Terorisme: Ritual Dajjal


"Sesungguhnya, setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala."  (Faathir [35]: 6)

Sejauh ini, kita sudah meninjau macam gerakan Dajjal, sumber terbesar perselisihan di hari-hari menjelang kiamat, kaki tangannya, dan orang-orang seperti apa yang terperangkap olehnya. Dalam bab ini, kita akan membahas terorisme, salah satu penyumbang terjahat dari permasalahan ini.

Walau merupakan salah satu istilah yang paling sering terdengar di dunia saat ini, masih tidak ada kesepakatan tentang pengertian terorisme. Salah satu sebab utamanya adalah karena orang yang dianggap sebagai teroris di satu pihak, di pihak lain dianggap sebagai pejuang kebenaran.

Apa pun tujuannya, tidak mungkin menganggap kelompok mana pun yang mengambil cara kekerasan dan menjadikan orang tak bersalah sebagai sasaran, sebagai kebenaran. Pribadi-pribadi atau masyarakat bisa saja menginginkan sesuatu dan keinginan tersebut bisa jadi sah sepenuhnya. Akan tetapi, kekerasan bukanlah cara untuk mencapainya. Kekuatan hanya boleh digunakan untuk pembelaan diri. Dengan alasan itulah, setiap tindak kekerasan yang ditujukan pada orang yang tak bersalah bisa dianggap sebagai tindakan terorisme.

Strategi mendasar dari terorisme adalah penyebaran ketakutan, dan dengan cara tersebut, mereka mendapatkan pengaruhnya. Bukannya mengusahakan agar keinginan mereka tercapai melalui cara yang lebih damai dan masuk akal, kelompok teroris malah memilih kekerasan, yang mereka anggap lebih tepat sasaran. Menurut mereka, makin kejam dan merusak suatu tindak terorisme, semakin berpengaruh pula tindakan tersebut. Dengan kata lain, makin dekatlah mereka dalam mencapai tujuannya.

Teror telah menjadi persoalan besar yang mengganggu banyak negara di dunia saat ini. Kelompok-kelompok yang mengambil jalan kekerasan, dan dengan keliru meyakini bahwa pertentangan bersenjata adalah satu-satunya cara untuk mencapai tujuan mereka, melaksanakan tindakan-tindakan yang membawa kematian dan luka bagi banyak orang.

Salah satu sisi yang paling mengerikan dari terorisme adalah kenyataan bahwa terorisme sama sekali tidak memiliki nilai kemanusiaan dan tidak mengakui aturan apa pun. Orang-orang yang memilih terorisme itu tidak mempunyai cinta, perhatian, belas kasih dan tenggang rasa, dan hanya diperintah oleh perasaan benci, marah, dan dendam.

Tanpa disadari, niat orang-orang seperti itu adalah untuk melampiaskan kemarahan mereka dan membalas dendam, tanpa memikirkan lagi akibat perbuatan mereka. Bahwasanya tindakan mereka mungkin akan mengakibatkan kerusakan, sedikit pun tidak menggetarkan nurani mereka. Ini karena nurani orang yang menganggap terorisme sebagai pemecahan, sudah tersumbat, hingga demikian pula akalnya, pertimbangannya, dan pengertiannya.

Sekalipun demikian, menurut akhlaq Al-Qur`an, tidak ada ruang bagi amarah. Allah telah mengungkapkan bahwa selama manusia bertindak atas perasaan sendiri, seperti kemarahan, akan ada penyelewengan dan kekacauan di dunia. Dengan demikian, Allah telah memerintahkan kita untuk sepanjang waktu bersikap tenggang rasa, damai, dan penuh semangat persaudaraan.

Ketika manusia terikat oleh akhlaq yang demikian, sistem Dajjal, yang didasarkan pada kekerasan, akan hancur sepenuhnya, teror dan kekacauan akan menghilang, dan keadaan kacau yang saat ini menyelubungi dunia akan berakhir. Dalam sebuah ayat, Allah menganjurkan akhlaq tersebut,

"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (al-A'raaf [7]: 199)

Orang-orang yang Terlibat Terorisme atas Nama Agama

Gambar yang berasal dari akhir Abad
Pertengahan ini menunjukkan Louis
IX bertempur bersama 15.000
tentaranya di tepian Sungai Nil.
Akhlaq agama melarang setiap bentuk terorisme, namun demikian, beberapa kelompok teroris masih saja menyatakan mereka bertindak atas nama agama. Akan tetapi, jika seseorang melihat lebih dekat pada pandangan orang-orang yang melakukan pembantaian atau menggunakan kekerasan sebagai jalannya, jelaslah bahwa mereka adalah orang-orang yang menyimpang. Mereka tidak mengetahui kebenaran agama dan tidak mampu untuk hidup di dalamnya serta mengerti akhlaq agama. Setiap orang yang benar-benar percaya pada keberadaan Allah, yang sungguh-sungguh takut kepada-Nya, dan bersandar pada kitab yang telah diturunkan-Nya, tidak akan pernah sanggup mengambil segala bentuk tindakan yang bisa menyakiti orang-orang yang tak bersalah dan tidak bisa membela diri. Karena itulah, orang yang melaksanakan tindak terorisme dan kekerasan atas nama Islam, tidak bisa dikatakan sebagai kelompok agama.

Pesan sesungguhnya dari sebuah agama atau sistem pemikiran lainnya acapkali diselewengkan oleh mereka yang menamakan diri sebagai pengikutnya, atau ditafsirkan secara keliru. Hal tersebut berlaku untuk Yudaisme maupun Kristen. Para tentara Perang Salib, sebagai contoh, adalah orang-orang Kristen Eropa yang berangkat dari Eropa pada akhir abad ke-11 dengan tujuan membebaskan Tanah Suci. Mereka mungkin berangkat dengan tujuan agama, tapi nyatanya mereka menyebarkan ketakutan dan kebiadaban ke mana pun mereka pergi.

Kebiadaban mereka, yang menyalahtafsirkan agama Kristen, yang merupakan agama cinta kasih dan tentunya tidak memberikan ruang untuk kekerasan, jelas sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama sejati sama sekali.

Sebagian besar orang yang menggunakan teror atas nama agama merupakan kelompok-kelompok fanatik yang terkait dengan kepercayaan penyembah berhala atau ajaran-ajaran mistik yang baru muncul, yang sama sekali bukan agama wahyu. Kelompok-kelompok ini, terutama di Amerika dan Jepang, melaksanakan tindakan kekerasan yang mengerikan terhadap anggotanya sendiri dan juga orang lain. Termasuk di dalamnya kelompok-kelompok yang membakar diri mereka sampai mati di sebuah tanah pertanian, atau melakukan bunuh diri massal di tempat tidur, atau orang-orang yang menyakiti orang lain dengan melepaskan gas beracun di jaringan terowongan kereta bawah tanah di Jepang.

Kelompok lainnya yang mulai menarik perhatian karena tindak terorismenya meliputi kelompok rasis fanatik seperti Ku Klux Klan dan kelompok-kelompok neo-Nazi. Selama lebih dari dua puluh tahun terakhir ini, terlihat adanya peningkatan pemikiran rasis dan fasis di kalangan muda, yang telah menyebabkan makin meningkatnya jumlah tindak kekerasan. Serangan-serangan yang ditujukan terhadap orang-orang Turki di Jerman beberapa tahun lalu, penyiksaan dan penyerangan yang ditujukan kepada orang keturunan Asia dan Afrika di negara-negara Eropa lainnya, dan tindak kekerasan terhadap orang berkulit hitam dan Arab masih terjadi di Amerika Serikat hingga hari ini, semuanya bisa disebutkan di antara cara-cara yang digunakan oleh kelompok seperti itu.

Tidak boleh dilupakan bahwa pada akar semua gerakan-gerakan menyimpang, baik yang dibahas dalam tulisan ini maupun yang tidak, terdapat kenyataan bahwa orang-orang seperti itu telah berpaling dari akhlaq agama dan telah dibesarkan tanpa pengetahuan yang benar tentang agama.

Akhlaq yang umum pada agama Islam, Kristen, dan Yahudi amat bertentangan dengan sistem Dajjal, yang dibangun di atas kekerasan dan kebiadaban. Pada akar agama terdapat cinta, perhatian, dan belas kasih. Allah telah memerintahkan kita untuk memperlakukan sesama dengan adil, tenggang rasa, pengertian, belas kasih, dan rasa hormat. Lebih jauh lagi, manusia diwajibkan bersikap seperti itu tanpa memandang agama, bahasa, ras, atau jenis kelamin dari orang yang dihadapinya. Karena itulah, mustahil terdapat kekerasan di dalam masyarakat tempat akhlaq agama berlaku. Akhlaq agama merupakan satu-satunya sistem yang dapat membimbing manusia ke arah kedamaian dan keamanan. Allah mengungkapkan dalam sebuah ayat,

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya, setan itu musuh yang nyata bagimu." (al-Baqarah [2]: 208)

Serangan terhadap World Trade Center dan Pentagon pada 11 September 2001, dianggap sebagai tindak terorisme terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Perang melawan terorisme, sekali lagi, menjadi prioritas karena tewasnya ribuan orang tak bersalah dalam serangan ini.


Semoga bermanfaat...

*source: www.harunyahya.com / info@harunyahya.com
 .
.

2 komentar:

Senin, 13 Februari 2012 19.36.00 WIB Judhianto mengatakan...

Nafsu dan ketamakan hanya mampu membuat orang jahat berbuat kejam.
Tetapi...
Hanya agama yang mampu membuat orang baik dan tulus mengabaikan nurani dan berlaku bagaikan iblis.

Islam Anti Nalar. Benarkah?

Sabtu, 16 Juni 2012 12.16.00 WIB insidewinme mengatakan...

Hari ini kaum Muslimin berada dalam situasi di mana aturan-aturan kafir sedang diterapkan. Maka realitas tanah-tanah Muslim saat ini adalah sebagaimana Rasulullah Saw. di Makkah sebelum Negara Islam didirikan di Madinah. Oleh karena itu, dalam rangka bekerja untuk pendirian Negara Islam, kita perlu mengikuti contoh yang terbangun di dalam Sirah. Dalam memeriksa periode Mekkah, hingga pendirian Negara Islam di Madinah, kita melihat bahwa RasulAllah Saw. melalui beberapa tahap spesifik dan jelas dan mengerjakan beberapa aksi spesifik dalam tahap-tahap itu

Poskan Komentar

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
23