Cinta Sejati dan Persahabatan

Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?
Kenapa kita menutup mata ketika kita menangis?
Kenapa kita menutup mata ketika kita membayangkan sesuatu?
Kenapa kita menutup mata ketika kita berciuman?
Hal-hal yang terindah di dunia ini biasanya tidak terlihat.

Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan
dan ada orang orang yang tidak ingin kita tinggalkan
Tapi ingatlah, melepaskan bukan berarti akhir dari dunia
melainkan awal dari kehidupan yang baru.

Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis
Kebahagiaan ada untuk mereka yang telah tersakiti
Kebahagiaan ada untuk mereka yang telah mencari dan telah mencoba
Karena merekalah yang bisa menghargai
Betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka.

Cinta adalah ketika kamu menitikkan air mata, tetapi masih peduli terhadapnya
Cinta adalah ketika dia tidak mempedulikanmu, kamu masih menunggunya dengan setia
Cinta adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih
bisa tersenyum sambil berkata, ”Aku turut berbahagia untukmu”.

Apabila cintamu tidak berhasil, bebaskanlah dirimu
Biarkanlah hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas lagi
Ingatlah, kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya..
Tetapi saat cinta itu dimatikan, kamu tidak perlu mati bersamanya..
Orang yang terkuat bukanlah orang yang selalu menang dalam segala hal
Tetapi mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh
Entah bagaimana, dalam perjalanan kehidupanmu,
Kamu akan belajar tentang dirimu sendiri dan suatu saat kamu akan menyadari
Bahwa penyesalan tidak seharusnya ada di dalam hidupmu
Hanyalah penghargaan abadi atas pilihan pilihan kehidupan yang telah kau buat
Yang seharusnya ada di dalam hidupmu.

Sahabat sejati akan mengerti ketika kamu berkata, ”Aku lupa”
Sahabat sejati akan tetap setia menunggu ketika kamu berkata, ”Tunggu sebentar”
Sahabat sejati hatinya akan tetap tinggal, terikat kepadamu
ketika kamu berkata, ”Tinggalkan aku sendiri”.

Saat kamu berkata untuk meninggalkannya,
Mungkin dia akan pergi meninggalkanmu sesaat,
Memberimu waktu untuk menenangkan dirimu sendiri,
Tetapi pada saat saat itu, hatinya tidak akan pernah meninggalkanmu
Dan sewaktu dia jauh darimu, dia akan selalu mendoakanmu dengan air mata.

Lebih berbahaya mencucurkan air mata di dalam hati
daripada air mata yang keluar dari mata kita
Air mata yang keluar dari mata kita dapat dihapus,
Sementara air mata yang tersembunyi,
Akan menggoreskan luka di dalam hatimu
yang bekasnya tidak akan pernah hilang


Walaupun dalam urusan cinta, kita sangat jarang menang,
Tetapi ketika cinta itu tulus…
meskipun mungkin kelihatannya kamu kalah,
Tetapi sebenarnya kamu menang karena kamu dapat berbahagia
sewaktu kamu dapat mencintai seseorang
Lebih dari kamu mencintai diri kamu sendiri…

Akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang
Bukan karena orang itu berhenti mencintai kita
Atau karena ia tidak mempedulikan kita
Melainkan saat kita menyadari bahwa orang itu
Akan lebih berbahagia apabila kita melepasnya
Tetapi apabila kamu benar-benar mencintai seseorang,
Jangan dengan mudah kita melepaskannya
Berjuanglah demi cintamu..
Itulah cinta yang sejati..
Bukannya seperti prinsip, ”Easy come.. Easy go…”.

Lebih baik menunggu orang yang benar benar kamu inginkan
Daripada berjalan bersama orang 'yang tersedia'
Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai
Daripada orang yang berada di 'sekelilingmu'.

Lebih baik menunggu orang yang tepat
Karena hidup ini terlalu berharga dan terlalu singkat
Untuk dibuang dengan hanya 'seseorang'
Atau untuk dibuang dengan orang yang tidak tepat.

Kadang kala, orang yang kamu cintai adalah orang yang paling menyakiti hatimu
Dan kadang kala teman yang membawamu di dalam pelukannya
Dan menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari.

Ucapan yang keluar dari mulut seseorang
Dapat membangun orang lain, tetapi dapat juga menjatuhkannya
Bila bukan diucapkan pada orang, waktu, dan tempat yang benar
Ini jelas bukan sesuatu yang bijaksana.

Ucapan yang keluar dari mulut seseorang
Dapat berupa kebenaran ataupun kebohongan untuk menutupi isi hati
Kita dapat mengatakan apa saja dengan mulut kita
Tetapi isi hati kita yang sebenarnya tidak akan dapat dipungkiri.

Apabila kamu hendak mengatakan sesuatu..
Tataplah matamu di cermin dan lihatlah kepada matamu
Dari situ akan terpancar seluruh isi hatimu
Dan kebenaran akan dapat dilihat dari sana.

 



Jangan Benci Aku Mama

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan. Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah. Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya.

Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun... telah berlalu sejak kejadian itu.

Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.

Sampai suatu malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arah saya. Sambil tersenyum ia berkata, “Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada Mommy!” Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya, “Tunggu..., sepertinya saya mengenalmu. 

Siapa namamu anak manis?”
“Nama saya Elic, Tante.”
“Eric? Eric… Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?”
Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu. Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati…, mati…, mati… Ketika tinggal se-inchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric…

Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping.
“Mary, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu.” Tapi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak...

Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric... Eric… Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali… Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu. Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah.

Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya... Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya pun keluar dari ruangan itu… Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.

“Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!”
Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?” Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mommy…, mommy!’ Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…”

Saya pun membaca tulisan di kertas itu…
“Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…?
Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom…” 

Saya menjerit histeris membaca surat itu.
“Bu, tolong katakan… katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!”
Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.

“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana… Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana.

Nyonya, dosa anda tidak terampuni!”

Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi. 

(Kisah nyata dari Irlandia Utara)

Di Kursi Teras Nenek Itu Tertidur

Oleh : Menkher Manjas (Ketua IDI Wilayah Sumbar)

Kursi di teras depan rumah itu, seakan telah men­jadi teman setianya. Hampir setiap hari nenek ren­ta itu duduk, terkantuk-kantuk dan bahkan te­r­tidur. Dari pagi sepi sendiri, sore baru bersama anak dan cucu, setelah mereka pulang dari bekerja dan sekolah. Makanan yang telah disiapkan, radio, te­levisi dan apa pun di depannya tidak menarik per­hatiannya. Mau tidur di kamar, apa mau dikata, ma­ta susah di­pe­jamkan. Mau membaca atau menon­ton televisi, apa­lah nyana mata sudah kabur dan pendengaran su­dah berkurang. Ingin rasanya dia berjalan-jalan, tapi mau ke mana tidak ada yang menemani. Mau jalan sendiri, lutut sudah kaku dan sakit. Satu-satunya hanyalah duduk di teras, samar-samar memandang lalu-lalang orang di jalanan dan menanti mana tahu ada orang yang singgah menemani berbagi cerita menunggu sore.

*)Foto: Seorang nenek yang masih berjuang hidup dengan berjualan gorengan demi anak-anak dan cucu-cucu. Potret ini diambil pertengahan tahun 2010, belakang hari nenek ini sudah tidak terlihat berjualan lagi. Semoga nenek tetap sehat. KOMPAS.com.

Menkher Manjas
Namun nenek itu masih beruntung, karena ba­nyak orangtua yang terpaksa harus berjalan me­makai kur­si roda, terbaring lemah sakit di tempat tidur, tiap se­bentar keluar masuk rumah sakit. Ataupun terlunta-lunta, ber­ta­han hidup mengais rezeki di perempatan jalan, mengemis dari rumah ke rumah dan me­nadahkan tangan di keramaian.

Kodrat fisik manusia, ba­gai­kan sebuah piramida, lahir, ber­kembang dan mencapai pun­cak kebugaran rata-rata pada usia 40 tahun. Sesudah itu menurun perlahan layu menuju tua. Ada yang menetapkan umur tua sesudah umur 60 tahun, 65 tahun atau 70 tahun, sedangkan WHO (Badan Kesehatan Dunia) menetapkan usia 65 tahun, seorang dianggap sudah lanjut usia (lansia).

Kemajuan bangsa dan ke­ber­hasilan pembangunan, ter­uta­ma bidang ekonomi dan ke­se­­­hatan, telah meningkatkan jum­­­lah penduduk umur tua. Se­karang ini, diperkirakan jum­lah lansia rata rata sudah 10 persen dari seluruh penduduk. Bahkan di Jepang sudah mencapai 20 per­­sen. Di Indonesia tahun 2010, jumlah lansia 28 juta orang (11,34 persen) dan diper­kira­kan tahun 2050 sudah men­capai 80 juta orang.

Usia tua, menurut Cons­tan­tinides, adalah rang­kaian proses ke­munduran yang perlahan atas ke­tidakmampuan tubuh untuk mem­perbaiki jaringan yang ru­sak agar tetap normal. Kulit men­­jadi kering dan keriput, ram­­but memutih dan rontok, peng­­­lihatan mengabur, pen­de­nga­­ran dan penciuman ber­ku­rang, tu­lang merapuh sehing­ga m­u­dah pa­tah dan badan me­n­jadi bung­kuk, paru-paru kurang me­ngem­bang sehingga napas men­j­adi pen­dek, dinding pem­buluh darah me­nebal sehi­ngga ba­nyak men­derita tekanan da­rah tinggi.

Kemunduran dan kerusakan itu, semakin hari semakin nyata. Aki­batnya, secara kejiwaan para orangtua akan merasa kesepian, pe­rasa, mudah tersinggung, su­ka bersedih, rewel dan bahkan bisa berubah seperti kekanak-ka­nakkan. Dampaknya, lansia akan menghadapi bermacam-m­a­cam permasalahan dan ren­tan terhadap gangguan sosial, eko­nomi dan kesehatan. Na­mun menurut para ahli bahwa ke­adaan masa tua itu sangat ter­gantung pada masa muda se­se­orang. Masa muda yang men­ja­lani syariat agama, ber­perilaku se­hat, ceria, ikhlas dan suka m­e­no­­long tanpa pamrih akan men­ja­lani masa tua yang bahagia.
"Masa muda yang men­ja­lani syariat agama, ber­perilaku se­hat, ceria, ikhlas dan suka me­no­­long tanpa pamrih akan men­ja­lani masa tua yang bahagia."

Betapa banyak kita lihat para orangtua yang masih berkiprah, masih dimintakan pendapatnya, ma­sih didatangi oleh banyak orang dan masih dengan pikiran yang jernih. Tetapi sebaliknya, jika di waktu muda ketika masih kuat dan berkuasa bagaikan raja yang lupa daratan, haus dan rakus biasanya di hari tua akan merana. Itulah sebabnya, para bijak selalu mengingatkan kita, bahwa masa tua adalah masa panenan apa yang kita tanam di waktu muda. Mungkin berbuah manis, berbuah pahit ataupun hampa belaka.

 Seorang Ibu Tua yang sedang mengumpulkan kerikil. Gunung Merapi Jogjakarta. Foto: archiaston

Permasalahan lanjut usia itu harus menjadi perhatian kita se­mua, baik dari keluarga, masyarakat maupun pe­merintah. Kita harus menjadikan lanjut usia sebagai aset bangsa yang ha­rus terus diberdayakan, men­jadi se­hat, produktif dan mandiri. Ba­gi keluarga yang mampu, ma­ka permasalahan lansia bu­kan hal yang berat. Mereka dapat meng­gaji pembantu yang merawat ataupun menitipkan lansia di pan­ti-panti jompo. Sebaliknya, bagi keluarga yang perekono­miannya kurang mam­pu, maka banyak lansia yang terabaikan. M­e­reka dibiarkan terlantar untuk mengurus dirinya sendiri dan lebih ironis lagi, ada lansia yang mendapat perlakuan tidak baik.

Nilai-nilai luhur kema­nusia­an dan tuntunan agama apa pun me­nempatkan lansia seba­gai orang yang wajib dihor­mati, di­har­gai dan dibaha­giakan. Ka­re­na itu, baik anak, cucu, ke­luarga, kerabat, masyarakat ataupun pe­merintah haruslah mem­berikan per­hatian, kasih sayang, pelayanan kesejahteraan dan kese­ha­tan, serta menempatkan lan­sia pada lingkungan yang me­nger­ti dan memahami mereka.

Care
Nilai luhur dan tuntunan aga­ma juga menjelaskan bagai­mana kita harus bersikap pada la­n­s­ia yang telah uzur. Yang uta­ma tentu harus dipenuhi kebu­tu­han fisiknya, dike­nyangkan pe­­rutnya dan dipelihara kese­ha­tan­nya. Kita harus selalu ber­laku sa­­bar. Mereka harus sering dite­mani dalam mengobrol, di­kunjungi kerabat, sering disa­pa dan didengar nasihat, keluhan dan cerita cerita masa lalunya wa­lau cerita-cerita itu sudah pu­lu­han kali diulang dan di­ulang. Ka­rena itulah, monumen pe­ning­galan kisah kejayaan masa lampau yang membekas sampai ka­pan pun di alam pikirannya. Ja­ngan sekali kali memper­la­kukan mereka secara kasar baik dalam bentuk ucapan apalagi perl­akuan fisik.

Undang-Undang Nomor 13 T­a­­hun 1998 tentang Ke­sejah­teraan Lanjut Usia, men­jelaskan bahwa peningkatan jumlah dan ke­sejahteraan lansia menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan. Demikian juga UUD 1945 pada pasal 28 mene­tap­kan bahwa setiap orang ber­hak atas jaminan sosial. Dengan de­­mikian, kita semua harus ber­par­tisipasi untuk me­mung­kin­kan lansia tetap mengem­bang­kan diri secara utuh sebagai ma­n­usia yang bermartabat. Ne­g­ara te­lah memfasilitasi wa­dah tem­pat berkumpul seperti wa­dah (karang lansia/karang werda) atau bentuk lainnya. Namun be­lum begitu berkembang se­pert­i pada negara-negara maju yang ja­minan sosial sudah begitu baik, di mana para orangtua se­lalu dihormati dan diber­daya­kan.

Lansia di negara maju.
Mereka diberikan tempat ber­kumpul khusus di tempat-tem­pat keramaian, di pusat per­belanjaan, di tempat wisata dan lainnya k­a­rena mereka juga bu­tuh re­kreasi, silaturahmi dan be­re­l­asi sosial dengan kerabat, te­man sebaya, se­kelompok ke­gia­tan dan mas­ya­rakat. Diha­rap­kan me­reka tetap bersemangat, ber­kreasi, berkarya ataupun te­tap aktif dalam seluruh ke­giatan sosial.

Para lansia berhak mene­rima kasih sayang, bak kasih sa­yang yang mereka berikan se­waktu kita masih kecil. Kenapa kini sebagian mereka ada yang sepi dan bahkan terlunta-lunta? Siapa sebenarnya yang salah? Me­reka ataukah kita?

Di antara kesepian menanti, ne­nek tua itu tertidur sendiri di atas kursi teras itu. Tertidur me­nanti kepulangan anak cucu­nya, me­nanti familinya yang akan da­tang, menanti seseorang yang mau mampir untuk bercerita. Atau mungkinkah diam-diam ber­siap-siap menanti waktu untuk pindah ke teras rumahnya yang jauh dan abadi. (Padang Ekspres)



Ironi Kehidupan di Hari Tua


Seorang Pengamen yang sudah renta dan tuna netra, berdendang dengan suara yang lirih dengan ditemani oleh istrinya di pinggir jalan di wilayah Dukuh Kupang, Surabaya. Dalam ke-papa-annya, bapak tua itu telah memberikan bekal yang tidak ternilai di akhir penugasanku selama 4,5 tahun di Surabaya. Foto: Kristo


Ketika sudah tiba waktunya, kapanpun & dimanapun, tak seorang-pun dapat menahan kantuk & tertidur. Foto diambil di Makam Belanda Peneleh, Surabaya. Foto: Kristo


Kakek penjual pisang

 Penjual Tahu Dieng





 Kakek Pengayuh Becak

 Veteran RI menunggu detik-detik terakhir rumah mereka disita/digusur. lalu mereka mau tinggal dimana?


 Veteran RI, masih dengan semangat yang sama... Semangat 45!

Seorang veteran RI yang tidak lebih adalah seorang tua renta dan tidak pernah menuntut apa-apa selain hidup tenang di sisa hayatnya.


Hanya muncul untuk mengisi acara Kemerdekaan 17 Agustus di beberapa stasiun TV, setelah itu? Siapa peduli!??



Hampir 3 juta lansia di Indonesia telantar. Warga lanjut usia (lansia) di Indonesia mencapai 20 juta jiwa, 2,8 juta diantaranya terlantar dan membutuhkan penanganan yang melibatkan tidak saja pemerintah pusat tetapi juga pemerintah daerah, swasta, serta komponen masyarakat lainnya. (http://indonesia.ucanews.com, 30/05/2013)



Kehidupan Tua Renta Dikucilkan







Tulisan ini didekasikan pada manula yang sepi...






Bocah Pembeli Es Krim

Minggu siang di sebuah mal. Seorang bocah lelaki umur delapan tahun berjalan menuju ke sebuah gerai tempat penjual es krim. Karena pendek, ia terpaksa memanjat untuk bisa melihat si pramusaji. Penampilannya yang lusuh sangat kontras dengan suasana hingar bingar mal yang serba wangi dan indah.

“Mbak sundae cream harganya berapa?” si bocah bertanya.

“Lima ribu rupiah,” yang ditanya menjawab.

Bocah itu kemudian merogoh recehan duit dari kantongnya. Ia menghitung recehan di tangannya dengan teliti. Sementara si pramusaji menunggu dengan raut muka tidak sabar. Maklum, banyak pembeli yang lebih “berduit” mengantri di belakang pembeli ingusan itu.

“Kalau plain cream berapa?”

Dengan suara ketus setengah melecehkan, si pramusaji menjawab, “Tiga ribu lima ratus”.

Lagi-lagi si bocah menghitung recehannya, ”Kalau begitu saya mau sepiring plain cream saja, Mbak,” kata si bocah sambil memberikan uang sejumlah harga es yang diminta. Si pramusaji pun segera mengangsurkan sepiring plain cream.

Beberapa waktu kemudian, si pramusaji membersihkan meja dan piring kotor yang sudah ditinggalkan pembeli. Ketika mengangkat piring es krim bekas dipakai bocah tadi, ia terperanjat. Di meja itu terlihat dua keping uang logam limaratusan serta lima keping recehan seratusan yang tersusun rapi.
Ada rasa penyesalan tersumbat dikerongkongan. Sang pramusaji tersadar, sebenarnya bocah tadi bisa membeli sundae cream. Namun, ia mengorbankan keinginan pribadi dengan maksud agar bisa memberikan tip bagi si pramusaji.

Pesan moral yang dibawa oleh anak tadi: Setiap manusia di dunia ini adalah penting. Dimana pun kita wajib memperlakukan orang lain dengan sopan, bermartabat, dan dengan penuh hormat.



Dermawan Rahasia

oleh: Woody McKay Jr,

Sebagai seorang supir selama beberapa tahun disekitar awal tahun 1910-an, ayahku menyaksikan majikannya yang kaya raya secara diam-diam memberikan uang kepada banyak orang, dan sadar bahwa mereka tidak akan pernah mampu mengembalikan uang itu.

Ada satu cerita yang menonjol dalam kenanganku diantara banyak cerita yang disampaikan ayahku kepadaku. Pada suatu hari, ayahku mengantar majikannya ke sebuah kota lain untuk menghadiri sebuah pertemuan bisnis. Sebelum masuk ke kota itu, mereka berhenti untuk makan sandwich sebagai ganti santap siang.

Ketika mereka sedang makan, beberapa orang anak lewat, masing-masing menggelindingkan sebuah roda yang terbuat dari kaleng. Salah seorang diantara anak-anak itu pincang. Setelah memperhatikan lebih dekat, majikan ayahku tahu bahwa anak itu menderita club foot. Ia keluar dari mobil dan menghentikan anak itu.

“Apakah kakimu membuatmu susah?” tanya orang itu kepada si anak.

“Ya, lariku memang terhambat karenanya,” sahut anak itu.

“Dan aku harus memotong sepatuku supaya agak enak dipakai. Tapi aku sudah ketinggalan. Buat apa tanya-tanya?“

“Mm, aku mungkin ingin membantu membetulkan kakimu. Apakah kamu mau?”

“Tentu saja,” jawab anak itu. Anak itu senang tetapi agak bingung menjawab pertanyaan itu.

Pengusaha sukses itu mencatat nama si anak lalu kembali ke mobil. Sementara itu, anak itu kembali menggelindingkan rodanya menyusul teman-temannya.

Setelah majikan ayahku kembali ke mobil, ia berkata, “Woody, anak yang pincang itu... namanya Jimmy. Umurnya delapan tahun. Cari tahu di mana ia tinggal lalu catat nama dan alamat orang tuanya.” Ia menyerahkan kepada ayahku secarik kertas bertuliskan nama anak tadi.

“Datangi orang tua anak itu siang ini juga dan lakukan yang terbaik untuk mendapatkan izin dari orang tuanya agar aku dapat mengusahakan operasinya. Urusan administrasinya biar besok saja. Katakan, aku yang menanggung seluruh biayanya.”

Mereka meneruskan makan sandwich, kemudian ayahku mengantar majikannya ke pertemuan bisnis.

Tidak sulit menemukan alamat rumah Jimmy dari sebuah toko obat di dekat situ. Kebanyakan orang kenal dengan anak pincang itu.

Rumah kecil tempat Jimmy dan keluarganya tinggal sudah harus dicat ulang dan diperbaiki di sana sini. Ketika memandang ke sekeliling, ayahku melihat baju compang-camping dan bertambal-tambal dijemur di seutas tali di samping rumah. Sebuah ban bekas digantungkan pada seutas tambang pula pada sebuah pohon oak, tampaknya untuk ayunan.

Seorang wanita usia tiga puluh limaan menjawab ketukan pintu dan membuka pintu yang engselnya sudah berkarat. Ia tampak kelelahan, dan tampangnya menunjukkan bahwa hidupnya terlalu keras.

“Selamat siang,” ucap ayahku memberi salam. “Apakah Anda ibu Jimmy?”

Wanita itu agak mengerutkan dahinya sebelum menyahut.

“Ya. Apakah ia bermasalah?” Matanya menyapu ke arah seragam ayahku yang bagus dan disetrika rapi.

“Tidak, Bu. Saya mewakili seorang yang sangat kaya raya yang ingin mengusahakan kaki anak Anda dioperasi agar dapat bermain seperti teman-temannya.“
“Apa-apaan ini, Bung? Tak ada yang gratis dalam hidup ini.”
“Apa-apaan ini, Bung? Tak ada yang gratis dalam hidup ini.”
“Ini bukan main-main. Apabila saya diperbolehkan menerangkannya kepada Anda dan suami Anda, jika ia ada saya kira semuanya akan jelas. Saya tahu ini mengejutkan. Saya tidak menyalahkan bila Anda merasa curiga.”

Ia menatap ayahku sekali lagi, dan masih dengan ragu-ragu, ia mempersilahkannya masuk. “Henry,” serunya ke arah dapur, “Ke mari dan bicaralah dengan orang ini. Katanya ia ingin menolong membetulkan kaki Jimmy.”

Selama hampir satu jam, ayahku menguraikan rencananya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. “Apabila Anda mengizinkan Jimmy menjalani operasi,” katanya, “Saya akan mengirimkan surat-suratnya untuk Anda tandatangani. Sekali lagi, kami yang akan menanggung seluruh biayanya.”

Masih belum bebas dari rasa terkejut, orang tua Jimmy saling memandang di antara mereka. Tampaknya mereka masih belum yakin.

“Ini kartu nama saya. Saya akan menyertakan sebuah surat kalau nanti saya mengirimkan dokumen-dokumen perizinan. Semua yang telah kita bicarakan akan saya tuliskan dalam surat itu. Andaikata masih ada pertanyaan, telepon atau tulis surat ke alamat ini.” Tampaknya sedikit banyak ini memberi mereka kepastian. Ayahku pergi. Tugasnya telah ia laksanakan.

Belakangan, majikan ayahku menghubungi walikota, meminta agar seseorang dikirim ke rumah Jimmy untuk meyakinkan keluarga itu bahwa tawaran tersebut tidak melanggar hukum. Tentu saja, nama sang dermawan tidak disebutkan.

Tidak lama kemudian, dengan surat-surat perizinan yang telah ditandatangani, ayahku membawa Jimmy ke sebuah rumah sakit mewah di negara bagian lain untuk yang pertama dari lima operasi pada kakinya.

Operasi-operasi itu sukses. Jimmy menjadi anak paling disukai oleh para perawat di bangsal ortopedi rumah sakit itu. Air mata dan peluk cium seperti tak ada habisnya ketika ia akhirnya harus meninggalkan rumah sakit itu. Mereka memberikannya sebuah kenang-kenangan, sebagai tanda syukur dan peduli mereka… sepasang sepatu baru, yang dibuat khusus untuk kaki “baru”nya.

Jimmy dan ayahku menjadi sangat akrab karena sekian kali mengantarnya pulang dan pergi ke rumah sakit. Pada kebersamaan mereka yang terakhir, mereka bernyanyi-nyanyi, dan berbincang tentang apa yang akan diperbuat oleh Jimmy dengan kaki yang sudah normal dan sama-sama terdiam ketika mereka sudah sampai ke rumah Jimmy.

Sebuah senyum membanjiri wajah Jimmy ketika mereka tiba di rumah dan ia melangkah turun dari mobil. Orangtua dan dua saudara laki-lakinya berdiri berjajar di beranda rumah yang sudah tua itu.
“Diam di sana,” seru Jimmy kepada mereka. Mereka memandang dengan takjub ketika Jimmy berjalan ke arah mereka. Kakinya sudah tidak pincang lagi.

Peluk, cium dan senyum seakan tak ada habisnya untuk menyambut anak yang kakinya telah “dibetulkan” itu. Orang tuanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum ketika memandangnya. Mereka masih tidak bisa percaya ada orang yang belum pernah mereka kenal mengeluarkan uang begitu banyak untuk membetulkan kaki seorang anak laki-laki yang juga tidak dikenalnya.

Dermawan yang kaya raya itu melepas kacamata dan mengusap air matanya ketika ia mendengar cerita tentang anak yang pulang ke rumah itu.
“Kerjakan satu hal lagi,” katanya, “Menjelang Natal, hubungi sebuah toko sepatu yang baik. Buat mereka mengirimkan undangan kepada setiap anggota keluarga Jimmy untuk datang ke toko mereka dan memilih sepatu yang mereka inginkan. Aku akan membayar semuanya. Dan beritahu mereka bahwa aku melakukan ini hanya sekali. Aku tidak ingin mereka menjadi tergantung kepadaku.”

Jimmy menjadi seorang pengusaha sukses sampai ia meninggal beberapa tahun yang lalu.

Sepengetahuanku, Jimmy tidak pernah tahu siapa yang membiayai operasi kakinya.


Henry Ford adalah pendiri Ford Motor Company, perusahaan pertama di dunia yang menciptakan model perakitan modern yang digunakan dalam produksi masal untuk otomotif.

Dermawannya, Mr. HENRY FORD, selalu mengatakan lebih menyenangkan berbuat sesuatu untuk orang yang tidak tahu siapa yang telah melakukannya.
“Ada kebahagiaan yang kita rasakan dari menolong orang lain.” ~Paul Newman


Ini Dia Manusia Paling Ditakuti Para Setan

Tahukah kamu siapa orang atau manusia yang paling ditakuti para setan bahkan jika ketemu dengan orang ini maka setan akan kabur dan tidak akan mau mendekatinya?

Seperti yang kita ketahui setan tidak akan pernah takut dengan manusia bahkan yang paling takut dengan setan adalah manusia namun asal kamu ketahui tenyata ada satu orang yang paling ditakuti setan dia adalah sahabat Nabi Muhammad SAW yakni Abu Hafsh Umar al-Faruq bin Khattab bin Nufail bin Abdil Uzza bin Adi bin Ka’ab bin Lu’aiy bin Ghalib al-Qurasy atau yang sering kita kenal dengan nama Umar bin Khattab.

Umar bin Khattab ketika memimpin Islam merupakan pemimpin yang berani menunjukan ajaran Islam di Makkah. Sebelum masuk Islam dan menjadi sahabat Nabi Muhammad, Umar bin Khattab merupakan orang yang sangat keras dalam menentang Islam bahkan ia sering melakukan perbuatan kasar terhadap kaum muslim pada waktu itu. Umar bin Khattab juga pernah berkata tidak akan pernah masuk Islam sampai ada keledainya al-Khattab yang masuk Islam.

Namun ALLAH SWT maha besar dan bisa meluluhkan hati Umar bin Khattab yang keras untuk masuk Agama Islam. Setelah Keislaman Umar, kemuliaan dan kekuatan Islam semakin bertambah.

Nah, lalu kenapa Umar bin Khattab bisa ditakuti para setan? Ternyata setan pernah berbicara dengan nabi Muhammad, “Demi Allah SWT, setiap kali saya bertemu dengan Umar, mesti akan lari darinya”. Hal ini sesuai hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, 
“Wahai Ibnul Khattab, demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah setan bertemu denganmu di suatu jalan melainkan ia akan mengambil jalan yang lain dari jalanmu.” (HR. Bukhari, no.3480)

Dari hadits diatas setan akan takut dengan Umar bin Khattab dan jika bertemu dengan Umar bin Khattab maka setan akan menghindar.



Pembuat Film Fitna yang Menghina Nabi Muhammad SAW Akhirnya Masuk Islam

Masuk Islamnya Arnoud Van Doorn membuat Belanda gempar. Pasalnya, Van Doorn adalah teman Geert Wilders sekaligus mantan Wakil Ketua Partai Kebebasan (PVV). Geert Wilders dikenal luas sebagai politisi anti-Islam yang pernah membuat film Fitna pada 2008 lalu. Sedangkan PPV yang didirikannya juga dikenal sebagai partai politik berhaluan liberal yang menentang Islam.

Apa alasan Van Doorn masuk Islam dan bagaimana ia mendapatkan hidayah? 

Berikut ini kisahnya:

Arnoud Van Doorn bukanlah nama baru dalam jagat perpolitikan Belanda. Ia aktif di PVV, bahkan menjadi salah satu pucuk pimpinan sebagai Wakil Ketua. Tetapi justru itulah yang mengusik hatinya. Mengapa partainya selalu memusuhi Islam? Rasa penasaran Van Doorn terhadap Islam semakin tak terbendung, hingga ia pun mulai mempelajari apa itu Islam yang sebenarnya.

“Saya benar-benar mulai memperdalam pengetahuan saya tentang Islam karena penasaran,” kata Van Doorn mengenang awal mula hidayah Islam menghampirinya.

Rasa penasaran itu membuat Van Doorn mencari terjemah Al-Qur’an, hadits, dan buku-buku referensi Islam. Hari demi hari berikutnya ia lalui dengan membaca dan mengkaji buku-buku itu satu per satu, tanpa meninggalkan aktifitasnya yang lain. Selama ini Van Doorn hanya tahu Islam dari perkataan orang-orang yang membencinya.

Twitter 27 Februari 2013


Selama ini Van Doorn hanya tahu Islam dari perkataan orang-orang yang membencinya. (click view large)

Orang-orang yang dekat dengan Van Doorn sebenarnya tahu bahwa Van Doorn membaca referensi Islam, tetapi agaknya mereka tidak sampai berpikir bahwa itu akan menjadi jalan hidayah bagi Van Doorn. Karena lazim dalam dunia mereka, mengkaji sebuah pemikiran atau suatu faham tanpa harus mempercayai dan mengikutinya. Bahkan, tidak sedikit orang yang mempelajari Islam untuk kemudian menyerangnya.

Van Dorn menghabiskan waktu hampir setahun untuk mengkaji Qur’an, Sunnah dan sejumlah referensi Islam tersebut. Ia juga menyempatkan berdialog dengan penganut Islam untuk mengetahui lebih jauh tentang agama yang menarik hatinya tersebut.

“Orang-orang di sekitar saya tahu bahwa saya telah aktif meneliti Qur’an, sunnah dan tulisan-tulisan lain selama hampir setahun ini. Selain itu, saya juga telah banyak melakukan percakapan dengan Muslimin tentang agama,” ujar Doorn kepada televisi Al-Jazirah Inggris.

Semakin lama mempelajari Islam, Van Doorn semakin tertarik. Ia mulai merasakan Islam sebagai sesuatu yang spesial. Meskipun sebelumnya ia juga memiliki pondasi Kristen sebagai agamanya, Van Doorn merasakan Islam itu istimewa.

Apa yang selama ini ada dalam kepalanya bahwa Islam itu fanatik, menindas wanita, tidak toleran, membabi buta memusuhi Barat, perlahan hilang dari pikirannya. Van Doorn menemukan Islam sebagai sesuatu yang sama sekali berbeda dari apa yang pernah ia sangka.

Van Doorn juga menemukan, Islam adalah agama yang cinta damai. Tidak seperti tuduhan media Barat yang selama ini mencitrakan Islam sebagai teroris.

“99 persen kaum muslimin adalah pekerja keras dan pecinta damai. Jika lebih banyak orang mempelajari Islam yang benar, semakin banyak orang yang akan melihat keindahan itu,” kata Van Doorn ketika diwawancarai oleh MNA.
“99 persen kaum muslimin adalah pekerja keras dan pecinta damai. Jika lebih banyak orang mempelajari Islam yang benar, semakin banyak orang yang akan melihat keindahan itu.”
Jalan hidayah bagi Van Doorn semakin terbuka lebar ketika bertemu dengan seorang Muslim bernama Aboe Khoulani, seorang rekannya yang menjabat di Dewan Kota Den Haag. Selain menjelaskan Islam lebih jauh, ia juga menghubungkan Van Doorn dengan Masjid As-Soennah.

Puncak “pertarungan batin” dialami Van Doorn beberapa waktu kemudian. Apakah ia akan mengikuti hidayah yang diamini oleh fitrahnya itu atau sebatas menjadikannya sebagai pengetahuan. Beruntung, saat-saat itu tidak berlarut-larut. Setelah mantap dengan Islam, Van Doorn pun mengikrarkan syahadat. Ia pun menjadi Muslim dan menjadi saudara bagi sekitar 1,9 milyar umat. Tetapi bagi partai dan pengikutnya, Van Doorn dicap “pengkhianat.”


Ket. foto: Beliau tatkala sedang shalat di Ar Raudhah (Masjid an Nabawi Madinah)


Untuk sebarkan ajaran Islam, Van Doorn berencana buat film tentang Nabi Muhammad SAW

Nampak dalam foto Sheikh Abdulrahman Al-Sudais, kepala Kepresidenan untuk Urusan Dua Masjid Suci, memberikan salinan Alquran ke Arnoud Van Doorn selama acara di Makkah pada hari Minggu bersama Shahzad Muhammad (kanan), kepala Canadian Dawah Association (CDA). Foto: Okaz / Abdul Majeed Al-Dowaini

MADINAH - Muallaf Belanda, mantan politikus Belanda yang dulunya anti-Islam, Arnoud Van Doorn mengungkapkan rencana untuk memproduksi film tentang Nabi Muhammad (shalalallahu ‘alaihi wa sallam) dan Islam sebagai balasan atas film “Fitna” yang menghina Islam yang mana ia pernah terlibat di dalamnya.

Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama koran Arab Saudi Okaz/Saudi Gazette, Doorn yang memeluk Islam bulan lalu, mengatakan bahwa ia akan mengabdikan seluruh hidupnya untuk menyebarkan ajaran Islam yang benar dan menyebarkan tentang kasih sayang dan akhlak mulia Rasulullah Muhammad (shalallahu ‘alaihi wa sallam) dengan membuat film yang akan disebarkan ke seluruh dunia.

“Saya akan bekerja keras untuk melindungi hak-hak asasi Muslim di seluruh negara-negara Eropa juga untuk melayani Islam dan para pengikutnya di seluruh dunia. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk memperbaiki yang Saya timbulkan untuk Islam dan Nabinya (shalallahu ‘alaihi wa sallam) melalui film ‘Fitna’,” katanya.

Fitna
Doorn juga memutuskan bahwa ia akan bekerja sama dengan Canadian Dawah Association (CDA) yang berbasis di Toronto untuk membuat film internasional yang bertujuan untuk menghilangkan kesalahpahaman dan ketakutan tentang Islam dan Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam).

“Saya akan menggunakan pengalaman saya dalam memproduksi film alternatif, yang akan berbicara tentang citra Islam yang benar dan semua aspek kepribadian Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) serta kualitas beliau yang hebat.”

Doorn sangat menyesal atas keterlibatannya dalam film yang melecehkan Islam. “Sayang sekali Saya tidak berupaya untuk mengenal apa itu Islam yang sesungguhnya dan siapa itu Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) sebelum percaya membabi buta terhadap kampanye misinformasi yang dikeluarkan oleh pasukan anti-Islam,” ungkapnya.

“Ketika Saya menyadari bahwa itu (yang digambarkan orang-orang anti-Islam -red) bukanlah Islam, Saya memutuskan untuk belajar tentang agama ini dan hal itu menyebabkan pertaubatan saya,” lanjutnya. “Sekarang, Saya benar-benar menikmati keindahan Islam dan Saya sangat bahagia atas rahmat Allah yang besar untuk membimbing saya ke Jalan-Nya,” lanjutnya lagi.

Doorn juga mengatakan bahwa partainya dulu, Partai Kebebasan (PVV), marah atas keislamannya. “Partai itu berdiri melawan Islam dan penyebarannya di Eropa. Sekarang sebagian dari mereka menganggap saya sebagai seorang pengkhianat.”

Doorn juga mengungkapkan perasaannya saat berkunjung ke makam Rasulullah Muhammad (shalallahu ‘alaihi wa sallam), ia mengatakan, “Masih terasa luar biasa bagi saya bahwa Saya sekarang berada di kota suci yang menjadi tuan rumah Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam)." Doorn melanjutkan, “Saya tidak bisa mengontrol perasaan saya saat Saya berdiri di depan makam Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) begitu juga di Raudhah Syarif, dekat mimbar yang digunakan oleh Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam). Ketika Saya shalat, shalat di Raudhah Syarif, mata saya bercucuran air mata seakan Saya merasa bahwa Saya sedang berada di bagian Surga.”

Doorn mengatakan ia mengagumi hebatnya kecintaan dan kasih sayang umat Islam terhadap Nabi Muhammad (shalallahu ‘alaihi wa sallam) dan juga menyadari besarnya kebencian orang-orang kafir terhadap Rasulullah tercinta. “Saya juga menyadari hebatnya kebencian sebagian orang-orang Barat terhadap Islam dan Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) dan nampaknya didasarkan atas kebodohan dan prasangka mereka.”

Karena itu, Doorn ingin membantu menyebarkan citra Islam yang sebenarnya dan membantah propaganda orang-orang kafir dalam mencitrakan buruk wajah Islam.

“Oleh sebab itu, Saya memutuskan untuk berusaha keras untuk memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan oleh film penghina Islam itu, yang diproduksi dengan motif tersembunyi dalam menciptakan hasutan di antara Muslim dan non-Muslim,” katanya. Doorn menambahkan bahwa dia berjanji di hadapan makam Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) bahwa ia akan berusaha untuk menyebarkan ajaran yang dibawa Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) dan kehebatan peran Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) dalam mempromosikan perdamaian dan keharmonisan di antara penduduk dunia.

Pesan untuk Para Pembenci Keislamannya

Masih dalam wawancaranya, Doorn menyampaikan pesan kepada orang-orang yang membenci Keislamannya. “Biarkan saya katakan kepada mereka bahwa ini adalah keputusan pribadi saya dan Saya melihat hidup baru dalam Islam yang Saya tidak ingin untuk menyerahkannya. Saya kebetulan melihat beberapa komentar di jejaring sosial, menunjukkan perasaan antagonisme dan kebencian terhadap saya,” katanya, sembari menambahkan bahwa semua itu muncul dari ketidaktahuan, penghinaan dan permusuhan terhadap Islam dan Muslim.

Arnoud Van Doorn saat silaturahmi dengan Syaikh Abdurrahman as Sudais

Ucapan Terima Kasih

Sementara Doorn menyampaikan ucapan terima kasih kepada siapa saja yang mendukungnya untuk memulai hidup barunya sebagai seorang Muslim.

http://www.cdadawah.com
Terkhusus, Doorn berterima kasih kepada CDA yang telah memperkenalkan Islam kepadanya. Doorn mengatakan ia berencana akan terlibat dalam dakwah organisasi yang dikelola dan didukung oleh beberapa ulama dan da’i terkemuka itu.

Dia juga mengekspresikan rasa terima kasih atas dukungan dari umat Islam di Arab Saudi.

“Saya berterimakasih atas semua dukungan dan sumber daya yang kami terima untuk menyebarkan Islam di Belanda,” katanya melalui akun Twitter-nya (http://twitter.com/ArnoudvDoorn).



 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
23