Siapakah yang Disebut Dukun?

Kata “dukun” sering dikaitkan dengan seseorang yang memiliki kekuatan linuwih, lengket dengan mantera-mantera dan urusan mistik. Kamus bahasa Indonesia mendefinisikan “dukun” sebagai orang yang mengobati, menolong orang sakit, atau memberi jampi-jampi. Kata yang biasa dipakai sebagai padanan kata dari dukun adalah paranormal, meskipun kata dukun lebih umum.

Ada beberapa istilah dalam bahasa Arab yang maknanya agak dekat dengan kata dukun. Masing-masing istilah menunjukkan spesialisasi dukun tersebut. 

‘Arraaf. Kata ‘arraf disebut nabi dalam sabdanya, 
“Barang siapa mendatangi ‘arraf lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak satu shalatpun yang diterima selama empat puluh hari.” (HR.Muslim dan Ahmad)

Imam al-Khiththabi menyebutkan bahwa ‘arraf adalah orang yang mengaku mengetahui barang yang dicuri, tempat orang hilang atau yang semisalnya. Yakni mengetahui secara gaib hal-hal yang sedang dan tengah terjadi.

Kahin. Kata kahin terkadang memiliki makna yang sama dengan ‘arraf, tetapi juga memiliki definisi yang khusus. Masih menurut al-Khiththabi, beda ‘arraf dan kahin adalah kalau ‘arraf itu dukun yang mengaku bisa menebak kejadian yang telah dan sedang terjadi, sedangkan kahin adalah orang yang mengaku mengetahui yang ghaib dan mengabarkan berdasarkan “wahyu” dari setan. Biasanya dia berkata , “Akan terjadi peristiwa anu…. Pada hari anu…”

Orang seperti ini menjalin hubungan dengan setan-setan yang akan memberitahukan kepadanya berita yang akan datang dari langit. Setan-setan itu mencuri berita dari langit, selanjutnya dukun tersebut membubuhkan kebohongan-kebohongan pada berita itu dan menyampaikannya kepada manusia. Apabila sesuatu yang dia kabarkan benar-benar terjadi maka manusia akan mempercayainya sebagai orang yang tahu sesuatu yang ghaib.

Kata kahin disebut dalam firman Allah, 
“Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu disebabkan nikmat rabbmu bukanlah seorang kahin dan bukan pula seorang gila.” (QS.ath-thur 29)

Dan firman Allah, 
“dan bukan pula perkataan kahin. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya”(QS.al-Haaqqah 42).

Ibnu katsir rahimahullah menafsirkan kahin, yakni orang yan memiliki pandangan yang didapatkan dari jin yang mencuri dengar dari langit.

Kata kahin juga disebut dalam hadits Nabi SAW,
“barang siapa yang mendatangi seorang kahin kemudian membenarkan(meyakini) apa yang dia ucapkan maka sungguh dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.”(HR.At-Turmudzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Munajjim (Ahli Nujum). Ahli nujum adalah orang yang menghubung-hubungkan peristiwa-peristiwa kosmologi dengan kejadian-kejadian di bumi. Artinya seorang ahli nujum itu mengkaitkan fenomena yang telah atau akan terjadi di bumi dengan letak dan posisi bintang-bintang, waktu terbit dan tenggelamnya serta yang semisalnya. Termasuk ramalan bintang atau zodiac.

 Perbuatan ini termasuk satu jenis sihir dan perdukunan. Sehingga diharamkan karena hanya berdasar pada ketidakpastian yang tidak ada hakikat kebenarannya sama sekali. Sejatinya tidak ada korelasi antara apa yang terjadi di bumi dengan apa yang terjadi di langit. Dulu ada keyakinan jahiliyah bahwa gerhana matahari dan bulan tidak lain sebagai pertanda kematian seorang yang agung. Maka ketika Ibrahim putra nabi Muhammad SAW, Nabi menggugurkan keyakinan tersebut, beliau bersabda,   
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena meninggal atau hidup(lahir)nya seseorang”.

Keyakinan ini termasuk syirik akbar apabila dipercaya bahwa bintang-bintang itu ikut mengatur rangkaian kejadian di alam semesta.

Tetapi ada jenis lain dari ilmu perbintangan yakni menjadikan terbitnya bintang sebagai petunjuk akan masa, musim, waktu penyemaian, dan panen, serta yang semisalnya. Maka jenis ilmu ini diperbolehkan karena dipergunakan untuk urusan-urusan duniawi.

Sedangkan jenis ke tiga yakni mempelajari ilmu perbintangan untuk mengetahui waktu-waktu sholat, arah kiblat, dan semisalnya yang termasuk perkara-perkara yang disyariatkan. Maka hukum mempelajari ilmu ini disyariatkan dan kadangkala menjadi fardhu kifayah atau fardhu ‘ain.

Sihir. Kata sihir dan penyihir sangat banyak ditemukan dalam ayat dan hadits. Sihir adalah buhul dan mantra-mantra yang dibaca atau ditulis atau dibuat untuk selanjutnya bisa mempengaruhi yang disihir secara tidak langsung. Pengaruhnya bisa mengenai badan, hati, maupun akal. Inilah definisi sihir menurut Ibnu Qudamah.

Sihir yang menggunakan kekuatan setan terbagi menjadi dua. Yakni sihir takhyili (ilusi) dan sihir haqiqi. Sihir ilusi adalah sihir yang membuat orang memandang sesuatu yang berbeda dengan hakikatnya, seperti pesulap yang menggunakan kekuatan setan. Sedangkan sihir hakiki adalah sihir yang bisa mempengaruhi hati dan fisik. Seperti sihir cerai, pellet, santet, dan lain-lain. 

*Thibbun Nabawi
f⊕☻L∮ ♠ g∀ΓdΞη



0 komentar:

Poskan Komentar

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
23