Spiritualitas Menurut Albert Einstein

Spiritualitas Menurut Albert Einstein |

Saya ingin memahami pemikiran Tuhan; selebihnya adalah soal detail saja.

Pengetahuan tanpa agama adalah pincang. Sedang agama tanpa pengetahuan adalah buta.

Agama saya terdiri dari seuntai kekaguman yang sederhana, terhadap suatu kekuatan supra yang tak-terbatas -yang tertampak dalam rincian yang dapat kita serap menggunakan persepsi lemah dan remang kita.

Semakin jauh kemajuan evolusi spiritual umat manusia, semakin pasti bagi saya bahwa jalan menuju religiusitas sejati tak semata-mata terletak pada ketakutan terhadap kehidupan, ketakutan terhadap kematian, keyakinan yang membuta, namun suatu perjuangan mengikuti kaidah-kaidah pengetahuan rasional.


Setiap orang yang terlibat secara serius di dalam pencarian pengetahuan, menjadi yakin bahwasanya, ada suatu jiwa termanifestasikan pada hukum Semesta raya -jiwa yang secara luas superior terhadap jiwa-jiwa manusia, dan sesuatu dimana dihadapan-Nya, kita beserta kekuatan mutahir kita merasa sedemikian lemahnya.

Rasa religius para ilmuwan berbentuk suatu kekaguman yang mempesona pada keharmonisan hukum alam, yang menampakan suatu superioritas kecerdasan, dibandingkan dengan seluruh sisitematika berpikir dan bertindak dari umat manusia, dalam suatu refleksi signifikan yang tak terbantahkan.

Tiada cara logis untuk mengungkap hukum-hukum elemental. Yang ada hanyalah cara intuitif, yang dibantu oleh suatu ketajaman rasa, terhadap runtutan yang melandasi dibalik suatu penampakan.

Batin intuitif adalah anugrah sakral dan pikiran rasional adalah pelayan setianya. Kita telah membangun sebuah tatanan masyarakat yang memulyakan pelayan dan melupakan anugrah.

Sesuatu yang terindah yang kita alami adalah: pengalaman misterius kita; Ia-lah sumber dari seni dan pengetahuan sejati.

Kita mesti waspada untuk tidak menjadikan intelek sebagai Tuhan kita; ia memang memiliki kekuatan, namun ia tak memiliki kepribadian.

Barang siapa yang memfungsikan dirinya sebagai hakim dari Kebenaran dan Pengetahuan, akan porak-poranda menjadi bahan tertawaan para dewata.

Bila mana jalan keluar terasa mudah, Tuhan-lah yang memberikan jawaban.

Tuhan tidak mempermainkan semesta seperti dadu.


http://muslimvillage.com/2012/11/02/30950/allah-forgives-all-sins
Tuhan sedemikian licinnya, namun Ia tak bermaksud jahat.

Umat manusia adalah bagian dari keseluruhan, apa yang kita sebut dengan Semesta, bagian yang terbatas dalam ruang dan waktu. Ia mengalami diri-Nya sendiri, pikiran dan perasaan-Nya ibarat terlepas dari yang lainnya -yang bersifat seperti khayalan optik -terhadap Kesadaran-Nya. Khayalan ini, sesungguhnya adalah sejenis 'penjara', yang mengekang kita dari nafsu-nafsu keingan pribadi dan dari beberapa orang terdekat kesayangan kita. Tugas kita adalah membebaskan diri dari penjara ini, dengan cara memperluas lingkaran pengorbanan kita hingga mencakup semua makhluk hidup dan seluruh alam dalam keindahannya.

Tiada sesuatupun yang memberi nilai manfaat pada kesehatan manusia dan memberikan kesempatan hidup di muka Bumi ini, sebesar evolusi yang diberikan oleh pola makan vegetaris.

Manusia yang menjalani hidupnya secara tak bermanfaat bagi makhluk lainnya, bukan saja tak beruntung akan tetapi hampir-hampir tak layak bagi kehidupan.

Perdamaian tidak dapat dijaga dengan Kekuatan. Ia hanya dapat dicapai melalui saling pengertian.

Hanya kehidupan bagi kehidupan lainnya sajalah yang bermanfaat.

Pikiran manusia tak mampu untuk meraih Semesta. Kita ibarat seorang anak yang memasuki perpustakaan raksasa. Dinding-dinding dan langit-lagitnya tertutup rapat oleh buku-buku dalam berbagai bahasa yang berbeda-beda. Si anak mengetahui bahwa pasti ada seseorang yang menulis semua buku-buku itu. Walau ia tak mengetahui siapa dan bagaimana caranya. Iapun tak mengerti bahasa yang digunakan dalam penulisan buku-buku itu. Akan tetapi, si anak mencatat adanya suatu rancangan baku dalam susunan buku-buku tersebut -dalam urutannya yang misterius yang tak ia pahami, kecuali melalui dugaan-dugaan picisan saja.

Yang terpenting adalah untuk tidak berhenti mempertanyakannya. Keingin-tahuan memiliki alasannya sendiri untuk membangkitkan rasa panasaran. Seseorang tak dapat membantu, kecuali hanya terpesona ketika ia berkontempelasi terhadap misteri-misteri kekekalan, terhadap kehidupan, terhadap struktur realitas yang mengagumkan. Adalah cukup bila seseorang mencoba melengkapi dirinya dengan secuil misteri setiap hari. Tanpa kehilangan kekagumannya yang holistik.
Apa yang saya saksikan di Alam adalah suatu struktur yang mengagumkan yang hanya dapat kita pahami dengan tak-sempurna, dimana seorang pemikir semestinya merasa sedemikian rendahnya. Tak ada yang dapat dilakukan terhadap mistikisme, inilah ungkapan rasa religiusitas yang murni.

Emosi terhalus kita, dimana kita mampu merasakannya, adalah emosi mistis. Disinilah tergelar bagian terkecil dari semua seni dan pengetahuan sejati. Siapapun yang asing bagi perasaan ini, yang tak lagi mampu merasakan ketakjuban, dan hidup dalam kondisi ketakutan, sesungguhnya telah mati. Guna mengatahui sesuatu yang tak terselami oleh kita benar-benar ada dan memanifestasikan dirinya sebagai kebijaksanaan tertinggi dan keindahan yang paling bersinar, dimana pengetahuan ini bentuk terkasarnya sekalipun merupakan suatu yang membutuhkan intelektualitas cukup, perasaan ini adalah... sentimen riligius yang sesungguhnya. Dalam pengertian ini, hanya dalam pengetian inilah, saya menempatkan diri saya dalam deretan manusia-manusia religius besar.

Masalah nyata bagi kita adalah hati dan batin manusia. Adalah lebih mudah mengubah sifat plutonium dibandingkan dengan merubah sifat ke-setan-an dalam diri manusia.

Agama Sejati adalah kehidupan nyata, hidup dalam jiwa manusia, hidup dalam kebajikan dan kebenaran bagi semua.

Intelejensia memberi kejelasan kesaling-tergantungan antara makna-makna dan jawaban akhir daripadanya. Akan tetapi, hanya dengan memikirkannya saja, tak dapat memberikan kita rasa -tentang akhir yang bersifat fundamental dan ultima. Guna memperjelas akhir fundamental dan nilai-nilai serta mempercepat mereka dalam kehidupan emosional individu, dengan persis tertampak oleh saya bahwa fungsi yang paling penting dari agama bila ia berhasil membentuk kehidupan sosial manusia.



Kebosanan dan Hidup Monoton

Ini sebuah cerita ringan tentang kebosanan. Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.

Tamu: "Sebenarnya apa itu perasaan 'bosan', pak tua?"
Pak Tua: "Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu."
Tamu: "Kenapa kita merasa bosan?"
Pak Tua: "Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki."
Tamu: "Bagaimana menghilangkan kebosanan?"
Pak Tua: "Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya."
Tamu: "Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?"
Pak Tua: "Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?"
Tamu: "Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua."
Pak Tua: "Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang."
Tamu: "Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?"
Pak Tua: "Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya."

Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.

Tamu: "Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?"
Pak Tua: "Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan."
Tamu: "Contohnya?"
Pak Tua: "Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu."

Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.

Tamu: "Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaiban pun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?" 

Sambil tersenyum Pak Tua berkata, "Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria.Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria."
"Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria."

Izinkan Aku Menciummu, Ibu

Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku 'dipaksa' membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan.

Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut. Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.

Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi. Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian.

Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku di saat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga. Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya. Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan.


Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis. Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya. Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi do'a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.



Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh dikakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.

Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.




Ibu, I Miss You So Much

Oleh: Jamil Azzaini

Jakarta, - Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman pribadi yang terjadi pada 2003.

Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah sakit di Jakarta. Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. Panasnya sangat tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang tersambung ke sebuah layar monitor.

Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. Dokter berkata, "Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu". Sayapun menjawab "Mengapa dokter meminta izin saya? Bukankan setiap pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta izin saya." Dokter itu menjawab "Karena obat yang ini mahal Pak Jamil." "Memang harganya berapa dok?" Tanya saya. Dokter itu dengan mantap menjawab "Dua belas juta rupiah sekali suntik." "Haahh! 12 juta rupiah dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok? Dokter itu menjawab, "Sehari tiga kali suntik pak Jamil".

Setelah menarik napas panjang saya berkata, "Berarti satu hari 36 juta, dok?" Saat itu butiran air bening mengalir di pipi. Dengan suara bergetar saya berkata, "Dokter tolong usahakan sekali lagi mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar penyakit istri saya segera ditemukan." "Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta bantuan berbagai laboratorium dan penyakit istri Bapak tidak bisa kami deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat karena istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba satu kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti obatnya, pak." jawab dokter.

Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju musholla kecil dekat ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, "Ya Allah Ya Tuhanku... aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba-Mu, akupun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan Engkau balas dan akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah aku lakukan juga akan Engkau balas. Ya Tuhanku... gerangan keburukan apa yang pernah aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan sakit isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah terkuras, tenaga dan pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku. Engkau Maha Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk. Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah kepada Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah menyembuhkan istriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini."

Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam keluarga yang miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya sekolah yang hanya Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri mencuri uang ibu saya yang hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75 saya gunakan untuk membayar SPP, sisanya saya gunakan untuk jajan.

Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata berkata, "Pokoknya yang ngambil uangku kualat... yang ngambil uangku kualat..." Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku bahwa sayalah yang mengambil uang itu.

Usai berdoa saya merenung, "Jangan-jangan inilah hukum alam dan ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah penyakit isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan mengambil uang yang ia miliki itu." Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon rumah dimana ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya. Setelah salam dan menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya bertanya kepada ibu saya "Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang sebanyak 125 rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?"

"Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil, duit itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega-teganya ada yang ngambil," jawab ibu saya dari balik telepon. Mendengar jawaban itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata mengalir di pipi.

Sambil terbata saya berkata, "Ibu, maafkan saya... yang ngambil uang itu saya, bu... saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf... saat nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama ibu." Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik telepon saya dengar ibu saya berkata: "Ya Tuhan pernyataanku aku cabut, yang ngambil uangku tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh." Setelah memastikan bahwa ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan dengan memohon doa darinya.
"Ya Tuhan pernyataanku aku cabut, yang ngambil uangku tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh."

Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata "Selamat pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu telah kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu." Bulu kuduk saya merinding mendengarnya, sambil menjabat erat tangan sang dokter saya berkata. "Terima kasih dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan dokter."

Saya meninggalkan ruangan dokter itu... dengan berbisik pada diri sendiri "Ibu, I miss you so much."

Keterangan Penulis:
Jamil Azzaini adalah Senior Trainer dan penulis buku Best Seller KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup.


Bayi yang Menakjubkan

Hal-hal yang menakjubkan pada bayi:

Menggendong bayi membuat kita merasa besar, kuat, penting, bertanggung jawab dan benar-benar tidak berdaya.

Setiap bayi adalah mukjizat tersendiri.
 

Bayi pandai memilih waktu yang tepat... mereka akan terbangun dari tidur pulasnya begitu kita menelpon seorang teman.


Bila anda datang ke dunia baru dimana anda tidak kenal siapa-siapa, tidak mengerti bahasanya dan semua bergantian mengangkat anda, mungkin anda juga akan menangis.
 
Ketika bayi anda tidak mau berhenti menangis, ingatlah betapa senangnya anda ketika mendengar tangisnya pertama kali.
 

Beberapa lembar rambut halus di kepala bayi bisa menciptakan keinginan tak tertahankan untuk mengikatkan pita di sana.


Amati saat bayi anda tidur malam hari dan anda akan lupa betapa letihnya anda.
 

Suara tawa bayi adalah obat manjur untuk stress.
 

Suara sendawa bayi adalah kepuasan tertinggi.


Senyuman seorang bayi bisa membuat kita lupa akan segala rencana kita... dan ketika ingat, rasanya jadi tidak penting lagi.
 
Dikenali seorang bayi bisa terasa lebih hebat dibandingkan dikenal seluruh kota.
 

Memandikan bayi pertama kali adalah hal paling berani yang kita lakukan.


Jangan mengabaikan bakat olahraga bayi anda -melempar makanan melintasi ruangan mungkin menunjukkan ia calon pemain basket... memukul mainan keluar dari boksnya bisa jadi tanda-tanda calon juara tenis... merangkak dengan kecepatan tinggi untuk mendorong jambangan kesayangan dari meja tamu mungkin berarti calon pelari lintas alam... ini adalah hal yang perlu dipikirkan ketika kita membersihkan tumpahan dan pecahannya.


Bayi tetap memungkinkan anda bepergian... kalau anda tidak keberatan membawa botol susu, popok, tas, bedak bayi, handuk kecil, baju ganti (termasuk baju anda), kue kecil dan aneka mainan... hanya untuk pergi membeli roti.
 

Kata pertama dari mulut bayi tidak selalu Mama atau Papa. Jangan merasa tersinggung kalau itu Guk-guk atau Pus-pus.


Seorang bayi bisa membuat ibu anda mengira bisa mengurusnya lebih baik daripada anda. Dan dengan senang hati bersedia dititipi.
 

Bayi sangat pemaaf... mereka senang mendengar kita menyanyi, walaupun kita tidak bisa... dan mereka tertawa mendengar lelucon kita, tidak peduli berapa kali kita mengulanginya.


Bayi tidak perlu kita menjadi sempurna -mereka cuma perlu kita ada.
 

Bayi bisa membuat anda merindukan waktu untuk diri sendiri... sampai akhirnya ada, dan anda segera menginginkan bayi anda lagi. 


Meninggalkan bayi untuk pertama kalinya adalah pelajaran menahan napas.
 

Bayi senang pergi ke restauran, tapi mereka tidak ingin makan, mereka lebih suka menyobek serbet kertas, memukuli kue, bermain sedotan, dan menarik perhatian semua orang.
 

Bayi bisa menjadi sangat pemarah... coba saja melepaskan kue dari mulutnya supaya kita bisa memotretnya.  


Bayi dibungkus dengan semua harapan dan impian kita -tapi kita harus melonggarkan bungkusan itu agar mereka punya tempat untuk tumbuh.
 

Apapun yang cocok untuk bayi teman anda, tidak akan cocok dengan bayi anda.
 

Bayi, membebaskan kita dari hal-hal yang tidak mungkin, seperti menjaga rumah tetap rapi, berdandan untuk makan malam dan selalu memakai rias wajah ketika teman bertamu.


Setiap bayi sama saja dengan bayi lain. Mereka tumbuh, merangkak, berjalan dan berbicara pada waktunya sendiri.
 

Gigi pertama akan tumbuh ketika kita tidak mencarinya.
 


Tidak ada yang mengerti ucapan bayi anda, kecuali anda.
 

Ketika bayi anda memasuki kehidupan kita, tiba-tiba anda bisa mengerti orangtua anda.

Seorang bayi adalah undangan petualangan -melihat matanya mulai memfokus... menebak bagaimana warna kulitnya nanti... merasakan jari-jari mungilnya menggenggam jari kita dan tidak mau melepaskannya, menahan nafas kita ketika ia berdiri dan jatuh ke tangan kita yang terbuka dan senang saat ia bangun lagi... bersorak ketika ia pertama kali melangkah. Hal yang menyedihkan hanyalah masa bayi berlalu SANGAT CEPAT.




Berlayarlah Menembus Badai

Setangguh apapun perahu diciptakan, ia takkan berdaya guna bila hanya tertambat di dermaga.

Dirimu adalah perahu itu.

Kesejatian perahu adalah mengarungi samudra, menembus badai dan mendarat di pantai harapan.

Dermaga adalah masa lalu.

Sedangkan tali penambat itu adalah ketakutan dan penyesalan.

Jangan sia-siakan seluruh kekuatan yang ada pada dirimu.

Jangan biarkan masa lalu menambatkanmu di situ.

Lepaskan dirimu dari beban ketakutan dan penyesalan.

Berlayarlah... Berkaryalah...

Yang memisahkan perahu dengan pantai harapan adalah topan badai, gelombang dan batu karang.

Yang memisahkan dirimu dengan keberhasilan adalah masalah dan tantangan.

Di situlah tanda kesejatian teruji.

Hakikat perahu adalah untuk berlayar menembus segala rintangan.

Hakikat dirimu adalah untuk berkarya menemukan kebahagiaan. 


Sopir Angkot Berhati Mulia

Angkot-angkot saling menyalip untuk berebut penumpang.

Namun ada pemandangan aneh, di depan angkot yang kami tumpangi ada seorang ibu dengan tiga orang anak remaja berdiri di tepi jalan. Setiap ada angkot yang berhenti dihadapannya, dari jauh kami bisa melihat si ibu bicara kepada supir angkot, lalu angkot itu melaju kembali.

Kejadian ini terulang beberapa kali. Ketika angkot yang kami tumpangi berhenti, si ibu bertanya: “Dik, lewat terminal bis ya?”, supir tentu menjawab “ya”. Yang aneh si ibu tidak segera naik. Ia bilang “ Tapi saya dan ketiga anak saya tidak punya ongkos.” Sambil tersenyum, supir itu menjawab “Gak papa bu, naik saja”, ketika si ibu tampak ragu-ragu, supir mengulangi perkataannya, “Ayo bu, naik saja, gak papa...” Saya terpesona dengan kebaikan upir angkot yang masih muda itu, disaat jam sibuk dan angkot lain saling berlomba untuk mencari penumpang, tapi si supir muda ini merelakan empat kursi penumpangnya untuk si ibu dan anak-anaknya. Ketika sampai di terminal bis, empat orang penumpang gratisan ini turun. Si ibu mengucapkan terima kasih berulangkali kepada supir muda atas kebaikan hatinya.

Di belakang ibu itu, seorang penumpang pria turun lalu membayar dengan uang Rp.20 ribu. Ketika supir hendak memberi kembalian (ongkos angkot hanya Rp.4 ribu), pria ini bilang bahwa uang itu untuk ongkos dirinya serta empat orang penumpang gratisan tadi. “Terus jadi orang baik ya, Dik,” kata pria tersebut kepada sopir angkot muda itu.

Sore itu saya benar-benar dibuat kagum dengan kebaikan-kebaik­­an kecil yang saya lihat. Seorang Ibu miskin yang jujur, seorang Supir yang baik hati dan seorang Penumpang yang budiman. Mereka saling mendukung untuk kebaikan.

Andai separuh saja bangsa kita seperti ini, maka dunia akan takluk oleh kebaikan kita. Teruslah berbuat baik, sekecil apapun ketulusan yang kita perbuat tentunya sangat berarti untuk orang lain.

Empat Pertanyaan Lulus Psikopat

Pernah kan melihat cerita-cerita tentang para pembunuh berantai yang super sadis. Nah, mereka bisa digolongkan sebagai psikopat. Di Amerika, ternyata ada tes yang dikembangkan oleh para psikiater untuk menguji apakah seseorang adalah pembunuh berantai atau bukan. Tes ini konon sukses diujikan pada pembunuh berantai terkenal Ted Bundy (yang konon bahkan bisa lolos dari tes detektor kebohongan!). Nah, ternyata tes-tes ini tidak dibeberkan untuk umum, disini hanya berhasil didapatkan 4 pertanyaan saja dari internet. Ada dua versi jawaban dari tiap pertanyaan, yaitu jawaban yang umumnya akan diberikan oleh orang normal pada umumnya dan ada pula jawaban versi psikopat yang mengerikan.

Ted Bundy
Keempat pertanyaan itu adalah:

1. Ada seorang anak yang mendapat hadiah ulang tahun berupa sepeda dan sepatu bola (ada versi yang menyebutkan bola sepak). Namun ia membencinya. Kenapa?

2. Ada dua orang wanita bersaudara, Bertha dan Martha. Suatu hari ibu mereka meninggal dan pada hari pemakamannya, Bertha melihat sesosok pria yang sangat tampan. Ia langsung jatuh cinta pada pemuda itu. Namun ia tak berhasil menemukannya karena tak tahu siapa dia sebenarnya. Nah, pada suatu hari Bertha membunuh saudarinya, Martha. Kenapa?

3. Engkau menginap di lantai 10 sebuah hotel. Suatu malam kau melongok dari balkon dan melihat seorang pembunuh menghabisi korbannya. Sang pembunuh tak sengaja melihatmu. Dari atas kau bisa melihat ia mendekatkan jarinya ke wajahnya dan membuat gesture (gerakan tubuh). Apa yang ia lakukan?

4. Andaikan kau harus membunuh seseorang dan ia sedang bersembunyi di dalam lemari, apa yang akan kau lakukan?

Nah, pikir baik-baik jawaban dari tiap pertanyaan dan cocokkan dengan jawaban versi normal dan jawaban versi psikopat yang akan saya berikan di bawah. Coba kita tes, yang mana jawabanmu, apakah jawabanmu lebih condong ke versi normal atau versi psikopat?

Namun perlu saya peringatkan, jawaban versi psikopat sangatlah mengganggu dan mengerikan. Bahkan menurut saya ada baiknya jika kalian tidak mengetahuinya sama sekali.

Pikir baik-baik apakah kalian benar-benar ingin mengetahui jawabannya.


Pikir baik-baik lho ya... :P


JAWABAN

PERTANYAAN 1: Ada seorang anak yang mendapat hadiah ulang tahun berupa sepeda dan sepatu bola (ada versi yang menyebutkan bola sepak). Namun ia membencinya. Kenapa?
  • Jawaban Normal: Mungkin ada yang menjawab kalau anak itu adalah perempuan atau lebih simpel lagi karena anak itu memang tidak menyukai sepeda dan sepak bola.
  • Jawaban Psikopat: Namun jawaban versi psikopat itu sangatlah disturbing; karena anak itu tak punya kaki (cacat).
PERTANYAAN 2: Ada dua orang wanita bersaudara, Bertha dan Martha. Suatu hari ibu mereka meninggal dan pada hari pemakamannya, Bertha melihat sesosok pria yang sangat tampan. Ia langsung jatuh cinta pada pemuda itu. Namun ia tak berhasil menemukannya karena tak tahu siapa dia sebenarnya. Nah, pada suatu hari Bertha membunuh saudarinya, Martha. Kenapa?
  • Jawaban Normal: Mungkin kalian menjawab kalau dua wanita ini mencintai lelaki yang sama (terlibat cinta segitiga) atau Bertha cemburu pada Martha.
  • Jawaban Psikopat: Jawaban versi psikopat sangatlah mengerikan dan aneh; agar Bertha bisa bertemu lagi dengan pemuda itu di pemakaman saudarinya.
PERTANYAAN 3: Engkau menginap di lantai 10 sebuah hotel. Suatu malam kau melongok dari balkon dan melihat seorang pembunuh menghabisi korbannya. Sang pembunuh tak sengaja melihatmu. Dari atas kau bisa melihat ia mendekatkan jarinya ke wajahnya dan membuat gesture (gerakan tubuh). Apa yang ia lakukan?
  • Jawaban Normal: Si pembunuh mendekatkan jarinya ke bibirnya, mengisyaratkan agar kamu tutup mulut dan tidak mengatakan apapun ke polisi.
  • Jawaban Psikopat: Ia sedang menghitung di lantai mana kamu tinggal supaya bisa membunuhmu juga.
PERTANYAAN 4: Andaikan kau harus membunuh seseorang dan ia sedang bersembunyi di dalam lemari, apa yang akan kau lakukan?
  • Jawaban Normal: Mungkin kamu akan menolak menjawabnya karena kamu merasa takkan mampu membunuh siapapun (atau mungkin kamu berpikir jika kamu menjawab pertanyaan ini berarti kamu psikopat). Namun kebanyakan orang jika mendengar pertanyaan ini maka jawaban yang langsung tercetus adalah: membuka lemari lalu membunuh orang itu. Tidak apa-apa, jika kalian menjawab seperti itu, kalian masih digolongkan normal, bukan psikopat.
  • Jawaban Psikopat: Jawaban versi psikopat jauh lebih menakutkan; menunggu hingga orang itu keluar dari lemari, baru kemudian membunuhnya.

Itulah sekilas tes-tes yang digunakan untuk menguji apakah seseorang tergolong psikopat atau bukan. Jika semua jawaban kalian benar, berarti kalian ada bakat jadi pembunuh berantai.


Mengapa Orang Korupsi? Analisa Psikologi

Definisi Korupsi adalah (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok), perilaku pejabat publik (pejabat pemerintahan), yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.

Perbuatan korupsi memang berbeda dengan pencurian biasa/maling, perbuatan ini yang notabene dilakukan oleh oknum pejabat publik cenderung memiliki dampak yang luas, yang menyangkut suatu sistem pemerintahan dimana dia berada, dan bahkan bisa membuat kehancuran suatu negara, ini yang membedakan dengan prilaku kriminal biasa di level masyarakat umum yang efeknya sebatas lingkup per-individu dan tidak mempengaruhi sistem pemerintahan. Memprihatinkan bahwa Indonesia menempati ranking 3 besar dunia untuk kasus korupsi ini.

Pertanyaannya: Mengapa orang yang katanya baik-baik ternyata korupsi juga? 

Kaum behavioris mengatakan, berarti lingkunganlah yang secara kuat memberikan dorongan bagi orang untuk korupsi dan mengalahkan sifat baik seseorang yang sudah menjadi traits pribadinya. Lingkungan dalam hal ini malah memberikan dorongan dan bukan memberikan hukuman pada orang ketika ia menyalahgunakan kekuasaannya.

Penelitian-penelitian empiris mengenai korupsi mengonfirmasi anggapan tersebut. Pada umumnya faktor penyebab korupsi bersumber pada tiga aspek yaitu:
  1. Kerusakan pada lingkungan makro (negara) di mana sistem hukum, politik, pengawasan, kontrol, transparansi rusak.Kerusakan tersebut menjadi latar lingkungan yang merupakan faktor stimulus bagi perilaku orang. Tentunya menjadi jelas ketika sistem tidak secara kuat memberikan hukuman terhadap pelanggaran dan imbalan terhadap sebuah prestasi, tingkah menyimpang (korupsi) malah akan diulang-ulang karena akan memberikan konsekuensi yang menyenangkan.
  2. Pengaruh dari iklim koruptif di tingkat kelompok atau departemen.
  3. Karena faktor kepribadian.


Korupsi dan Hubungannya dengan Kepribadian Anak

Freud
Sigmund Freud merupakan pendiri Psikoanalisis. Teori Psikoanalisis fokus pada pentingnya pengalaman masa kanak-kanak. Intinya, masa kanak-kanak memegang peran menentukan dalam membentuk kepribadian dan tingkah laku manusia ketika dewasa kelak.

Ada lima tahap perkembangan kepribadian dalam Psikoanalisis. Menurut Freud, manusia dalam perkembangan kepribadiannya melalui tahapan oral, anal, phallis, laten, dan genital.
  1. Tahap oral, Pada tahap ini manusia melulu menggunakan mulutnya untuk merasakan kenikmatan. Bayi selalu memasukkan ke mulutnya setiap benda yang dipegangnya. Tahapan ini berlangsung pada 0-3 tahun.
  2. Tahap anal, Inilah tahapan ketika anak memperoleh kenikmatan ketika mengeluarkan sesuatu dari anusnya. Anak menyukai melihat tumpukan kotorannya. Pada tahap ini anak dapat berlama-lama dalam toilet.
  3. Tahap phallis, Tahap phallis berlangsung pada umur 8-10 tahun. Anak memperoleh kenikmatan dengan memainkan kelaminnya.
  4. Tahap laten, Anak melupakan tahapan memperoleh kenikmatan karena sudah memasuki usia sekolah. Anak mempunyai teman dan permainan baru.
  5. Tahap genital, Inilah tahapan ketika perkembangan kedewasaan mencapai puncaknya. Manusia sudah memasuki tingkat kedewasaan. Tahap-tahap perkembangan ini berjalan normal, dari satu tahap ke tahap berikutnya. Namun, bisa saja orang terhambat dalam perkembangan dini. Freud menyebutnya fiksasi. Penyebabnya beragam, bisa karena orang tua, lingkungan sosial, atau konflik mental.
Lantas apa relevansinya dengan perilaku korupsi? Untuk menjawabnya, kita mesti melacak akar penyebab korupsi.


Teori Gone

Menurut Jack Bologne, akar penyebab korupsi ada empat: Greed, Opportunity, Need, Exposes.
  1. Greed terkait keserakahan dan kerakusan para pelaku korupsi. Koruptor adalah orang yang tidak puas akan keadaan dirinya. Punya satu gunung emas, berhasrat punya gunung emas yang lain. Punya harta segudang, ingin punya pulau pribadi.
  2. Opportunity terkait dengan sistem yang memberi lubang terjadinya korupsi. Sistem pengendalian tak rapi, yang memungkinkan seseorang bekerja asal-asalan. Mudah timbul penyimpangan. Saat bersamaan, sistem pengawasan tak ketat. Orang gampang memanipulasi angka. Bebas berlaku curang. Peluang korupsi menganga lebar.
  3. Need berhubungan dengan sikap mental yang tidak pernah cukup, penuh sikap konsumerisme, dan selalu sarat kebutuhan yang tak pernah usai.
  4. Exposes berkaitan dengan hukuman pada pelaku korupsi yang rendah. Hukuman yang tidak membuat jera sang pelaku maupun orang lain. Deterrence effect yang minim.


Empat akar masalah diatas merupakan halangan besar pemberantasan korupsi. Tapi, dari keempat akar persoalan korupsi tadi, bagi saya, pusat segalanya adalah sikap rakus dan serakah. Sistem yang bobrok belum tentu membuat orang korupsi. Kebutuhan yang mendesak tak serta-merta mendorong orang korupsi. Hukuman yang rendah bagi pelaku korupsi belum tentu membikin orang lain terinspirasi ikut korupsi.
Pendeknya, perilaku koruptif memiliki motivasi dasar sifat serakah yang akut. Adanya sifat rakus dan tamak tiada tara. Korupsi, menyebabkan ada orang yang berlimpah, ada yang terkuras, ada yang jaya, ada yang terhina, ada yang mengikis, ada yang habis. Korupsi paralel dengan sikap serakah.


Fiksasi dan Korupsi

Ada hubungan antara tahapan perkembangan kepribadian anak dengan kondisi anak setelah dewasa. Bila pada tahap-tahap itu terjadi fiksasi atau hambatan perkembangan kepribadian., maka kepribadian itulah yang dibawanya sampai besar.

Sifat serakah adalah sifat dari orang yang terhambat dalam perkembangan kepribadiannya, yaitu ketika dia terhambat dalam tahap kepribadian anal. Seorang anak yang mengalami hambatan kepribadian pada fase anal, ketika besar ia akan mempertahankan kepribadian anal. Karakter orang ini ditandai dengan kerakusan untuk memiliki.

Ia merasakan kenikmatan dalam pemilikan pada hal-hal yang material. Fase anal ditandai oleh kesenangan anak melihat kotoran yang keluar dari anusnya. Kini, kotoran telah diganti benda lain. Benda itu berujud uang, mobil, rumah, saham, berlian, emas, intan.


"Koruptor adalah anak kecil dalam tubuh orang dewasa. Badannya besar, jiwanya kerdil."

Koruptor adalah anak kecil dalam tubuh orang dewasa. Badannya besar, jiwanya kerdil. Untuk menyembuhkannya, hilangkan hambatan itu. Tunjukkan padanya bahwa pada dasarnya dia belum dewasa. Kesenangan mengumpulkan harta adalah simbol perilaku menyimpang akibat terhambat dalam perkembangan kepribadian di masa kanak-kanak.

Kesimpulannya, koruptor adalah orang yang belum dewasa. Ia masih perlu belajar memperbaiki kualitas kepribadiannya

Referensi: http://psikologipro.wordpress.com , wikipedia


Seorang Ibu yang 30 Tahun Sholat di Trotoar

Mengakrabi jalanan telah dilakoni Rosmiza (57) selama 30 tahun. Selama itu pula, pinggiran Jalan Gatot Subroto, Medan, yang sumpek dan ramai oleh lalu lalang kendaraan menjadi tempatnya beribadah.

Ya, selama itu pula Rosmiza tak pernah meninggalkan sholat, kendati harus melakukannya di atas trotoar di pinggir jalan raya. Terik mentari dan guyuran hujan bukanlah alasan baginya untuk tidak menjalankan kewajibannya sebagai hamba Allah.

Suara knalpot sepeda motor dan bunyi riuh klakson kendaraan tak sedikit pun mengurangi kekhusukannya. Jiwanya tetap tenang mengucap seribu doa dan syukur kepada Ilahi.

“Sholat dimana pun akan sama saja, karena bukan suasana yang pengaruhi doa saya,” ucapnya sembari tersenyum simpul.

Air wudhu didapatnya dari toko kue atau dealer mobil yang tak jauh dari tempatnya berdagang. Jika hujan, dia solat di teras ruko yang terhindar dari hujan. “Tak ada alasan untuk tidak sholat,” tegasnya.


Ibu Rosmiza beribadah di pinggiran Jalan Gatot Subroto, Medan.

Nenek empat cucu ini sempat meneteskan air mata ketika menceritakan kisah hidup yang belum bisa dikatakan sejahtera. Dia berusaha sambil berdoa, itu yang menurutnya sangat penting. Hingga dia tak pernah merasa pernah terhimpit masalah berat. Dia hadapi semua dengan senyum dan syukur.

Rosmiza sehari-hari berdagang lemang, kue timpan dan nagasari bersama suaminya. Lemang bukanlah buatannya, melainkan dia membelinya dari orang lain. Dia hanya membuat kue tambahan untuk memperbanyak dagangan.

Ketika pagi menjemput, dia berdagang di Pasar Kampung Lalang, tetapi sehabis solat Dzuhur dia berdagang di Jalan Gatot Subroto, tepat di seberang Hotel Alpha Inn, Medan.

Setiap harinya, dia menyelesaikan solat dua waktu (Ashar dan Maghrib) di pinggir Jalan Gatot Subroto, tepat di sebelah sepeda dagangannya.

Tak banyak yang dia dapat perhari, tetapi cukup memenuhi kebutuhan hidup hariannya. Bahkan, dia sudah menyekolahkan anaknya hingga sederajat sekolah menengah atas (SMA) dari hasil berdagang lemang. Dia sebenarnya mau menguliahkan anak-anaknya, tetapi sayangnya tak satu pun anaknya yang berniat mengecap bangku kuliah.

Wajah seorang perempuan yang masih berseri ini percaya kalau hidupnya akan berarti jika terus taat kepada Allah SWT.

“Dunia ini berapalah lamanya, dan saya tidak akan dapat apa-apa dari sini. Kalau mati, akan sirna semua,” ujarnya sembari menatap nanar ke arah lalu lalang kendaraan.


“Dunia ini berapalah lamanya, dan saya tidak akan dapat apa-apa dari sini. Kalau mati, akan sirna semua.” ~Ibu Rosmiza



Kisah Iblis, Tawanan yang Dibesarkan Malaikat

Dalam penafsiran yang sering kita dengar bahwa kisah iblis ataupun Azazil adalah salah satu dari malaikat yang dilaknat Allah. Tetapi, jika kita mengkaji penciptaan diantara keduanya sangat bertentangan dimana malaikat telah disebutkan tercipta dari cahaya sementara Iblis dari api. Jadi, siapakah Iblis sebenarnya?

Literatur menyebutkan bahwa makhluk ini mempunyai lima sebutan yang sering terdengar yaitu Jan, Jin, Setan, Ifrit dan Marid. Kemudian Jan diubah penyebutannya menjadi Jin yang umumnya digunakan untuk menyebut makhluk halus apapun, baik ataupun buruk. Setan dikenal sebagai makhluk jenius dan jahat, sementara ifrit dikenal sebagai sosok jenius, jahat dan kuat. Sementara Marid sosok jenius, jahat dan yang paling kuat diantaranya.

Al Jauhari mengatakan bahwa Setan atau Iblis diciptakan dari nyala api (gas), juga telah disebutkan dalam Quran. Beberapa literatur menyebutkan bahwa kisah Iblis adalah ayah (moyang) dari semua Jin dan Setan. Kata Al-Jan dalam Quran terkadang digunakan untuk menyebutkan iblis seperti yang ayat berikut:
Dan Kami telah menciptakan Jan (Iblis) sebelum (Adam) dari api yang sangat panas (Al Hijr: 27)
Jika kita telaah dengan baik, maka kisah Iblis awalnya bukan berasal dari ras malaikat, sementara malaikat diciptakan dari cahaya yang cemerlang. Lalu mengapa Iblis bisa masuk di lingkungan malaikat dan pada waktu semua malaikat bersujud kepada Adam, hanya dia sendiri yang tidak dan dia sendiri pula yang tercipta dari api. Kisah iblis ini menganggap dirinya lebih mulia karena merasa kuat diantara makhluk ciptaan-Nya.
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir ( Al Baqarah: 34)
 Jin terbang membawa manusia, naskah abad ke-14. / Kitab al-Bulhan

Kisah Iblis Menurut Kosmografi Al-Qazwini

Sebelum adanya manusia, Allah menciptakan dua makhluk yang saling bertentangan dimana saat ini berlaku kekuasaan dan kerajaan diantara dua makhluk. Masing-masing makhluk memiliki otoritas dan kekuasaan tersendiri, yaitu pemerintahan Jin dan pemerintahan malaikat.

Dalam sejarah, Allah telah menciptakan Jan (Jin) dua ribu tahun sebelum penciptaan Adam. Bahkan beberapa sejarawan alkitab menyatakan lebih lama dari waktu yang diperkirakan. Ketika itu, kalangan jin terbagi atas golongan mukmin dan kafir dimana kedua golongan itu terus berlanjut hingga saat ini. Bangsa Jin di zaman kuno menghuni Bumi dari udara, lautan hingga daratan. Pada saat ini mereka memiliki pemerintahan tersendiri termasuk membentuk hukum, agama, serta teknologi.

Suatu ketika mereka lalai akan penciptanya, mereka melanggar hukum dan menentang wali-wali agama diantara kalangan Jin. Kemudian Allah mengirimkan bala tentara langit, para malaikat untuk mengusir dan menghancurkan kerajaan Jin karena membuat kerusakan dimuka bumi. Sebagian jin tertawan dan diantara tawanan tersebut termasuk Azazil, cikal bakal iblis.

Entah bagaimana, Azazil yang pada saat itu berusia muda dibesarkan oleh kalangan malaikat dimana dia terus mempelajari pengetahuan mereka dan memasukkannya kedalam pemerintahan malaikat. Pada akhirnya dia menjadi pemimpin diantara para malaikat karena kepintaran dan menguasai pengetahuan malaikat, dan salah satu rival Azazil adalah Jibril.

Suatu ketika, tragedi itu terjadi dimana semua makhluk bersujud kepada Adam hingga membuat kisah Azazil dilaknat dan dilemparkan ke Bumi, dari sini namanya berubah penyebutan menjadi Iblis.
Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina". (Al A'raf: 13)
Ketika kisah Iblis diusir dari surga, Adam masih berada di surga cukup lama. Tentunya perhitungan waktu antara Bumi dan Surga berbanding jauh, sehari serasa seribu tahun di Bumi. Waktu yang cukup lama ini dimanfaatkan iblis untuk membentuk dan memimpin kerajaan jin di Bumi. Diantara kerajaan-kerajaan yang dibentuknya berada di Kumari Kandam Lemuria yang dianggap Taman Eden bagi pengikutnya.

Bentuk dasar piramid Candi Borobudur. Peradaban Lemuria? / http://danipicture.wordpress.com

Dalam catatan sejarah, kisah iblis merajai Kumari Kandam (Lemuria) dibentuk berdasarkan pengetahuan surga ataupun pengetahuan para malaikat. Dimana para jin yang hidup pada waktu itu benar-benar menikmati keindahan dan kemakmuran berlebihan. Berbagai piramida dan bangunan lain mungkin tak pernah seindah Lemuria, dan tidak heran ada pengikut mereka yang masih mencari dan merindukan Taman Eden Lemuria hingga saat ini, atau mereka yang menginginkan Tatanan Dunia Baru.

Sampai titik ini kisah iblis terus berlanjut, dia mampu menyelinap ke dalam surga, dan hari yang dinantikan itupun tiba, tak hanya Adam yang dikeluarkan dari surga tetapi juga para malaikat. Penjelasan ini bisa kita lihat pada ayat berikut:
Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati" (Al Baqarah: 38)
Dari sinilah, para malaikat diberikan kepercayaan untuk menduduki kekuasaan langit pertama hingga ketujuh, semata-mata untuk menjaga agar iblis dan jin tidak melewati batas yang ditentukan seperti yang telah dijelaskan pada artikel sebelumnya.

Jadi, telah jelas bahwa kisah iblis ataupun Azazil yang diceritakan bukan dari kalangan malaikat karena penciptaan dan keturunannya berbeda. Dan Iblis satu-satunya jin yang diberi umur panjang hingga hari berbangkit.
Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan". Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh". (Al A'raf: 15-16)

Bibliografi:

  • Modern Egyptians and of Note on the Arabian Nights, Edward William Lane
  • Aja'ib al-makhluqat wa ghara'ib al-mawjudat (Marvels of creatures and Strange things existing) karya Zakariya al-Qazwini
  • Image The Fall of the Rebel Angels by Pieter Brueghel the Elder
  • Quran Surah Al Baqarah dan Al A'raf 11-18


 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
23