Siapa yang Menyiapkan PARASUT Anda?



Charles Plumb, lulusan US Navy-Academy, menjadi pilot pesawat tempur F-4 Phantom dalam perang Vietnam. Ia berhasil dalam 74 perang di Vietnam Utara. Pada misi ke-75, hanya 5 hari sebelum dia akan dikirim kembali ke Amerika, pesawatnya jatuh ditembak peluru kendali darat ke udara. Plumb berhasil terjun dari pesawat dengan menggunakan parasut. Sayangnya, ia jatuh di wilayah musuh. Ia ditangkap, ditahan di dalam sel berukuran 8 x 8 kaki (2,4 meter) beratap seng. Selama lebih dari 2.103 hari, ia disiksa dan menjalani hidup yang penuh penderitaan dan kesengsaraan di penjara komunis. Kendati pun begitu, Plumb berhasil bertahan hidup.

Captain J. Charles Plumb
Sekembali ke Amerika, Plumb menjadi pembicara tentang pelajaran yang didapatnya dari pengalamannya. Suatu hari ketika sedang makan bersama istrinya di sebuah restoran di Kansas City, seorang pria yang duduk 2 meja darinya menatapnya. Ketika Plumb sedang makan, pria itu datang ke mejanya, memandangi wajahnya dan berkata, “Anda Kapten Plumb.”

“Betul, Pak. Saya Kapten Plumb.”

“Anda menerbangkan pesawat tempur di Vietnam. Pesawatmu bermarkas di kapal induk Kitty Hawk. Pesawat Anda ditembak jatuh dan parasutmu jatuh ditangan musuh. Anda lalu dipenjara 6 tahun sebagai tawanan perang,” kata pria itu.

“Bagaimana Bapak bisa tahu semua ini ?” tanya Kapten Plumb.

“Karena saya yang menyiapkan parasutmu,” jawabnya.

Kapten Plumb terkesima sempoyongan dan tak bisa berkata-kata. Ia lalu mengulurkan tangan, menjabat tangan pria itu dan mengucapkan terima kasih dengan suara terbata-bata. Pria itu tampak penuh suka cita. “Saya rasa parasutnya berfungsi,” katanya.

“Ya. Pak ! Jelas berfungsi,” kata Plumb, “Saya ingin bilang pada Bapak, saya mengucapkan banyak doa terima kasih untuk jemari Bapak yang cekatan. Tapi saya sama sekali tidak menduga, saya punya kesempatan untuk mengucapkan terima kasih secara pribadi kepada orang tersebut.”

“Apakah semua panelnya baik ?” tanyanya.

“Ya, Pak. Sejujurnya saya berkata, dari 18 panel yang harus ada di dalam parasut, saya dapat 15 yang bagus. Tiga rusak. Tapi itu salah saya, bukan salah Bapak. Saya terjun dari pesawat tempur itu dalam kecepatan tinggi sampai ke tanah. Itu yang merusak panel dari parasut Bapak. Jadi memang tidak seperti yang semula Bapak siapkan.”

“Izinkan saya berkata,” kata Kapten Plumb, “Apakah Bapak mengikuti perkembangan dari semua parasut yang Bapak siapkan.”

“Tidak,” jawabnya. “Saya sudah bersyukur jika apa yang saya kerjakan bisa bermanfaat.”

Malam itu, Kapten Plumb tak bisa tidur. Ia terus memikirkan pria itu. Terus bertanya-tanya di dalam hati, seperti apa penampilan Bapak itu dalam seragam Angkatan Laut, topi Dixie cup, Bib (sejenis Apron) dipunggung, dan celana panjang dengan kaki celana yang bagian bawahnya seperti bel. Ia bertanya-tanya, berapa kali berpapasan dengannya di kapal Kitty Hawk. Berapa kali ia melihatnya tanpa mengucapkan ‘selamat pagi’ atau ‘apa kabar’, atau sesuatu yang lain karena dia adalah pilot pesawat tempur dan Bapak itu hanya Kelasi.

Kapten Plumb juga membayangkan, jam demi jam yang dihabiskan Bapak itu di meja kayu panjang di lambung kapal, menganyam dan melipat kain dari parasut itu. Saya sudah mengacuhkannya sampai suatu hari dia menyiapkan parasut itu untuk saya.

Pertanyaan Filosofis dari kisah nyata ini adalah, Dari mana asalnya parasut kita ? Siapa yang memberi kita kekuatan di saat susah ? Mungkin yang lebih penting lagi adalah, Siapa orang istimewa di dalam hidup Anda yang memberikan dorongan yang Anda perlukan di saat menghadapi situasi yang paling sulit ? Mungkin sekaranglah saatnya untuk menelepon orang itu dan mengucapkan terima kasih kepadanya karena telah menyiapkan parasut Anda.

***

Pesan cerita : Dalam ceramahnya, Plumb sering bertanya kepada para peserta seminar, “Siapa yang menyiapkan parasut Anda?” Semua orang punya seseorang yang memberikan apa yang diperlukan untuk menjalani masa-masa sulit. Ia juga mengatakan, ia memerlukan banyak parasut ketika pesawatnya ditembak jatuh di wilayah musuh. Terdiri dari parasut fisik, parasut mental, parasut emosional dan parasut spiritual. Ia mengandalkan semua dukungan ini untuk menyelamatkan hidupnya.

Kadang harus menghadapi tantangan dalam hidup sehari-hari membuat kita lupa dengan hal-hal yang benar-benar penting. Kita mungkin tidak mengucapkan ‘halo’, ‘tolong’ atau ‘terima kasih.’ Lupa mengucapkan selamat kepada seseorang untuk hal-hal yang baik yang mereka raih. Lupa memberikan pujian. Lupa melakukan sesuatu yang baik kepada orang lain tanpa alasan apapun, semata-mata untuk kebaikan saja. Dalam menjalani hidup hari ini, minggu ini, bulan ini, tahun ini, ingatlah kembali kepada orang-orang yang menyiapkan parasut Anda.

*Insights Into Excellence bab 16 – Packing Parachutes oleh J. Charles Plumb / plumbtalk@aol.com
.
.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
23