Kisah Keislaman Seorang Cat Stevens (Yusuf Islam)

Kisah seorang artis yang bernama Cat Stevens yang (alhamdulillah) menjadi seorang muslim, kemudian ia dipanggil dengan nama Yusuf Islam. Inilah kisahnya seperti yang ia ceritakan, kami menukilnya secara ringkas.

Aku terlahir dari sebuah rumah tangga Nasrani yang berpandangan materialis. Aku tumbuh besar seperti mereka. Setelah dewasa, muncul kekagumanku melihat para artis yang aku saksikan lewat berbagai media massa sampai aku mengganggap mereka sebagai dewa tertinggi. Lantas akupun bertekad mengikuti pengalaman mereka. Dan benar, ternyata aku menjadi salah seorang bintang pop terkenal yang terpampang di berbagai media massa. Pada saat itu aku merasa bahwa diriku lebih besar dari alam ini dan seolah-olah usiaku lebih panjang daripada kehidupan dunia dan seolah-olah akulah orang pertama yang dapat merasakan kehidupan seperti itu.

Sebelum menjadi seorang muslim.
Namun pada suatu hari aku jatuh sakit dan terpaksa di opname di rumah sakit. Pada saat itulah aku mempunyai kesempatan untuk merenung hingga aku temui bahwa diriku hanya sepotong jasad dan apa yang selama ini aku lakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan jasad. Aku menilai bahwa sakit yang aku derita merupakan cobaan Ilahi dan kesempatan untuk membuka mataku. Mengapa aku berada disini? Apa yang aku lakukan dalam kehidupan ini?

Yusuf Islam Sings Father & Son On BBC with the presence on Sheikh Hamza Yusuf , July 2010 (last.fm).
Setelah sembuh, aku mulai banyak memperhatikan dan membaca seputar permasalahan ini, lantas aku membuat beberapa kesimpulan yang intinya bahwa manusia terdiri dari ruh dan jasad. Alam ini pasti mempunyai Ilah. Selanjutnya aku kembali ke gelanggang musik namun dengan gaya musik yang berbeda. Aku menciptakan lagu-lagu yang berisikan cara mengenal Allah. Ide ini malah membuat diriku semakin terkenal dan keuntungan pun semakin banyak dapat aku raih. Aku terus mencari kebenaran dengan ikhlas dan tetap berada di dalam lingkungan para artis. Pada suatu hari temanku yang beragama Nasrani pergi melawat ke masjidil Aqsha.

Ketika kembali, ia menceritakan kepadaku ada suatu keanehan yang ia rasakan di saat melawat masjid tersebut. Ia dapat merasakan adanya kehidupan ruhani dan ketenangan jiwa di dalamnya.

Hal ini berbeda dengan gereja, walau dipadati orang banyak namun ia merasakan kehampaan di dalamnya. Ini semua mendorongnya untuk membeli al-Qur’an terjemahan dan ingin mengetahui bagaimana tanggapanku terhadap al-Qur’an. Ketika aku membaca al-Qur’an aku dapati bahwa al-Qur’an mengandung jawaban atas semua persoalanku, yaitu siapa aku ini? Dari mana aku datang? Apa tujuan dari sebuah kehidupan? Aku baca al-Qur’an berulang-ulang dan aku merasa sangat kagum terhadap tujuan dakwah agama ini yang mengajak untuk menggunakan akal sehat, dorongan untuk berakhlak mulia dan akupun mulai merasakan keagungan Sang Pencipta.

Semakin kuat perasaan ini muncul dari jiwaku, membuat perasaan bangga terhadap diriku sendiri semakin kecil dan rasa butuh terhadap Ilah Yang Maha Berkuasa atas segalanya semakin besar di dalam relung jiwaku yang terdalam.

Pada hari Jum’at, aku bertekad untuk menyatukan akal dan pikiranku yang baru tersebut dengan segala perbuatanku. Aku harus menentukan tujuan hidup. Lantas aku melangkah menuju masjid dan mengumumkan keislamanku.

Aku mencapai puncak ketenangan di saat aku mengetahui bahwa aku dapat bermunajat langsung dengan Rabbku melalui ibadah shalat. Berbeda dengan agama-agama lain yang harus melalui perantara.

Yusuf Islam dalam arsip foto 10 Juli 2007 menggendong cucunya didampingi istri tercinta Fauzia Islam (kanan) dan putri kandungnya Asmaa Islam ketika dia menerima anugerah kehormatan atas sumbangsihnya terhadap kemanusiaan dari Universitas Exeter di Devon, selatan Inggris.

Demikianlah Yusuf Islam memeluk agama Islam. Setelah masuk Islam ia tidak hanya duduk di tempat ibadah menyembah Allah yang telah menguasai hatinya dengan kecintaan, namun ia melakukan aktifitas untuk kemaslahatan agama ini. Ia ikut andil di dalam berbagai lembaga dan yayasan Islam yang bergerak di bidang dakwah dan sosial. Semoga Allah memberinya ganjaran yang baik atas sumbangsih yang telah ia berikan kepada kita, agama Islam dan kaum muslimin.

Subahanallah..saya sendiri menjadikan nada dering ponsel dengan lirik-lirik Yusuf Islam, Sungguh..tidaklah ALLAH Subhana wa Ta’ala memandang status sosial,ras, warna kulit, jabatan dan lain sebagainya untuk beroleh hidayah-Nya. Sesungguhnya..ALLAH menunjuki orang-orang yang Ia kehendaki, sedang ALLAH tiada akan menunjuki orang-orang yang aniaya.

Cat Stevens Into Yusuf Islam - Interview in Dublin (diupload 12 Januari 2010)

*Sumber: Serial Kisah Teladan, oleh Muhammad Shalih al-Qahthani, penerbit DARUL HAQ, telp. 021-4701616 via tausyah.wordpress.com
.
.

Benarkah Kita Sudah Mengenal Diri Sendiri?

Dalam pergaulan kerap ditemui orang yang persepsi tentang dirinya sendiri tidak klop dengan kenyataan. Tapi umumnya orang mengatakan, saya paham betul siapa dirinya.

“Semakin tua orang diharapkan semakin matang. Bisa diibaratkan seperti bawang, yang terkelupas kulitnya satu per satu, sehingga tidak perlu membentengi dirinya dengan segala macam kebohongan atau kepura-puraan. Ia tak perlu topeng, sehingga hidupnya lebih enak, lebih ringan, karena menjadi diri sendiri.”
“Semakin tua orang diharapkan semakin matang. Bisa diibaratkan seperti bawang, yang terkelupas kulitnya satu per satu, sehingga tidak perlu membentengi dirinya dengan segala macam kebohongan atau kepura-puraan. Ia tak perlu topeng, sehingga hidupnya lebih enak, lebih ringan, karena menjadi diri sendiri.”
Tapi tidak demikian dengan Bu Intan. Ia tak pernah menampilkan diri apa adanya. Wanita pintar berambut lebat ini lebih suka menarik diri dari pergaulan karena tidak bisa berbahasa Inggris.

“Dibanding teman-teman, saya bukan apa-apa,” katanya. Ia minder, merasa dirinya tidak pantas diperhitungkan dan tempatnya di belakang, karena tidak pernah bisa berkomunikasi jika ada tamu bule. Maka Bu Intan selalu menyingkir atau pura-pura sakit jika harus bertemu orang dari negara lain.

Padahal teman-temannya tidak pernah menganggapnya remeh. Bu Intan bahkan sangat disukai dan dihormati, karena ia orang yang paling teliti dalam pekerjaan. Ia juga pendengar yang baik, sehingga menjadi tempat curhat teman-temannya.

Sayangnya hal-hal positif itu tidak dianggapnya penting, dan dia lebih menampilkan dirinya sebagai orang yang nilainya lebih rendah. Padahal, banyak orang lain yang tidak bisa bahasa Inggris tetap sukses dalam pekerjaan dan pergaulan.

Ini berkebalikan dengan Pak Badu, sebutlah begitu. Anak muda yang belum lama masuk dunia politik ini, menilai dirinya terlalu besar. Dengan posisi politik dan kedudukannya sebagai anggota DPR, ia mengira bisa mengatur negara dan menentukan ini itu seperti yang diinginkannya.

Di hadapan rekan-rekannya dalam suatu acara reuni misalnya, dia bisa berkata, “Oh, gampang itu. Saya akan atur nanti supaya si Itu dilepaskan dari kabinet dan diganti dengan si Ini.”

Dalam acara dengar pendapat dengan seorang penegak hukum yang reputasi, integritas, dan moralnya sangat bagus dia berkata, “Saya ingin menguji Saudara….,” atau bahkan, “Saya ingin menasihati Saudara….”

Mendengar itu semua, teman yang mengenal Pak Badu terheran-heran. “Dia itu siapa, kok, berani-beraninya bicara begitu kepada orang tua yang sangat disegani itu.” Temannya yang lain berkomentar, “Kasihan betul Badu ini, dia sudah tidak kenal lagi siapa dirinya.”

Kenyataan dan Asumsi

Mengapa orang bisa seperti itu? Mengapa harus membohong terus? Mungkin mereka dan bahkan kita sendiri mencoba tampil seperti yang kita kira bagus, tapi sebetulnya tidak sesuai dengan kenyataan diri kita.

Lalu, siapa diri kita sebenarnya? Apa yang kita tahu betul tentang diri kita? Apakah kita tahu tentang kelemahan dan kekuatan kita? Dan apa yang kita kira kita tahu tentang diri sendiri itu lantas terbukti atau sesuai dengan kenyataan? Kalau itu kelebihan, apakah orang lain juga mengakuinya? Dan kalau itu kita kira sebagai kekurangan, apakah orang lain juga mengakui itu kekurangan kita?

Semakin mendekati jarak antara kenyataan dengan apa yang kita asumsikan tentang diri kita, itu berarti baik karena kita mengenal diri sendiri. Begitu pula sebaliknya. Semakin jauh jarak antara kenyatan dengan apa yang kita perkirakan tentang diri sendiri, artinya buruk sekali pengenalan diri kita.

Apa akibatnya jika orang tidak kenal dirinya, sehingga jarak antara asumsi dan kenyataan tentang diri sendiri begitu jauh? Tak bisa lain, orang itu harus terus berusaha mengingkari kenyataan tentang dirinya. Barangkali dalam kenyataan sehari-hari muncul dan sering kita temui dalam bentuk over compensation, membual, melebih-lebihkan, atau bahkan mengecilkan orang lain untuk meninggikan diri sendiri, berbohong dan seterusnya jika merasa dirinya paling hebat. Ia tidak berpijak pada kenyataan, sehingga dalam bekerja biasanya hanya omong doang.

Begitu pula sebaliknya orang yang mengira diri sendiri negatif, akan sangat minder, menarik diri dari pergaulan, mengurung diri, tidak mau melakukan apa pun. “Apalah artinya saya, siapa yang mau mendengarkan saya,” adalah contoh ungkapan yang sering diucapkan orang dengan persepsi diri negatif. Orang ini sebetulnya sangat tertekan pada kelemahan dirinya.

Baik yang menilai dirinya terlalu tinggi maupun terlalu rendah, keduanya tidak sesuai kenyataan dan itu berarti jelek. Hal ini secara mental atau psikologis tidak sehat. Orang yang selalu pakai kedok akan capek, lalu memberikan stres yang besar pada diri sendiri.

Solusi

Dalam psikologi ada konsep yang disebut Johari Window atau Jendela Johari, yang menggambarkan pengenalan diri kita. Ada empat jendela dalam Jendela Johari.

(1) Jendela terbuka. Hal-hal yang kita tahu tentang diri sendiri, tapi orang lain pun tahu. Misalnya keadaan fisik, profesi, asal daerah, dan lain-lain.
(2) Jendela tertutup. Hal-hal mengenai diri kita yang kita tahu tapi orang lain tidak tahu. Misalnya isi perasaan, pendapat, kebiasaan tidur, dan sebagainya.
(3) Jendela buta. Hal-hal yang kita tidak tahu tentang diri sendiri, tapi orang lain tahu. Misalnya hal-hal yang bernilai positif dan negatif pada kepribadian kita.
(4) Jendela gelap. Hal-hal mengenai diri kita, tapi kita sendiri maupun orang lain tidak tahu. Ini adalah wilayah misteri dalam kehidupan.

Semakin besar daerah/jendela terbuka kita akan semakin baik, karena berarti kita mengenal diri secara baik. Orang yang memiliki daerah tertutup lebih besar akan mengalami kesulitan dalam pergaulan. Adapun mereka yang memiliki daerah buta sangat besar, bisanya akan membuat orang lain merasa kasihan.

Kepada orang yang kita kenal dekat, jendela itu harus dibuka semakin besar, juga bila kita ingin bekerjasama dengan orang lain. Bagaimana membuka jendela? Bagaimana kita bisa kenal diri sendiri? Bagaimana kita memiliki jendela terbuka yang semakin besar?

1. Bersedia menerima umpan balik, secara verbal maupun non-verbal.
a. Bersedialah untuk menerima kritik, saran dan pendapat dari orang lain tentang diri kita. Kalau ada orang yang memberikan kritik sangat pedas, ada baiknya dikaji. Jika merasa tidak benar, tanyakan, mengapa dia mengungkapkan hal itu, cari klarifikasi, dan bukan membalas menghajarnya atau mengkritik balik. Kritik adalah bentuk umpan balik yang berisi informasi negatif tentang diri kita, yang mungkin kita anggap kelemahan. Harusnya kritik itu berisi saran, karena kritik itu berarti menunjukkan kesalahan dan harus bisa memberitahu bagaimana jalan keluarnya

b. Kita juga harus mau lebih membuka diri. Ungkapkan kalau ada uneg-uneg, kekesalan, kejengkelan dan sebagainya. Bisa lisan bisa tertulis harus diungkapkan terus terang. Bisa juga kita membuka kekuatan atau kelemahan diri kita,dibagi kalau berupa kekuatan. Ini cara supaya orang lain lebih mengenali diri kita, dan kita pun makin tahu tentang diri sendiri. Kita tidak mungkin mengenali diri sendiri hanya dari muka cermin, tapi juga melalui orang lain supaya kita mendapat gema atau echo dari orang lain.

2. Bagaimana cara kita membuka diri?
Banyak bergaul, berteman baik, memperluas hubungan interpersonal dan berkomunikasi. Dengan cara ini kita akan mendapat masukan dari banyak orang. Semakin luas pergaulan akan mendapat masukan lebih banyak mengenai diri kita. (Widya Saraswati/KOMPAS.COM)

.
.

Sebuah Realita Kehidupan

Saat aku meloncat dari gedung..


Kulihat pasangan yang kutahu saling mencintai di lantai 10 sedang bertengkar dan saling memukul.


Kulihat Peter yang biasanya kuat dan tabah sedang menangis di lt.9.


Di lt.8 Ah Mei memergoki tunangannya sedang bercinta dengan sahabatnya.


Di lt.7 Novi sedang minum obat anti depresi.


Di lt.6 Heng yang pengangguran terus membeli 7 koran untuk mencari lowongan kerja tiap hari.


Di lt.5 Mr. Wong yang sangat dihormati publik sedang mencoba baju dalam istrinya.


Di lt.4 Rosa bertengkar lagi dengan pacarnya.


Di lt.3 Pak Tua sedang mengharapkan seseorang datang mengunjunginya.


Di lt.2 Lily sedang memandangi foto suaminya yang sudah meninggal 6 bulan lalu.


Sebelum aku melompat dari gedung, kupikir aku orang yang paling malang.


Sekarang aku sadar bahwa setiap orang punya masalah dan kekuatirannya sendiri.


Setelah kulihat semuanya itu, aku tersadar bahwa ternyata keadaanku sebenarnya tidak begitu buruk.


Semua orang yang kulihat tadi sekarang sedang melihat aku…


Kurasa setelah mereka melihatku sekarang, mungkin mereka merasa bahwa situasi mereka sama sekali tidak buruk.

Pesan Moral:
Be grateful for whoever you are….coz if u compare it to others, u’ll be suprised of their secret life “  
“Bersyukurlah atas dirimu apa adanya… karena bila kamu membandingkan dengan orang lain, kamu akan “terkejut” dengan rahasia hidup mereka”

Dan..
Cintailah dirimu, walaupun seberapa berat masalah yang menimpamu. Kamu tetaplah berharga di mata-Nya. dan Kamu bisa menjadi alat yang dipakai-Nya, untuk memberikan manfaat bagi umat manusia. Kamu bisa menjadi sumber inspirasi bagi mereka yang membutuhkannya. 

Salam.
.
.

Ternyata Ibu Seorang Pembohong


Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :
“Makanlah nak, aku tidak lapar” ———-KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata :
“Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :
“Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :
“Minumlah nak, aku tidak haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata :
“Saya tidak butuh cinta” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata :
“Saya punya duit” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku
“Aku tidak terbiasa” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata :
“Jangan menangis anakku,Aku tidak kesakitan” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.
Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu ! ”

Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah- tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu- alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan dan ibu yang ada di rumah.

Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.

Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi..

Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” kemudian hari.

Semoga menjadi renungan bagi kita semua, betapa besar jasa seorang ibu bagi kita.
.
.


Why Women Cry...

Photo by Sara LeeAnn Banevedes
Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya pada ibunya. "Ibu,
mengapa Ibu menangis?". Ibunya menjawab, "Sebab aku wanita".
"Aku tak mengerti" kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan
memeluknya erat. "Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti...."

Kemudian anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa Ibu menangis?
"Ibu menangis tanpa sebab yang jelas".
sang ayah menjawab, "Semua wanita memang sering menangis tanpa alasan".
Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.

Sampai kemudian si anak itu tumbuh menjadi remaja, ia tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.
Hingga pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan, "Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?"

Dalam mimpinya ia merasa seolah Tuhan menjawab, "Saat Kuciptakan wanita,
Aku membuatnya menjadi sangat utama.
Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Shoko Tendo, putri seorang Yakuza asli penulis buku Yakuza Moon. Berjuang untuk menemukan eksistensi dirinya diantara hitam dan putih kehidupan.
Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau kerap berulangkali ia menerima cerca dari anaknya itu.

Kuberikan keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah saat semua orang sudah putus asa.

Kepada wanita, Kuberikan kesabaran untuk merawat keluarganya walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi dan situasi apapun.
Walau acapkali anak-anaknya itu melukai perasaan dan hatinya.

Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang mengantuk menahan lelap.
Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya melalui masa-masa sulit dan menjadi pelindung baginya.
Sebab bukannya tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak.

Kuberikan kepadanya kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya.
Walau seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap berdiri sejajar, saling melengkapi dan saling menyayangi.

Dan akhirnya Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya.

Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapan pun ia inginkan.
Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya air mata ini adalah air mata kehidupan".
.
.

Belajar dari Kebohongan

Pada suatu malam, terjadi kecelakaan di sebuah desa. Sebuah minibus yang ditumpangi 10 orang terbalik berguling-guling di sebuah tingkungan tajam. Beberapa penduduk desa yang menyaksikan kecelakaan itu mengabarkan kepada penduduk yang lain dan mengajak mereka untuk menolong para penumpang yang ada dalam mobil. Kepala desa pun ikut serta. Tetapi, setelah mereka memeriksa semua penumpang, mereka berkesimpulan semua penumpang tewas dan harus dikubur malam itu juga.

Keesokan harinya, datang beberapa orang bersama polisi ke desa itu. Mereka mendatangi kepala desa dan bertanya tentang kecelakaan tadi malam. Kepala desa menceritakan kejadiannya, termasuk peristiwa pengurburan para penumpang minibus.

Polisi bertanya, “Apa penumpang-penumpang itu langsung meninggal semua?” Kepala desa menjawab, “Sebenarnya ada satu orang yang ketika akan dikubur masih bergerak dan bilang “Saya masih hidup”, tapi kami sudah lihat KTP-nya. Pekerjaan mereka politikus. Jadi mana kami percaya omongannya.”

***

Anekdot ini sudah lama beredar di masyarakat Indonesia dan sering diceritakan terutama pada masa Orde Baru untuk mengungkapkan ketidakpercayaan masyarakat pada politikus, baik anggota DPR/MPR maupun pejabat negara. Politikus menjadi obyek prasangka masyarakat, bahwa mereka suka bohong.

Setelah jatuhnya Soeharto pada Mei 1998, anekdot semacam ini sempat menghilang dari percakapan. Tetapi belakangan ini anekdot sejenis itu muncul lagi. Ada keraguan di masyarakat terhadap keseriusan pemerintah memperjuangkan kesejahteraan rakyat, juga keraguan terhadap kesungguhan para anggota DPR mewakili rakyat. Secara serius tuduhan kebohongan ditujukan kepada pemerintah dan anggota DPR, salah satunya disampaikan oleh tokoh-tokoh agama.

Pemerintah Dituduh Berbohong

Sekelompok agamawan menilai pemerintahan SBY saat ini telah melakukan kebohongan publik. Segala pernyataannya, tidak sama dengan kondisi yang nyata. Setidaknya ada 9 kebohongan yang dilakukan oleh pemerintah. Dinyatakan bahwa angka kemiskinan turun menjadi 31,02 juta orang tetapi jumlah penerima beras miskin justru 70 juta orang. Sementara, jumlah anggota masyarakat yang menerima jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas), sebuah program kesehatan untuk masyarakat miskin, berjumlah 74, 6 juta.

Itu adalah contoh kebohongan yang membuat kelompok agamawan itu ‘gregetan.’ Mereka menambahkan, janji dalam penuntasan kasus pelanggaran HAM, seperti penuntasan kasus Munir, juga tidak pernah diwujudkan. Bahkan, kasus pelanggaran HAM juga masih kerap terjadi sampai detik ini.

Tokoh lintas agama antara lain Din Syamsuddin berdialog dengan Presiden SBY dan jajaran menteri di Istana Negara, Senin (17/1/2011). Foto: TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN
Pernyataan kelompok tokoh agama itu, ternyata cukup membuat kuping pemerintah panas. Mereka mengaku tidak pernah berbohong. Pertanyaannya, kenapa pemerintah langsung memberikan reaksi ketika dikatakan bohong? Kenapa tidak cukup bereaksi, ketika mahasiswa, aktivis menyatakan bahwa pemerintahan SBY telah gagal. Bisa jadi, anggapan bohong ini, bisa meluluhlantakkan pencitraan yang selama ini telah dibangun. Kita sering mendengar para pengamat politik bilang, Presiden keenam Indonesia ini mengedepankan politik pencitraan.

Presiden SBY.
Jika tuduhan kelompok tokoh agama itu terbukti maka persoalan besar dihadapi oleh Pemerintahan SBY. Sejarah menunjukkan, kebohongan yang sepertinya merupakan cara untuk menampilkan citra baik dan mempertahankan kekuaaan, pada ujungnya justru menjadi penggugah kemarahan rakyat untuk menurunkan penguasa. Peribahasa mengatakan, “Sekali lancung di ujian, seumur hidup orang tak percaya.” Berbohong, sebagai satu bentuk perilaku curang, punya akibat ketakpercayaan orang lain terhadap pelakunya.

Kebohongan Untuk Mempertahankan Kekuasaan

Banyak kalangan menilai, dalam 32 tahun memimpin Indonesia, selain otoriter Soeharto juga sering membohongi publik dengan bermain istilah dan merekayasa sejarah. Salah satunya melalui pemutaran film G 30 S/PKI dari tingkat sekolah dasar sampai atas. Melalui pemutaran film setiap 30 November atau 1 Oktober selama bertahun-tahun, salah satunya, konstruksi kenyataan politik tertentu disebarluaskan dan dipertahankan dalam benak kebanyakan orang Indonesia.

Soeharto saat masih berkuasa.
Belakangan, setelah lengser dari kursi jabatan, publik baru sadar bahwa sejarah yang dimunculkan dalam film itu adalah tak sesuai kenyataan. Tidak hanya itu, Soeharto juga telah membodohi masyarakat dengan istilah pembangunan dan demokrasi. Isu kestabilan ekonomi juga selalu dikedepankan ke publik. Padahal, semua itu dibangun berdasarkan data-data yang dimanipulasi. Faktanya, masyarakat yang kritis, langsung dibungkam. Pers dipaksa menjadi ‘anjing penjaga’ pemerintah; dipaksa untuk selalu memberitakan kebaikan dan kemajuan, memaparkan berita bohong.

Kini, di Mesir, telah menjadi pembuktian baru. Bahwa orde kebohongan akan berujung pada kehancuran. Hosni Mubarak, selama hampir 30 tahun memimpin negerinya dengan otoriter. Korupsi merajalela dan kebohongan pemerintah disebar di seluruh penjuru negeri. Tetapi, ternyata hal itu tidak cukup membendung gejolak jutaan rakyat, untuk menggulingkan tahta yang telah dibangun puluhan tahun. Ketika Mubarak, menawarkan akan adanya reformasi politik di negeri Mesir, ternyata publik tidak menggubrisnya sebab bukan sekali-dua kali ia berbohong tentang hal itu. Jutaan rakyat turun ke jalan, menuntut agar ia “turun tahta”.

Menghindari Perilaku Berbohong

Di dunia anak, kita mengenal tokoh Pinokio. Hidung boneka kayu yang berubah menjadi manusia itu terus memanjang saat ia berbohong. Tokoh ini pula kerap dijadikan contoh oleh orang tua dalam mengajar anak-anaknya untuk tidak berbohong. "Jangan suka bohong ya nak, nanti hidungnya panjang seperti Pinokio." Dalam kenyataan, meski efeknya tak langsung seperti memanjangnya hidup pinokio, berbohong membawa pelakunya pada situasi buruk. Konsekuensi negatif akan diterima oleh orang-orang yang berbohong, setelah sebelumnya merugikan orang yang dibohongi.

Boneka hidup Pinokio (Pinocchio).
Ada pertanyaan: Mana yang harus dipilih, bohong untuk kebaikan (white lies = kebohongan putih) atau jujur tapi menyakitkan? Dihadapkan pada dua pilihan ini, orang sering sulit memilih. Bicara jujur atau bohong, kelihatannya sama-sama sulit untuk dilakukan.

Menurut psikologi, disadari atau tidak, bohong merupakan mekanisme pertahanan diri yang paling umum dan mudah. Orang berbohong bisa jadi karena tidak percaya kepada orang lain, bisa juga karena orang tak siap menghadapi kenyataan yang sesungguhnya, atau itu dianggap hal yang tidak berbahaya dan jadi kebiasaan. Bisa juga orang berbohong karena tidak ingin menyakiti hati orang lain.

Apapun alasannya, bohong merupakan masalah dan bukan hal yang baik. Tidak ada orang yang mau dibohongi, bahkan jika pun itu menurut pelakunya ditujukan demi kebaikan. Akan lebih menjadi masalah lagi jika kebohongan itu terkait dengan kepentingan publik karena yang dikecewakan adalah banyak orang.

Apapun maksud kebohongan, itu tak bisa dibenarkan. Satu kebohongan bisa memicu kebohongan-kebohongan lain. Seperti kata pepatah, kejujuran tetap merupakan kebijakan terbaik. Kejujuran membuat semua hal yang tertutup menjadi terbuka, yang jelek dapat diperbaiki, dan menjadi dasar dari kehidupan bersama yang kuat. Jika terlanjur berbohong, cara mencegah itu berlanjut adalah dengan mengakuinya dan tidak mengulanginya. Misalnya, jika pemerintah dinilai bohong oleh tokoh agama maka sebaiknya tidak dibalas dengan kebohongan baru, melainkan dengan kejujuran.

Kita perlu belajar dari kebohongan orang, dari kebohongan penguasa-penguasa yang dijatuhkan rakyatnya. Kebohongan, biarpun ditutup rapat-rapat, akan tercium juga. Dan ketika orang lain menemukan kita berbohong mereka akan menjauhi dan mengabaikan kita. Apapun yang kita katakan, tak akan dipercaya, seperti politikus dalam anekdot di atas yang biarpun masih hidup tetapi dikubur karena orang-orang tak lagi percaya padanya. Kita patut belajar dari kisah Pinokio, kejatuhan Soeharto dan penentangan terhadap Hosni Mubarak: bohong membawa petaka. (sminet/0013)

*srimulyani.net
.
.

Guru Berhati Emas yang Melacur demi Murid-muridnya

Cina dihebohkan dengan sebuah temuan mencengangkan dan mengharukan. The Death Of The Teacher-Prostitute. Karakter utama adalah guru wanita cantik yang melacurkan dirinya dalam rangka untuk mengumpulkan uang atas nama pendidikan. Setelah kematiannya, murid-muridnya mengadakan konferensi pers untuknya.

Berikut adalah inti dari kisah Yin CaiXia. Ia dilahirkan di sebuah pedesaan di provinsi Gansu. Karena kemiskinan keluarganya, dia putus tahun kedua setelah sekolah tinggi. Ketika ia menemukan bahwa sebuah SD swasta lokal itu kondisinya sangat kritis dan memprihatinkan, ia menawarkan jasa di sana untuk mengajar secara gratis. Pada pertama kalinya ia masuk kelas, para siswa tersipu karena mereka belum pernah melihat guru secantik yang satu ini. (Zhengzhou Evening News)
 
Begini ceritanya, nama guru tersebut Yin CaiXia...

Xia tinggal di desa kecil di propinsi Gansu. Awalnya dia bukan pelacur. Setiap penduduk di desa tersebut tidak mengerti kenapa seorang gadis secantik Xia yang mempunya paras tubuh yang indah dan rupa yang menawan tidak melakukan seperti gadis-gadis lainnya. Karena Xia menolak akan hal ini, ayahnya Xia selalu menghukum dia. Suatu hari Xia mendengar bahwa sebuah sekolah di desa membutuhkan jasa seorang guru Xia langsung dengan sukarela menjadi seorang guru dengan tanpa imbalan.

Pas hari pertama Xia masuk ke sekolah menjadi seorang guru, setiap murid kaget dan terpukau akan kecantikan guru baru mereka Sejak saat itu kelas selalu menjadi penuh dengan canda tawa setiap murid. Kelas mereka lebih layak untuk di sebut sebagai tempat penampungan daripada bangku-bangku sekolah yang normal. Dalam kondisi kelas yang sekarat ini, Xia mengajarkan beribu-ribu kata-kata Chinese dan pengetahuan lainnya kepada murid-muridnya Suatu hari badai besar menghancurkan kelas mereka semua, murid tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Lalu kepala sekolah datang ke kota untuk merundingkan hal tersebut dengan walikota yang mengurus budget bagian pendidikan agar memberikan sumbangan uang untuk membetulkan sekolah mereka akan tetapi kepala sekolah kembali dengan tangan kosong. Kepala sekolah mengatakan kepada Xia bahwa walikota akan memberikan uang kalau hanya Xia yang datang kepada dia dan meminta uang kepadanya secara personal, Xia yang tidak pernah keluar dari desa dan meninggalkan rumahnya dan tidak pernah bertemu dengan walikota sebelumnya, telah memutuskan untuk berangkat dari rumah untuk mengunjungi sang walikota. Sebelumnya Xia kwatir kalo kunjungan dia akan mengacaukan suasana, akan tetapi dia tetap memutuskan pergi demi murid-muridnya.

Xia berjalan lebih dari 10 km untuk ke kantor sang walikota setelah sampai, Xia duduk di depan kantor yang bagus di ruangan sang walikota. Setiba nya di kantor, sang walikota menyambut kedatangan Xia dengan sepasang mata pemburu yang haus akan Xia dan mununjukan tangannya ke sebuah ruangan dan mengatakan: "Uang kamu ada di kamar tersebut, kalau kamu mau, kamu ikuti aku." Xia melihat sebuah ruangan dengan ranjang yang besar, ranjang tersebutlah yang telah merenggut keperawanan Xia, sang walikota telah memperkosa Xia. Darah segar dari keperawannannya telah meninggalkan bekas dan jejak di sprei darah merah tersebut menjadi lebih merah daripada warna bendera national China. Xia tidak menangis sedikitpun yang ada di pikirannya adalah berpuluh-puluh mata murid-muridnya yang akan kecewa kalau tidak ada kelas buat mereka belajar.

Setelah itu Xia bergegas balik ke rumah yang gelap dan tidak memberi tahu kepada seorang pun tentang kejadian tersebut. Hari berikutnya, para penduduk membeli kayu dan membetulkan kondisi kelas. Akan tetapi kala ada hujan yang deras, kelas tersebut tetap tidak bisa di gunakan. Xia mengatakan kepada murid muridnya bahwa walikota akan membangun sebuah sekolah yang bagus buat mereka. Dalam kurang lebih 6 bulan, kepala sekolah mengunjungi walikota 10x akan tetapi tetep tidak diberikan dana yang dijanjikan kepada mereka. Hanya walikotalah yang tau apa yang telah terjadi pada Xia akan tetapi tidak bisa berbuat banyak tentang itu.

Pada saat semester baru berganti, banyak murid yang tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena biaya dan mereka harus membantu orang tuanya untuk bekerja. Jumlah muridnya berkurang dan bekurang. Xia sangat sedih akan kondisi seperti itu. Ketika Xia mengetahui bahwa harapan murid-muridnya telah hilang bagaikan asap, dia lalu kembali ke kamarnya. Xia membuka bajunya, dan melihat tubuh telanjangnya di depan cermin. Xia bersumpah akan memakai tubuhnya yang indah untuk mewujudkan impian dari murid-muridnya untuk bisa kembali sekolah. Xia tau semua gadis dari desa bekerja sebagai pelacur di kota untuk mencari uang dan itu cara yang gampang untuk dia untuk mendapatkan uang. Dia membersihkan dirinya dan mengucapkan selamat tingal kepada kepala sekolah, ayah dan sekolah.

Dia mengikat rambutnya dengan kuncir dua dan berjalan menuju kota. Ketika dia berangkat ke kota, ayahnya tersenyum bangga akan tetapi kepala sekolah menangis sedih akan pilihan yang Xia lakukan. Di dalam glamor kehidupan kota, Xia tidak senang sama sekali dia menderita, dalam benak pikirannya, hanya ada sebuah kelas yang hancur dan keprihatian dan kesedihan dan kekecewaan expresi dari murid muridnya. Xia masuk kesebuah salon, berbaring di ranjang yang kotor dan menderita kerja kotor yang kedua di dunia percabulan. Malam itu di dalam diary-nya Xia menulis Sang walikota tidak bisa di bandingkan dengan tamu pertamanya lebih parah dan lebih kejam akan tetapi paling tidak tamunya telah membayar dan memberi uang.

Ilustrasi: Linxia City, provinsi Gansu
Xia mengirimkan semua uang penghasilannya kepada kepala sekolah dengan mengirit-irit biaya untuk hidupnya dengan harapan bisa mengirim lebih banyak lagi ke kepala sekolah. Sang kepala sekolah menerima uang tersebut dan mengikuti untuk menggunakan uang untuk membangun sekolah. Ketika setiap orang yang menanyakan sumber uang tersebut, sang kepala sekolah hanya menjawab bahwa di dapat dari donasi dari organisasi sosial. Akan tetapi seiring waktu, penduduk mengetahui bahwa sumber dana dari seorang mantan guru yang bernama Xia. Banyak reporter yang ingin meliputi berita ini akan tetapi di tolak oleh Xia dengan alasan bahwa dia hanya seorang pelacur biasa.Dengan uang tersebut, sekolah telah berubah drastis.

Bulan pertama, ada papan tulis baru.
Bulan kedua, ada bangku kayu dan bangku.
Bulan ketiga, setiap murid mempunyai buku masing-masing.
Bulan keempat, setiap murid mempunya dasi masing-masing.
Bulan kelima, tidak ada seorang muridpun yang datang ke sekolah tanpa alas kaki.

Bulan keenam, Xia kembali mengunjungi sekolah Xia disambut dengan gembira, dan para murid menyapa, "Guru, kamu telah kembali guru, kamu cantik sekali." Melihat kegembiraan dari para murid muridnya, Xia tidak berkuasa untuk menangis, tidak peduli berapa banyak air mata yang di teteskannya dan berapa banyak derita, keluh kesah dan kisah sedih yang dia lalui dalam 6 bulan, Xia merasakan semua kisah sedih dan penderitannya itu sangat seimbang dan pantas untuk harga yang dia bayar untuk melihat apa yang Xia lihat saat itu. Setelah beberapa hari di rumah, Xia kembali ke kota.

Pada bulan ketujuh, sekolah telah mempunyai lapangan bermain yang baru.
Pada bulan kedelapan, sekolah membangun lapangan basket.
Pada bulan kesembilan, setiap murid mempunya pensil yang baru.
Pada bulan kesepuluh, sekolah mempunya bendera nasional sendiri, setiap murid bisa menaikan bendera setiap harinya.

Hingga suatu waktu Xia dikenalkan kepada seorang businessman. Sang pengusaha luar asing bersedia membayar 3000 rmb buat satu malam. Dengan pikiran yang lelah yang telah dia lalui beberapa tahun lalu, Xia dengan lelah menuju hotel sang pengusaha asing. Dia bersumpah bahwa itu adalah pekerjaan kotor yang terakhir bagi dia dan setelah itu dia akan kembali ke desa dan bersama murid-muridnya di sekolah. Akan tetapi nasib berkata lain sungguh tragis, telah terjadi malam itu dimana Xia bersumpah untuk terakhir kali nya, Xia diperkosa dan di siksa hingga terbunuh oleh 3 pengusaha asing tersebut. Xia baru saja bertambah umur nya menjadi umur 21 tahun.

Xia saat itu juga meninggal tanpa mencapai keinginan yang terakhir, yaitu untuk membangun satu kelas bagus dengan 2 komputer yang bisa digunakan oleh murid-muridnya.

"Guru Yin, kami mencintaimu."
Seorang pelacur telah meninggal dunia, keheningan yang dipenuhi air mata. Saat itu langit kota ShenZen masih berwarna biru seperti lautan. Para murid-murid, guru-guru, dan beberapa ratus penduduk menghadiri acara pemakaman Xia di desa kecil di provinsi bernama Gansu tersebut. Pada saat itu, semua hanya bisa melihat foto hitam putih dari Xia dalam foto itu Xia mengikat rambutnya menjadi dua dengan senyuman bahagia. Kepala sekolah membuka diary Xia dan membacakanya di depan para murid-muridnya dan Xia menulis: "Sekali melacur, bisa membantu satu anak yang tidak bisa sekolah. Sekali menjadi wanita simpanan, bisa membangun sebuah sekolah yang telah hilang harapan." Bendera setengah tiang dikibarkan.

*mixing: chillinaris
.
.

Mama Belikan Aku BH

Aku gundah di dalam kamar, aku malas ke sekolah. Bukan karena aku anak pemalas. Tapi karena hari ini hari Jum'at. Hari dimana ada pelajaran olahraga di jam kedua.

Aku bukan malas olahraga, aku juga tidak membenci sinar matahari pagi yang bikin aku berkeringat, juga bukan benci gerakannya, apalagi benci sama guru olahragaku yang baik.

Tapi sekarang aku sudah kelas 5 SD. Aku tak tau kenapa, setiap ganti baju bersama teman-teman di kelas atau di belakang WC, aku selalu malu. Malu dengan teman-temanku yang selalu menanyakan kenapa aku belum memakai Miniset, BH untuk anak kecil.

Semua temanku sudah memakainya, ada yang berwarna coklat, ada yang berwarna putih, ada yang berenda, ada yang polos, dan ada yang bergambar Mickey Mouse. Mereka tampak pede berganti pakaian beramai ramai. Sedang aku memilih di sudut kelas, berganti pakaian, sambil menutup tubuh depanku dengan kemeja yang barusan kupakai tadi.

Mimi teman sebangku ku berteriak,

Kenapa jauh-jauh gantinya, kan bangku kamu disini?
Tidak apa-apa, hanya saja aku tidak terbiasa ganti baju beramai-ramai jawabku
Kamu belum pake miniset ya? Tanya Mimi
Belum. Aku menunduk sambil terus melonggarkan kaos olahraga sekolah.
Jadi kamu cuman pake singlet aja di dalem?
Iya, udah yuk keluar udah sepi jawabku mengalihkan perhatiannya untuk tidak terus bertanya

Perubahan fisikku memang belum terlihat nyata, hanya sedikit menyembul saja. Tapi Mama bilang belum perlu, atau mungkin Mama belum punya kelebihan uang untuk itu. Aku tau untuk baju sekolah dan baju sehari-hari saja, kami sekeluarga seringnya mendapat lungsuran dari sepupu kami yang lebih berada. Tapi aku bertekad akan terus merengek, Mama, belikan aku BH. Sampai Mama membelikannya untukku.

Aku pulang bersama Santi dan Mega, aku lesu. Sepanjang perjalanan aku diam saja. Santi dan Mega terus bercanda. Aku tak peduli, aku masih gusar.

Aku masih duduk di dapur luar, aku menunggu Mama pulang. Aku ingin minta sekali lagi ke Mama untuk membelikan aku BH. Sudah jam 4 sore, tapi Mama belum pulang. Apa masih belum laku dagangannya?

Jam 4.30 sore Mama sampai, keringatnya mengalir dari dahinya, walau tertutup caping tetap saja ia berkeringat. Mengayuh sepeda tampaknya bikin capek juga. Duh, Mamaku pasti capek sekali hari ini. Aku batalkan dulu deh untuk sore ini, tunggu nanti malam saja, mungkin mungkin Mama sudah tidak terlalu capek, mau mendengarkan permintaanku.

Malamnya, Mama masih saja sibuk. Membuat sapu sabut. Aku mendekat, kupikir ini saat yang cukup tepat. Saat Mama diam membuat sapu sabut, biasanya Mama mau mendengarkan aku bercerita, jadi aku berani kali ini.

Ma, tadi siang aku pelajaran olahraga.
...hmm ya, Jumat ya?
"Ma, kata temanku, aku sudah seharusnya pake BH atau miniset.
Mama diam.

Ma, aku malu. Tiap ganti baju selalu mesti berbalik punggung, teman-temanku semua sudah pake miniset, aku belum. Walaupun di kelas yang ganti cewe semua, kan malu Ma, kalo aku cuman pake singlet dalem aja.

Ya, Ma, belikan ma, satu ajaaaaa.. warna coklat bagus ma, yang ada rendanya, kalo dicuci berkali-kali gak kelihatan jeleknya, ya Ma yaa..

Aku menyemburkan kata-kata seperti petasan injek, dan Mama hanya diam menatap lurus ke anyaman sapu yang gak lurus-lurus walau udah dirapikannya berkali-kali.

Sudah malam, sana tidur, buku-buku besok sudah disiapkan belum?

Hmm... kali inipun aku gagal memohon pada mama, masa sih aku mesti minta ke papa. Lebih malu lagi. Juga kasihan jika jadi beban papa, aku minta ini itu. Biaya hidup kami saja sudah pas pasan sekali.

Aku tidur, esoknya aku sekolah seperti biasa. Masalah BH dan miniset sudah tidak jadi pikiran lagi. Karena tidak ada jam olahraga. Aku bebas tidak memikirkan benda tebal berbusa itu lagi. Aku sibuk dengan Santi dan pohon jambunya, sibuk dengan Mega dan komik-komik pinjamannya.

Sekarang hari Kamis, dan aku gundah gulana lagi, besok sudah Jum'at. Aku pasti tidak semangat sekolah lagi. Mama hari ini tidak bangun jam 3 pagi. Kenapa ya? Apa Mama sakit? Yang aku tau, bubur putih sudah ada di meja. Habis sarapan aku pergi ke sekolah. Mega sudah berteriak teriak dari ujung jalan.

Sudah siang, cepat, nanti sudah bel.

Siang bagi kami adalah jam 6.15 pagi. Karena masuk kelas jam 7.00. Jalan ke sekolahku naik turun bukit-bukit kecil, jauh sekali tidak, dekat juga tidak.

Ah, besok gimana ya? Aku masih belum punya BH.

Aku pulang masih mikirin BH yang hanya bisa aku lihat di badan teman dan kakakku. Tapi punya teman temanku kok bagus-bagus, berbeda dengan punya kakak.

Sampai di rumah aku kaget, Mama dan sepeda onthelnya ada di rumah. Mama tidak jualan hari ini. Apakah Mama benar-benar sakit? Aku menemukan Mama di dapur, sedang masak. Kukira Mama menerima orderan kue dodol, seperti biasa.

Jika Mama mengaduk adonan kue dodol, aku senang karena Mama pasti sambil mengajariku bernyanyi, dari Thien Mi Mi, Ni Cem Me Suo, sampai Se Sang ce yau Mama Hau. Dia bahkan sering mencatatkan untukku beserta artinya.

Kok, Mama tidak jualan?
Tadi Mama ke pasar, cepat ganti baju dan makan, di kamar ada miniset buat kamu, besok bisa dipakai.

Aku tertegun, mama berbicara sambil tetap memasak. Aku ingin memeluknya, tapi di keluarga kami tidak pernah saling memeluk. Aku malu. Walau dia Mamaku.

Aku berlari ke kamar, tidak ganti baju sesuai kata-kata mama, aku malah membuka kresek hitam kecil. Miniset yang kutunggu selama ini, Miniset yang membuat aku gundah setiap Jum'at, yang hanya bisa aku lihat di tubuh teman-temanku. Sekarang aku punya satu. Horeeeeeeee.... Jum'at ku tak lagi gundah.

Esok-esok aku lihat Mama sering berkutat di depan mesin jahit merek Butterfly-nya. Semua kain bekas di karung gudang atas tiba-tiba saja bermigrasi ke kamar kami. Mama membeli bergulung-gulung karet celana. Rupanya Mama menjahit celana pendek untuk dipakai sehari-hari, dari Mama hingga anak memakai celana pendek berwarna sama. Warna-warni dengan pola tidak jelas, hanya sebatas lebarnya perca yang tersisa, dijahit sambung-menyambung.

Kadang aku sedang tidak suka, aku protes, aku malu memakai celana perca buatan Mama, walau sebagian ada yang masih utuh kain percanya. Satu celana bisa sama warnanya. Kadang kami tampak seperti Badut pesta. Hijau di depan, merah di belakang, tapi kata Mama tidak apa-apa, hanya buat tidur dan dirumah saja.

Itu cerita aku saat aku kelas 5 SD.

22 November 1997.
Hari ini aku memandikan Mamaku, kupakaikan Mama BH terbaik yang ia punya. Kuganti pakaiannya dengan gaun yang paling ia suka, putih berbunga-bunga. Kudandani ia seperti layaknya pengantin. Hari ini Mama cantik sekali walau mukanya pucat.

Kuseka kuku-kukunya dengan lap basah, jari-jari tangannya mengeras. Terlalu erat menggenggam tali kehidupan tampaknya. Sekuat tenaga berpegang, berjualan yang halal untuk kehidupan anak-anaknya. Betis Mama juga besar, menggoes sepeda bermil-mil tiap hari, menempa betisnya jadi sebesar ini. Tapi dari semua yang tampak diluar, Mamaku Mama tercantik di dunia ini.

Aku memeluknya, ini pertama kali aku memeluk Mamaku, tapi ia tak membalas pelukanku. Tangannya tetap mengeras, tak bergerak, walau hanya untuk mengusap kepalaku yang ada disisinya.

Sudah waktunya kata seorang kerabat kami yang tertua. Sedikit senyum dan airmata tumpah bersama. Kami mengantar Mama dengan pakaian terbaiknya, ke liang sunyi peristirahatan terakhir. Hari ini Mama dimataku tampak sama cantik ketika dia membelikan BH pertamaku.

19 November 2008
Aku duduk di depan Komputer kerjaku, menekuri bulan November yang hampir habis. Kemarin aku berjalan-jalan ke Mall. Aku melihat banyak BH, dari yang berkualitas baik hingga yang biasa saja, dari yang bertengger sexy di patung hingga dalam box-box, dari harga menjulang, hingga hampir nyungsep terkena promo diskon.

Aku ingin berkata,

Mama aku sudah mampu membelikan Mama BH , aku takkan merengek lagi?


Aku sudah mampu membeli berlusin BH dengan kualitas terbaik yang aku inginkan. Sudah bisa membeli jeans yang berjejer di counter-counter ternama. Sudah tak akan merengek minta dibelikan lagi. Disini aku meretas kehidupan baru yang berbeda dengan dunia kita dahulu. Bukan lagi dunia dalam kain perca.

Perjalanan hidup bisa tergerus oleh dimensi waktu, jarak dan ruang, Namun Dirimu tetap Mamaku yang tercantik, dengan BH apapun yang kau pakai, dengan celana bagus ataupun celana jahitan perca.

Aku ingin mendengar kau bernyanyi sambil mengaduk adonan kue dodol, mengalunlah dalam lagu-lagu kita, lagu yang kita nyanyikan bersama.
Se Sang Ce Yau Mama Hau. Mama adalah yang terbaik dalam hidupku.

Masih berkumandang, masih begitu menyentuh, masih begitu dekat rasanya suara itu.

Jikalau masih bisa ingin kupeluk dirimu tanpa perlu ada rasa malu. Karena kamu adalah Mamaku, satu-satunya orang yang rela tak berjualan satu hari demi membelikan aku sebuah BH.


November berlalu seiring waktu, Kau masih terbaik di hatiku. Mom is the Great in My Life.

by Anonimous

.
.

Kakek Tua Dermawan di KA Parahyangan

Sebagai pekerja pulang balik Bandung-Jakarta, KA Parahyangan* dulu adalah sarana angkutan favorit saya, sebelum dibangunnya jalan tol Cipularang yang menyingkat waktu tempuh perjalanan dengan bus. Bertahun tahun saya jadi pelanggan setia kereta api legendaris ini, sampai hapal dengan awak keretanya, dan hapal pula dengan sesama pelanggan setia lainnya. Saat jadwal penumpang padat, hari Jum'at - Minggu, kita jarang dapat tiket duduk, sehingga berserakan di mana saja, asal bisa terangkut ke tujuan.

Dulu salah satu tempat favorit saya adalah gerbong barang atau dikenal dengan istilah BP. Ruangannya luas dan sering kosong karena memang jarang membawa barang. Cukup gelar tikar dan duduk dimana saja yang saya mau.



Karena sering naik di gerbong itu, akhirnya saya kenal dengan salah seorang penumpang aneh yang sering bertemu pada beberapa perjalanan. Ia adalah seorang lelaki tua yang sederhana. Menariknya, ia selalu membawa sekarung bawaan yang besar. Biasanya ada yang membantunya membawa karung-karung tersebut. Saya kira tadinya ia bawa barang dari Bandung untuk dijual di Jakarta, atau sebaliknya. Tapi ternyata ketika melewati daerah tertentu, sekitar daerah Cikalong (jalur antara Purwakarta-Padalarang), ia membuka karung tersebut yang ternyata isinya berbagai macam makanan (roti bungkus, mie, dll).

Beliau lalu membuka pintu luar gerbong. Dan ternyata di pinggir rel telah banyak masyarakat kampung sekitar daerah tersebut yang menunggu berjejer. Karena hari telah gelap banyak yang membawa obor. Pemandangan aneh yang menarik karena hampir beberapa saat melewati jalur tersebut, dari kaca jendela kereta kita bisa melihat jajaran panjang orang-orang membawa obor. Indah sekali.

Seiring berjalannya kereta, Pak Tua tersebut dengan dibantu “asisten” atau pegawai kereta, langsung membagi-bagikan makanan dalam karung yang dibawa kepada orang-orang yang berjejer sepanjang rel tersebut. Orang-orang di pinggir rel pun berebut menyambutnya. Makanan terus dilempar-lemparkan sepanjang rel tersebut, sampai habis makanan yang ada di karung tersebut. Setelah habis pintu kereta pun ditutup. Pak Tua tersebut duduk kembali sambil menutup wajahnya atau menghindar. Para penumpang lain pada terheran heran dengan sikapnya itu. Saya pernah mencoba ngobrol dengan beliau. Tampaknya ia sangat tawadhu (rendah hati) tak mau menyombongkan diri, terlihat ia hanya ingin beramal secara ikhlas tanpa orang lain mengetahuinya.

KA Parahyangan
Akhirnya saya pun ngobrol-ngobrol dengan petugas KA yang ada di sana menanyakan tentang Pak Tua dermawan tersebut. Ternyata Pak Tua tersebut memang selalu berbuat seperti itu kalau naik KA di jalur Jakarta - Bandung. Ia telah lakukan hal tersebut selama bertahun-tahun lamanya. Ia tak ingin kedermawannya tersebut diketahui orang banyak, ia ingin benar-benar ikhlas beramal. Walau ia membeli tiket eksekutif, tapi biasanya ia duduk di bawah atau di gerbong barang. Masyarakat sekitar yang dilalui rel kereta tersebut pun sudah hafal dengan jadwal kereta yang ditumpangi Bapak Tua tersebut. Karena itulah mereka hanya berjejer di sekitar rel pada saat-saat tertentu saja.

Saya sempat bertanya, kalau sering berderma seperti itu, dari mana uangnya? Sekaya apakah dia? Konon ia adalah seorang pengusaha kaya yang hidup sederhana, dan apa yang didermakannya itu, adalah sebagian keuntungan dari bisnisnya.

Sesampai kereta di Bandung, saya coba mengikuti dia. Ternyata ia tampil bersahaja dan seperti menghindar dari keramaian. Ia cepat-cepat keluar dari stasiun dan pulang ke rumahnya dengan menumpang angkot. Kalau lihat orangnya sekilas, pasti tidak ada yang percaya bahwa ia orang kaya yang dermawan.

Dari pegawai kereta saya tahu nama, bidang usaha dan lokasi tinggalnya. Tapi karena ia ingin tetap menjaga keikhlasan dari kedermawannya tersebut, tak baik juga diberitakan informasi tersebut. Biarlah hanya Tuhan dan malaikat yang tahu siapa dia.

Ini menyadarkan saya, ternyata di jaman materialis saat ini, masih banyak orang-orang kaya yang ikhlas beramal, orang-orang kaya yang hidup bersahaja.

Kini kereta Parahyangan tidak seramai dulu, karena penumpangnya banyak beralih ke angkutan bus via tol Cipularang yang lebih cepat dan praktis. Saya sendiri tak pernah naik kereta lagi. Tak tahu pula, apakah orang kaya dermawan itu, masih terus berderma di sepanjang rel kereta api itu...

_________________
The man who know himself and his enemy will won hundred of battles.

by Anonimous

*) Kereta Api Parahyangan adalah kereta api bisnis eksekutif yang dioperasikan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) di Pulau Jawa pada tahun 1971-2010 dengan jurusan Bandung (BD) - Jakarta (GMR) dan sebaliknya. KA Parahyangan mulai beroperasi tanggal 31 Juli 1971 dan beroperasi terakhir pada tanggal 26 April 2010. Mulai tanggal 27 April 2010, operasional KA Parahyangan bersama KA Argo Gede dilebur menjadi KA Argo Parahyangan. (wikipedia)
.
.

Nenek Hebat dari Saga

“Kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh uang. Kebahagiaan itu adalah sesuatu yang ditentukan oleh diri kita sendiri, oleh hati kita.”

Kemarin (5/6/2011) sekitar jam 5 sore, gara-gara telat nonton offroad Djarum Super yang sudah keburu selesai tinggal penyerahan hadiah, akhirnya barengan si bro alias Bagus meluncur ke Matahari Gramedia, disana ada nemuin buku bagus banget, judulnya Saga no Gabai Baachan yang translate-annya kira-kira bunyinya begini: "Nenek Hebat dari Saga". Harganya kalau ga salah sekitar 34ribuan, termasuk buku bagus tapi murah. Setidaknya apa yang kamu dapetin dari isinya (nilai moralnya) lebih dari sekedar uang 34ribuan itu tadi, bahkan ga bisa dinilai dengan uang.

Sebuah kisah yang mengharukan, membuat trenyuh sekaligus lucu..

Buat yang penasaran silahkan dibaca sinopsisnya di bawah ini, kalau mau cerita komplitnya ya tentu saja beli bukunya hehe..

Saga no Gabai Baachan (Nenek Hebat dari Saga)
by Yoshichi Shimada, Indah S. Pratidina (Translator), Mikihiro Moriyama (Koord. Penerjemah/Mentor). Penerbit : Kansha Books. Cetakan : I, April 2011. Tebal : 245 halaman.

“Kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh uang. Kebahagiaan itu adalah sesuatu yang ditentukan oleh diri kita sendiri, oleh hati kita."

Demikianlah kira-kira inti dari buku ini. Buku kecil yang bersahaja ini merupakan kisah nyata dari penggalan kehidupan penulisnya, Akihiro Tokunaga atau kini dikenal dengan nama Yosichi Shimada (61 thn) selama ia tinggal bersama neneknya di kota kecil Saga setelah Hiroshima dijatuhi bom atom oleh sekutu.

Akihiro yang kehilangan ayahnya setelah Hiroshima dibom, terpaksa berpisah dari ibu untuk tinggal bersama neneknya di Saga. Meskipun keluarganya hidup prihatin, namun kehidupan di Saga satu peringkat lebih miskin. Tetapi sang nenek selalu punya ratusan akal untuk meneruskan kehidupan dan membesarkan cucunya.

Dengan ide-ide cemerlang sang nenek, kehidupan selalu mereka jalani penuh tawa. Sulit memang, tapi menarik dan mengasyikkan. Namun waktu terus berjalan dan tibalah hari ketika Akihiro harus mengambil keputusan. Dia harus memilih antara nenek dan Saga yang dia cintai atau mengejar mimpi-mimpinya.

Diterjemahkan langsung dari Bahasa Jepang oleh Indah S. Pratidina, buku ini akan membuat kita tersenyum, terenyuh, dan mungkin berpikir ulang tentang nilai-nilai kesederhanaan.

***
Movie si Nenek Saga
Dalam waktu kurang satu tahun, buku ini telah terjual 100.000 Eksemplar di negeri asalnya. Kisah Nenek Hebat dari Saga begitu terkenal sehingga diadaptasi dalam bentuk film, layar lebar, game maupun manga.

***
"Saga no Gabai Baachan mampu membuat para pembaca tersentuh sekaligus kagum akan kekuatan seorang nenek dalam membesarkan cucunya. Sangat direkomendasikan bagi para ”anak-nenek” dan semua orang yang rindu pada sosok seorang nenek."
— Cynthia (editor Majalah Animonster) 

"If you wanna be happy, be happy NOW. Itulah prinsip Nenek Osano yang luar biasa. Novel ini seru, kaya nuansa (bikin terenyuh, lucu, mengharukan), mampu mengaduk-aduk emosi pembaca dan yang pasti akan membangkitkan kebahagiaan."
—Arvan Pradiansyah (Narasumber Talkshow “Smart Happiness” di SmartFM Network)

"Membaca buku kecil ini mengajak kita menoleh sejenak ke negara lain untuk melihat negara sendiri dan bersyukur merayakan kesederhanaan yang masih kita miliki."
—Diana S. Nugroho (The Japan Foundation)


Manga si Nenek Saga
Beberapa quote dari Nenek Saga:
~“Keluarga kita miskin yang ceria!” kata Nenek yang selalu tertawa. Dia tidak pernah membiarkan dirinya dikalahkan keadaan dan sungguh selalu tampak bahagia.
~“Berhentilah mengeluh “panas” atau "dingin”. Musim panas berutang budi pada musim dingin, demikian juga sebaliknya.”
~“Sampai mati, manusia harus punya mimpi! Kalaupun tidak terkabul, bagaimanapun itu kan cuma mimpi.”
.

Sebuah buku yang mengingatkanku pada Si Mbah dulu yang sayang padaku, dan juga sebuah film (setelah mengingat2 dengan susah payah) yang judulnya The Way Home sebuah film yang sangat bagus dari Korea produksi tahun 2002, saat itu aku menontonnya di salah satu televisi swasta. Memiliki alur, plot dan tema yang hampir sama dengan kisah Nenek dari Saga. Mengharukan sampai menitikan air mata seperti pengecut saja mengikuti jalan ceritanya. Bercerita tentang tentang seorang cucu yang di titipkan kepada neneknya di desa sementara sang ibu pergi mencari pekerjaan di Seoul.
Game si Nenek Sa

Sang cucu yang tak terbiasa dengan kehidupan di desa yang terpencil,di tengah hutan bahkan tak ada listrik yang menerangi, di tambah lagi sang nenek yang sudah renta dan bisu tak jadi membuat sang cucu senang dan satu2nya hiburan yang ada adalah game boy yang dibawanya dari kota..

Sebagai anak-anak kita kadang menyepelekan, tidak menyadari betapa penting keberadaan mereka, sampai pada akhirnya mereka tiada, barulah saat itu kita merasakannya, merasakan arti penting mereka disisi kita, di kehidupan kita...

Cuplikan "The Way Home" dari YouTube:

The Way Home (집으로 -- Jibeuro) directed by Lee Jeong-hyang, 2002.

.
.

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
23