingga kami, anak dan cucu-cucunya pun terbiasa mengedepankan dialog saat dihadapkan dengan permasalahan atau sekedar berdiskusi ringan tentang apapun.

Sepeninggal kakek saya, nenek sering terduduk sendiri di meja makan. Terkadang lupa, karena nenek masih menuangkan nasi dan lauk di atas piring kesukaan kakek. Atau membuatkan kopi hitam yang diletakkannya di meja televisi, di samping koran. Saat dilanda rindu, nenek sering pergi sendiri menuju beranda rumahnya dan terdiam disana. Mungkin sedang menahan hasrat untuk bertukar pikiran dengan teman hidupnya yang setia.

Hingga 6 bulan terakhir sebelum kepergiannya, saat nenek hanya bisa terbaring di atas tempat tidur, yang dipikirkannya tiap pagi adalah hari ini masak apa, nasi sudah siap atau belum, dan hal-hal berbau kegiatan rumah tangga lainnya. Saat kami meminta padanya untuk menghentikan kebiasaannya itu, nenek hanya menjawab: "Perempuan itu wajib membentuk rumahnya seperti rumah."Dan nenek tetap menjalankan kewajibannya sebagai isteri, walau suaminya sudah tak ada lagi.

Pernah saya berdiskusi dengan nenek tentang buku Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi, dimana salah satu kutipan dialog dari tokoh Firdaus, perempuan yang dihukum mati karena membunuh germonya, adalah sebagai berikut:
"Tubuh yang paling murah dibayar adalah tubuh sang isteri. Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur yang bebas daripada menjadi seorang isteri yang diperbudak. Setiap saat saya berikan tubuh saya, saya kenakan harga yang paling tinggi".
Saat itu nenek hanya berkata seperti ini:
Yang penting sekarang kamu sekolah yang pintar, kerja, menikah. Nenek selalu berdoa supaya pengalaman akan membawamu bertemu dengan laki-laki yang baik yang akan menjadi suamimu. Baik seperti kakekmu itu. Walau berisik dengan lagu-lagu Iwan Fals yang dinyalakan terlalu keras, tetapi hatinya baik. Jangan lupa asah keahlian memasak dan membersihkan rumah. Yang bisa nenek pastikan, menjadi isteri bukan menjadi budak. Lihat sekitarmu, belajar, maka suatu saat kamu akan mengerti.”
Sempat terbesit dalam pemikiran saya waktu itu, jadi sebenarnya perempuan itu bertanggung jawab pada siapa? Pada dirinya sendiri? Atau pada kodrat? Definisi kodrat itu sendiri menurut saya sih multiinterpretasi. Berbeda-beda tergantung sudut pandang, latar belakang, kondisi sosial, agama dan norma-norma lain yang dianut dari sang pembuat definisi itu sendiri.

Tapi saya mempunyai keyakinan pada satu hal. Bahwa pada dasarnya, setiap perempuan punya hak menentukan hidupnya sendiri. Mau menikah, mau berkarir, mau menjadi ibu rumah tangga, atau mau tidak menikah pun itu hak mereka sebagai manusia bebas yang dilahirkan di bumi ini. Saya sendiri, dengan segala kelebihan dan kekurangan saya, memilih untuk menikah suatu hari nanti.

Mengapa? Karena saya ingin membentuk keluarga. Saya ingin menjadi isteri, ibu, dan pendidik yang baik untuk keluarga saya nantinya. Seperti kata Indhira Gandhi dalam pidatonya yang berjudul "What Educated Women Can Do" pada tahun 1974 lalu:
"Woman is the home and the home is the basis of society."
Dengan menumbuhkan nilai-nilai baik dari komunitas terkecil dalam masyarakat, yaitu keluarga, seorang ibu ketika mampu membentuk rumahnya seperti rumah, berarti turut berkontribusi dalam membangun harkat dan martabat bangsa. Membangun harkat dan martabat bangsa berarti membangun sebuah negara. Hebat bukan?

Bagi saya, walau mungkin di era globalisasi ini perempuan bisa hidup sendiri, dia pun harus mau mengakui bahwa dia masih butuh laki-laki untuk memenuhi kebutuhan batinnya. Seperti halnya nenek saya, yang ketika ditanya apa hal yang tidak terlupakan dalam hidupnya, menjawab:
"Malam sebelum kakekmu meninggal. Saat kakekmu memeluk nenek dan bilang nenek cantik."
Damai di sana, nenekku sayang. 2 tahun sudah engkau pergi dan meninggalkan kami banyak sekali kenangan, pelajaran, dan pengalaman hidup. Terima kasih.

Dan untuk semua perempuan yang sedang di pelukan, selamat pagi.

Salam,

Ayunda Meitida


0 komentar:

Poskan Komentar

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
23