Cerita tentang Dia



Pertama, aku akan mencari tahu apa yang dia suka. Aku akan menghabiskan waktu dengannya, atau di sekitarnya karena sebenarnya aku tidak mengenalnya. Makanan apa yang dia suka, kopi atau juice, apakah dia menyukai fashion, musik - jenis musik apa yang disukainya? Apakah dia suka olahraga juga dan jika demikian, olahraga apa? Jika tidak, mengapa? Ketika ia berjalan seperti biasanya, dengan wajahnya sedikit tersenyum, mata melihat-lihat dunia - apa yang dia pikirkan? Apa yang dibawanya itu? Kenapa dia tidak ke stasiun, saat berangkat kerja? Apakah dia ingin berjalan atau itu hanya sekedar latihan? Dia berbicara dengan suara tenang - mengapa? Mengapa, mengapa, mengapa. Aku ingin semua jawaban itu.

Setelah tahu semuanya itu aku langsung merubah diri. Aku memotong rambut. Memakai baju berbeda. Aku berhenti minum dan hanya makan wortel, maksudku vegetarian. Motor ganti. Bisakah aku menggantinya dengan sepeda? Perubahan hidup. Bersepeda gunung belum pernah aku lakukan, tapi aku membeli satu hari ini. Burung, kucing dan akuarium. Aku akan bicara berbeda dan belajar bahasa Osing juga. Aku akan mulai pergi ke museum. Membeli barang seni. Aku akan bergabung dengan yayasan yang menyelamatkan ikan paus dan harimau Sumatera, sekaligus komodo! Aku akan melakukan segala sesuatu yang perlu dilakukan - untuknya.

Dia tidak akan melihatku seperti saat pertama bertemu, aku tidak ingin dia takut untuk yang kedua kalinya, dan pergi. Aku rasa akan memakan waktu lama. Tetapi cepat atau lambat dia akan bertanya-tanya siapakah orang yang yang selalu makan di tempat makan favoritnya. Setelah dia melihatku, aku akan menyapa. Berbicara dengannya. Kita akan berbicara tentang makanan, musik, olah raga, dan sebagainya.

Dia jatuh cinta. Aku bisa merasakannya. Bahwa pria di tempat makan favorit dia, yang bersamanya adalah pasangan yang sempurna. Dia selalu berada di sana pada waktu yang sama setiap Minggu. Dan akupun begitu setiap Minggu juga.
Kami berbicara banyak.
Apakah kamu ingin pergi nonton nanti malam?
Ya. Dia bilang.

Kita pergi. Kami berjalan bersama-sama. Dia tersenyum seperti biasa. Aku tersenyum juga. Kita bicara. Kita melihat film yang sama-sama kami berdua sukai.

Aku mencintaimu katanya.
Aku mencintaimu!

Tahun-tahun telah berlalu. Aku sudah tidak ingat lagi bagaimana penampilannya sekarang? Dia tidak berjalan dan tersenyum lagi. Aku tidak ingat lagi apa yang suka untuk dia makan. Suaranya masih tetap terdengar tenang.

Kami berpisah.

Kemudian aku mengetahui bahwa dia sedang menjalin hubungan dengan seorang pria baru. Dia melakukan segala sesuatu yang dulu tidak aku lakukan untuknya. Dan juga belajar bahwa dia tidak seperti sebelumnya, dia sudah berbeda.

Dia berubah.
Aku tidak.

Dan kami berpisah, saling menjauhi, saling tidak berbagi kabar. Seterusnya tidak ada komunikasi. Semuanya seperti terasa ingin berakhir.

Berakhir.
Adakah yang salah?
"Kelihatanya sulit. Tapi tidak. Mungkin hanya melakukan hal-hal yang sebelumnya pernah terlewati, terlupakan. Jika gagal, coba lagi besok hari. Jangan justru menjauh. Tapi ubahlah."
Tapi sayang, untuk cerita ini tidak ada istilah pengulangan adegan atau di-repeat - direply, karena ini bukan iklan atau kaset apalagi tayangan live sepak bola, hanya merepotkan saja. Jadi?? Tentu saja enaknya berakhir saja. Kenapa serius banget sech?  -_-:


*Cat : Posting ini hanyalah cerita rekaan saja dan jangan pernah mempercayainya, untuk selanjutnya terserah anda mengimajinasikannya lebih lanjut...  :D





2 komentar:

Selasa, 01 Maret 2011 15.02.00 WIB silolipop mengatakan...

jiah....
hohohohoh....bagus!! cuma trus...kok 'Tentu saja enaknya berakhir saja. Kenapa serius banget sech ?"

andaikan ada penjelasannya....

_^,

Jumat, 04 Maret 2011 12.20.00 WIB chillinaris mengatakan...

Cmn pingin share sebuah crita tanpa ending saja. Nah tentu sj sdh jelas aku ga tahu terusannya gmn, coz emg konsepnya gtu hehe...

Poskan Komentar

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
23