Tentang Samurai (3)

Samurai (侍 atau 士) adalah istilah untuk perwira militer kelas elit sebelum zaman industrialisasi di Jepang. Kata samurai berasal dari kata kerja samorau dalam bahasa Jepang kuno, kemudian berubah menjadi saburau yang berarti melayani, dan akhirnya menjadi samurai yang bekerja sebagai pelayan bagi sang majikan. Samurai juga biasa disebut bushi (武士) (orang bersenjata) yang digunakan semasa zaman Edo. Samurai terkenal sebagai ksatria paling ditakuti dan dihormati pada masanya, juga termasyhur pandai mengendalikan hawa nafsu dan sama sekali tak terpengaruh keadaan sekitar.

Perkembangan
Sebelum Zaman Heian, tentara di Jepang berada di bawah pemerintahan langsung oleh Kaisar. Dan kemudian pada ada awal Zaman Heian, pada akhir abad ke 8 dan awal abad ke 9, Kaisar Kanmu mencoba memperluas kekuasaannya di utara Honshu. Namun tentara yang dikirim mengalami kegagalan. Kaisar Kanmu kemudian memperkenalkan gelaran seiitaishogun atau lebih dikenal dengan nama shogun dan mulai bergantung kepada perkumpulan (klan) yang mahir dalam pertempuran, berkuda dan memanah untuk mematahkan pemberontakan. Para pendekar klan tersebut yang kemudian dikenal dengan nama samurai. Dengan menjanjikan pelindungan dan mendapat kekuatan politik, mereka memperoleh kekuasaan yang akhirnya melebihi para bangsawan. Samurai pada masa Keshogunan Tokugawa berangsur-angsur kehilangan fungsi ketentaraan mereka. Dengan reformasi Meiji pada akhir abad ke-19, samurai dihapuskan dan digantikan dengan tentara nasional menyerupai negara Barat.

Perlengkapan
Samurai mengenakan hitatare (sejenis kimono) sebagai pakaian resmi sehari-hari. Sedangkan dalam perang, samurai akan mengenakan yoroi. Yoroi terdiri dari pelindung tubuh yang terbuat dari logam dan kabuto sebagai pelindung kepala yang terbuat dari besi.


Senjata yang paling identik dengan seorang samurai adalah katana dan wakizashi. katana lebih panjang dari wakizashi, tetapi wakizashi akan sangat berguna jika seorang samurai tidak bisa menggunakan katana dalam situasi tertentu. Kedua senjata ini jika saling berdampingan biasa disebut daisho yang artinya besar dan kecil.

Senjata lain yang biasa digunakan oleh samurai adalah yumi (busur komposit), yari (tombak), naginata (tombak dengan ujung berupa mata pedang) dan beberapa jenis peledak.

Filosofi
Filosofi samurai adalah mencapai kebahagiaan sejati, baik dalam kemenangan atau pun kematian. Para samurai ini hidup berlandaskan nilai-nilai bushido yang mengutamakan keberanian, kehormatan, dan kesetiaan pribadi. Kehidupan para samurai diibaratkan seperti bunga sakura yang indah menawan namun berumur pendek. Karena itu samurai selalu mengingat kematian setiap saat. Hal itulah yang membuat mereka selalu menjaga diri dan pikirannya dari hal yang tidak pantas dan senantiasa melakukan yang terbaik di sepanjang hidupnya.

Bushido - The Way of the Warrior
Bushido (武士道) adalah adalah sebuah kode etik kesatria golongan samurai dalam feodalisme Jepang. Bushido mengandung arti sikap rela mati buat negara, kerajaan dan kaisar. Biasanya para samurai dan Shogun rela mempartaruhkan nyawa demi itu dan jika gagal, ia akan melakukan ritual bunuh diri yang dikenal dengan seppuku (切腹) atau harakiri (腹切り) yang merupakan adat untuk memulihkan nama mereka atas kegagalan saat melaksanakan tugas dengan cara menusuk dan merobek perut mereka.

Secara umum, Bushido lebih difahami sebagai sebuah model, disiplin, dan moral para kaum samurai. Dengan kata lain Bushido adalah kode etik dalam masyarakat samurai yang digagas oleh pemerintah/pemimpin, baik tertulis maupun tidak. Bagaimanapun prosesnya, disiplin Bushido ini telah menjadi moralitas masyarakat Jepang pada umumnya hingga saat ini.
Sebagai sebuah disiplin samurai, Bushido terbagi menjadi dua periode yaitu Hagakure Bushido dan Tokugawa Bushido. Namun dari kedua periode tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa inti moral Bushido adalah sebagai berikut:
  1. Gi (? – Integritas) = Seorang samurai harus utuh segala aspek kehidupannya baik fikiran, perkataan, maupun perbuatan.
  2. Y? (? – Keberanian) = Berani untuk mempertahankan prinsip kebenaran, bahkan jika harus mengorbankan nyawa sekalipun.
  3. Jin (? – Kemurahan hati) = Bushido memiliki aspek keseimbangan antara maskulin (yin) dan feminim (yan). Jin inilah yang mewakili sifat feminim. Walau seorang samurai berlatih pedang dan strategi perang, namun samurai harus memiliki sifat mencintai sesama, kasih sayang, dan peduli.
  4. Rei (? – Menghormati) = Sikap moral ini ditunjukkan melalui kesantunan dalam cara duduk, berbicara, bahkan dalam memperlakukan benda ataupun senjata.
  5. Makoto atau Shin (? – Kejujuran dan tulus-iklas) = Samurai mengatakan apa yang mereka maksudkan dan melakukan apa yang mereka katakan. Mereka membuat janji dan berani menepatinya.
  6. Meiyo (?? – Kehormatan) = Seorang samurai memiliki harga diri tinggi, yang selalu mereka jaga dengan berperilaku terhormat.
  7. Ch?go (?? – Loyal) = Kesetiaan ditunjukkan dengan dedikasi yang tinggi dalam melaksanakan tugas, dan puncak kehormatan seorang samurai adalah mati dalam menjalankan tugas/perjuangan.
  8. Tei (? – Menghormati Orang Tua) = Samurai sangat menghormati orang yang lebih tua baik orang tua sendiri, pimpinan, maupun para leluhurnya.
Date Masamune
Sebuah patung modern Masamune di kuil Sendai.
Salah satu samurai terkenal yang pernah ada di Jepang adalah Date Masamune. Ia mencapai ketenaran pada Zaman Azuchi-Momoyama sampai awal Zaman Edo. Masamune merupakan ahli waris daimyo yang terkuat di daerah Tohoku. Ia juga mendirikan dan menjadikan kota Sendai sebagai kota yg maju.

Dalam pertempuran, Masamune selalu memakai helm perang dengan hiasan bulan sabit yang menandakan keganasan dan kekejamannya. Masamune pernah menghabisi keluarga Hatakeyama tanpa terkecuali demi balas dendam atas kematian ayahnya, Date Terumune. Masamune kehilangan mata kanannya semasa kecil dan akhirnya terkenal dengan julukan dokuganryuu (naga bermata satu).

Kesetiaan samurai yang paling terkenal adalah ketika peristiwa pembalasan dendam 47 ronin (浪人) yaitu samurai yang kehilangan tuannya karena kekuasaannya dicabut oleh pemerintah. Akibat suatu perselisihan dengan pejabat tinggi bernama Kira Kōzuke no Suke Yoshihisa, tuan dari 47 samurai tersebut, Asano Takumi no Kami diperintakan untuk melakukan seppuku. Tidak terima dengan perlakuan itu, dini hari pada tanggal 15 Desember 1702, Ōishi Kuranosuke Yoshitaka memimpin 47 ronin menyerbu masuk ke rumah kediaman Kira Kōzuke no Suke yang berada di Honjo Matsuzaka dan pada akhirnya Kira Kōzuke no Suke berhasil dibunuh.


Para ronin saat menyerang gerbang utama mansion Kira Kōzuke no Suke.

Kawanan 47 ronin membawa pulang penggalan kepala Kira Kōzuke no Suke dan mempersembahkannya di atas makam Asano Takumi no Kami yang terletak di kuil Sengakuji. Kawanan 47 ronin lalu memberitahu sang majikan di alam sana bahwa pembalasan dendam telah berhasil. Pemerintah Bakufu kemudian menitipkan para ronin di rumah 4 orang daimyo, dan tidak lama kemudian para ronin tersebut akhirnya diperintahkan untuk mati secara terhormat dengan melakukan seppuku. Pada tanggal 4 Februari 1703, Para ronin dari Akō tersebut, kecuali Terasaka Nobuyuki yang menghilang setelah penyerbuan, akhirnya melakukan seppuku di halaman rumah kediaman para daimyo tempat mereka dititipkan.

Sampai saat ini, sifat samurai yang dikenal sebagai bushido masih tetap ada dan dijunjung tinggi dalam masyarakat Jepang sebagaimana aspek hidup mereka.
Postingan tentang Samurai:
Samurai (Semangat Samurai)
Samurai (Rahasia Hidup Bahagia para Samurai)
Filosofi Samurai dalam Budaya Jepang
.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
23