Pasangan Hidup

Suatu waktu, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 orang istri. Dia mencintai istri yang keempat, dan menganugerahinya harta dan kesenangan yang banyak. Sebab, dialah yang tercantik di antara semua istrinya. Pria ini selalu memberikan yang terbaik buat istri keempatnya ini.

Pedagang itu juga mencintai istrinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan istrinya ini, dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita ini kepada semua temannya. Namun, ia juga selalu khawatir kalau istrinya ini akan lari dengan pria yang lain.

Begitu juga dengan istri yang kedua. Ia pun sangat menyukainya. Ia adalah istri yang sabar dan pengertian. Kapanpun pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pertimbangan istrinya ini. Dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya, melewati masa-masa yang sulit.

Sama halnya dengan istri yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia. Dia selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarga ini. Dialah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha sang suami. Akan tetapi, sang pedagang tak begitu mencintainya. Walaupun sang istri pertama ini begitu sayang padanya, namun pedagang ini tak begitu mempedulikannya.

Suatu ketika, si pedagang sakit. Lama kemudian, ia menyadari bahwa ia akan segera meninggal. Dia meresapi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati. "Saat ini, aku punya 4 orang istri. Namun, saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri." Lalu, ia meminta semua istrinya datang dan kemudian mulai bertanya pada istri keempatnya. "Kaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah, sekarang, aku akan mati, maukah kau mendampingiku dan menemaniku? Ia terdiam. "Tentu saja tidak," jawab istrinya yang keempat, dan pergi begitu saja tanpa berkata-kata lagi. Jawaban itu sangat menyakitkan hati sang saudagar. Seakan-akan, ada pisau yang terhunus dan mengiris-iris hatinya.

Pedagang yang sedih itu lalu bertanya pada istri ketiga. "Akupun mencintaimu sepenuh hati dan saat ini hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku?" Istrinya menjawab, Hidup begitu indah di sini. Aku akan menikah lagi jika kau mati. Sang pedagang begitu terpukul dengan ucapan ini. Badannya mulai merasa demam.

Lalu, ia bertanya pada istri keduanya. "Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mau membantuku. Kini, aku butuh sekali pertolonganmu. Kalau aku mati, maukah kau ikut dan mendampingiku?" Sang istri menjawab pelan. "Maafkan aku," ujarnya "Aku tak bisa menolongmu kali ini. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur saja. Nanti, akan kubuatkan makam yang indah buatmu." Jawaban itu seperti kilat yang menyambar.

Sang pedagang kini merasa putus asa. Tiba-tiba terdengar sebuah suara. "Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Aku, tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu". Sang pedagang lalu menoleh ke samping, dan mendapati istri pertamanya disana. Dia tampak begitu kurus. Badannya tampak seperti orang yang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam,"Kalau saja, aku bisa merawatmu lebih baik saat kumampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini, istriku."


Sesungguhnya kita punya 4 orang istri dalam hidup ini. Istri yang keempat adalah tubuh kita. Seberapapun banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap-Nya.

Istri yang ketiga adalah status sosial dan kekayaan. Saat kita meninggal semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah dan melupakan kita yang pernah memilikinya.

Sedangkan istri yang kedua adalah kerabat dan teman-teman. Seberapapun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan bisa bersama kita selamanya. Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita.

Istri pertama kita adalah jiwa dan amal kita. Mungkin kita sering mengabaikan dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan pribadi. Namun sebenarnya hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amal yang mampu menolong kita di akhirat kelak. Jadi selagi mampu perlakukanlah jiwa dan amal kita dengan bijak. Jangan sampai kita menyesal belakangan.



Cinta yang Sederhana

#


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, 
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, 
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

~Sapardi Djoko Damono, 1989

Father and Daughter

Tentang sebuah film animasi pendek Father and Daughter, animasi oleh Arjan Wilschut.

Sebuah film pendek yang indah dan mempesona penonton di seluruh dunia karya Michaël Dudok De Wit, yang memenangkan lebih dari 40 penghargaan, termasuk Oscar untuk kategori Film Animasi Pendek Terbaik (Best Animated Short). Film ini juga menerima lebih dari 20 penghargaan dan nominasi 1, dan dianggap yang paling sukses dalam rangkaian karya Michaël Dudok De Wit.

Plot Cerita

Adalah seorang ayah yang mengatakan selamat tinggal untuk putrinya dan kemudian pergi. Seperti gambaran musim di Belanda yang panjang, begitu pula sang gadis melewati musim demi musim dalam hidupnya. Dia menjadi seorang wanita muda, memiliki keluarga dan dalam waktu sekian lamanya ia pun menjadi tua, namun dalam dirinya selalu ada kerinduan yang mendalam untuk ayahnya.

Cerita nampak sebagai halnya metafora. Sang ayah hanya meninggalkan sebuah perahu yang menandakan kematiannya,
dan dalam imajinasinya ia seperti menyaksikan seorang anak perempuan yang menungguinya pulang, yang menandakan ia selalu berpikir tentang dia sepanjang hidupnya. Menjelang akhir film ketika sang anak perempuan yang sekarang menjadi seorang nenek mulai berjalan memasuki sungai yang mengering yang menjadi padang rerumputan lebat, dasar sungai yang kering menjelaskan dengan pasti bahwa dia sang ayah telah meninggal disitu, dan sekarang ia berharap semeninggalnya ia nanti bisa melihat ayahnya sekali lagi disana....


"Father and Daughter is a film about longing, the kind of longing which quietly, yet totally, affects our lives." ~Michael Dudok de Wit

Animasi oleh Arjan Wilschut
Disutradarai oleh Michaël Dudok De Wit
Diproduksi oleh Claire Jennings, Willem Thijssen
Ditulis oleh Michaël Dudok De Wit
Musik oleh Normand Roger, Denis L. Chartrand
Tahun Rilis: 2000
Durasi: 8 menit 30 detik
Negara: Inggris, Belgia, Belanda

Cloudrunner Ltd | Channel4 | VPRO | NFF

Sebuah film sederhana yang kaya makna, mohon maaf kalau translate-nya kurang pas... ^^




Aristoteles tentang Cinta Sejati

Pada suatu hari, Aristoteles bertanya kepada gurunya (Plato) mengenai arti dari cinta sejati.

Aristoteles: “Apa itu CINTA SEJATI wahai Guru?”
Plato: ”Berjalan luruslah di taman bunga yang luas. Petiklah satu bunga yang terindah menurutmu. Dan ingat, jangan pernah kembali kebelakang!”

Secepatnya Aristoteles mengerjakan apa yang disuruhkan oleh gurunya itu. Keesokan harinya, beliau bertemu gurunya. Beliau kembali dengan tangan hampa.

Plato: “Mana bunga yang kau petik, wahai Aristoteles?”
Aristoteles: “Aku tidak bisa mendapatkannya. Sebenarnya aku telah menemukannya, tapi aku berpikir pasti didepan ada bunga yang lebih bagus lagi. Ketika aku sampai diujung taman, aku baru sadar bahwa bunga yang aku temui pertama tadi itulah yang terbaik. Tapi aku tidak bisa kembali lagi kebelakang.”
Plato: “Wahai Aristoteles muridku, itulah CINTA SEJATI. Semakin kau mencari yang terbaik, maka kamu tidak akan pernah menemukannya."
Aristoteles : “Sekarang aku mengerti apa itu CINTA SEJATI.”

~*♥

........................
If only I could turn back time
If only I had said what I still hide
If only I could turn back time
I would stay for the night
........................
~AQUA 



Adakalanya Kita Membutuhkan Diam

Di kala anda tak mempunyai kata-kata untuk diucapkan, diamlah.
Lebih mudah mengetahui kapan anda harus berbicara dan mengumbar perkataan.
Namun, teramat sulit menjaga kapan sebuah jeda harus didiamkan.
Ingatlah, bibir bukan hanya untuk dibuka lebar-lebar.
Lebih sering kita perlu untuk mengatupkannya rapat-rapat.
Berbicara seringkali bagaikan menghamburkan paku pada jalan yang akan dilalui. Kita tak tahu pada paku yang manakah kita akan jatuh tersungkur.

Berbicara memerlukan sebuah pengendalian diri agar kata-kata berbicara sebagaimana mestinya.
Sedangkan diam adalah pengendalian itu sendiri yang harus diketukkan untuk menjaga sebuah harmoni.
Itulah mengapa orang bijak menyimpan butir-butir emas kebajikan mereka dalam diam.
"Silence is golden when you can't think of a good answer." ~Muhammad Ali

source/image: Matt Corby


Mencintai Tuhan

Suatu hari, seorang anak bertanya pada ayahnya, "Ayah, bolehkah aku berbicara tentang Tuhan? Bolehkah aku mempertanyakan sosoknya?" Sang ayah pun tersenyum. Kemudian ia menjawabnya dengan singkat, "Kalau Ayah boleh tahu, kenapa kamu ingin melakukannya?"

"Aku ingin mengenalnya, aku ingin mencarinya, aku ingin memeluk dan juga memarahinya."
"Apa salah Tuhan sehingga kamu juga ingin memarahinya?"
"Karena ia menciptakan gelap dan membuatku takut tidur sendirian."
"Lalu, apa alasan kamu ingin memeluknya?"
"Karena Ia ayahku bila Ayah sedang tidak ada."
Sang ayah kemudian memangkunya sambil berbisik, "Kalau begitu, ayo kita cari Tuhan bersama-sama."

Si kecil langsung berteriak gembira. "Ayo, ayo... kita akan kemana, Ayah? Sembahyang? Berdoa? Apakah aku bisa menemukannya dalam ritual ibadah? Dapatkah aku menjumpainya lewat kitab suci?"

Sang ayah kembali tersenyum. "Bisa. Kamu bisa menemukannya di sana, bila kamu mau. Sama halnya seperti menemukannya di dalam hatimu sendiri, atau menemukannya di saat kamu tidak menginginkan kehadirannya."

Si kecil mengernyitkan keningnya, "Maksud Ayah? Tuhan ada di dalam sini?" Tangan mungilnya menunjuk ke dada.

Ayah mengangguk, "Itu juga bila kamu menginginkannya."
Kernyitan si kecil semakin tampak di keningnya.
"Lalu Ayah, dia juga bisa kutemukan bila aku tidak menginginkannya? Bagaimana caranya?"
"Sayang, apakah sosok Tuhan bagimu?"
Si kecil pun mulai berceloteh dengan gembira, "Umm... dia adalah seorang kakek berjenggot yang kadang menjaga tidurku. Tetapi bila ayah di sampingku, dia hanya melihatku saja."

Ayahnya tertawa. "Wah, Tuhan itu saingan Ayah, ya... kenapa tidak jadi saingan Ibu saja?"
Si kecil langsung menjawab, "Itu karena Ibu ada di rumah, Ibu menidurkanku waktu Ayah belum pulang."
Ayah bertanya lagi, "Kalau Ibu sedang ke luar kota, bagaimana?"
Si kecil berpikir sejenak, "Ah, ya sudah, berarti Tuhan mengutus istrinya untuk menjagaku."
Ayah menimbali dengan bersemangat, "O, ya? Siapa istrinya itu?"
Si kecil diam saja, pikirannya langsung bekerja. "Umm... ya Tuhan juga," katanya ragu.
"Ya.. ya.. ya.. Tuhan juga! Tuhannya perempuan, cantik sekali. Tapi lebih cantik Ibu." Kali ini suaranya terdengar mantap.
Ayahnya pun tertawa renyah. "Jadi Tuhannya ada dua?"
"Ya kan gantian, Yah... seperti Ayah dan Ibu yang bergiliran menjagaku."
"Kalau hari libur, Ayah dan Ibu kan sama-sama ada di rumah?"
"Ooohhh... ya berarti... kadang-kadang Tuhan itu ada dua-duanya."
"Yang laki-laki dan yang perempuan?"
"Bukan. Kali ini Tuhan jadi sahabatku bermain. Tuhannya gendut dan lucu sekali, ia suka menggodaku."
"Terus sekarang Tuhannya ada tiga?" Ayah tak sabar menunggu jawaban si kecil.
Kemudian lagi-lagi si kecil itu menjawab, "Yaaa.. kan gantian."
Ayahnya pun tersenyum kecil. Kemudian ia berkata lagi, "Apa Tuhan pernah bertengkar denganmu, Nak?"
Si kecil menjawab dengan antusias, "Iya.. iya... pernah. Waktu itu ia tidak datang. Yang ada malah gelap. Kata Ibu Guru di sekolah, yang menciptakan gelap itu Tuhan, yang menciptakan matahari juga. Jadi aku marah padanya. Kok bisa sih aku ditinggal sendirian begini, katanya ia sayang padaku."

"Tuhan sayang padamu?"
"Iya dong, buktinya ia mau ada buatku."
"Lalu kamu juga sayang padanya?"
"Iya. Tapi kadang-kadang aku juga kesal."
"Kalau kamu sedang kesal, apa yang kamu inginkan?"
"Ngambek," katanya judes. "Aku tidak mau bertemu dengannya."
"Jadi saat itu Tuhannya tidak ada, dong?"
"Ehhh..iya. Ia tidak ada, tapi juga tidak hilang."
"Ia ada di mana?"
Si kecil langsung berpikir lagi, bola matanya mulai bergerak-gerak ke atas dan ke samping. "Umm... aku mengurungnya, supaya ia tidak bisa bermain. Aku menghukumnya, sama seperti ketika Ibu melarangku nonton TV."

Ayahnya tahu bahwa sebentar lagi si kecil akan mengerti, "Dikurungnya di mana, Nak? Kasihan sekali ya, Tuhan itu..."

Si kecil kembali menggerakkan bola-bola matanya. Kemudian mulutnya mulai bergerak hendak mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi. Dahinya mulai berkerut-kerut lagi. Akhirnya ia pun menjawab, "Ayah, tidak perlu kasihan. Tuhannya kujaga baik-baik di dalam sini." Jari telunjuknya mengarah ke dada. Kemudian bibirnya mengembang dengan senyuman, "Tuhan bisa ada di dalam sini, ya, Ayah? Juga pada saat aku tidak menginginkannya."

Ayah pun mengacak-acak rambut si kecil.
"Tapi, Yah, di sekolah, mereka bilang, Tuhan itu kan jauh di sana, di surga. Lalu kalau ingin bertemu Tuhan dan meminta sesuatu, kita harus berdoa. Katanya Tuhan pasti mengabulkan. Lalu ada pertemuan rutin beberapa kali sehari, katanya wajib, Yah, Tuhan yang suruh. Terus Tuhan juga bisa marah, katanya kita bisa dibakar, Yah. Di oven besar yang namanya neraka, katanya Tuhan menghitung pahala dan dosa kita, Yah. Wahhh.. Tuhan kok jadi jahat begitu, ya?"

"Kamu ingin Tuhan menjadi seperti itu?"
"Nggaaaakkkkk. Tuhannya pelit sekali, ya, Yah? Tuhannya pandai menghitung, walaupun ia punya malaikat-malaikat yang membantunya. Terus, Tuhannya hanya mau bertemu kalau kita mau berdoa, Yah. Tuhannya sombong sekali, ya? Padahal aku tidak perlu berdoa hanya untuk berbicara padanya, dalam setiap harapan dan pikiranku, aku sudah berkomunikasi dengannya. Tuhan juga hadir dalam setiap mimpiku, ia bahkan mengetahui dan terkadang bermimpi bersamaku."

"Hahaha... ya kalau begitu, jangan berpikir seperti itu, dong, kecuali kalau kamu menginginkan hubunganmu dengan Tuhan diatur sedemikian rupa. Dan kecuali kalau kamu masih takut pada Tuhan. Pada saat dan di tempat ajaran itu diciptakan, manusia sedang susah diatur, dimana-mana timbul kejahatan. Banyak orang tertindas. Mereka semua perlu sesuatu yang menakutkan agar bisa mengendalikan diri mereka, agar timbul aturan yang sangat efektif, tepat guna. Apa kamu bandel sehingga harus diatur begitu?"

"Aduuhhhh Ayah... aku kan anak baik... hehehe... lagipula, Tuhan itu kan sangat dekat denganku. Tapi Yah, ada temanku bilang, di rumahnya banyak patung manusia. Itu juga Tuhan, katanya. Itu anak Tuhan. Tapi Ibunya bukan istri Tuhan. Kok bisa, ya? Aku sih tidak mau jadi anak Tuhan, aku ingin jadi anak Ayah dan Ibu saja."

alexandernvm.deviantart.com   
Ayahnya tertawa lagi, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sayang, semua anak bisa jadi anak Tuhan, kalau ia mau, lho... Dan anak Tuhan yang diceritakan temanmu itu adalah hanya salah satu manusia yang bisa menyimpan Tuhan dalam hatinya, dan kemudian ia menolak aturan-aturan yang mutlak dan menggantinya dengan hukum kasih. Namun, terkadang definisi kasihnya hanya diartikan sebatas kasih yang indah, tulus, dan tidak menyakitkan. Padahal, kita bisa lebih mengasihi dalam rasa sakit, ketika kita mengetahui bagaimana rasanya disakiti dan menyakiti orang lain."

"Wah, Tuhan dan aku juga makin akrab ketika kami berbaikan kembali setelah bertengkar. Kami bisa belajar dari kekesalan dan kebencian kami."

Sambil tersenyum ayah kemudian berkata, "Lagipula, kamu juga bisa jadi Tuhan. Itu kalau kamu mau."

"Yang benar, Yah? Aku? Bisa jadi Tuhan?"
"Waktu Tuhan kamu hukum atau waktu ia tidak datang, lantas siapa yang menggantikannya?"
"Ya tidak ada. Saat itu tidak ada Tuhan."
"Lalu siapa yang menemanimu saat sendirian itu?"
"Umm... ya aku. Hanya ada aku, Yah. Diriku sendiri."
"Kamu yang menjaga dirimu sendiri?"
"Iya."
"Bertanggung jawab atas dirimu sendiri?"
"Iya."
"Saat itu kamu senang?"
"Ya, aku memang menciptakan rasa senang, Yah, biar aku tidak sedih dan takut lagi."
"Nak, saat kamu bisa menciptakan sesuatu, kamu menjadi Tuhan bagi dirimu sendiri."
"Wah, Ayah benar juga! Kali itu giliran aku sendiri, ya, yang menjadi Tuhan."
Saat itu adalah salah satu kebanggaan yang tak terkira bagi sang ayah. Keesokan harinya, si kecil sedang merengut ketika ayahnya datang.

Ayah langsung mendekatinya sambil merujuk, "Kenapa, Nak, Tuhanmu telat menengokmu lagi? Atau ia sedang membuat kamu kesal?"

Si kecil menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu mulai berbicara dengan nada sedih. "Tadi di sekolah, aku berbicara pada beberapa guru tentang Tuhanku. Eh, mereka marah, Yah. Mereka bilang, aku tidak taat, dan Tuhan pasti marah besar padaku. Memang salahku apa sih, Yah? Tuhan kan sayang padaku, ia tidak akan menghukum aku karena dekat dengannya kan, Yah?"

Sang Ayah mengerti betul bagaimana kecewanya si kecil hari ini. Ayah menarik napas panjang dan mengelus rambut si kecil yang panjang. "Hanya itu yang mereka katakan padamu?"

Si kecil mulai menangis, "Teman-temanku malah mengejekku. Mereka bilang aku ini aneh. Malah ada yang bilang aku ini sok tahu. Sepertinya berbicara tentang Tuhan menjadikanku sangat aneh." Si kecil terisak-isak. Ayah mengangkat wajah si kecil dan merangkulnya.

"Sayang, apakah kamu ingat yang Ayah katakan kemarin, bahwa setiap orang menemukan Tuhan bisa dimana saja?"
Si kecil mengangguk, "dan bahwa setiap orang bisa mendapatkan Tuhan kalau ia menginginkannya, Yah?"
Ayah mengiyakan. "Mereka yang mengejek ataupun marah padamu, itu karena mereka tidak mau memilih jalan sepertimu. Mereka hanya bisa mengerti Tuhan sebatas aturan-aturan atau ajaran yang mereka terima sejak kecil. Mereka mungkin merasa menemukan Tuhan dalam setiap ritual dan setiap menjalankan aturan, tapi mereka tidak mampu melihat di luar itu, ketika kita menyayangi Tuhan seperti menyayangi diri kita sendiri."

"Mereka juga tidak mungkin jadi Tuhan ya, Yah?" Si kecil mulai tersenyum.
Ayah langsung tertawa dan mencium pipinya lembut. "Mereka tidak bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Setiap saat mereka memerlukan tumpuan hidupnya."
"Mereka tidak bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Setiap saat mereka memerlukan tumpuan hidupnya."
"Wahhhh... Ayahku memang hebat...." Ayah didekapnya kuat-kuat.
Setelah melepaskan dekapannya, Ayah berkata pelan, "Anak manisku, suatu saat mungkin aku tidak cukup hebat lagi untukmu. Kamu akan cukup matang untuk berdebat denganku. Suatu saat kamu bisa membangkang dengan alasan-alasan yang kuat. Dan aku akan menunggu sampai saatnya tiba, sayang. Agar kita bisa lebih saling mencintai."

Air mata mulai mengalir kembali di pipi si kecil. Didekap erat Ayahnya sekali lagi. Selama ini Tuhan tidak pernah bisa melebihi ayahnya, tapi ia sadar itu terjadi karena ia memang tidak menginginkannya. Suatu saat, mungkin saja ia menciptakan Tuhan yang jauh lebih hebat dari Ayah. Suatu saat ia akan menciptakan Tuhan yang baik sekaligus buruk bagi dirinya sendiri. Ia akan belajar dari Tuhan. Ia akan menjadi Tuhan.

"Aku akan kehilangan Tuhan," pikirnya. Tapi kemudian ia ingat bahwa ia tidak pernah membiarkan Tuhan menguasai dirinya, dan itu berarti bahwa ia juga tidak akan pernah kehilangan Tuhan.

Perlahan-lahan, si kecil merasakan Tuhan mencium keningnya, merapikan selimutnya, dan kemudian menutup pintu. Di luar, pada saat yang sama, ia mendengar suara mobil ayahnya memasuki garasi rumah.

Membicarakan Tuhan adalah sesuatu yang manusiawi
Membicarakan Tuhan bukan suatu omong kosong yang tidak bermanfaat
Memperdebatkan Tuhan tidak berarti terkurung dalam "ada" dan "tidak ada"
Mendiskusikan Tuhan berarti menggali potensi diri
Memunculkan Tuhan berarti menghadapi suatu realitas hidup; dengan segala kesulitan dan keindahannya.


Pembunuh 100 Jiwa

ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Kisah ini pernah terjadi di zaman Bani Israil dahulu kala. Nabi menceritakannya kepada umatnya agar menjadi pelajaran berharga dan teladan dalam kebaikan.

Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, Sa’id bin Malik bin Sinan, bahwa Nabi bersabda:

Dahulu, di zaman orang-orang sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang telah membunuh 99 jiwa. Dia pun bertanya tentang orang yang paling alim di muka bumi ketika itu, lalu ditunjukkan kepadanya tentang seorang rahib (pendeta, ahli ibadah). Maka dia pun mendatangi rahib tersebut lalu mengatakan bahwa sesungguhnya dia telah membunuh 99 jiwa, apakah ada taubat baginya?

Ahli ibadah itu berkata: “Tidak.” Seketika laki-laki itu membunuhnya. Maka dia pun menggenapi dengan itu (membunuh rahib) menjadi 100 jiwa. Kemudian dia menanyakan apakah ada orang yang paling alim di muka bumi ketika itu? Lalu ditunjukkanlah kepadanya tentang seorang yang berilmu. Maka dia pun mengatakan bahwa sesungguhnya dia telah membunuh 100 jiwa, apakah ada taubat baginya? Orang alim itu berkata: “Ya. Siapa yang menghalangi dia dari taubatnya? Pergilah ke daerah ini dan ini. Karena sesungguhnya di sana ada orang-orang yang senantiasa beribadah kepada Allah, maka beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka. Dan jangan kamu kembali ke negerimu, karena negerimu itu adalah negeri yang buruk/jahat.”

Maka dia pun berangkat. Akhirnya, ketika tiba di tengah perjalanan datanglah kematian menjemputnya, (lalu dia pun mati). Maka berselisihlah malaikat rahmat dan malaikat azab tentang dia.

Malaikat rahmat mengatakan: “Dia sudah datang dalam keadaan bertaubat, menghadap kepada Allah dengan sepenuh hatinya.”

Sementara malaikat azab berkata: “Sesungguhnya dia belum pernah mengerjakan satu amalan kebaikan sama sekali.”

Datanglah seorang malaikat dalam wujud seorang manusia, lalu mereka jadikan dia (sebagai hakim pemutus) di antara mereka berdua. Maka kata malaikat itu: “Ukurlah jarak antara (dia dengan) kedua negeri tersebut. Maka ke arah negeri mana yang lebih dekat, maka dialah yang berhak membawanya.”

Lalu keduanya mengukurnya, dan ternyata mereka dapatkan bahwa orang itu lebih dekat kepada negeri yang diinginkannya. Maka malaikat rahmat pun segera membawanya.

Kata rawi: Kata Qatadah: Al-Hasan mengatakan: “Disebutkan kepada kami, bahwa ketika kematian datang menjemputnya, dia busungkan dadanya (ke arah negeri tujuan).”

Hadits ini menceritakan kepada kita tentang orang yang telah membunuh 99 jiwa lalu dia menyesal dan bertaubat serta bertanya tentang ahli ilmu yang ada ketika itu. Kemudian ditunjukkan kepadanya seorang ahli ibadah.

Ternyata ahli ibadah itu hanyalah ahli ibadah, tidak mempunyai ilmu. Rahib tersebut menganggap besar urusan itu sehingga mengatakan: “Tidak ada taubat bagimu.” Laki-laki pembunuh itu marah lantas membunuh ahli ibadah tersebut. Lengkaplah korbannya menjadi 100 jiwa.

Kemudian dia tanyakan lagi tentang ahli ilmu yang ada di masa itu. Maka ditunjukkanlah kepadanya seorang yang alim. Lalu dia bertanya, apakah ada taubat baginya yang telah membunuh 100 jiwa? Orang alim itu menegaskan: “Ya. Siapa yang bisa menghalangimu untuk bertaubat? Pintu taubat terbuka lebar. Tapi pergilah, tinggalkan negerimu menuju negeri lain yang di sana ada orang-orang yang beribadah kepada Allah, dan jangan pulang ke kampungmu, karena negerimu adalah negeri yang buruk."

Akhirnya, lelaki itu pun pergi berhijrah. Dia berangkat meninggalkan kampung halamannya yang buruk dalam keadaan sudah bertaubat serta menyesali perbuatan dan dosa-dosanya. Dia pergi dengan satu tekad meninggalkan dosa yang dia lakukan, memperbaiki diri, mengisi hari esok dengan amalan yang shalih sebagai ganti kezaliman dan kemaksiatan yang selama ini digeluti.

Di tengah perjalanan menuju kampung yang baik, dengan membawa segudang asa memperbaiki diri, Allah takdirkan dia harus mati.

Takdir dan kehendak Allah jua yang berlaku. Itulah rahasia dari sekian rahasia Allah Yang Maha Bijaksana. Tidak mungkin ditanya mengapa Dia berbuat begini atau begitu. Tetapi makhluk-Nya lah yang akan ditanya, mengapa mereka berbuat begini dan begitu. Allah Maha melakukan apa saja yang Dia inginkan.

Semua yang ada di alam semesta, baik yang terlihat maupun tidak terlihat adalah milik Allah, ciptaan-Nya dan di bawah pengawasan serta pengaturan-Nya. Dia Yang menentukan setiap perbuatan seorang hamba, 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Dia yang memberikan perangkat kepada seorang hamba untuk melakukan sesuatu. Dia pula yang memberi taufiq kepada hamba tersebut ke arah apa yang telah ditakdirkan-Nya.

Pembunuh 100 jiwa itu, adalah salah satu dari makhluk ciptaan Allah. Dia ada di bawah kehendak dan kendali Allah. Ketentuan dan takdir Allah sudah pasti berlaku pula atasnya. Perbuatan zalim yang dikerjakannya adalah takdir Allah. Taubat dan penyesalan yang dia rasakan dan dia inginkan adalah takdir dari Allah. Alangkah beruntungnya dia. Tapi kalau begitu, zalimkah Allah? Kejamkah Dia kepada hamba-Nya?

Jawabnya sudah pasti, tidak. Sama sekali tidak. Dari sisi manapun, Dia bukanlah Dzat yang zalim.

Apakah kezaliman itu? Kezaliman adalah berbuat sesuatu pada hal-hal yang bukan miliknya. Atau meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya.

Siapakah Allah? Dan siapakah kita? Milik siapakah kita?

Kita milik Allah. Dia-lah Yang telah menciptakan dan mengatur kita. Dia Maha Tahu yang tepat bagi hamba-Nya. Dia Maha Bijaksana, Dia meletakkan segala sesuatu sesuai pada tempatnya. Dia Maha Tahu apa yang diciptakan-Nya. Dia Maha Tahu apa yang terbaik bagi ciptaan-Nya. Allahu Akbar.

Lelaki itu meninggal dunia. Dia mati dalam keadaan belum ‘beramal shalih’ sekali pun. Dia hanya punya tekad memperbaiki diri, bertaubat dari semua kesalahan. Hal itu terwujud dari keinginannya bertanya kepada mereka yang dianggap berilmu: Apakah ada taubat baginya? Semua itu tampak dari tekadnya pergi meninggalkan masa lalu yang kelam, menyongsong cahaya hidayah dan kebaikan.

Alangkah besar karunia Allah kepada dirinya. Alangkah besar rahmat Allah kepada para hamba-Nya. Tetapi alangkah banyak manusia yang tidak mengetahui bahkan tidak mensyukuri nikmat tersebut.

Sungguh, andaikata kezaliman-kezaliman yang dikerjakan oleh Bani Adam ini harus diselesaikan dengan azab dan siksa di dunia, niscaya tidak akan ada lagi satu pun makhluk yang melata di atas muka bumi ini. Sungguh, seandainya kemurkaan Allah yang lebih dahulu daripada rahmat-Nya, niscaya tidak akan pernah ada rasul yang diutus, tidak ada Kitab Suci yang diturunkan. Tidak ada ulama dan orang shalih serta berilmu yang memberi nasihat, peringatan, dan bimbingan. Bahkan tidak akan ada satu pun makhluk yang melata di muka bumi ini.

Firman Allah SWT:

“Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” (Fathir: 45)

Kerusakan yang terjadi di muka bumi ini, di daratan maupun di lautan tidak lain adalah akibat ulah manusia. Sementara kesempatan hidup yang diberikan kepada mereka membuat mereka lupa, bahkan semakin menambah kedurhakaan mereka. Ingatlah firman Allah:

“Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al-Qur’an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (Al-Qalam: 44-45)

Maka jelas pulalah bagi kita alangkah jahatnya ucapan orang yang mengatakan: “Saya tidak suka Tuhan yang kejam.”

Andaikata yang dia maksud adalah Allah SWT, maka hanya ada dua kemungkinan pada diri orang seperti ini, kafir (murtad) atau kurang akalnya. Apabila sudah dia terima bukti dan keterangan tapi masih menolak dan mengingkari, maka dikhawatirkan dia telah keluar dari Islam.

Betapa luas nikmat Allah kepada hamba-Nya. Siang malam Dia memperhatikan serta mencurahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada mereka. Tetapi mereka justru menampakkan kebencian kepada Allah dengan senantiasa mengerjakan maksiat sepanjang siang dan malam.

Maka dari itu:

“Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu?” (An-Najm: 55)

Dan:

“Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman: 75)

Di antara rahmat Allah juga adalah seperti yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dari Anas bin Malik:

“Benar-benar Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika dia bertaubat kepada-Nya daripada salah seorang kamu yang berada di atas kendaraannya di sebuah tanah padang yang sunyi, lalu kendaraan itu lepas (lari) meninggalkannya, padahal di atasnya ada makanan dan minumannya. Akhirnya dia putus asa mendapatkannya kembali. Maka dia pun mendatangi sebatang pohon lalu berbaring di bawah naungannya, dalam keadaan putus asa dari kendaraannya. Ketika dia dalam keadaan demikian, ternyata tiba-tiba kendaraan itu berdiri di dekatnya. Lalu dia pun menggenggam tali kekangnya dan berkata saking gembiranya: ‘Ya Allah, Engkau hambaku dan aku Rabbmu.’ Dia salah ucap karena saking gembiranya.”

Inilah Hakikat Hijrah

Hijrah adalah salah satu kewajiban ajaran Islam, salah satu amalan shalih paling utama, bahkan merupakan sebab keselamatan agama seseorang serta perlindungan bagi imannya. Hijrah terbagi menjadi beberapa bagian, di antaranya ialah hijrah meninggalkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya atas setiap mukallaf. Maka, orang yang bertaubat dari kemaksiatan yang telah lalu berarti dia telah berhijrah meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Sedangkan seorang muslim, dibebankan kepadanya agar meninggalkan segala yang diharamkan oleh Allah SWT.

Nabi SAW, bersabda:

“Sesungguhnya, muhajir sejati adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ahmad, no. 6912)

Sabda Nabi SAW ini sekaligus perintah, meliputi semua perbuatan haram baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan.

Apa yang disabdakan Nabi ini meliputi pula hijrah lahir dan hijrah batin. Hijrah lahir adalah lari membawa tubuhnya menyelamatkan diri dari fitnah. Sedangkan hijrah batin adalah meninggalkan apa saja yang menjadi ajakan hawa nafsu yang senantiasa memerintahkan kepada kejelekan dan apa-apa yang dijadikan indah oleh setan. Hijrah kedua ini merupakan dasar bagi hijrah yang pertama.

Allah SWT, berfirman:

“Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa’: 100)

Asy-Syaikh As-Sa’di dalam tafsirnya tentang ayat ini mengatakan:

Kemudian firman Allah SWT:

“Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya”, maksudnya yang sengaja menuju Rabbnya, mengharap ridha-Nya, karena cinta kepada Rasul-Nya, dan demi membela agama Allah, serta bukan karena tujuan lain,

“Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju)”, karena terbunuh atau sebab lainnya,

“Maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah.” Yakni, pahala muhajir yang mencapai tujuannya dengan jaminan dari Allah telah dia terima. Hal itu karena dia telah berniat dan bertekad; dia telah memulai kemudian segera mulai mengerjakannya. Maka termasuk rahmat Allah SWT atasnya dan orang-orang seperti dia adalah Allah memberinya pahala sempurna. Meskipun mereka belum mengerjakan amalan mereka secara tuntas, serta mengampuni mereka dengan kekurangan yang ada pada hijrah atau amalan tersebut.

Sebab itulah, Allah mengakhiri ayat ini dengan dua nama-Nya yang mulia dalam firman-Nya:

“Dan adalah Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” Dia memberi ampunan bagi kaum mukminin yang mengerjakan dosa terutama mereka yang bertaubat kepada Rabb mereka. Dia Maha penyayang kepada seluruh makhluk-Nya. Penyayang kepada kaum mukminin dengan memberi mereka taufiq agar beriman, mengajari mereka ilmu yang menambah keyakinan mereka, memudahkan mereka sebab-sebab menuju kebahagiaan dan kemenangan.

Beberapa Faedah

1. Seorang pembunuh, bisa diterima taubatnya. Dalilnya adalah firman Allah:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An-Nisa’: 48)

Inilah pendapat jumhur ulama. Adapun pendapat Ibnu ‘Abbas bahwa tidak ada taubat bagi seorang pembunuh karena Allah berfirman:

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (An-Nisa’: 93)

Mungkin bisa dibawa kepada pengertian bahwa tidak ada taubat sehubungan dengan korban yang terbunuh. Karena si pembunuh terkait dengan tiga hak sekaligus: hak Allah, hak korban yang dibunuhnya, dan hak ahli waris korban (walinya).

Adapun hak Allah, tidak disangsikan lagi bahwa Allah akan mengampuninya dengan adanya taubat dari pelaku maksiat tersebut, sebagaimana firman Allah:

“Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (Az-Zumar: 53)

Juga firman Allah SWT:

“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal shalih. Maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (Al-Furqan: 68-71)

Adapun hak korban yang dibunuhnya, maka taubat si pembunuh tidaklah berguna dan jelas belum tertunaikan hak korbannya, karena korban itu sudah mati. Tidak mungkin pula sampai pada tingkat dia minta penghalalan atau lepas dari tuntutan darahnya. Jadi, inilah yang masih tersisa serta menjadi beban tuntutan di pundak si pembunuh, meskipun dia sudah bertaubat. Sedangkan pada hari kiamat, maka Allah akan memutuskan perkara di antara mereka.

Sedangkan hak ahli waris (wali) korban, maka taubat si pembunuh juga tidak sah hingga dia menyerahkan dirinya kepada mereka, mengakui perbuatannya, dan menyerahkan kepada mereka, apakah dia harus dihukum mati (qishash), membayar diyat (tebusan), atau mereka memaafkannya.

2. Dalam hadits kisah ini, disyariatkan untuk bertaubat dari semua dosa besar. Mungkin, ketika Allah menerima taubat seorang pembunuh, Dia menjamin keridhaan lawan (korban)nya, dan Dia kembalikan kezalimannya. Inilah salah satu rahmat dan keadilan Allah SWT.

3. Kisah ini melarang kita membuat orang lain putus asa dari dosa besar yang dikerjakannya. Allah sendiri telah menerangkan bahwa Dia tidak akan menjadikan kekal di neraka orang yang mati dalam keadaan bertauhid, sebagaimana dalam hadits Anas yang diriwayatkan At-Tirmidzi:

Saya mendengar Rasulullah n bersabda: “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: ‘Wahai Bani Adam, sesungguhnya selama engkau berdoa kepada-Ku, mengharapkan-Ku, niscaya Aku beri ampun kepadamu atas apa yang ada padamu, dan Aku tidak peduli. Wahai Bani Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai langit kemudian kamu minta ampun kepada-Ku niscaya Aku beri ampunan kepadamu, dan Aku tidak peduli. Wahai Bani Adam, sungguh, seandainya engkau datang kepada-Ku membawa dosa sepenuh bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan Aku dengan apapun, pasti Aku datang kepadamu dengan membawa ampunan sepenuh itu juga.”

Namun, bisa jadi pula dia diampuni dan tidak masuk neraka sama sekali, atau diazab sebagaimana pelaku maksiat lainnya dari kalangan orang yang bertauhid lalu dikeluarkan menuju ke dalam jannah. Maka janganlah berputus asa dari rahmat Allah dan jangan pula membuat orang lain berputus asa darinya. Allah berfirman tentang Khalil-Nya, Ibrahim:

“Ibrahim berkata: ‘Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat’.” (Al-Hijr: 56)

4. Di dalam kisah ini terdapat pula keutamaan berpindah dari negeri yang di sana seseorang bermaksiat, apakah karena adanya teman dan fasilitas yang mendukung atau hal-hal lainnya.

5. Dari kisah ini pula jelaslah betapa seseorang tidak mungkin selamat dan lolos dari azab kecuali dengan beratnya timbangan kebaikan dirinya meski hanya sebesar biji sawi. Maka dari itu, sudah semestinyalah orang yang bertaubat memperbanyak amal kebaikannya.

6. Termasuk tugas seorang yang bertaubat –kalau dia bukan orang yang berilmu– hendaknya dia pelajari apa saja yang wajib atas dirinya di masa yang akan datang dan apa yang haram dikerjakannya.

7. Perlu pula diingat dalam kisah ini, bahwasanya lingkungan yang baik, bergaul dengan orang shalih akan menambah iman seseorang. Sedangkan segala kerusakan, petaka dan penyimpangan, tumbuhnya tidak lain karena adanya dukungan para setan dan bala tentaranya, termasuk dari kalangan manusia yang senantiasa membuka pintu kelalaian dan syahwat serta tidak mendukungnya kepada kebaikan dan ketaatan.

Sungguh indah peringatan Rasulullah SAW dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ar:

“Perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk yang buruk adalah seperti pembawa misik dan pandai besi. Adapun si pembawa misik (minyak wangi), mungkin dia akan memberimu, atau kamu membeli darinya, atau kamu dapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau kamu dapatkan bau tidak sedap darinya.”

8. Satu hal yang harus kita ingat dari kisah ini, tekad dan niat ikhlas si pembunuh, itulah yang mengantarnya kepada rahmat Allah SWT yang teramat luas. Meski belum mengisi lembaran hidup barunya dengan kebaikan, tetapi tekad dan niat ikhlas ini sangat bernilai di sisi Allah. Inilah salah satu buah dan keutamaan tauhid yang murni.

Mudah-mudahan Allah SWT membimbing kita membersihkan hati kita dari kekotoran syirik dan maksiat sampai kita bertemu dengan-Nya dalam keadaan membawa hati yang selamat. Amin.




Tetaplah Berbuat Baik

Bila engkau baik hati, bisa saja orang lain menuduhmu punya pamrih;
tapi bagaimanapun, berbaik hatilah.

Bila engkau jujur dan terbuka, mungkin saja orang lain akan menipumu;
tapi bagaimanapun, jujur dan terbukalah.

Bila engkau mendapat ketenangan dan kebahagiaan, mungkin saja orang lain jadi iri;
tapi bagaimanapun, berbahagialah.

Bila engkau sukses, engkau akan mendapat beberapa teman palsu, dan beberapa sahabat sejati;
tapi bagaimanapun, jadilah sukses.

Apapun yang engkau bangun selama bertahun-tahun bisa jadi akan dihancurkan orang lain hanya dalam satu malam; 
tapi bagaimanapun, bangunlah dan teruslah berkarya.

Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin saja besok sudah dilupakan orang;
tapi bagaimanapun, teruslah berbuat baik.

Bagaimanapun, berikan yang terbaik dari dirimu sebaik-baik yang dapat engkau lakukan.

Pada akhirnya, engkau akan tahu bahwa ini adalah urusan antara engkau dan Tuhanmu,
Bukan urusan antara engkau dan mereka.

(Teresa/Nobel Prize Winner For Peace 1979)

image source



 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
23