Kisah Cinta Sejati Seorang Kakek

Pagi itu, klinik sangat sibuk, sekitar pukul 09.30 seorang pria berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu jarinya. Saya menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru bisa ditangani setidaknya 1 jam lagi.

Sewaktu menunggu pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar dia melirik ke jam tangannya, saya merasa kasihan, jadi ketika sedang luang saya sempatkan untuk memeriksa lukanya, dan nampaknya lukanya cukup baik dan kering, tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter saya putuskan untuk melakukannya sendiri.

Sambil menangani lukanya, saya bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo untuk makan siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat disana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer’s, lalu saya bertanya apakah istrinya akan marah kalau dia terlambat, dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak dapat mengenalinya lagi sejak 5 tahun terakhir.

Saya sangat terkejut dan berkata “Bapak masih pergi kesana tiap hari walaupun istri Bapak sudah tidak kenal Bapak lagi?” Dia tersenyum sambil menepuk tangan saya ” Tetapi saya masih mengenali dia kan?”

Sungguh,, saya sangat terharu mendengar ceritanya, saya menahan air mata sampai kakek itu pergi…. CINTA KASIH seperti itulah yang saya mau dalam hidupku, diperjuangkan, memperjuangkan, penuh pengorbanan….

Dikisahkan dari seorang sahabat untuk membuka pintu hati kita… 
.
.

Rahasia Cinta dan Bis Kota



Cinta itu sama seperti orang yang menunggu bis....

Sebuah bis datang, dan terkadang kita bilang, "Wah.. terlalu penuh, sumpek, bakalan enggak bisa duduk nyaman neh! Aku tunggu bis berikutnya aja deh....

"Kemudian, bis berikutnya datang. Kita melihatnya dan berkata, "Aduh bisnya kurang asik nih, enggak bagus lagi.. enggak mau ah.."

Bis selanjutnya datang, cool dan kamu berminat, tapi seakan-akan dia tidak melihatmu dan lewat begitu saja.....duhh!

Bis keempat berhenti di depan kita... Bis itu kosong, cukup bagus, tapi terkadang kita bilang, "Nggak ada AC nih, bisa kepanasan aku". Maka kamu membiarkan bis keempat itu pergi.

Waktu terus berlalu, kita mulai sadar bahwa kita bisa terlambat pergi kekantor. Ketika bis kelima datang, kamu sudah tak sabar, kamu langsung melompat masuk ke dalamnya.

Setelah beberapa lama, kita akhirnya sadar kalau kita salah menaiki bis. Bis tersebut jurusannya bukan yang kamu tuju! Dan kau baru sadar telah menyia-nyiakan waktumu sekian lama.

 ***


Moral dari cerita ini: Sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar "ideal' untuk menjadi pasangan hidupnya. Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi keidealan kita. Dan kamu pun sekali-kali tidak akan pernah bisa menjadi 100% sesuai keinginan dia.

Tidak ada salahnya memiliki 'persyaratan' untuk 'calon', tapi tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada yang berhenti di depan kita. Tentunya dengan jurusan yang sama seperti yang kita tuju.

Apabila ternyata memang tidak cocok, apa boleh buat.... tapi kita masih bisa berteriak 'Kiri' ! dan keluar dengan sopan.

Maka memberi kesempatan pada yang berhenti di depanmu, semuanya bergantung pada keputusanmu. Daripada kita harus jalan kaki sendiri menuju kantormu, dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi.

Cerita ini juga berarti, kalau kebetulan kita menemukan bis yang kosong, kamu sukai dan bisa kamu percayai, dan tentunya sejurusan dengan tujuanmu, kamu dapat berusaha sebisamu untuk menghentikan bis tersebut di depanmu, agar dia dapat memberi kesempatan kepadamu untuk masuk ke dalamnya. Karena menemukan yang seperti itu adalah suatu berkat yang sangat berharga dan sangat berarti. Bagimu sendiri, dan bagi dia.

Lalu bis seperti apa yang kita tunggu?

.
.

Kebahagiaan



Kebahagiaan adalah keadaan
Kebahagiaan juga sebuah rasa
Kebahagiaan bisa juga sebutir ungkapan

Sesungguhnya ...
kebahagiaan itu kondisi jiwa seseorang …
Yang tenang ... damai ... tenteram
Yang sadar ... segala sesuatu yang menimpa dirinya adalah kehendak-Nya
Yang sadar ... yang menimpa dirinya adalah yang terbaik

Dirinya dapat menerima semuanya dengan hati ikhlas ...
Dengan hati syukur ...
Dirinya merasa tidak memiliki apa-apa ...
Sekaligus ... dirinya merasa telah memiliki semuanya ...
Dirinya sadar ... semua yang dimilikinya sekedar titipan-Nya
Untuk dikembalikan dengan jauh lebih baik

Kebahagiaan bukan sekedar akibat
Kebahagiaan juga penyebab

Kebahagiaan dapat menyebabkan kesedihan
Kesedihan dapat menyebabkan kebahagiaan
Kebahagiaan dapat menyebabkan kebahagiaan lainnya

Orang bijak bilang ...
Kebahagiaan harus dicari ... harus diraih
Karena kebahagiaan tidak datang sendiri
Orang bijak lainnya bilang ...
Kebahagiaan jangan dicari ... jangan dikejar
Karena kebahagiaan memang tidak dapat dikejar ...
Kebahagiaan akan datang sendiri ...
Kebahagiaan selalu ada dalam diri kita ...

Kebahagiaan ... seperti bayangan diri kita
Serasa tergenggam erat di jari
Serasa lari tanpa bekas
Tak dikejar ... mendekati

Bila kita menyadari kehadirannya
Sesungguhnya ...
Kebahagiaan tak pernah terpisah dari kita
Sejak lama telah hadir dalam diri kita


Bila mau menyadari, kebahagiaan sesungguhnya selalu ada dalam diri kita.
(Bumi Sentosa, Cibinong, 12 Juli 2009 (jam 09.51 BBWI))
.
.

Tanganmu Bergetar Ibu


Tahun lalu, ketika ibu saya berkunjung, ia mengajak saya untuk berbelanja bersamanya karena dia membutuhkan sebuah gaun yang baru. Saya sebenarnya tidak suka pergi berbelanja bersama orang lain, termasuk bersama ibu saya. Saya bukanlah orang yang sabar. Tapi saya putuskan untuk pergi juga dengannya.

Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun wanita. Ibu saya mencoba gaun demi gaun lalu mengembalikan semuanya. Seiring hari yang berlalu, saya mulai merasa lelah, gelisah sedangkan ibu mulai frustasi. Akhirnya di toko terakhir yang kami kunjungi, ibu mencoba satu stel gaun biru yang cantik, terdiri dari tiga helai. Karena ketidaksabaran saya, maka untuk kali ini saya ikut masuk dan mencoba membantunya biar semuanya cepat beres.

Saya melihat bagaimana ia mencoba pakaian tersebut dan dengan susah mencoba mengikat tali yang ada pada baju itu. Saya melihat bagaimana susahnya tangan-tangan itu mencoba memakai gaun ke tubuhnya akibat penyakit radang sendi.
Seketika itu juga, ketidaksabaran saya hilang. Dada saya sesak, saya berbalik pergi dan mencoba menyembunyikan air mata yang keluar tanpa saya sadari. Setelah tenang kembali, saya masuk lagi ke kamar ganti itu dan membantunya mengikatkan tali pada gaun tersebut. Pakaian itu begitu indah dan ibu membelinya. Perjalanan kami telah berakhir tapi kejadian terukir di dalam ingatan saya. Bagaimana gemetarnya tangan ibu.

Kedua tangan yang penuh kasih, yang pernah menyuapi saya, memandikan saya, memakaikan baju, membelai dan memeluk saya, dan terlebih dari semuanya, berdoa untuk saya. Sekarang tangan itu telah menyentuh hati saya dengan cara yang paling membekas dalam hati saya.

Sore hari itu, saya pergi ke kamar ibu saya, mengambil tangannya dan menciumnya. Saya mengatakan pada ibu, kedua tangan itu adalah tangan yang paling indah di dunia ini. Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan telah membuat saya dapat melihat dengan mata yang baru, betapa bernilai dan berharganya kasih sayang yang penuh pengorbanan dari seorang ibu.
.
.

Dosa Seorang Pemimpin


Suatu hari sahabat Abu Dzar al-Ghiffari memohon kepada Rasulullah SAW untuk mengabdikan diri sebagai pemimpin di daerah seperti sahabat lainnya.

Abu Dzar berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau hendak menggunakan (jasa)-ku?” Namun, Rasulullah SAW yang mengetahui karakter para sahabatnya mengetahui bahwa Abu Dzar tidak cocok untuk menjadi seorang pemimpin. “Wahai Abu Dzar, engkau itu lemah (dalam kepemimpinan), dan kepemimpinan itu ialah amanah dan akan menjadi kehinaan serta penyesalan pada Hari Kiamat.”

Sungguh, Rasulullah SAW tidak meragukan kesalehan dan ketakwaan Abu Dzar al-Ghiffari, tetapi ia hendak mengingatkan akan bahaya menjadi pemimpin tanpa mampu menjalankan amanah yang diembannya. Karena, pemimpin tidak hanya bertanggung jawab kepada rakyatnya, tapi dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Jika seorang pemimpin mampu menunaikan amanah dengan baik, memberikan hak-hak bagi orang yang dipimpinnya, dan berbuat adil kepada diri, keluarga, dan rakyatnya, ia termasuk orang yang paling dicintai Allah dan mendapatkan naungan dari sisi-Nya pada Hari Kiamat. “Sehari menjadi pemimpin yang adil, lebih baik daripada beribadah selama 60 tahun.” (HR Ahmad).


“Sehari menjadi pemimpin yang adil, lebih baik daripada beribadah selama 60 tahun.” 
~HR Ahmad.

Sebaliknya, jika seorang pemimpin tidak adil, mengabaikan tanggung jawabnya terhadap rakyat, dan hanya berpihak kepada diri, keluarga, dan kelompoknya, ia akan menyesalinya pada Hari Kiamat. “Barang siapa yang menjadi pemimpin (hanya) bagi 10 orang atau lebih, Allah akan mendatangkannya dengan tangan terbelenggu pada lehernya pada Hari Kiamat, ia akan dibebaskan oleh kebaikannya atau dikencangkan dosanya, awalannya ialah kesalahan, pertengahannya penyesalan, dan akhirannya kehinaan pada Hari Kiamat.” (HR Ahmad).

Dosa seorang pemimpin tidak bisa disamakan dengan dosa manusia biasa karena dosa pemimpin berdampak luas dan merugikan orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin yang menyalahgunakan wewenang, membiarkan kezaliman, dan menelantarkan orang-orang yang tidak mampu, akan dibalas oleh Allah dengan kehinaan dan siksaan yang pedih. Oleh karena itu, para pemimpin umat Islam terdahulu selalu memikirkan tentang penderitaan rakyatnya karena merasa takut akan perbuatan dosa yang nanti akan dipertanggungjawabkan di sisi Allah.


Karenanya, sungguh sangat mengherankan jika seorang pemimpin hanya mengkhawatirkan keselamatan diri dan keluarganya dari rongrongan rakyat atau lawan-lawan politiknya, sementara ia menelantarkan rakyatnya dalam jeratan kemiskinan. Umar bin Khattab RA pernah merinding ketakutan akan posisinya pada Hari Kiamat hanya karena mengkhawatirkan seekor keledai yang tak bisa makan. “Andaikan seekor keledai terjerembab di daerah Irak, niscaya Allah kelak akan menanyakan pertanggungjawabanku, mengapa engkau tidak meratakan jalannya?”

Seandainya setiap pemimpin lebih mengkhawatirkan kedudukannya di sisi Allah dibanding jabatan dan kekuasaannya saat ini, ia akan senantiasa mendengarkan dan memperhatikan kebutuhan rakyatnya. Sekecil apa pun kesalahan pemimpin terhadap rakyatnya, akan menjadi penyesalan, kehinaan, dan azab baginya pada Hari Kiamat. Wallahu ‘alam.


*http://www.republika.co.id
.
.

Didik, Pendidik, Pendidikan



Puisi "pendidikan" ini nampaknya sederhana, namun terdapat banyak hal-hal yang sebelumnya tidak terpikir oleh kita.
Dalam membaca puisi ini disarankan untuk tidak membaca sepintas saja, namun kadang diperlukan membaca beberapa kali sehingga pesan-pesan penting yang mampu memperbaiki kepribadian kita, dapat kita tangkap dengan baik.

Pendidikan. Pendidikan asalnya dari kata "didik". Didik berarti "memelihara dan memberi latihan tentang akhlak dan kecerdasan pikiran serta perasaan". Pendidikan berarti "proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan". Jadi, pendidikan itu suatu proses, suatu perbuatan, suatu cara mendidik

Memperbaiki kesalahan merupakan pendidikan
Melakukan kesalahan, juga pendidikan
Membiarkan kesalahan, juga pendidikan
Membenarkan kesalahan, juga pendidikan
Menyalahkan kebenaran, ... kadang-kadang juga pendidikan

Menghukum yang salah adalah pendidikan
Menghukum yang benar, juga pendidikan
Memuji yang benar adalah pendidikan
Memuji yang salah, juga pendidikan
Memperbaiki sesuatu adalah pendidikan
Merusak sesuatu,... kadang-kadang juga pendidikan

Ada lima hal yang sangat penting
Pertama, pendidikan itu untuk siapa? untuk apa?
Kedua, pendidikan itu dari siapa?
Ketiga, mengapa diberikan, diterima, dan diperlukan?
Keempat, kapan itu diberikan, diterima, dan dibutuhkan?
Kelima, bagaimana memberikan dan menerimanya?

Mana yang lebih baik, mendidik ataukah dididik
Mana yang lebih baik, pendidik ataukah terdidik

Jarang yang menyadari...
Seseorang yang sedang mendidik, saat itu juga sedang dididik
Seseorang yang sedang dididik, saat itu juga sedang mendidik
Jadi... seorang pendidik sebenarnya juga seorang yang dididik
Dan... seorang yang dididik, tanpa sadar sebenarnya juga seorang pendidik



Oleh : Indragung Priyambodo, 1999
"Semi puisi" yang ditulis Indragung Priyambodo tahun 1999 saat masih menjadi dosen di Jayabaya.

*http://www.facebook.com/note.php?note_id=205566375033
.
.

Severn Suzuki (Pidato Anak 12th yang Membungkam Dunia)



Seorang yang mendedikasikan dirinya untuk menjadi aktivis kemanusiaan dan lingkungan hidup jauh bahkan sebelum ia tumbuh menjadi seorang wanita yang sesungguhnya, dengan hasil karyanya yang tetap hidup untuk selamanya menjadi inspirasi remaja lainnya dalam Mengambil Langkah, untuk Take Action! Dia telah berbicara di seluruh dunia tentang isu-isu lingkungan, mendesak pendengar untuk mendefinisikan nilai-nilai mereka, bertindak dengan masa depan dalam pikiran, dan bertanggung jawab.

Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yang bernama Severn Suzuki, seorang anak yang pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children's Organization (ECO).

ECO sendiri adalah sebuah kelompok kecil anak yang mendedikasikan diri untuk belajar dan mengajarkan pada anak-anak lain mengenai masalah lingkungan.

Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan Hidup PBB, dimana pada saat itu Severn yang berusia 12 tahun memberikan sebuah pidato kuat yang memberikan pengaruh besar (dan membungkam) beberapa pemimpin dunia terkemuka.

Apa yang disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang sidang penuh dengan orang terkemuka yang berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun.

Pidato ini berhasil membungkam para delegasi karena anak 12 tahun memiliki pemikiran yang jauh ke masa depan tentang masalah lingkungan hidup.

Berikut adalah terjemahan pidato Severn Suzuki di World Summit 1992 (sumber The Collage Foundation). 

Halo, nama saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O – Enviromental Children Organization.

Kami adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini di sini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yg akan datang.

Saya berada disini mewakili anak-anak yg kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar. Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan habitatnya. Kami tidak boleh tidak di dengar.


Burung laut yang mati terkena tumpahan minyak.

Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.

Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya - hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.

Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya. Tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.

Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya.

Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah.



Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya, yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika anda tidak tahu bagaima cara memperbaikinya. TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Disini anda adalah delegasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota perhimpunan, wartawan atau politisi - tetapi sebenarnya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi - dan anda semua adalah anak dari seseorang.


 Severn 12 tahun saat berbicara di Rio 1992, "Hey adults, why do you go out and do the things you tell us not to do?"

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama - perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.

Saya hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama.

Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan duniaapa yang saya rasakan.


Children : "Please end the siege on Gaza".

Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan. Kami membeli sesuatu dan kemudian membuangnya, beli dan kemudian buang.

Walaupun begitu tetap saja negara-negara di Utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan.
Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan - kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: "Aku berharap aku kaya, dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih sayang".

Jika seorang anak yang berada dijalanan dan tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar, bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia; seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India.


Seorang ibu dan anaknya di Somalia.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini.

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain, untuk mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan; untuk tidak menyakiti makhluk hidup lain, untuk berbagi dan tidak tamak. Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konperensi ini, mengapa anda melakukan hal ini - kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah yang memutuskan, dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan mengatakan, "Semuanya akan baik-baik saja, kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan dan ini bukanlah akhir dari segalanya.”



Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua? Ayah saya selalu berkata, “Kamu akan selalu dikenang karena perbuatanmu, bukan oleh kata-katamu”.

Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya menantang A N D A, cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.

Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.



***
Servern Cullis-Suzuki telah membungkam 1 ruang sidang Konfrensi PBB, membungkam seluruh Orang penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya, setelah pidato nya selesai serempak seluruh Orang yang hadir diruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun.

Dan setelah itu ketua PBB mengatakan dalam pidatonya..

”Hari ini Saya merasa sangatlah Malu terhadap Diri saya sendiri karena saya baru saja disadarkan betapa pentingnya linkungan dan isinya disekitar kita oleh Anak yang hanya berusia 12 tahun yang maju berdiri di mimbar ini tanpa selembar pun Naskah untuk berpidato, sedang kan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh asisten saya kemarin. Saya… tidak kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun“.


Tentang Severn Cullis-Suzuki

Severn Cullis-Suzuki adalah salah seorang pemerhati masalah Lingkungan Hidup yang concern dengan isu Pemanasan Global. Ia dikenal sebagai aktivis lingkungan hidup, pembicara, pemandu acara televisi dan pengarang. Severn Suzuki memulai karirnya sejak umur 9 Tahun dengan mendirikan organisasi pemerhati lingkungan untuk Anak-anak. Hingga kini Ia sudah berkeliling dunia untuk berbicara tentang masalah lingkungan hidup yang sudah semakin memprihatinkan.

Berbicara di University of Alberta
Biografi Severn Cullis-Suzuki

Severn Cullis-Suzuki atau lebih dikenal dengan nama Severn Suzuki dilahirkan di Vancouver, Canada. Ibunya adalah seorang penulis bernama Tara Elizabeth Cullis dan Ayahnya adalah David Suzuki, seorang aktivis lingkungan hidup. Ketika bersekolah di Lord Tennyson Elementary School, Ia mendirikan Environmental Children’s Organization (ECO), sebuah organisasi yang didedikasikan untuk belajar dan mengajar Anak-anak tentang masalah lingkungan Hidup.

Di tahun 1992, Ia bersama teman-teman ECO mengumpulkan dana untuk bisa menghadiri World Summit di Rio De Jeneiro. Bersama anggota ECO lainnya, Michelle Quigg, Vanessa Suttie, dan Morgan Geisler, Severn Suzuki menyajikan pidato tentang masalah lingkungan hidup dari perspektif Anak-anak di depan delegasi negara-negara. Bayangkan umur 12 tahun membawakan pidato di depan orang-orang penting di dunia. Pidato Severn Suzuki ini berhasil mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari para delegasi.

Tahun 1993, Ia mendapatkan penghargaan dari United Nations Environment Programme yaitu Global 500 Roll of Honour. Prestasi lain, yaitu diterbitkannya buku 30 halaman oleh Doubleday berjudul Tell The World yang berisi panduan lingkungan untuk keluarga. Suzuki berhasil meraih gelar kesarjanaannya bidang ekologi dan biologi revolusioner di Universitas Yale tahun 2002. Tahun 2002 juga ia menjadi pemandu Acara Suzuki’s Nature Quest, sebuah acara anak-anak yang disiarkan oleh Discovery Channel.

Sampai saat ini, Severn Suzuki masih aktif terlibat dan mengembangkan proyek-proyek lingkungan Hidup, seperti The Skyfish Project walaupun dibubarkan tahun 2004 karena Severn Suzuki melanjutkan sekolahnya. Ia juga sempat berbicara di forum lingkungan hidup seperti World Summit on Sustainable Development di Johannesburg pada bulan Agustus 2002.
(*Thks to wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Severn_Cullis-Suzuki)


Vancouver, tempat kelahiran Severn


Pada tahun 1993 Doubleday menerbitkan bukunya Tell the World (ISBN 0-385-25422-9), sebuah buku yang berisi 32 halaman tentang pedoman ramah lingkungan untuk keluarga.



Severn Suzuki is featured in Severn, the Voice of Our Children, one of 14 films at the Vancouver International Film Festival's eco film series.




Saat berbicara di Rio 1992 (original)

Severn Cullis-Suzuki Keynote Address 2006

 
.
.

Memilih Jalan yang Sesat dan Mengubah Segalanya



Puisi ini ditulis oleh Robert Frost (tahun 1916). Puisi ini telah berjasa bagi banyak orang-orang sukses dan mengilhami berbagai tokoh dunia untuk sukses, termasuk Robert Kiyosaki*.

Robert Frost (1874–1963). Mountain Interval, 1916.

The Road Not Taken

Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;

Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.[1]

*)http://en.wikisource.org/wiki/The_Road_Not_Taken

Jalan yang Tak Terlalui

Dua jalan bercabang dalam remang hutan kehidupan
Dan sayang aku tidak bisa menempuh keduanya
Dan sebagai pengembara, ku berdiri lama
Dan memandang ke satu jalan sejauh aku bisa
Kemana kelokannya mengarah di balik semak belukar

Kemudian aku memandang yang satunya, sama bagusnya,
Dan mungkin malah lebih bagus,
Karena jalan itu segar dan mengundang
Meskipun tapak yang telah melewatinya
Juga telah merundukkan rerumputan,

Dan pagi itu keduanya sama-sama membentang
Di bawah hamparan dedaunan rontok yang belum terusik
Oh, kusimpan jalan pertama untuk lain kali !
Meski tahu semua jalan berkaitan
Aku ragu akan pernah kembali

Aku akan menuturkannya sambil mendesah
Suatu saat berabad-abad mendatang
Aku menempuh jalan yang jarang dilalui
Dan itu mengubah segalanya.

oleh Robert Frost (1916)
________________________

Puisi ini secara singkat memberi semangat kepada mereka untuk sukses.
Sukses yang dimaksud adalah sukses sesuai definisi masing-masing orang dan sesuai dengan tujuan hidup masing-masing orang, yang tentunya tidak sama persis.

Puisi ini mempunyai makna :

Ada dua jalan kehidupan
Jalan yang satu tampak cukup mulus... tanda sering dilalui orang
Jalan yang kedua penuh semak belukar... tanda jarang dilalui orang
dan... hampir semua orang sukses melalui jalan kedua.

Semoga kita semua senantiasa "merasa sukses dan bahagia" serta tetap berusaha keras untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Robert Frost tahun 1910
Tentang Robert Frost:

Robert Lee Frost (lahir 26 Maret 1874 – meninggal 29 Januari 1963 pada umur 88 tahun) adalah salah seorang penyair Amerika Serikat yang paling besar. Karyanya sebagian besar menggambarkan tentang kehidupan pedesaan di New England, wilayah sebelah timur laut Amerika Serikat. Ia juga menuliskan puisinya dengan tema-tema sosial dan filsafat. Robert Frost empat kali menerima penghargaan Pulitzer. (wikipedia)

*) Robert Kiyosaki (lahir 8 April 1947; umur 65 tahun) adalah seorang investor, usahawan, penulis dan motivator. Kiyosaki menjadi terkenal karena buku yang ditulisnya berjudul Rich Dad, Poor Dad. (wikipedia)
.
.

Kebahagiaan adalah Sebuah Perjalanan



"Happiness is a j♥urney.. Not a destination." ~Ben Sweetland

Kita meyakinkan diri kita bahwa hidup akan lebih baik setelah kita menikah, punya bayi, kemudian yang lain. Lalu kita frustrasi karena anak-anak yang belum cukup umur dan justru kita menambah jumlah keberadaan mereka di rumah.

Setelah itu, kita frustrasi bahwa kita memiliki remaja untuk kita tangani. Kita tentu akan senang ketika mereka keluar dari tahap itu. Kita mengatakan kepada diri sendiri bahwa hidup kita akan lengkap bila melakukannya bersama-sama dengan pasangan kita, ketika kita mendapatkan mobil yang lebih bagus, ketika kita mampu untuk pergi pada liburan yang menyenangkan atau ketika kita pensiun.

Yang benar adalah tidak ada waktu yang lebih baik untuk menjadi bahagia daripada sekarang. Jika tidak sekarang, kapan? Hidup Anda akan selalu penuh dengan tantangan. Yang terbaik untuk mengakui hal ini untuk diri sendiri dan memutuskan untuk menjadi bahagia pula. Kebahagiaan adalah sebuah jalan. Jadi, menghargai setiap momen yang Anda miliki dan menghargainya lebih karena anda membagikannya dengan seseorang yang khusus, cukup khusus untuk menghabiskan waktu Anda dengannya ... dan ingat saat seperti itu menanti siapa pun juga.

Jadi, berhentilah menunggu...

Sampai mobil atau rumah lunas.

Sampai Anda mendapatkan mobil baru atau rumah.

Sampai anak-anak Anda meninggalkan rumah.

Sampai Anda kembali ke sekolah.

Sampai Anda menyelesaikan sekolah.

Sampai Anda kehilangan 5 kg.

Sampai Anda mendapatkan 5 kg.

Sampai Anda menikah.

Sampai Anda bercerai.

Sampai Anda memiliki anak-anak.

Sampai Anda pensiun.

Sampai musim panas.

Sampai musim semi.

Sampai musim dingin.

Sampai musim gugur.

Sampai kau mati.


Tidak ada waktu lebih baik dari sekarang untuk menjadi bahagia.

"Kebahagiaan adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan." 
Jadi, bekerjalah seperti Anda tidak perlu uang, mencintailah seperti tidak pernah terluka dan menarilah seperti tidak ada yang menonton.

"Happiness is a journey, not a destination."
So, work like you don’t need the money, love like you’ve never been hurt and dance like no one’s watching.



"Kebahagiaan adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan." 

Benarkah begitu, bagaimana menurut pemikiran Anda?
.
.

Cara Terbaik agar Hidup Selalu Bahagia



Kebahagiaan adalah hak. Dan seperti semua hak, kitalah yang diharapkan datang menjemputnya.
Bersama semua hak, tentu ada tanggung jawabnya. Dan tanggung jawab bagi mereka yang dibahagiakan adalah membahagiakan yang lainnya.
Maka orang yang tidak ingin tertunda kebahagiaannya, harus mendahulukan tercapainya kebahagiaan orang lain, otomatis kita pun bahagia.

Marilah kita terima dengan ikhlas, bahwa kebahagiaan adalah masalah keputusan.
Hidup yang berbahagia adalah untaian dari keputusan-keputusan untuk berbahagia, dari satu waktu ke waktu lainnya.
Kita harus segera memutuskan untuk berbahagia, dan keputusan itu harus tegas. Karena keputusan yang berdampak baik adalah keputusan baik yang tegas.

Segera setelah kita putuskan untuk berbahagia, maka semua pikiran, perasaan, dan tindakan kita akan terfokus pada membahagiakan.

Tegaslah untuk memutuskan bahwa :
“Waktu terbaik untuk berbahagia adalah SEKARANG”.
“Tempat terbaik untuk berbahagia adalah DISINI”.
Dan, “Cara terbaik untuk berbahagia adalah membahagiakan orang lain”.

Jika kita belum mampu merasa bahagia, marilah kita hidup dengan cara yang mejadikan kita pantas untuk berbahagia.

Perasaan kita ditentukan oleh apa yang kita kerjakan dan yang kita hindari.
Maka jangan hindari pikiran baik, jangan hindari perasaan yang baik, dan terutama jangan hindari tindakan yang baik.

Perlu diingat bahwa
“Orang yang hidup hanya untuk dirinya sendiri, akan lebih mudah merasa sedih dan tidak berguna”.

Oleh karena itu, berusahalah untuk menjadi sebab bagi kebahagiaan.

“Tujuan hidup kita adalah menjadi sebab bagi kebahagiaan, bagi diri sendiri dan bagi sebanyak mungkin orang lain”.

Marilah kita (saya dan Anda) hidup untuk membahagiakan sebanyak mungkin orang lain, maka otomatis (insyaAllah) kita akan dijauhkan dari kesedihan, dan kita akan dimudahkan untuk menjadi sangat bahagia.


.
.
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
23