Orang Tua, Anak, dan Keledai

Seorang pencuci pakaian memiliki seekor keledai. Keledai biasanya digunakan untuk mengangkut pakaian dari rumahnya menuju tepi sungai. Pencuci pakaian ini mencuci pakaiannya di sana. Pada suatu petang keledai itu digunakan untuk mengangkut pakaian yang sudah dicuci dan kering dipunggung keledai dan kembali ke rumahnya. Ia begitu bahagia dan puas dengan hidupnya.

Pada suatu ketika ia merencanakan untuk pergi ke sebuah pasar di dekat sebuah desa untuk membeli beberapa keperluan rumah tangganya. Ia pergi bersama dengan anaknya yang masih muda dan keledainya. Siang itu cuaca sangatlah panas berlajalan tanpa alas kaki. Ketika ia sudah tidak mampu berjalan kaki tanpa alas, pencuci pakaian itu menyuruh anaknya duduk di atas keledai.

Dalam perjalanan mereka bertemu dengan beberapa orang yang lewat. Seorang berkomentar, "Alangkah dungunya anak ini! Ia menunggang keledai sementara ayahnya yang sudah tua berjalan kaki." Anak pencuci pakaian itu menyadari kesalahannya. Ia turun dari keledai dan meminta ayahnya menunggang keledainya. Ayahnya duduk di atas keledai.

Mereka berjalan sudah cukup jauh, ketika orang lewat dengan komentar, "Alangkah dungunya orang tua ini? Ia menunggang keledai untuk dirinya sendiri sementara anaknya yang masih kecil berjalan kepanasan tanpa alas kaki. Bahkan keledai pastilah merasa kepanasan dan lelah." Pencuci pakaian itu merasa bersalah dan tidak tahu lagi apa yang harus dikerjakannya. Jadi ayahnya dan anaknya memutuskan untuk berjalan kaki.

Setelah berjalan beberapa mil, mereka bertemu dengan orang laki-laki lainnya. Ia berkata, "Alangkah bodohnya engkau berdua ini! Engkau punya seekor keledai untuk ditunggangi malah engkau berjalan kaki."

Tidak masalah apa yang dilakukan seseorang, namun seorang tidak dapat memenuhi dan memuaskan setiap orang di setiap waktu.
Photo credit: AFP Photo/Qais Usyan

Foto: AFP Photo/Qais Usyan



0 komentar:

Poskan Komentar

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
23