WE WILL NOT GO DOWN (Song For Gaza)


KAMI TIDAK AKAN MENYERAH

Cahaya putih yang membutakan mata
Menyala terang di langit Gaza malam ini
Orang-orang berlarian untuk berlindung
Tanpa tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati

Mereka datang dengan tank dan pesawat
Dengan berkobaran api yang merusak
Dan tak ada yang tersisa
Hanya suara yang terdengar di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah

Di Gaza malam ini

Wanita dan anak-anak
Dibunuh dan dibantai tiap malam
Sementara para pemimpin nun jauh di sana
Berdebat tentang siapa yang salah & benar

Tapi kata-kata lemah mereka sia-sia
Dan bom-bom pun berjatuhan seperti hujam asam
Tapi melalui tetes air mata dan darah serta rasa sakit
Anda masih bisa mendengar suara itu di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah

Di Gaza malam ini
(Lagu untuk Gaza, oleh Michael Heart) 

Kondisi di Jalur Gaza, Palestina memanas menyusul serangan militer Israel. Israel sendiri sudah memulai gempurannya ke Jalur Gaza pada hari Rabu (14/11/2012). Militer Israel telah menyerang lebih dari 1.350 sasaran di Gaza sejak serangan dimulai pada hari Rabu. Serangan tersebut dikatakan Israel, sebagai tindakan pencegahan peluncuran roket yang dilakukan pejuang Palestina ke wilayahnya.

Serangan Israel di Jalur Gaza telah berlangsung selama sepekan, dan menewaskan 111 orang. Selain menyerang penduduk sipil, serangan Israel juga ditujukan ke pusat-pusat media. Jet tempur Israel menghantam menara Shuruq di Kota Gaza. 

Menurut catatan militer negeri Zionis tersebut, sejak serangan yang mereka lakukan sebanyak 640 roket telah menghantam Israel. Tiga ratus diantaranya mampu dicegat oleh sistem anti rudal Israel (Iron Dome). Serangan roket tersebut menewaskan tiga warga sipil di pihak Israel. (JPNN.com)

Perang, memang telah membuat banyak derita. Mengapa tidak segera dihentikan saja? Begitulah harapan kita semua. Tidak perlu ada alasan atau pertimbangan lain lagi untuk tidak menghentikan peperangan, karena hanya ada satu alasan yang pas, yakni tentang dimanakah  jiwa kemanusiaan itu?

Pada bulan Januari tahun 2009 lalu, selama perang di Gaza, Michael menulis dan merilis sebuah lagu kemanusiaan untuk mendukung korban sipil Palestina. Sebuah lagu yang berjudul "We Will Not Go Down" (Song for Gaza).Lagu yang bertema dan didedikasikan untuk para korban perang. Lagu yang seperti mengekspresikan kritik penciptanya 'tentang tatanan politik atau sosial dan dukungan bagi hak-hak sipil, dan antiperang. 
 
Lagu yang menceritakan tentang tragedi kemanusiaan yang terjadi di Gaza, yang kemudian populer dan secara kontinyu terus diputar di stasiun radio dan saluran televisi di beberapa negara, dilantunkan dalam demonstrasi dan aksi unjuk rasa di seluruh dunia. Sub-judulnya telah banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan video klip. Lebih dari 500 klip baru telah dibuat oleh orang di seluruh dunia, dan ribuan situs web telah meng-upload klip beserta juga lirik didalamnya.


Sebuah lagu indah (yang seperti meracau), meratap, mengharapkan sesuatu yang damai dan penuh kasih telah dihadirkan Michael Heart, sebuah gambaran tentang perang yang menyedihkan bagi kemanusiaan, anak-anak dan kaum perempuan, lagu yang mampu menggugah kemanusiaan dalam diri setiap seseorang yang mendengarkannya. Jika damai memungkinkan, kecuali di jalan Allah tidak ada perang yang memungkinkan baik, tetapi akibat dari semua perang tetaplah adalah buruk.

Kita dan mereka memang berjauhan, namun tidaklah jauh untuk sebuah doa. Semoga perang ini segera usai. PRAY FOR GAZA... :')

*)Palestinians stand on the balcony of their damaged house in Rafah in the southern Gaza Strip March 2, 2009.  (Winner Palestine Photography Award), REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa 







 photos: Anonymous



WE WILL NOT GO DOWN
(Song for Gaza)

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they¢re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die

We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who¢s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die

We will not go down
In Gaza tonight

(Composed by Michael Heart)


f⊕☻L∮ ♠ g∀ΓdΞη


Kurangi Untuk Menambah

Kurangi Untuk Menambah

Kurangi kepemilikan. Tingkatkan kreatifitas
Kurangi pembelian. Tingkatkan berbagi
Kurangi jam bersama TV. Tingkatkan jam bersama membaca

Kurangi bicara. Perbanyak diam
Kurangi keinginan. Perbanyak bersyukur
Kurangi penjelasan. Perbanyak perbuatan
Kurangi stress. Perbanyak tertawa

Kurangi berfikir. Perbanyak Rasa
Kurangi janji. Perbanyak memberi
Kurangi berkonsep. Perbanyak pengalaman

Kurangi menjawab. Perbanyak bertanya
Kurangi mencari keluar. Perbanyak pencarian diri kedalam
Kurangi batasan. Perbanyak kebebasan

Kurangi bicara. Perbanyak mendengar
Kurangi analisa. Perbanyak usaha
Kurangi menilai. Perbanyak perhatian

Kurangi kertas. Perbanyak pohon
Kurangi asap. Perbanyak udara bersih
Kurangi mengkritik. Perbanyak memuji
Kurangi perbedaan. Perbanyak pengertian
Kurangi meminta. Perbanyak memberi

Kurangi ketergantungan. Tingkatkan kesadaran
Kurangi kata lidah. Tingkatkan kata hati

[foto: Lee Owenby]

f⊕☻L∮ ♠ g∀ΓdΞη


Pelajaran Hidup dari Alexander the Great

Pada saat akan meninggal, dalam keadaan kritis, Raja terkenal dari Macedonia, yaitu Alexander the Great atau Iskandar Agung berkata kepada para dokter yang merawatnya seperti ini:

"Ambillah 1/2 dari kekayaanku, jika kamu dapat mengantarkan aku untuk menemui ibuku sebentar saja..."

Dokter menjawab:

"Jangankan separuh, bahkan seluruh kekayaan Baginda diberikan kepada hamba semuanya, hamba pun tidak akan mampu menambah 1 tarikan nafas."

Mendengar jawaban tersebut, air mata pun berlinang di pipi sang Raja, dia berkata:

"Seandainya saya tahu begitu berharganya 1 tarikan nafas, maka saya tidak akan pernah menyia-nyiakan waktu hanya untuk mengejar kekuasaan."

Kemudian sang Raja pun berpesan, supaya nanti sewaktu diarak dalam peti mati menuju peristirahatannya yang terakhir, ia minta agar kedua tangannya dikeluarkan, supaya setiap rakyatnya dapat melihat bahwa Alexander Agung yang hebat dan mampu menguasai wilayah terbesar sepanjang sejarah kehidupan manusia ini ternyata harus berpulang dengan tangan kosong.

Tidak memiliki apa-apa dan tidak membawa apa-apa...

Kelahiran dan kematian adalah awal dan akhir, yang terpenting dari hidup ini adalah bagaimana kita mengisi kehidupan yang ada diantara ke duanya.

*foto mosaic: From the House of the Faun, Pompeii, c. 80 B.C. National Archaeologic Museum, Naples, Italy

f⊕☻L∮ ♠ g∀ΓdΞη


Kisah Suami yang Pulang Malam dan Isteri yang Kabur

Sebuah kisah nyata yang menginspirasi...

Selasa malam itu, setelah hujan lebat mengguyur Jakarta, gerimis masih turun. Saya pacu motor dengan cepat dari kantor disekitar Blok-M menuju rumah di Cimanggis-Depok. Kerja penuh seharian membuat saya amat lelah hingga di sekitar daerah Cijantung mata saya sudah benar-benar tidak bisa dibuka lagi. Saya kehilangan konsentrasi dan membuat saya menghentikan motor dan melepas kepenatan di sebuah shelter bis di seberang Mal Cijantung. Saya lihat jam sudah menunjukan pukul 10.25 malam.

Keadaan jalan sudah lumayan sepi. Saya telpon isteri saya kalau saya mungkin agak terlambat dan saya katakan alasan saya berhenti sejenak.

Setelah saya selesai menelpon baru saya menyadari kalau disebelah saya ada seorang ibu muda memeluk seorang anak lelaki kecil berusia sekitar 2 tahun. Tampak jelas sekali mereka kedinginan. Saya terus memperhatikannya dan tanpa terasa air mata saya berlinang dan teringat anak saya (Naufal) yang baru berusia 14 bulan. Pikiran saya terbawa dan berandai-andai, “Bagaimana jadinya jika yang berada disitu adalah isteri dan anak saya?”

Tanpa berlama-lama saya dekati mereka dan saya berusaha menyapanya. ”Ibu,ibu,kalau mau ibu boleh ambil jaket saya, mungkin sedikit kotor tapi masih kering. Paling tidak anak ibu tidak kedinginan” Saya segera membuka raincoat dan jaket saya, dan langsung saya berikan jaket saya.


Tanpa bicara, ibu tersebut tidak menolak dan langsung meraih jaket saya. Pada saat itu saya baru sadar bahwa anak lelakinya benar-benar kedinginan dan giginya bergemeletuk.

“Tunggu sebentar disini bu!” pinta saya. Saya lari ke tukang jamu yang tidak jauh dari shelter itu dan saya meminta air putih hangat padanya. Dan alhamdulillah, saya justru mendapatkan teh manis hangat dari tukang jamu tersebut dan segera saya kembali memberikannya kepada ibu tersebut. “Ini bu,.. kasih ke anak ibu!” selanjutnya mereka meminumnya berdua.

Saya tunggu sejenak sampai mereka selesai. Saya hanya diam memandangi lalu lalang kendaraan yang lewat “Bapak, terima kasih banyak, mau menolong saya,” sesaat kemudian ibu tersebut membuka percakapan. "Ah, tidak apa-apa, ngomong-ngomong ibu pulang kemana?" tanya saya. "Saya tinggal di daerah Bintaro tapi…" (dia menghentikan bicaranya), "Bapak pulang bekerja?" dia balas bertanya.

“Ya” jawab saya singkat.

“Kenapa sampai larut malam pak, memangnya anak isteri bapak tidak menunggu?" tanyanya lagi. Saya diam sejenak karena agak terkejut dengan pertanyaannya.

“Terus terang bu, sebenarnya selama ini saya merasa bersalah karena terlalu sering meninggalkan mereka berdua. Tapi mau bilang apa, masa depan mereka adalah bagian dari tanggung jawab saya. Saya hanya berharap semoga Allah terus menjaga mereka ketika saya pergi.” Mendengar jawaban saya si ibu terisak, saya jadi serba salah. “Bu, maafkan saya kalau saya salah omong."


"Pak kalau boleh saya minta uang seratus ribu, kalau bapak berkenan? Pintanya dengan sedih dan sopan." Air matanya berlinang sambil mengencangkan pelukan ke anak lelakinya.

Karena perasaan bersalah, saya segera keluarkan uang limapuluh-ribuan 2 lembar dan saya berikan padanya. Dia berusaha meraih dan ingin mencium tangan saya, tetapi cepat-cepat saya lepaskan. “Ya sudah, ibu ambil saja, tidak usah dipikirkan!” saya berusaha menjelaskannya. “Pak kalau jas hujannya saya pakai bagaimana? Badan saya juga benar-benar kedinginan dan kasihan anak saya,” kembali ibu tersebut bertanya dan sekarang membuat saya heran. Saya bingung untuk menjawabnya dan juga ragu memberikannya. Pikiran saya mulai bertanya-tanya, Apakah ibu ini berusaha memeras saya dengan apa yang ditampilkannya di hadapan saya? Tapi saya entah mengapa saya benar-benar harus mengikhlaskannya. Maka saya berikan raincoat saya dan kali ini saya hanya tersenyum tidak berkata sepatahpun.

Tiba tiba anaknya menangis dan semakin lama semakin kencang. Ibu tersebut sangat berusaha menghiburnya dan saya benar-benar bingung sekarang harus berbuat apa? Saya keluarkan handphone saya dan saya pinjamkan pada anak tersebut. Dia sedikit terhibur dengan handphone tersebut, mungkin karena lampunya yang menyala. Saya biarkan ibu tersebut menghibur anaknya memainkan handphone saya. Sementara itu saya berjalan agak menjauh dari mereka. Badan dan pikiran yang sudah lelah membuat saya benar-benar kembali tidak dapat berkonsentrasi. Mungkin sekitar 10 menit saya hanya diam di shelter tersebut memandangi lalu lalang kendaraan. Kemudian saya putuskan untuk segera pulang dan meninggalkan ibu dan anaknya tersebut. Saya ambil helm dan saya nyalakan motor, saya pamit dan memohon maaf kalau tidak bisa menemaninya. Saya jelaskan kalau isteri dan anak saya sudah menunggu dirumah. Ibu itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada saya.

Dia meminta no telpon rumah saya dan saya tidak menjawabnya, saya benar-benar lelah sekali dan saya berikan saja kartu nama saya. Sesaat kemudian saya lanjutkan perjalanan saya.


Saya hanya diam dan konsentrasi pada jalan yang saya lalui. Udara benar-benar terasa dingin apalagi saat itu saya tidak lagi mengenakan jaket dan raincoat ditambah gerimis kecil sepanjang jalan. Dan ketika sampai di depan garasi dan saya ingin menelpon memberitahukan ke isteri saya kalau saya sudah di depan rumah, saya baru sadar kalau handphone saya tertinggal dan masih berada di tangan anak tadi. Saya benar-benar kesal dengan kebodohan saya. Sampai di dalam rumah saya berusaha menghubungi nomor handphone saya tapi hanya terdengar nada handphone dimatikan. “Gila. Saya benar-benar goblok, tidak lebih dari 30 menit saya kehilangan handphone dan semua didalamnya,” dengan suara tinggi, saya katakan itu kepada isteri saya dan dia agak tekejut mendengarnya. Selanjutnya saya ceritakan pengalaman saya kepadanya. Isteri saya berusaha menghibur saya dan mengajak saya agar mengikhlaskan semuanya. “Mungkin Allah memang menggariskan jalan seperti ini. Sudahlah sana mandi dan shalat dulu, kalau perlu tambah shalat shunahnya biar bisa lebih ikhlas,” dia menjelaskan. Saya segera melakukannya dan tidur.

Keesokan paginya saya terpaksa berangkat kerja membawa mobil padahal hal ini, tidak terlalu saya suka. Saya selalu merasa banyak waktu terbuang jika bekerja membawa mobil ketimbang naik motor yang bisa lebih cepat mengatasi kemacetan. Kalaupun saya bawa motor saya khawatir hujan karena kebetulan saya tidak ada cadangan jaket dan raincoat juga sudah saya berikan kepada ibu dan anak tadi malam. Setelah mengantar isteri yang kerja di salah satu bank swasta di sekitar depok saya langsung menuju kantor tetapi pikiran saya terus melanglang buana terhadap kejadian tadi malam. Saya belum benar-benar mengikhlaskan kejadian tadi malam bahkan sesekali saya mengumpat dan mencaci ibu dan anak tersebut didalam hati karena telah menipu saya.

Sampai di kantor, saya kaget melihat sebuah bungkusan besar diselimuti kertas kado dan pita berada di atas meja kerja saya. Saya tanya ke office boy, siapa yang mengantar barang tersebut. Dia hanya menjawab dengan tersenyum kalau yang mengantar adalah supirnya ibu yang tadi malam, katanya bapak kenal dengannya setelah pertemuan semalam bahkan dia menambahkan kelihatannya dari orang berada karena mobilnya mercy yang bagus.

“Bapak selingkuh ya, pagi-pagi sudah dapat hadiah dari perempuan?" tanyanya sedikit bercanda kepada saya. Saya hanya tersenyum dan saya menanyakan apakah dia ingat plat nomor mobil orang tersebut, office boy tersebut hanya menggelengkan kepala...

Segera saya buka kotak tersebut dan “Ya Allah, semua milik saya kembali. Jaket, raincoat, handphone, kartu nama dan uangnya. Yang membuat saya terkejut adalah uang yang dikembalikan sebesar 2 juta rupiah jauh melebihi uang yang saya berikan kepadanya. Dan juga selembar kertas yang tertulis:


”Pak, terima kasih banyak atas pertolongannya tadi malam. Ini saya kembalikan semua yang saya pinjam dan maafkan jika saya tidak sopan. Kemarin saya sudah tidak tahan dan mencoba lari dari rumah setelah saya bertengkar hebat dengan suami saya karena beliau sering terlambat pulang ke rumah dengan alasan pekerjaan. Bodohnya, dompet saya hilang setelah saya berjalan-jalan dengan anak saya di Mall Cijantung. Sebenarnya saya semalam ingin melanjutkan perjalanan ke rumah kakak saya di Depok, tetapi saya jadi bingung karena tidak ada lagi uang untuk ongkos makanya saya hanya berdiam di halte bis itu. Setelah saya bertemu dan melihat bapak tadi malam, saya baru menyadari bahwa apa yang suami saya lakukan adalah demi cinta dan masa depan isteri dan anaknya juga. Salam dari suami saya untuk bapak. Salam juga dari kami sekeluarga untuk anak-isteri bapak di rumah. Suami saya berharap, biarlah bapak tidak mengetahui identitas kami dan biarlah menjadi pelajaran kami berdua . Oh ya, maaf handphone bapak terbawa dan saya juga lupa mengembalikannya tadi malam karena saya sedang larut dalam kesedihan. 

Terima kasih."


Segera saya telpon isteri saya dan saya ceritakan semua yang ada dihadapan saya. Isteri saya merasa bersyukur dan meminta agar semua uangnya diserahkan saja ke masjid terdekat sebagai amal ibadah keluarga tersebut.  

*VIVAforum



f⊕☻L∮ ♠ g∀ΓdΞη


Ludruk

Matahari siang tepat di atas ubun-ubun. Keringat membasahi tubuh. Entah karena terik matahari atau keringat dingin karena ketakutan. Satu anak bertugas menggergaji sementara yang lain menutupi agar tidak terlihat orang lain. Semua berdebar-debar. Semua gemetar.

Tidak sampai dua puluh menit selesai sudah. Sebuah lubang terbentuk di pagar anyaman bambu itu. Tetap rasanya berjam-jam. Padahal ukuran lubang hanya sebesar tubuh anak-anak usia 11 tahun. Setelah itu potongan gedek kami tempelkan kembali sehingga tampak seperti semula. Sepintas tidak akan terlihat ada lubang bekas gergajian di sana.

Malamnya, berjingkat-jingkat, kami menuju belakang gedung. Suasana temaram. Satu per satu kami mulai mbrobos ke dalam gedung melalui lubang kecil yang kami buat siang tadi. Siapa yang masuk terakhir, harus menutup kembali lubang tersebut. Itulah aturan mainnya. Setelah di dalam, kami langsung berbaur dengan penonton.

Saya tinggal di Jalan Cisadane, Surabaya. Sekitar satu kilometer dari rumah saya ada sebuah lapangan. Mirip alun-alun. Fungsinya serbaguna. Selain tempat bermain, lapangan itu juga sering dipakai untuk pertunjukkan ludruk, teater khas Jawa Timur, mirip ketoprak di Jawa Tengah.

Biasanya kelompok ludruk yang main di situ akan membangun sendiri gedung pertunjukkan. Kalau saya bilang “gedung pertunjukkan”, jangan membayangkan macam-macam. Bayangkan saja sebuah panggung dari papan, beratapkan seng, dengan dinding anyaman bambu atau gedek. Di sekeliling gedung akan diberi pagar anyaman bambu setinggi dua meter yang menjadi tembok pembatas antara mereka yang di luar dan penonton di dalam.

Penonton harus membeli tiket. Tidak ada nomor bangku. Siapa cepat dia akan duduk di deretan paling depan. Paling dekat dengan panggung. Bangkunya juga terbuat dari bambu yang memanjang. Kalau penonton penuh, duduknya berhimpit-himpitan. Uniknya, tidak ada yang keberatan. Semua happy.

Waktu itu usia saya 11 tahun. Bersama teman-teman sebaya, yang tidak mampu beli tiket, kami biasanya menerobos melalui lubang di tembok gedek yang kami gergaji pada siang hari. Pekerjaan menggergaji memang lebih aman dilakukan siang hari karena hampir semua pemain dan pengurus perkumpulan ludruk tidak berada di tempat. Mereka biasanya punya kegiatan atau pekerjaan lain. Gedung kosong. Saat itulah kami mulai beraksi membuat “lubang rahasia”.

Biasanya lubang yang kami buat cuma efektif sampai tiga hari. Setelah itu akan ketahuan oleh pengelola gedung pertunjukkan lalu ditutup dan dijaga. Lampu neon tambahan juga akan dipasang. Jadilah kami gigit jari lagi. Modus operandi seperti ini akan kami pakai lagi kalau ada kelompok ludruk lain manggung di sana. Nanti ketahuan lagi, ditutup lagi, dijaga lagi, lalu kami gigit jari lagi.

Kalau sudah begitu, biasanya strategi berikutnya akan kami jalankan. Kami akan berdiri di sekitar loket. Jika ada yang beli tiket, biasanya orang dewasa, kami akan memohon agar dibolehkan nunut alias numpang untuk ikut masuk. Caranya dengan menggandeng tangan orang tersebut. Sepintas mirip orang tua yang membawa anaknya nonton. Tidak semua pengelola gedung mengijinkan satu tiket untuk dua orang. Tetapi taktik ini kerap berhasil.

Saya termasuk yang sering nunut. Suatu hari, ada seorang nenek bersama satu anak perempuan dan dua cucu laki-lakinya membeli tiket. Pakaian mereka sangat sederhana untuk tidak dibilang lusuh. Nenek itu membawa rantang berisi jajan untuk anak dan cucunya. Penonton yang tidak punya banyak uang biasanya membawa sendiri makanan dari rumah. Maklum, pertunjukkan bisa berlangsung lebih dari tiga jam.

Kepada nenek itu saya memohon agar bisa nunut. Dia jatuh kasihan dan membolehkan saya ikut. Bahkan tangan saya digandengnya. Tetapi, begitu di depan pintu, petugas melarang saya masuk. Sang nenek berusaha meyakinkan petugas bahwa saya cucunya. Penjelasan yang menggelikan, memang, mengingat secara fisik saya sangat berbeda. Dengan kulit putih dan rambut keemasan, tidak mudah meyakinkan siapa pun bahwa saya cucunya.

Dengan susah payah nenek itu meminta agar saya diperbolehkan masuk. Sang penjaga pintu tetap tidak mengijinkan. Mungkin wajah saya sudah dikenali karena hampir setiap malam muncul di situ. Mereka terus berdebat. Karena mulai ketakutan, saya lalu pergi menjauh. Tetapi, di luar dugaan, sang nenek memanggil saya untuk kembali. Dia merogoh kutangnya lalu mengeluarkan sejumlah uang recehan, menghitungnya sejenak, kemudian bergegas ke loket.

Rasanya tidak percaya. Nenek itu membelikan saya tiket dengan sisa-sisa uangnya. Tiket itu lalu diberikan ke saya. “Saiki kowe iso mlebu,” ujarnya dalam bahasa Jawa sembari tersenyum. “Sekarang kamu bisa masuk,” katanya.

Kenangan itu sangat membekas. Bahkan sampai detik ini. Kalau mengingat peristiwa itu, rasanya tetap saja sulit untuk bisa percaya. Dilihat dari penampilannya, nenek itu bukan orang yang berkecukupan. Bagaimana mungkin dalam kekurangannya dia mau mengorbankan sisa uangnya untuk saya? Untuk seorang bocah yang baru dikenalnya malam itu.

*KickAndy.Com

f⊕☻L∮ ♠ g∀ΓdΞη

Kebaikan Hati Adalah Kebajikan Terbesar

Menurut Victor Hugo, di dunia ini tidak ada yang lebih berharga dari perbuatan baik. Perbuatan baik banyak ditekankan di dalam kebudayaan Tiongkok. Dikatakan bahwa hukum adalah satu-satunya kekuatan massa dan perbuatan baik adalah satu-satunya kekuatan individual.

Victor Hugo
Suatu ketika saya membaca dua cerita pendek yang sangat mempengaruhi pikiran saya. Satu kisah tentang jutaan ikan yang terdampar di pantai setelah terjadinya badai.

Seorang bocah laki-laki tanpa berpikir panjang segera memunguti ikan-ikan tersebut dan mengembalikannya ke laut satu persatu.

Seorang lelaki tua yang kebetulan lewat berkata padanya, ”Hentikanlah Nak! Engkau tidak akan pernah dapat menyelamatkan semua ikan-ikan itu.”

Sambil terus memunguti ikan, anak itu menjawab, ”Paling tidak dari yang dapat saya ambil itu telah terselamatkan.” Orang tua itu tak dapat berkata apapun.

Ada cerita lain yang terjadi di Brasil.

Seekor macan tutul yang tertembak oleh seorang pemburu. Macan itu berjuang setengah jam untuk mencapai tempat kedua anaknya berada, untuk memberi makan sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.

Di saat melihat kejadian itu, pemburu itu meneteskan air mata di pipinya dan merusak senjatanya sendiri.

Jika perasaan kasihan bocah laki-laki dalam cerita pertama adalah suci dan murni, kemudian rasa penyesalan dalam cerita kedua juga patut untuk mendapat pujian.

Mark Twain, seorang penulis ternama Amerika, mengatakan bahwa perbuatan baik adalah sebuah bahasa bersama di seluruh dunia. Ini memungkinkan seorang tuna netra untuk ‘melihat’, dan seorang tuna rungu untuk ’mendengar’.

Orang baik membuat teman yang baik. Mereka membuka pikiran dan hati Anda, dan membersihkan jiwa Anda. Dan mereka mengusir perasaan yang dingin dan kemuraman dengan kehangatan hatinya.

Yang terpenting, Anda jangan menjauh dari orang-orang yang berhati baik itu. 

*Xixi/The Epoch Times/bdn

f⊕☻L∮ ♠ g∀ΓdΞη

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
23