Spiritualitas Menurut Albert Einstein

Spiritualitas Menurut Albert Einstein |

Saya ingin memahami pemikiran Tuhan; selebihnya adalah soal detail saja.

Pengetahuan tanpa agama adalah pincang. Sedang agama tanpa pengetahuan adalah buta.

Agama saya terdiri dari seuntai kekaguman yang sederhana, terhadap suatu kekuatan supra yang tak-terbatas -yang tertampak dalam rincian yang dapat kita serap menggunakan persepsi lemah dan remang kita.

Semakin jauh kemajuan evolusi spiritual umat manusia, semakin pasti bagi saya bahwa jalan menuju religiusitas sejati tak semata-mata terletak pada ketakutan terhadap kehidupan, ketakutan terhadap kematian, keyakinan yang membuta, namun suatu perjuangan mengikuti kaidah-kaidah pengetahuan rasional.


Setiap orang yang terlibat secara serius di dalam pencarian pengetahuan, menjadi yakin bahwasanya, ada suatu jiwa termanifestasikan pada hukum Semesta raya -jiwa yang secara luas superior terhadap jiwa-jiwa manusia, dan sesuatu dimana dihadapan-Nya, kita beserta kekuatan mutahir kita merasa sedemikian lemahnya.

Rasa religius para ilmuwan berbentuk suatu kekaguman yang mempesona pada keharmonisan hukum alam, yang menampakan suatu superioritas kecerdasan, dibandingkan dengan seluruh sisitematika berpikir dan bertindak dari umat manusia, dalam suatu refleksi signifikan yang tak terbantahkan.

Tiada cara logis untuk mengungkap hukum-hukum elemental. Yang ada hanyalah cara intuitif, yang dibantu oleh suatu ketajaman rasa, terhadap runtutan yang melandasi dibalik suatu penampakan.

Batin intuitif adalah anugrah sakral dan pikiran rasional adalah pelayan setianya. Kita telah membangun sebuah tatanan masyarakat yang memulyakan pelayan dan melupakan anugrah.

Sesuatu yang terindah yang kita alami adalah: pengalaman misterius kita; Ia-lah sumber dari seni dan pengetahuan sejati.

Kita mesti waspada untuk tidak menjadikan intelek sebagai Tuhan kita; ia memang memiliki kekuatan, namun ia tak memiliki kepribadian.

Barang siapa yang memfungsikan dirinya sebagai hakim dari Kebenaran dan Pengetahuan, akan porak-poranda menjadi bahan tertawaan para dewata.

Bila mana jalan keluar terasa mudah, Tuhan-lah yang memberikan jawaban.

Tuhan tidak mempermainkan semesta seperti dadu.


http://muslimvillage.com/2012/11/02/30950/allah-forgives-all-sins
Tuhan sedemikian licinnya, namun Ia tak bermaksud jahat.

Umat manusia adalah bagian dari keseluruhan, apa yang kita sebut dengan Semesta, bagian yang terbatas dalam ruang dan waktu. Ia mengalami diri-Nya sendiri, pikiran dan perasaan-Nya ibarat terlepas dari yang lainnya -yang bersifat seperti khayalan optik -terhadap Kesadaran-Nya. Khayalan ini, sesungguhnya adalah sejenis 'penjara', yang mengekang kita dari nafsu-nafsu keingan pribadi dan dari beberapa orang terdekat kesayangan kita. Tugas kita adalah membebaskan diri dari penjara ini, dengan cara memperluas lingkaran pengorbanan kita hingga mencakup semua makhluk hidup dan seluruh alam dalam keindahannya.

Tiada sesuatupun yang memberi nilai manfaat pada kesehatan manusia dan memberikan kesempatan hidup di muka Bumi ini, sebesar evolusi yang diberikan oleh pola makan vegetaris.

Manusia yang menjalani hidupnya secara tak bermanfaat bagi makhluk lainnya, bukan saja tak beruntung akan tetapi hampir-hampir tak layak bagi kehidupan.

Perdamaian tidak dapat dijaga dengan Kekuatan. Ia hanya dapat dicapai melalui saling pengertian.

Hanya kehidupan bagi kehidupan lainnya sajalah yang bermanfaat.

Pikiran manusia tak mampu untuk meraih Semesta. Kita ibarat seorang anak yang memasuki perpustakaan raksasa. Dinding-dinding dan langit-lagitnya tertutup rapat oleh buku-buku dalam berbagai bahasa yang berbeda-beda. Si anak mengetahui bahwa pasti ada seseorang yang menulis semua buku-buku itu. Walau ia tak mengetahui siapa dan bagaimana caranya. Iapun tak mengerti bahasa yang digunakan dalam penulisan buku-buku itu. Akan tetapi, si anak mencatat adanya suatu rancangan baku dalam susunan buku-buku tersebut -dalam urutannya yang misterius yang tak ia pahami, kecuali melalui dugaan-dugaan picisan saja.

Yang terpenting adalah untuk tidak berhenti mempertanyakannya. Keingin-tahuan memiliki alasannya sendiri untuk membangkitkan rasa panasaran. Seseorang tak dapat membantu, kecuali hanya terpesona ketika ia berkontempelasi terhadap misteri-misteri kekekalan, terhadap kehidupan, terhadap struktur realitas yang mengagumkan. Adalah cukup bila seseorang mencoba melengkapi dirinya dengan secuil misteri setiap hari. Tanpa kehilangan kekagumannya yang holistik.
Apa yang saya saksikan di Alam adalah suatu struktur yang mengagumkan yang hanya dapat kita pahami dengan tak-sempurna, dimana seorang pemikir semestinya merasa sedemikian rendahnya. Tak ada yang dapat dilakukan terhadap mistikisme, inilah ungkapan rasa religiusitas yang murni.

Emosi terhalus kita, dimana kita mampu merasakannya, adalah emosi mistis. Disinilah tergelar bagian terkecil dari semua seni dan pengetahuan sejati. Siapapun yang asing bagi perasaan ini, yang tak lagi mampu merasakan ketakjuban, dan hidup dalam kondisi ketakutan, sesungguhnya telah mati. Guna mengatahui sesuatu yang tak terselami oleh kita benar-benar ada dan memanifestasikan dirinya sebagai kebijaksanaan tertinggi dan keindahan yang paling bersinar, dimana pengetahuan ini bentuk terkasarnya sekalipun merupakan suatu yang membutuhkan intelektualitas cukup, perasaan ini adalah... sentimen riligius yang sesungguhnya. Dalam pengertian ini, hanya dalam pengetian inilah, saya menempatkan diri saya dalam deretan manusia-manusia religius besar.

Masalah nyata bagi kita adalah hati dan batin manusia. Adalah lebih mudah mengubah sifat plutonium dibandingkan dengan merubah sifat ke-setan-an dalam diri manusia.

Agama Sejati adalah kehidupan nyata, hidup dalam jiwa manusia, hidup dalam kebajikan dan kebenaran bagi semua.

Intelejensia memberi kejelasan kesaling-tergantungan antara makna-makna dan jawaban akhir daripadanya. Akan tetapi, hanya dengan memikirkannya saja, tak dapat memberikan kita rasa -tentang akhir yang bersifat fundamental dan ultima. Guna memperjelas akhir fundamental dan nilai-nilai serta mempercepat mereka dalam kehidupan emosional individu, dengan persis tertampak oleh saya bahwa fungsi yang paling penting dari agama bila ia berhasil membentuk kehidupan sosial manusia.



0 komentar:

Poskan Komentar

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
23