12 Sifat Negatif Mayoritas Orang Indonesia Menurut Mochtar Lubis

Sifat-sifat negatif manusia Indonesia yang ditulis oleh Mochtar Lubis dalam bukunya “Manusia Indonesia Sebuah Pertanggungjawaban”, adalah sebagai berikut :

1. Hipokrit alias Munafik
Berpura-pura, lain di muka – lain di belakang, merupakan sebuah ciri utama manusia Indonesia sudah sejak lama, sejak mereka dipaksa oleh kekuatan-kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakannya atau dipikirkannya ataupun yang sebenarnya dikehendakinya, karena takut akan mendapat ganjaran yang membawa bencana bagi dirinya.

2. Segan dan Enggan Bertanggung Jawab
Atas perbuatannya, putusannya, kelakuannya, pikirannya, dan sebagainya.
“Bukan saya", adalah kalimat yang cukup populer di mulut manusia Indonesia. Atasan menggeser tanggung jawab tentang suatu kegagalan pada bawahannya, dan bawahannya menggesernya ke yang lebih bawah lagi, dan demikian seterusnya.

3. Berjiwa Feodal
Meskipun salah satu tujuan revolusi kemerdekaan Indonesia ialah untuk juga membebaskan manusia Indonesia dari feodalisme, tetapi feodalisme dalam bentuk-bentuk baru makin berkembang dalam diri dan masyarakat manusia Indonesia. Sikap-sikap feodalisme ini dapat kita lihat dalam tatacara upacara resmi kenegaraan, dalam hubungan-hubungan organisasi kepegawaian (umpamanya jelas dicerminkan dalam susunan kepemimpinan organisasi-organisasi isteri pegawai-pegawai negeri dan angkatan bersenjata), dalam pencalonan isteri pembesar negeri dalam daftar pemilihan umum. Isteri komandan, isteri menteri otomatis jadi ketua, bukan berdasar kecakapan dan bakat leadership-nya, atau pengetahuan dan pengalamannya atau perhatian dan pengabdiannya.

4. Masih Percaya Takhyul
Dulu, dan sekarang juga, masih ada yang demikian, manusia Indonesia percaya bahwa batu, gunung, pantai, sungai, danau, karang, pohon, patung, bangunan, keris, pisau, pedang, itu punya kekuataan gaib, keramat, dan manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini semua. Kepercayaan serupa ini membawa manusia Indonesia jadi tukang bikin lambang. Kita percaya pada jimat dan jampe. Untuk mengusir hantu kita memasang sajen dan bunga di empat sudut halaman, dan untuk menghindarkan naas atau mengelakkan bala, kita membuat tujuh macam kembang di tengah simpang empat. Kita mengarang mantera. Dengan jimat dan mantera kita merasa yakin telah berbuat yang tegas untuk menjamin keselamatan dan kebahagiaan atau kesehatan kita.

5. Artistik
Karena sifatnya yang memasang roh, sukma, jiwa, tuah dan kekuasaan pada segala benda alam di sekelilingnya, maka manusia Indonesia dekat pada alam. Dia hidup lebih banyak dengan naluri, dengan perasaannya, dengan perasan-perasaan sensuilnya, dan semua ini mengembangkan daya artistik yang besar dalam dirinya yang dituangkan dalam segala rupa ciptaan artistik dan kerajinan yang sangat indah-indah, dan serbaneka macamnya, variasinya, warna-warninya.

Foto ribuan cewek anak buah Ratu Prostitusi Yunita Keyko. Keyko diduga sebagai mucikari besar dengan 'ayam' atau gadis mencapai 2.600 orang. / merdeka.com
6. Watak yang Lemah
Karakter kurang kuat. Manusia Indonesia kurang dapat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Dia mudah, apalagi jika dipaksa, dan demi untuk ’survive’ bersedia mengubah keyakinannya. Makanya kita dapat melihat gejala pelacuran intelektuil amat mudah terjadi dengan manusia Indonesia.

7. Tidak Hemat, Dia Bukan “Economic Animal”.
Malahan manusia Indonesia pandai mengeluarkan terlebih dahulu penghasilan yang belum diterimanya, atau yang akan diterimanya, atau yang tidak akan pernah diterimanya. Dia cenderung boros. Dia senang berpakaian bagus, memakai perhiasan, berpesta-pesta. Hari ini ciri manusia Indonesia menjelma dalam membangun rumah mewah, mobil mewah, pesta besar, hanya memakai barang buatan luar negeri, main golf, singkatnya segala apa yang serba mahal.

8. Lebih suka tidak bekerja keras, kecuali kalau terpaksa.
Gejalanya hari ini adalah cara-cara banyak orang ingin segera menjadi “miliuner seketika”, seperti orang Amerika membuat instant tea, atau dengan mudah mendapat gelar sarjana sampai memalsukan atau membeli gelar sarjana, supaya segera dapat pangkat, dan dari kedudukan berpangkat cepat bisa menjadi kaya.

9. Manusia Indonesia kini Tukang Menggerutu.
Tetapi menggerutunya tidak berani secara terbuka, hanya jika dia dalam rumahnya, atau antara kawan-kawannya yang sepaham atau sama perasaan dengan dia.

10. Cepat Cemburu dan Dengki
Terhadap orang lain yang dilihatnya lebih dari dia.

11. Manusia Indonesia juga dapat dikatakan manusia sok.
Kalau sudah berkuasa mudah mabuk berkuasa. Kalau kaya lalu mabuk harta, jadi rakus.

12. Manusia Indonesia juga manusia tukang tiru atau Plagiat.
Kepribadian kita sudah terlalu lemah. Kita tiru kulit-kulit luar yang mempesonakan kita. Banyak yang jadi koboi cengeng jika koboi-koboian lagi mode, jadi hipi cengeng jika sedang musim hipi.

"Stereotipe ini tentu saja tidak semuanya benar, namun tidak juga seluruhnya salah."



Manusia Indonesia

Pidato kebudayaan Mochtar Lubis (1977) di Taman Ismail Marzuki (TIM) diterbitkan menjadi buku berjudul Manusia Indonesia. Karena gaya dan sikapnya yang lugas dalam mengupas terutama sifat-sifat negatif orang Indonesia, buku ini menimbulkan pendapat pro dan kontra, selain membangkitkan pemikiran kritis tentang manusia Indonesia.

Sifat-sifat manusia Indonesia yang dimaksud ialah munafik, tidak mau bertanggungjawab, berperilaku feodal, percaya pada takhyul, berbakat seni, dan lemah karakternya. Stereotipe ini tentu saja tidak semuanya benar, namun tidak juga seluruhnya salah. Ketika reformasi sedang berkembang, sosok manusia Indonesia seperti dilukiskan di atas lebih kuat lagi aktualitas dan relevansinya. beberapa penyebabnya ialah pendidikan, sistem, dan struktur politik yang ikut mengentalkan sifat-sifat negatif tersebut. dari kedua sudut pandang tersebut, buku Manusia Indonesia menyajikan bahan dan permulaan kerangka yang berguna untuk membangun kembali manusia Indonesia yang sedang porak-poranda. (Yayasan Obor Indonesia)




14 komentar:

Jumat, 01 Februari 2013 20.13.00 WIB KhudRizal Poenya Blog mengatakan...

saya setuju dg pendapat pak Mochtar Lubis

Jumat, 08 Februari 2013 21.26.00 WIB Anonim mengatakan...

Untuk introspeksi diri. Yang ga setuju dengan pendapat pak Mochtar Lubis, mungkin punya sifat yg cocok dg point 1.

Senin, 26 Agustus 2013 18.03.00 WIB UCOKMONALISA mengatakan...

terima kasih saya mohon izin untuk semuanya

Selasa, 03 September 2013 23.14.00 WIB Ilham pranata putra mengatakan...

setuju atas pernyataan di atas ! :D
It's very nice!


salam kenal :)
hehehe...

Jumat, 06 September 2013 08.17.00 WIB Unknown mengatakan...

berbakat seni di sini bukannya malah bagus ya?

Rabu, 02 Oktober 2013 13.04.00 WIB Tirta Gemma mengatakan...

Betul itu...feodal londo

Rabu, 02 Oktober 2013 13.05.00 WIB Tirta Gemma mengatakan...

Betul itu semuanya setujuuuw

Senin, 04 November 2013 10.51.00 WIB Edy Fardinal mengatakan...

Boleh Juga Buat Acuan.. dan memberitahu bahwa orang Indonesia umumnya begitu...

Senin, 13 Januari 2014 10.38.00 WIB Anonim mengatakan...

kalo saja anda2 pernah "living of multiculture in overseas"...anda akan tahu banyak nations lain yg jauh lbh buruk dr Indonesians, dan how westerns respect to Indonesians. So, don't ever embarace your self guys, just be nice more and more everyday for our country!!!!

Senin, 13 Januari 2014 16.21.00 WIB Family mengatakan...

Betul..,untuk koreksi diri

Senin, 13 Januari 2014 18.21.00 WIB sunyoto eko nugroho mengatakan...

Ada tambahan, kata pak Kuncoroningrat, yaitu suka nerabas (jalan pintas)

Selasa, 14 Januari 2014 07.55.00 WIB justlucky mengatakan...

Tapi sekarang, dengan munculnya jokowi ahok, kita jadi punya harapan bahwa masih ada orang indonesia yang baik dan tidak mudah disogok . Punya keyakinan yang kuat dan berpegang teguh pada keyakinannya meskipun banyak gempuran dari pihak lain. Hidup INDONESIA BARU.!!!

Poskan Komentar

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
23