Pemalu, Itu Ternyata Sinyal Orang Baik Hati

Pernahkah Anda terpeleset di depan banyak orang saat mengenakan sepatu tumit tinggi? Atau, tak sengaja menjatuhkan gelas di restoran yang hening? Ini pasti jadi momen yang bikin Anda ingin langsung pergi sambil menutup muka.

Namun, dari momen-momen memalukan ini ternyata ada efek positifnya. Yaitu, Anda dinilai sebagai pribadi yang baik, perhatian, mudah dipercaya sehingga banyak yang ingin berteman oleh orang lain. Hal ini menurut penelitian Matthew Feinberg, psikolog dari University of California.

Penelitian yang baru dipublikasikan secara online dalam Journal of Personality and Social Psychology ini melihat apakah mungkin momen memalukan bisa mengungkap kecenderungan seseorang menjadi prososial. Ini berarti kemampuan menjadi pribadi yang murah hati, dapat dipercaya, dan lebih peduli terhadap orang lain.

Untuk mengetahuinya dilakukan percobaan yang melibatkan 57 mahasiswa. Mereka mengungkap momen memalukan yang pernah dialami dan direkam dalam melalui video. Sebagian besar momen tersebut adalah buang gas dan tersandung saat berjalan.

Para mahasiswa juga diminta menyelesaikan dua tes untuk mengukur kemurahan hati mereka dan kemampuan bekerja sama. Lalu, dari rekaman video, peneliti memberikan peringkat seberapa memalukan momen tersebut dan seberapa malu perasaan para mahasiswa.

"Malu ternyata mengindikasikan kalau Anda perhatian dengan orang lain dan tidak bermaksud menyakiti mereka."  
~ Matthew Feinberg, University of California


Diketahui dari percobaan ini kalau merasa malu adalah sinyal dari sikap baik hati. Malu ternyata mengindikasikan kalau Anda perhatian dengan orang lain dan tidak bermaksud menyakiti mereka.

"Orang yang tidak mudah merasa malu dinilai sebagai pribadi yang sulit dipercaya dan egois," kata Matthew Feinberg, dikutip dari msnbc.msn.com.

Meskipun malu mengekspresikan sisi ketidaknyamanan, Feinberg mengungkap justru ini bisa membantu orang mendapatkan informasi tentang karakter Anda. Bahkan, bisa jadi sinyal yang menggambarkan kalau Anda pribadi yang baik dan bisa diandalkan.




Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Ayah dan Ibu adalah dua orang yang sangat berjasa kepada kita. Lewat keduanyalah kita terlahir di dunia ini. Keduanya menjadi sebab seorang anak bisa mencapai Surga. Doa mereka ampuh. Kutukannya juga manjur. Namun betapa banyak sekarang ini kita jumpai anak-anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Panti jompo menjamur di mana-mana, ini menunjukkan tidak mengertinya sang anak akan 'harga' kedua orang tua. Mereka titipkan kedua orang tuanya di sana dalam keadaan sengsara dan kesepian melewati masa-masa tuanya, sementara mereka bersenang-senang di rumah mewah. Kejadian seperti ini juga akibat kesalahan orang tua yang tidak memberikan pendidikan agama kepada anaknya.

Nash yang berbicara tentang perintah dan anjuran berbuat baik kepada kedua orang tua, dari Al Quranul Karim Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Beribadahlah kalian kepada Allah dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua."


Hidup Bahagia dengan Bersyukur

Begitu memasuki mobil mewahnya, seorang direktur bertanya pada supir pribadinya, "Bagaimana kira-kira cuaca hari ini?" Si supir menjawab, "Cuaca hari ini adalah cuaca yang saya sukai". Merasa penasaran dengan jawaban tersebut, direktur ini bertanya lagi, "Bagaimana kamu bisa begitu yakin?"

Supirnya menjawab, "Begini, pak, saya sudah belajar bahwa saya tak selalu mendapatkan apa yang saya sukai, karena itu saya selalu menyukai apapun yang saya dapatkan."

Jawaban singkat tadi merupakan wujud perasaan syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tenteram, dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.


Seorang pengarang pernah mengatakan, "Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi." Ini perwujudan rasa syukur.

Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur. Pertama, kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah Anda sudah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang baik. Tapi Anda masih merasa kurang.


Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, lihatlah orang-orang disekitar anda yang hidupnya tidak sebaik anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.

Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.

Saya ingat, pertama kali bekerja saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan-rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya resah dan gelisah. Sebagai mantan mahasiswa teladan di kampus, saya merasa gelisah setiap mengetahui ada kawan satu angkatan yang memperoleh penghasilan di atas saya. Nyatanya, selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya.


Saya menjadi gemar berganta-ganti pekerjaan, hanya untuk mengimbangi rekan-rekan saya. Saya bahkan tak peduli dengan jenis pekerjaannya, yang penting gajinya lebih besar. Sampai akhirnya saya sadar bahwa hal ini tak akan pernah ada habisnya. Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan. Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya.

Ada cerita tentang saudara kita yang hidupnya diberatkan karena hutang, bukan karena kebutuhan hidup yang membuat dia berhutang, tetapi ketidak-mampuannya menahan hawa nafsu untuk memiliki barang. Sudah memiliki motor, ingin membeli motor baru, walaupun cicilan kreditnya cukup besar, membeli TV baru dengan alasan TV yang lama sudah kuno. Dan banyak lagi demi gengsi atau demi sekedar kepuasan semata. Tetapi sekarang hidupnya selalu susah dan diberatkan oleh hutang. Hutang yang satu ditutup dengan hutang lainnya. Akhirnya hidupnya menjadi susah, ingin bekerja susah, ingin ngaji juga susah karena hutangnya sudah banyak dimana-mana. Semoga kita dijauhkan dari beratnya hutang.

Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi. Bersyukur dapat membuat hidup kita lebih tentram.


Menaiki Kendaraan Umum (Tes Kokology Cinta)

 TES KOKOLOGY | Peraturannya: Tulis hal pertama yang muncul di kepala kalian - Jangan berusaha mengira-ngira jawaban - Jujurlah dengan diri sendiri - Lihatlah reaksi orang lain (termasuk diri sendiri) - Tetaplah berpikiran terbuka - Jawablah semua pertanyaan terlebih dahulu, baru perhatikan jawaban yang sesuai dengan pilihan kalian. Game ini bisa membantu kalian dalam membaca karakter serta kepribadian kalian.

START!

1. Saat hendak menyeberang jalan raya satu arah, biasanya kamu suka melihat ke berapa arah?
a. Satu arah aja, melihat ke arah datangnya kendaraan
b. Dua arah, kiri dan kanan
c. Tiga arah, kiri, kanan dan depan
d. Lurus saja, mengikuti para penyeberang yang lain
2. Kamu sudah sampai di seberang jalan, biasanya kamu suka memakai bus kota, tapi saat itu bus kota belum juga datang, sedangkan di depan kamu ada angkot, apa yang akan kamu lakukan?
a. Menunggu sampai bus kota datang
b. Naik angkot aja
3. Saat sudah berada di dalam angkot, kamu lebih senang melihat jalan yang ada di sisi mana?
a. Depan saja
b. Depan dan belakang
c. Belakang saja
4. Ketika sedang berada di bus kota, kamu lebih suka duduk di sebelah mana?
a. Di dekat sopir
b. Di tengah
c. Di belakang, di kursi yang panjang
5.Sedang asik di jalan, tiba-tiba ada yang menelponmu… waktu menerima telepon tersebut kamu panik sekali sampai-sampai mengganggu penumpang yang lain. Kira-kira kamu dapat telepon dari siapa?
a. Pacar
b. Orangtua
c. Sahabat
d. Orang asing

Sekarang kita lihat  jawaban dari kokology ini,  jangan berpaling... :P


Jawaban Tes Kokology

1. Ini menunjukan cara pandang kamu di dalam menghadapi masalah.
a. Kalau kamu punya masalah, kamu bisa fokus dengan masalah kamu dan tidak menyangkut-pautkan masalah kamu dengan masalah yang lain.
b. Kamu suka membanding-bandingkan masalah yang sedang kamu hadapi dengan masalah yang lain.
c. Kamu adalah orang yang peka terhadap masalah. Saking pekanya, kamu suka menghubung-hubungkan masalah-masalah kamu dengan beberapa masalah yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali, sehingga seringkali itu membuatmu down.
d. Kamu cenderung tidak peduli dengan masalahmu.
2. Ini menunjukkan seberapa sabar dirimu ketika menunggu seseorang.
a. Sebegitu setianya dirimu yang masih tetap menunggu seseorang sampai-sampai apa yang ada di hadapanmu tidak bisa menggoyahkan pendirianmu.
b. Kamu tipe orang yang tidak bisa menunggu.
3. Ini menunjukkan bagaimana cara kamu menyikapi masa lalu.
a. Kamu sadar bahwa masa lalu bukan untuk diratapi…
b. Masa lalu kamu jadikan sebagai pembelajaran dan tetap fokus ke depan, akan tetapi ketika kamu sedang sangat putus asa, kamu pasti akan melihat kembali ke belakang. Bukannya makin kuat malah akan menjadi makin lemah.
c. Melihat ke belakang memang menyenangkan, tapi bukan berarti kamu tidak bisa melihat apa yang ada di depan.
4. Ini juga menunjukkan bagaimana cara kamu menyikapi masa lalu.
a. Kamu cenderung melihat ke masa depan.
b. Seimbang antara masa lalu sebagai pelajaran dan kenangan, dan masa depan sebagai tantangan yang perlu untuk ditaklukkan.
c. Kamu cenderung melihat ke masa yang sudah berlalu.
5. Ini menunjukkan sisi dimana kamu membutuhkan orang-orang yang kamu pilih tadi.
a. Kamu lebih nyaman dengan pacar.
b. Orangtua bukan cuma sekedar orangtua kamu, tetapi juga sebagai sahabat kamu.
c. Sahabat adalah orang yang perlu kamu datangi ketika kamu punya banyak masalah.
d. Kamu lebih senang bercerita ke orang lain yang tidak kamu kenali dan kepada orang yang bermasalah sama kamu.

A new day has come.. ^^

Miliki IQ 200, BJ Habibie Jadi Muslim Tercerdas di Dunia

Presiden Republik Indonesia ketiga, BJ Habibie disebut sebagai salah seorang Muslim tercerdas di dunia. Akun Twitter, @TwitFaktaIslam menyebut, Habibie masuk ke dalam 10 besar tokoh dunia dengan intelligence quotient (IQ) 200.

Sebagai perbandingan, penemu teori relativitas gravitasi Albert Einstein, yang disebut sebagai ilmuan terhebat sepanjang masa; hanya mempunyai IQ 160. Skor IQ Habibie juga masih lebih tinggi daripada Sir Isaac Newton (190) dan Galileo Galilei (165).

Albert Einstein, yang disebut sebagai ilmuan terhebat sepanjang masa; hanya mempunyai IQ 160
IQ adalah ukuran kemampuan intelektual, analisis, logika, dan rasio seseorang. IQ dijadikan patokan kecerdasan otak untuk menerima, menyimpan, dan mengolah informasi menjadi fakta.
Mantan menteri riset dan teknologi (menristek) ini menjadi satu-satunya orang yang masih hidup hingga kini. Pasalnya, sembilan orang lainnya yang memiliki kecedasan intelektual paling tinggi sudah wafat. “Mantan Presiden RI, BJ Habibie masuk 10 Besar Tokoh Dunia yang IQ-nya mencapai 200, 9 Tokoh lainnya telah wafat,” demikian kicauan itu.

REPUBLIKA ONLINE

Kisah Pramugari yang Baik Hati

Seorang pramugari selain mengenakan pakaian cantik seperti yang diketahui banyak orang, tentu saja ada kalanya saya menghadapi saat-saat sulit. Pramugari harus kerja lembur, di dalam pesawat harus mengantar makanan pada ratusan orang, menjual barang duty free, melayani tamu, sibuk sekali sampai tidak bisa tersenyum. Dalam keadaan demikian tetap harus mengingatkan diri bahwa pekerjaanku adalah pelayanan, harus melayani banyak orang. Walaupun bagaimana memberitahu diri kadang-kadang ada saat dimana saya kehabisan tenaga, tak bisa bersabar dan tersenyum.

Sampai pada suatu hari teman baik saya bercerita tentang bagaimana dia melayani seorang kakek tua yang pikun, saya baru bisa mengubah sikap kerja saya. Ini adalah sebuah penerbangan dari Taipei ke New York. Pada saat pesawat terbang take off tak berapa lama, ada seorang kakek yang tidak bisa mengontrol untuk buang air besar. Dan akhirnya mengeluarkannya di tempat. Keluarga yang melihat hanya merasa jijik dan memaksa kakek ini untuk membersihkan diri di toilet sendirian. Orang tua ini tampak ragu sejenak, lalu kemudian seorang diri berjalan menuju toilet yang berada di belakang.

Pada saat kakek itu keluar dari toilet, walau bagaimana pun ia mengingat, ia tetap tidak mampu mengingat tempat duduknya sendiri. Kakek yang berumur 80-an ini menjadi cemas, takut, dan menangis seorang diri di teras toilet. Seorang pramugari datang membantu kakek ini, bau yang teramat sangat memenuhi badan kakek. Ternyata kakek ini tidak mengetahui dengan jelas letak tissue di dalam toilet tersebut sehingga ia membersihkannya dengan menggunakan bajunya. Toilet yang digunakannnya tadi jadi kotor dan berantakan sekali.

Setelah mengantarkan kakek kembali ke tempat duduknya. Para penumpang disekitarnya mulai mengeluh bau busuk yang berasal dari badannya. Pramugari menanyakan kepada saudaranya apakah mereka masih memiliki baju pengganti yang bisa digunakan oleh kakek ini. Saudaranya mengatakan, semua pakaian ada di bagasi pesawat, jadi kakek ini tidak memiliki baju pengganti. Dan saudaranya berkata, "Sekarangkan penerbangan ini tidak terisi full, saya melihat ada beberapa baris bagian belakang yang masih kosong, bawa saja kakek ini untuk duduk di belakang." Pramugari ini hanya bisa mengikuti keinginan dari saudaranya dan membawa kakek ini ke barisan belakang.

Kemudian mengunci toilet yang telah digunakan oleh kakek ini agar penumpang lain tidak salah masuk toilet. Akhirnya kakek ini duduk di bangku belakang seorang diri, menundukan kepala dan tak henti-hentinya menghapus air matanya yang terus mengalir.

Siapa sangka satu jam kemudian, kakek ini sudah berganti pakaian, dengan badan yang bersih dan tersenyum riang kembali ke tempat duduknya semula. Di depan mejanya tersaji seporsi makanan baru yang masih hangat. Semua orang saling bertanya siapa gerangan yang membantunya? Ternyata teman baik saya ini yang mengorbankan waktu makan malamnya. Dia menggunakan tissue dan lap basah pelan-pelan membersihkan badan kakek ini sampai bersih dan meminjam baju baru dari co-pilot untuk mengganti baju kakek ini. Terlebih lagi, pramugari ini membersihkan toilet yang telah digunakan oleh kakek ini hingga bersih dan menyemprotkan parfumnya sendiri ke dalam toilet tersebut.

Rekan kerjanya mengatakan dia bodoh, harus begitu susah payah membantu orang lain, bukankah sampai akhirnya tidak akan ada orang yang mengenang dan berterimah kasih. Sudah lelah, namun tidak mendatangkan keuntungan apa pun. Dia dengan tenang dan tegas menjawab, "Jam penerbangan masih belasan jam, kalau saya menjadi orang tua tersebut, saya pastilah sangat sedih, siapa yang berharap kalau awal dari perjalanan ini bisa jadi begini. Lagi pula tigapuluhan orang harus menggunakan satu toilet, kurang satu toilet tentu sangat merepotkan. Saya bukan hanya membantu orang tua itu tapi juga membantu penumpang yang lain."

Setelah mendengar cerita ini saya sangat menyesali sikap saya. Teman baikku pernah menyampaikan kepada saya bahwa pekerjaan yang paling membahagiakan adalah pekerjaan yang mengantarkan orang lain dari satu tempat ke tempat lain dengan selamat. Sejak mendengar pengalaman indah dari teman baik ini, saya baru menyadari bahwa pelayanan sungguh merupakan sebuah berkah yang harus dihargai. Cara terbaik menghargai berkah adalah dengan membagikan berkah ini kepada orang lain. Pengalaman teman baikku ini telah mengubah sikapku dalam bertugas.

airputih@yahoogroups.com


Sikap Takwa Seperti Inilah Pemicu Yahudi Masuk Islam

Banyak kalangan menganggap takwa berarti takut kepada Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Asumsi semacam ini sah-sah saja, tapi belum sepenuhnya mewakili esensi takwa, apalagi jika dikaitkan dengan upaya mengaktualkan terma takwa ini tak hanya untuk kesalehan individual, tapi juga untuk melahirkan kesalehan sosial yang berdampak besar bagi kemakmuran yang bersendikan keadilan.

Secara bahasa, takwa berasal dari kata wiqayah: memelihara diri dari segala hal yang merusak dan merugikan diri kita. Allah SWT berfirman: "Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksa-Nya." (QS Al-Anfaal [8]: 25).

Menghindar dan menjaga diri dari fitnah serta kemurkaan Allah dengan menjalankan sunnatullah secara benar dalam tataran kosmos ataupun sosial dan pranata hukum, juga adalah esensi takwa kepada Allah SWT.

Negara dan bangsa kita yang mayoritas Muslim ini mengalami krisis keadilan dan penegakan hukum yang parah. Ajaran Islam yang dianut oleh mayoritas bangsa ini harus proaktif mengatasi krisis tersebut. Salah satunya, dengan cara mem-breakdown terma takwa ke dalam reformasi mental para penegak hukum di negeri ini.

Oleh Alquran dinyatakan bersikap adil dalam menegakkan hukum adalah wujud takwa. (AlMaidah [5]: 8). Sikap tegas dan tanpa pandang bulu meski diberlakukan terhadap diri sendiri dan kerabatnya, dalam penegakan hukum hanya bisa dilakukan oleh pemimpin yang takwa kepada Allah.

"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan." (An-Nisaa' [4]: 135).

Dalam prakteknya, para pemimpin yang bertakwa seperti Ali bin Abi Thalib berlaku tawadlu dan taat terhadap putusan hukum, meskipun perkaranya untuk klaim baju besi yang dikuasai seorang Yahudi dikalahkan oleh Qadhi Syuraih di sidang pengadilan. Pasalnya, sang khalifah mengajukan saksi, yaitu Hasan, putranya sendiri, dan Qanbar, pembantunya. Oleh Syuraih, saksi dari kerabat seperti ini ditolak karena dianggap bisa menimbulkan bias. Akhirnya, sang Qadhi memenangkan si Yahudi dan Khalifah Ali pun menerimanya dengan ikhlas.

Sikap tawadlu yang lahir dari takwa inilah justru memicu si Yahudi masuk Islam. "Duhai Amirul Mukminin, Anda mengajukan saya kepada Qadhi bawahan Anda, tapi dia malah memenangkan saya atas Anda. Saya bersaksi bahwa ini adalah kebenaran dan saya bersaksi tiada tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah," ujar warga Yahudi itu. Subhanallah!


Guru Etika Itu Siami dan Alif

Masih ingat Nyonya Siami? Kisah Ny Siami dan keluarganya dimulai seusai Ujian Nasional SD, Mei 2011 lalu. Ny Siami yang sehari-hari bekerja sebagai penjahit di rumahnya ini terkejut mendengar pengakuan putranya yang dipaksa gurunya untuk memberikan contekan kepada siswa lain.

Perempuan itu lantas berinisiatif melaporkan hal itu kepada Kepala SDN 2 Gadel. Merasa tidak mendapat tanggapan seperti yang diharapkan, ia lantas melaporkan hal itu kepada Dinas Pendidikan Surabaya. Kasus contek massal pun mulai terkuak dan menjadi bahan pemberitaan di media massa...

Guru Etika Itu Siami dan Alif 

Oleh Jafar M. Sidik

Aduhai, alangkah elok dan terpujinya perilakumu Alifah. Kau masihlah bocah, tapi di usiamu yang belia kau mampu mengajari bangsamu nilai yang teramat mulia, kejujuran.

Ketahuilah Alif, kejujurun adalah mata pelajaran hidup terpenting. Dan kau memahaminya begitu dalam.

Mendiang Mohammad Hatta, Baharuddin Lopa dan para tokoh mulia bangsa ini yang setia mengajari moral pada bangsanya, pasti bangga melihat bangsanya mampu melahirkan anak-anak bermoral luhur sepertimu Alif.
Mereka juga pasti bangga memiliki anak-anak bangsa yang walau hidup tak berkecukupan namun tetap mengajari anak-anaknya dengan kejujuran, seperti ibumu, Siami.

Semua agama, semua keyakinan, semua nabi, semua orang suci, semua orang bijak, semua penganjur kebaikan dan pencerah kehidupan segala zaman, menyeru keras-keras manusia untuk meninggikan kejujuran.

Kejujuran membedakan masyarakat satu dari lainnya, bahkan menjadi pondasi bangsa-bangsa besar yang kemudian mampu menaruh dunia dalam genggamannya. Jepang, salah satunya.

Jepang tahu pasti kejujuran adalah inti suskes sebuah bangsa.

T.R Reid dengan cantik melukiskan bagaimana orang Jepang menanamkan moral dan etika kepada generasinya, dalam "Confucius Lives Next Door".
Orang Jepang akan gelisah dicap negatif oleh orang-orang disekitarnya. Mereka akan malu berbuat salah.

Dan mereka begitu menghargai hak orang lain. Apapun milik orang lain tercecer jauh dari pemiliknya, pantang bagi orang Jepang untuk mengambilnya. Mereka tahu hak dan batas karena sejak dini telah dikenalkan kepada itu.


Respect the line.

Manakala anak Jepang menemukan barang yang bukan miliknya, meski itu sekeping koin, orang tua akan menemani si anak melapor ke polisi. Sang polisi tak menganggap hal ini sepele. Sebaliknya, perilaku si anak dilihat sebagai bagian dari pendidikan moral dan awal bagaimana hukum dibumikan dan diteladankan.

Polisi akan dengan senang hati menyodorkan kertas laporan kehilangan barang. Kemudian, menyelamati si anak, "Terima kasih kamu telah jujur."
Kejujuran itu membuat orang Jepang amat menjaga martabatnya. Sekali mereka mengambil yang bukan haknya, sekali itu mereka merasa hidupnya buruk begitu rupa.

Mereka berpepatah, "Reputasi ribuan tahunan ditentukan oleh tindak tanduk sesaat." Itu sama dengan "Nila setitik rusak susu sebelanga," dalam bahasa kita.

Tak heran, di pentas kehidupan lebih tinggi, politik misalnya, orang Jepang enggan bersikukuh bertahan dalam jabatan saat noda dilihat masyarakatnya telah mengotori jabatannya.

Seiji Maehara
Seiji Maehara contohnya.

Seiji mengundurkan diri dari jabatan menteri luar negeri karena menerima 50 ribu yen dari orang asing. Nilai itu sama dengan Rp.600 ribu!
Bandingkan dengan PDB Jepang 2010 yang 5,391 triliun dolar AS (Rp47 ribu triliun) atau PDB Indonesia tahun 2010 yang Rp5,613 triliun. Itu bagai debu di padang pasir!

Tapi, bukan soal recehan atau tidak yang dipersoalkan orang Jepang. Ini soal moral dan etika, bahwa pemimpin seharusnya tidak menerima dan mengambil yang bukan haknya.

Menganggap entengkah Seiji? Apakah dia mengobral kalimat, "Nanti dulu, kita harus menjunjung asas praduga tak bersalah," atau "Hey, fakta hukum itu tak boleh katanya, katanya, dan katanya," atau "Ini konspirasi untuk menjatuhkan saya," dan bla..bla..bla.

Tidak saudara! Seiji justru bersedu meminta ampun, "Saya mohon maaf kepada rakyat telah menohok kepercayaan publik karena soal pembiayaan politik saya itu."

Itulah kenapa Jepang disebut sebagai sekolah moral dan etika yang hebat, bahkan orang Eropa pun bersetuju dengan klaim itu.


“Hari ini kita dipertontonkan, diajari secara tidak langsung oleh seorang ibu rumah tangga yang sederhana menghadapi kasus yang sederhana, namun berdampak luar biasa terhadap masyarakat. Dan dia (ibu Siami) juga mendapat konsekuensi yang luar biasa,” ungkap Imam Budi Dharmawan Prasojo, Pakar Sosiologi dari Universitas Indonesia. Ironisnya kejujuran itu tidak mendapat apresiasi positif dari pemerintah. Padahal ibu Siami dan Alifah memiliki hak konstitusional untuk menjalankan kehidupan dengan kejujuran. (http://www.beasiswapelangi.org/index.php/news/2011/06/17/100/kejujuran-ibu-siami-terus-menuai-dukungan.html)


Sejak dini, anak-anak Jepang diajari kejujuran seperti Siami mengajari Alifah untuk selalu jujur. Sayang, petuah Siami kepada Alifah tak beresonansi ke masyarakatnya, bahkan sekolah dimana seharusnya moral ditinggikan pun mencibirnya.

Sebaliknya, orang Jepang mengajarkan kejujuran dimana saja. Di rumah, di sekolah, di jalan. Dengan kejujuran bangsa itu begitu cepat bangkit dari bencana paling mengerikan sekalipun.

Kita tak perlu studi banding ke Jepang, apalagi kita masih memiliki orang-orang seperti Alif dan Siami. Mereka adalah "guru-guru etika" yang sebenar-benarnya.

Alif dan Siami mencambuk kita untuk memberi tempat selapang mungkin bagi kejujuran, bagi orang-orang jujur seperti ibu dan anak itu.


Alifah Ahmad Maulana dan Ibunya. TEMPO/Fully Syafi

Media massa, sekolah, masyarakat, dan para pemimpin mesti membuka lebar-lebar pintu publikasi untuk akhlak mulia seperti dipraktikan Alifah Ahmad Maulana dan ibunya. Jangan biarkan bangsa ini terlalu sering diceramahi oleh mereka yang pongah, bermental pencoleng dan penipu.

Kejujuran harus menjadi jiwa di sekolah-sekolah, kampus-kampus, dan segala sudut di negeri ini.

Selama ini kita begitu masyuk mencintai kepalsuan dan bayangan, cangkang dan aksesoris, ketimbang isi dan nilai. Kepalsuan yang memabukkan itu bahkan membuat kita tak mau bertanggunggjawab kepada masa depan dengan enggan menciptakan pondasi nilai baik bagi generasi mendatang.

Kita telah begitu rupa dibutakan oleh materi dan ilusi bahwa kemajuan hidup itu melulu soal angka, sementara etika, moral dan nilai-nilai luhur seperti kejujuran disingkirkan, justru ketika bangsa-bangsa besar meninggikannya. Ilusi itu membuat kita tak malu lagi untuk curang, bahkan memujanya.

TR Reid menulis, sistem pendidikan Jepang amat menekankan pembangunan moral karena percaya moral adalah pondasi terkuat untuk membangun bangsa yang kuat. Mereka mencintai prestasi, tapi tak menuhankan statistik yang acap menghinakan nilai hidup dan kemanusiaan.



Pendiri Panasonic, Konosuke Matsushita, berkata, "Sehebat apapun bakat dan pengetahuan kita, tanpa kejujuran, kita tak akan bisa mendapat kepercayaan dari yang lain dan menghargai diri sendiri."

Kita perlu pondasi moral seperti dimuliakan Matsushita dan orang-orang Jepang itu. Pondasi yang dengan tegar dan indah ditegakkan oleh Siami dan Alif, kendati untuk itu butuh reformasi total pada sistem nilai kita. 

Foto Teratas: Aam/Alif (13), siswa Sekolah Dasar Negeri Gadel 2, Surabaya, Jawa Timur, bersama keluarga diperkenalkan sebagai keluarga jujur yang justru tersingkir dari rumahnya pada acara HUT Ke-28 Radio Suara Surabaya, Minggu (11/6/11). KOMPAS/AGNES SWETTA PA

CAT: Siami dan Alifah Ahmad Maulana meraih piagam Bintang Kejujuran dalam acara diskusi terbuka di Surabaya, Jawa Timur. Video: http://okezone.tv/play/12606/siami-dan-alifah-raih-piagam-bintang-kejujuran


Nenek: Tentang Kenangan, Pelajaran, dan Pengalaman Hidup


7 November 2013.

Hari ini, 2 tahun yang lalu…

Nenek pergi selama-lamanya meninggalkan kami. Bagi kami, nenek adalah sosok seorang ibu dan nenek yang luar biasa hebatnya, juga pendidik sekaligus aktivis persamaan hak perempuan pada masanya. Nenek adalah satu dari sekian perempuan Gerwani yang beruntung karena masih dapat tetap hidup tenang dengan idealisme, tanpa pernah diperkosa atau diancam dibunuh, selayaknya teman-temannya yang lain.

Kakek dan nenek adalah interpretasi tentang pernikahan dan cinta sejati menurut saya. Hingga masa-masa terakhir hidupnya, mereka masih bergandengan tangan ketika berjalan. Walau tidak jarang juga kakek tersulut emosi karena nenek berjalan terlalu lama. Tapi, ketika nenek berkata dengan lembut dan sedikit menggoda, "Sabar pak. Jelek lho kalau marah. Aku gak doyan kalau mukamu marah begitu.",  seketika kakek luluh dan pada akhirnya, mereka akan tertawa bersama. Manis.

Saat ibu saya masih kecil, kakek dan nenek pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidup. Kakek saya, yang saat itu bertugas di sebuah kantor di Jawa Timur, kehilangan pekerjaannya karena diduga terlibat dalam pergerakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Untuk mengatasinya, nenek dengan rela dan tanpa keluh berjualan tempe di pasar setiap hari demi bertahan hidup dan menyekolahkan anak-anaknya.

Sebelum berangkat ke pasar, nenek masih sempat menyiapkan makanan terbaiknya untuk suami dan anak-anaknya. Katanya, itu adalah wujud pengabdiannya kepada keluarga. Lalu sepulangnya dari pasar, setiap sore nenek selalu menyempatkan diri untuk berdiskusi dengan kakek tentang segala hal di beranda rumah mereka.

Kakek dan nenek memang senang berdiskusi, mengenai hal yang paling kecil hingga yang terbesar dalam hidup mereka, terutama saat memutuskan sesuatu. Sehingga kami, anak dan cucu-cucunya pun terbiasa mengedepankan dialog saat dihadapkan dengan permasalahan atau sekedar berdiskusi ringan tentang apapun.

Sepeninggal kakek saya, nenek sering terduduk sendiri di meja makan. Terkadang lupa, karena nenek masih menuangkan nasi dan lauk di atas piring kesukaan kakek. Atau membuatkan kopi hitam yang diletakkannya di meja televisi, di samping koran. Saat dilanda rindu, nenek sering pergi sendiri menuju beranda rumahnya dan terdiam disana. Mungkin sedang menahan hasrat untuk bertukar pikiran dengan teman hidupnya yang setia.

Hingga 6 bulan terakhir sebelum kepergiannya, saat nenek hanya bisa terbaring di atas tempat tidur, yang dipikirkannya tiap pagi adalah hari ini masak apa, nasi sudah siap atau belum, dan hal-hal berbau kegiatan rumah tangga lainnya. Saat kami meminta padanya untuk menghentikan kebiasaannya itu, nenek hanya menjawab: "Perempuan itu wajib membentuk rumahnya seperti rumah."Dan nenek tetap menjalankan kewajibannya sebagai isteri, walau suaminya sudah tak ada lagi.

Pernah saya berdiskusi dengan nenek tentang buku Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi, dimana salah satu kutipan dialog dari tokoh Firdaus, perempuan yang dihukum mati karena membunuh germonya, adalah sebagai berikut:
"Tubuh yang paling murah dibayar adalah tubuh sang isteri. Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur yang bebas daripada menjadi seorang isteri yang diperbudak. Setiap saat saya berikan tubuh saya, saya kenakan harga yang paling tinggi".
Saat itu nenek hanya berkata seperti ini:
Yang penting sekarang kamu sekolah yang pintar, kerja, menikah. Nenek selalu berdoa supaya pengalaman akan membawamu bertemu dengan laki-laki yang baik yang akan menjadi suamimu. Baik seperti kakekmu itu. Walau berisik dengan lagu-lagu Iwan Fals yang dinyalakan terlalu keras, tetapi hatinya baik. Jangan lupa asah keahlian memasak dan membersihkan rumah. Yang bisa nenek pastikan, menjadi isteri bukan menjadi budak. Lihat sekitarmu, belajar, maka suatu saat kamu akan mengerti.”
Sempat terbesit dalam pemikiran saya waktu itu, jadi sebenarnya perempuan itu bertanggung jawab pada siapa? Pada dirinya sendiri? Atau pada kodrat? Definisi kodrat itu sendiri menurut saya sih multiinterpretasi. Berbeda-beda tergantung sudut pandang, latar belakang, kondisi sosial, agama dan norma-norma lain yang dianut dari sang pembuat definisi itu sendiri.

Tapi saya mempunyai keyakinan pada satu hal. Bahwa pada dasarnya, setiap perempuan punya hak menentukan hidupnya sendiri. Mau menikah, mau berkarir, mau menjadi ibu rumah tangga, atau mau tidak menikah pun itu hak mereka sebagai manusia bebas yang dilahirkan di bumi ini. Saya sendiri, dengan segala kelebihan dan kekurangan saya, memilih untuk menikah suatu hari nanti.

Mengapa? Karena saya ingin membentuk keluarga. Saya ingin menjadi isteri, ibu, dan pendidik yang baik untuk keluarga saya nantinya. Seperti kata Indhira Gandhi dalam pidatonya yang berjudul "What Educated Women Can Do" pada tahun 1974 lalu:
"Woman is the home and the home is the basis of society."
Dengan menumbuhkan nilai-nilai baik dari komunitas terkecil dalam masyarakat, yaitu keluarga, seorang ibu ketika mampu membentuk rumahnya seperti rumah, berarti turut berkontribusi dalam membangun harkat dan martabat bangsa. Membangun harkat dan martabat bangsa berarti membangun sebuah negara. Hebat bukan?

Bagi saya, walau mungkin di era globalisasi ini perempuan bisa hidup sendiri, dia pun harus mau mengakui bahwa dia masih butuh laki-laki untuk memenuhi kebutuhan batinnya. Seperti halnya nenek saya, yang ketika ditanya apa hal yang tidak terlupakan dalam hidupnya, menjawab:
"Malam sebelum kakekmu meninggal. Saat kakekmu memeluk nenek dan bilang nenek cantik."
Damai di sana, nenekku sayang. 2 tahun sudah engkau pergi dan meninggalkan kami banyak sekali kenangan, pelajaran, dan pengalaman hidup. Terima kasih.

Dan untuk semua perempuan yang sedang di pelukan, selamat pagi.

Salam,

Ayunda Meitida


Menghujat Tuhan

Kekurangan-kekurangan yang kita lihat pada orang lain, kebanyakan adalah kekurangan-kekurangan kita sendiri.

Suatu sore seorang lelaki berpakaian lusuh dan kelaparan diundang makan kerumahnya oleh Abraham. Dan sambil makan minum dalam jamuan makan tersebut, orang itu terus menerus menghujat Tuhan yang pada akhirnya Abraham mengusirnya keluar.

Malamnya Abraham mengatakan kejadian itu kepada Tuhan, bahwa dia marah karena orang yang sudah ia berikan makan minum itu masih saja menghujat Tuhan.

Tuhan pun hanya mengatakan: "Abraham... baru satu jam saja mendengarkan hujatan itu, kau sudah marah dan mengusirnya, sementara aku sudah mendengarnya selama 50 tahun tapi tetap kuberikan dia makan." ^^


Manusia dengan Segudang Masalah

Ilustrasi kehidupan yang luar biasa. Mudah-mudahan sempat dibaca di hari yang indah ini...

Seorang dokter yang sedang bergegas masuk ke dalam ruang operasi...
Ayah dari anak yang akan dioperasi menghampirinya: "Kenapa lama sekali anda sampai ke sini? Apa anda tidak tahu, nyawa anak saya terancam jika tidak segera dioperasi?" labrak si ayah.

Dokter itu tersenyum, "Maaf, saya sedang tidak di rumah sakit tadi, tapi saya secepatnya ke sini setelah ditelepon pihak rumah sakit."

Kemudian ia menuju ruang operasi, setelah beberapa jam ia keluar dengan senyuman di wajahnya. "Alhamdulillah, keadaan anak anda kini stabil."
Tanpa menunggu jawaban sang ayah, dokter tersebut berkata: "Suster akan membantu anda jika ada yang ingin anda tanyakan." Dokter tersebut berlalu.

"Kenapa dokter itu angkuh sekali? Dia kan sepatutnya memberikan penjelasan mengenai keadaan anak saya!" Sang ayah berkata pada suster.

Sambil meneteskan air mata suster menjawab: "Anak dokter itu meninggal dalam kecelakaan kemarin sore, ia sedang menguburkan anaknya saat kami meneleponnya untuk melakukan operasi pada anak anda. Sekarang anak anda telah selamat, ia bisa kembali berkabung."

JANGAN PERNAH TERBURU-BURU MENILAI SESEORANG

Tapi maklumilah tiap jiwa di sekeliling kita yang menyimpan cerita kehidupan tak terbayangkan di benak kita.

Ada air mata dibalik setiap senyuman...
Ada kasih sayang dibalik setiap amarah...
Ada pengorbanan dibalik setiap ketidakpedulian...
Ada harapan dibalik setiap kesakitan...
Ada kekecewaan dibalik setiap derai tawa...

Semoga bermanfaat! Semoga kita menjadi manusia dengan rasa maklum yang semakin luas dan bersyukur dengan apa yang telah kita miliki dalam hidup ini.

Ingat, kita bukan satu-satunya manusia dengan segudang masalah.

Tersenyumlah...
Senyum mampu membasuh setiap luka...
Maafkanlah...
Maaf mampu menyembuhkan semua rasa sakit...

Have A Nice Day! Semoga harimu indah...


7 Fakta Memilukan tentang PSK

Sekedar sharing kalo keberatan, tidak usah dibaca...

Sebuah kuesioner terbagi sudah ke 150 Pekerja Seks Komersial di Bilangan wisata seks di dekat pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar. Pengambilan sampel accidental (non probability), dari 150 PSK dan inilah pengakuan mereka:

1. Tak menikmati hubungan seksual. Sayapun termasuk yang salah kaprah selama ini, saya kira bahwa PSK menikmati hubungan intim itu dengan para pelanggan, nyatanya dalam kuesioner terbuka ia menjawab tak menikmatinya. Malah deg-degan sebab pasangan selalu berganti dan bervariasi cara komunikasinya. Mereka cemas akan sesuatu, seuatu itu yang dimaksud adalah ketersinggungan pemakai/pengguna/user. Mereka benar-benar tak enjoy dengan pekerjaan itu, malah kerap keringat dingin karena kecemasan.

2. Ingin cepat selesai. Layanan seksual yang dilakoni, mereka kepingin berakhir secepat mungkin. Malah jika memungkinkan tak perlu ada hubungan seks, sebab ia pun malu hati disebut sebagai pelacur dan tukang menjajakan tubuh.

3. Nama samaran berganti-ganti. Nama PSK dapat berganti sebanyak 3-4 kali dalam semalam. Kemudian dengan mudah memberikan nomor HP, dan nomor HP itu benar adanya hanya saja jarang diaktifkan. Takut jika terbaca sama keluarga ataupun teman. Yang paling ditakutkan ketika tiba-tiba bertemu dengan salah seorang keluarga.

4. Pengen dapat suami baik-baik. Nah ini dia, PSK ternyata sama cita-citanya sesama perempuan bahwa ia juga kepingin dapat suami baik-baik, ingin menjadi istri yang baik-baik, kepingin jadi ibu yang baik-baik dan berusaha sekuat tenaga agar anak-anaknya tak seperti dirinya.

5. Bersedia bertobat. PSK setiap saat ingin bertobat dan kadang jika tiba di halaman rumahnya/kostannya berjanji takkan kembali ke lokalisasi, namun pikiran kalut kadang membuatnya harus kembali ke pelacuran. Sebab, ia merasa kehidupannya telah di sana. Namun, jika sudah sampai di tempat pelacuran. Ia memohon diberi kesempatan bertobat sekali lagi. Wedew, tobat sambal kecap. ^^:

6. Yang paling sering dia ingat adalah ibunya selanjutnya adiknya dan ayahnya. Wajah ibu dan suara ibu yang paling sering ia ingat, ia meminta maaf dari lubuk hatinya yang terdalam dan ia berkata: maafkan anakmu Ma. Saya yang salah. Semoga mama sehat-sehat saja.

7. Ia tak ingin berlama-lama di lokalisasi. PSK umumnya tak ingin berlama-lama di lokalisasi, mereka berharap akan keluar suatu saat sebelum menjadi tua sebab ia merasa bersalah terus-menerus. Ia berharap ada orang yang baik hati untuk menolongnya keluar dari dunia hitam. Inilah yang membuatnya sering menangis ketika tiba di rumahnya/kostannya. 


Cinta Tanpa Syarat

Dikisahkan, ada sebuah keluarga besar. Kakek dan nenek mereka merupakan pasangan suami istri yang tampak serasi dan selalu harmonis satu sama lain. Suatu hari, saat berkumpul bersama, si cucu bertanya kepada mereka berdua, "Kakek nenek, tolong beritahu kepada kami resep akur dan cara kakek dan nenek mempertahankan cinta selama ini agar kami yang muda-muda bisa belajar."

Mendengar pertanyaan itu, sesaat kakek dan nenek beradu pandang sambil saling melempar senyum. Dari tatapan keduanya, terpancar rasa kasih yang mendalam di antara mereka. "Aha, nenek yang akan bercerita dan menjawab pertanyaan kalian," kata kakek.

Sambil menerawang ke masa lalu, nenek pun memulai kisahnya. "Ini pengalaman kakek dan nenek yang tak mungkin terlupakan dan rasanya perlu kalian dengar dengan baik. Suatu hari, kami berdua terlibat obrolan tentang sebuah artikel di majalah yang berjudul 'Bagaimana Memperkuat Tali Pernikahan'. Di sana dituliskan, masing-masing dari kita diminta mencatat hal-hal yang kurang disukai dari pasangan kita. Kemudian, dibahas cara untuk mengubahnya agar ikatan tali pernikahan bisa lebih kuat dan bahagia. Nah, malam itu, kami sepakat berpisah kamar dan mencatat apa saja yang tidak disukai. Esoknya, selesai sarapan, nenek memulai lebih dulu membacakan daftar dosa kakekmu sepanjang kurang lebih tiga halaman. Kalau dipikir-pikir, ternyata banyak juga, dan herannya lagi, sebegitu banyak yang tidak disukai, tetapi tetap saja kakek kalian menjadi suami tercinta nenekmu ini," kata nenek sambil tertawa. Mata tuanya tampak berkaca-kaca mengenang kembali saat itu.

Lalu nenek melanjutkan, "Nenek membacanya hingga selesai dan kelelahan. Dan, sekarang giliran kakekmu yang melanjutakan bercerita." Dengan suara perlahan, si kakek meneruskan. "Pagi itu, kakek membawa kertas juga, tetapi... kosong. Kakek tidak mencatat sesuatu pun di kertas itu. Kakek merasa nenekmu adalah wanita yang kakek cintai apa adanya, kakek tidak ingin mengubahnya sedikit pun. Nenekmu cantik, baik hati, dan mau menikahi kakekmu ini, itu sudah lebih dari cukup bagi kakek."

Nenek segera menimpali, "Nenek sungguh sangat tersentuh oleh pernyataan kakekmu itu sehingga sejak saat itu, tidak ada masalah atau sesuatu apapun yang cukup besar yang dapat menyebabkan kami bertengkar dan mengurangi perasaan cinta kami berdua."

Sering kali di kehidupan ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan dan yang menyakitkan. Padahal, pada saat yang sama kita pun sebenarnya punya kemampuan untuk bisa menemukan banyak hal indah di sekeliling kita.

Saya yakin dan percaya, kita akan menjadi manusia yang berbahagia jika kita mampu berbuat, melihat, dan bersyukur atas hal-hal baik di kehidupan ini dan senantiasa mencoba untuk melupakan yang buruk yang pernah terjadi. Dengan demikian, hidup akan dipenuhi dengan keindahan, pengharapan, dan kedamaian.


 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
23