13 Hal Terbesar bagi Karyawan


Menjadi karyawan merupakan pilihan seseorang selain menjadi pengusaha. Faktanya, banyak karyawan yang menjadi sukses dan banyak pula yang tidak sukses. Terlepas dari itu, ternyata ada 13 hal terbesar bagi karyawan. Apa saja itu? Silakan simak di bawah ini.

1. Motivasi terbesar adalah naik gaji.
2. Kesialan terbesar adalah promosi tanpa kenaikan gaji.
3. Kejutan terbesar adalah bekerja biasa tapi tiba-tiba gaji naik.
4. Bakat terbesar adalah berpura-pura sibuk tapi tak melakukan apa-apa.
5. Kesalahan terbesar adalah membantah bos.
6. Penurun semangat terbesar adalah terlambat menerima gaji.
7. Kebahagiaan terbesar adalah menjadi bos dari bos sekarang.
8. Kecerdikan terbesar adalah datang terlambat tapi bos tidak tahu.
9. Ketololan terbesar adalah bilang pada orang lain bahwa kita ini malas.
10. Kebiasaan terbesar adalah bos mengatakan sesuatu padahal artinya lain.
11. Keinginan terbesar adalah memecat bos sendiri.
12. Kekesalan terbesar adalah anda bekerja keras tapi orang lain yang dipuji.
13. Kesedihan terbesar adalah tidak menerima gaji karena bos melarikan diri.

.
.

Kasih Ibu



Saat kau berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu.
Sebagai balasannya, kau menangis sepanjang malam.

Saat kau berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan.
Sebagai balasannya, kau kabur saat dia memanggilmu.

Saat kau berumur 3 tahun, dia memasakkan semua makananmu dengan kasih sayang.
Sebagai balasannya, kau buang piring berisi makanan ke lantai.

Saat kau berumur 4 tahun, dia memberimu pensil berwarna.
Sebagai balasannya, kau coret-coret dinding rumah dan meja makan.

Saat kau berumur 5 tahun, dia membelikanmu pakaian-pakaian yang mahal dan indah.
Sebagai balasannya, kau memakainya untuk bermain di kubangan lumpur dekat rumah.

Saat kau berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah.
Sebagai balasannya, kau berteriak."NGGAK MAU!!"

Saat kau berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola.
Sebagai balasannya, kau lemparkan bola ke jendela tetangga.

Saat kau berumur 8 tahun, dia memberimu es krim.
Sebagai balasannya, kau tumpahkan hingga mengotori seluruh bajumu.

Saat kau berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus bahasamu.
Sebagai balasannya, kau sering bolos dan sama sekali tidak pernah berlatih.

Saat kau berumur 10 tahun, dia mengantarmu ke mana saja, dari kolam renang hingga pesta ulang tahun.
Sebagai balasannya, kau melompat keluar mobil tanpa memberi salam.

Saat kau berumur 11 tahun, dia mengantar kau dan teman-temanmu ke bioskop.
Sebagai balasannya, kau minta dia duduk di baris lain.

Saat kau berumur 12 tahun, dia melarangmu untuk melihat acara TV khusus orang dewasa.
Sebagai balasannya, kau tunggu sampai dia di keluar rumah.

Saat kau berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut, karena sudah waktunya.
Sebagai balasannya, kau katakan dia tidak tahu mode.

Saat kau berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kempingmu selama sebulan liburan.
Sebagai balasannya, kau tak pernah meneleponnya.

Saat kau berumur 15 tahun, dia pulang kerja ingin memelukmu.
Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu.

Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya.
Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya.

Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting.
Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman.

Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA.
Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.

Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama.
Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman-temanmu.

Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, "Dari mana saja seharian ini?"
Sebagai balasannya, kau jawab,"Ah Ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang!"

Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk karirmu di masa depan.
Sebagai balasannya, kau katakan,"Aku tidak ingin seperti Ibu."

Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus perguruan tinggi.
Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa ke Bali.

Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu.
Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya furniture itu.

Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan.
Sebagai balasannya, kau mengeluh,"Aduuh, bagaimana Ibu ini, kok bertanya seperti itu?"

Saat kau berumur 25 tahun, dia mambantumu membiayai penikahanmu.
Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.

Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat bagaimana merawat bayimu. Sebagai balasannya, kau katakan padanya,"Bu, sekarang jamannya sudah berbeda!"

Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang tahun salah seorang kerabat.
Sebagai balasannya, kau jawab,"Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu."

Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu.
Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya.

Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang. Dan tiba-tiba kau teringat semua yang belum pernah kau lakukan, karena mereka datang menghantam HATI mu bagaikan palu godam.

(opinum.com)

Inilah Perjuangan Ibumu yang Tidak Pernah Kau Sadari

via flickr
Ini adalah mengenai Nilai kasih Ibu dari Seorang anak yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia menghulurkan sekeping kertas yang bertulis sesuatu. Si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang dihulurkan oleh si anak dan membacanya.

Ongkos upah membantu ibu:
1) Membantu pergi ke Warung: Rp 20.000
2) Menjaga adik Rp 20.000
3) Membuang sampah Rp 5.000
4) Membereskan Tempat Tidur Rp 10.000
5) menyiram bunga Rp 15.000
6) Menyapu Halaman Rp 15.000
Jumlah : Rp 85.000

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak yang raut mukanya berbinar-binar.
Si ibu mengambil pena dan menulis sesuatu dibelakang kertas yang sama.
1) OngKos mengandungmu selama 9bulan - GRATIS
2) OngKos berjaga malam karena menjagamu -GRATIS
3) OngKos air mata yang menetes karenamu - GRATIS
4) OngKos Khawatir kerana selalu memikirkan keadaanmu- GRATIS
5) OngKos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu - GRATIS
6) OngKos mencuci pakaian, gelas, piring dan keperluanmu - GRATIS
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku - GRATIS

Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, "Saya Sayang Ibu". Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu didepan surat yang ditulisnya: "Telah Dibayar".

*sumber:
http://ikikatta.blogspot.com/2010/05/ibumu-super-hero-tiada-tanding-di-jagat.html

Tentang Film Bokep alias Porno

Bokep mania…. ANDA PERLU BACA YANG SATU INI
  1. Artis porno 100% berbohong kalo mereka bilang menikmati pembuatan film bokep yg mereka peranin. Meski artis wanita bisa dibayar 10x lipat dari pemeran pria tapi dalam proses pembuatan film porno bisa berlangsung 18 jam sehari untuk menghemat budget dan dalam sehari mereka bisa shoting utk 3 s/d 4 scene berbeda!
  2. Setiap scene nya bisa berlangsung berjam-jam tergantung dari apa aktornya bisa ”tampil” sesuai dengan harapan sang sutradara atau apa si artis yg harus istirahat dulu karena rasa sakit saat melakukan adegan hardcore. Seperti adegan anal sex yg seringkali harus dihentikan karena ada yg seharusnya gk boleh tampil….
  3. Saat menunggu scene berikutnya biasanya artis porno menghabiskan waktu di restroom utk minum minuman keras atau pake narkoba biar bisa ngurangin rasa malu dan sakit dalam adegan berikutnya. Untuk diketahui di industri film porno test yg wajib dilakukan utk tiap aktor & artis adalah test HIV (sebulan sekali) sedangkan test drugs tdk ada.
  4. Situasi saat shooting film porno sangat menyiksa baik secara fisik maupun mental khususnya utk artis wanita karena 12 – 18 orang berdiri dibalik layar (banyangin aja lu ngeseks sama orang ditontonin orang banyak) mulai dari sutradara & asistennya, fans berat yg dapet hadiah nonton langsung sampai tukang lampu dan fotografer yg punya hak utk mem “freeze” adegan tertentu agar bisa diambil angle foto yg terbaik.
  5. Artis porno adalah pembohong profesional karena kalo mereka menceritakan kenyataan sebenernya maka hancurlah fantasi yg ada di tiap kepala ngeres para penggemar dan sekaligus menghancurkan karir “indah” mereka. Dan disinilah ironisnya karena udah terbiasa bohong para artis film bokep biasanya malah punya kemampuan akting yg lebih baik dari kebanyakan bintang hollywood. Wow
  6. Sepanjang tahun 2007 9 bintang film porno meninggal karena HIV Sad
  7. 66% bintang bokep menderita herpes dan sekitar 12-28% menderita penyakit menular seksual lainnya………. Sad
  8. Sejak tahun 1990 sudah ada 26 bintang porno mati bunuh diri. Sad
  9. Sejak tahun 1990 ada 45 bintang porno meninggal akibat overdosis narkoba.
  10. Lebih dari 90 orang bintang porno positif HIV, 25 org masih bertahan hidup.
  11. Antara tahun 2003 sd 2005, 976 bintang film porno dilaporkan positif menderita penyakit menular seksual. 
    *http://forumbebas.com/

Kitab Talmud: Ayat-ayat Syaitan

Ditulis oleh Abu Ridhwan

Kitab Talmud adalah kitab suci yang terpenting bagi kaum Yahudi, bahkan lebih penting daripada Kitab Taurat. Kitab Talmud bukan saja menjadi sumber dalam penetapan hukum agama, tetapi juga menjadi ideologi dan prinsip-prinsip, serta arahan bagi penyusunan kebijakan negara dan pemerintah Yahudi Israel, dan menjadi pandangan hidup orang Yahudi pada umumnya. Itulah sebabnya mengapa negara Yahudi Israel disebut sebagai negara yang rasis, chauvinistik, theokratik, konservatif, dan sangat dogmatik. Untuk memahami isi hati negara Israel yang tampak arogan, keras-kepala, tidak kenaI kompromi, kita perlu memahami isi ajaran Kitab Talmud, yang diyakini oleh orang Yahudi sebagai kitab suci yang terpenting di antara kitab-kitab suci mereka.

Keimanan orang Yahudi terhadap Kitab Talmud mengatasi keyakinan mereka kepada Kitab Perjanjian Lama, yang juga dikenal dengan nama Taurat. Bukti tentang hal ini dapat ditemukan dalam Talmud ‘Erubin’ 2b (edisi Soncino) yang mengingatkan kepada kaum Yahudi, “Wahai anakku, hendaklah engkau lebih mengutamakan fatwa dari para Ahli Kitab (Talmud) daripada ayat-ayat Taurat”.

Para pendeta Talmud mendakwa sebahagian dari isi Kitab Talmud merupakan himpunan dari ajaran yang disampaikan oleh Nabi Musa a.s. secara lisan. Sehingga dengan kedatangan Nabi Isa a.s. Kitab Talmud belum dihimpun secara bertulis seperti bentuknya yang sekarang. Nabi Isa a.s. mengutuk tradisi ‘mishnah’ (Talmud awal) termasuk mereka yang mengajarkannya (para pendeta Yahudi dan kaum Farisi), kerana isi Kitab Talmud seluruhnya menyimpang, bahkan bertentangan dengan Kitab Taurat. Kaum Kritstian, kerana ketidakfahamannya, hingga hari ini menyangka Perjanjian Lama merupakan kitab tertinggi bagi agama Yahudi. Sangkaan itu keliru.

Para pendeta Parisi mengajarkan, doktrin dan fatwa yang berasal dari para rabbi (pendeta), lebih tinggi kedudukannya daripada wahyu yang datang dari Tuhan. Talmud mengemukakan hukum-hukumnya berada di atas Taurat, dan bahkan tidak mendukung isi Taurat. Seorang peneliti Yahudi, Hyam Maccoby, dalam bukunya ‘Judaism on Trial’ mengutip pemyataan Rabbi Yehiel ben Joseph, bahawa “Tanpa Talmud kita tidak akan mampu memahami ayat-ayat Taurat … Tuhan telah melimpahkan sewenangnya kepada mereka yang arif, kerana tradisi merupakan suatu keperluan yang sama seperti kitab-kitab wahyu. Para arif itu membuat tafsiran mereka … dan mereka yang tidak pernah mempelajari Talmud tidak akan mungkin mampu memahami Taurat.”

Memang ada kelompok di kalangan kaum Yahudi yang menolak Talmud, dan tetap berpegang teguh kepada kitab Taurat saja (Perjanjian Lama yang sekarang) Mereka ini disebut golongan ‘Karaiyah’, kelompok yang sepanjang sejarahnya paling dibenci dan menjadi korban dizalimi oleh para pendeta Yahudi orthodoks.

Kepada tradisi ‘mishnah’ itu para pendeta Yahudi menambah sebuah kitab lagi yang mereka sebut ‘Gemarah’ (kitab “tafsir” para pendeta). Tradisi ‘mishnah’ (yang kemudian dibukukan) bersama dengan “Gemarah’, disebut Talmud. Ada dua buah versi Kitab Talmud, yaitu ‘Talmud Jerusalem’ dan ‘Talmud Babilonia’. ‘Talmud Babilonia’ dipandang sebagai kitab yang paling berpengaruh.

Beberapa kutipan yang diambil dari Kitab Tamud dalam huraian berikut ini merupakan dokumen asli yang sebenar, dengan harapan dapat memberikan penjelasan kepada segenap ummat manusia, termasuk kaum Yahudi, tentang kesesatan dan rasisme dari ajaran Talmud yang penuh dengan kebencian, yang menjadi kitab suci baik bagi kaum Yahudi Orthodoks mahupun Hasidiyah di seluruh dunia.

Pelaksanaan ajaran Talmud tentang keunggulan kaum Yahudi yang didasarkan pada ajaran kebencian itu telah menyebabkan penderitaan yang tak terperi terhadap orang lain sepanjang sejarah ummat manusia sehingga dengan saat ini, khususnya di tanah Palestin. Ajaran itu telah dijadikan dalih untuk membenarkan pembantaian secara besar-besaran terjadap penduduk awam Arab-Palestin. Kitab Talmud menetapkan bahawa semua orang yang bukan-Yahudi disebut “goyyim”, sama dengan binatang, darjat mereka di bawah darjat manusia. Ras Yahudi adalah “ummat pilihan”, satu-satunya ras yang mengklaim diri sebagai keturunan langsung dari Nabi Adam a.s. Marilah kita periksa beberapa ajaran Talmud.

Beberapa Contoh Isi Ajaran Talmud

Erubin 2b, “Barangsiapa yang tidak taat kepada para rabbi mereka akan dihukum dengan cara dijerang di dalam kotoran manusia yang mendidih di neraka”.

Moed Kattan 17a, “Bilamana seorang Yahudi tergoda untuk melakukan sesuatu kejahatan, maka hendaklah ia pergi ke suatu kota dimana ia tidak dikenal orang, dan lakukanlah kejahatan itu disana”

Menganiaya seorang Yahudi Sama Dengan Menghina Tuhan

Sanhedrin 58b, “Jika seorang kafir menganiaya seorang Yahudi, maka orang kafir itu harus dibunuh”.

Dibenarkan Menipu Orang yang Bukan-Yahudi

Sanhedrin 57a, “Seorang Yahudi tidak wajib membayar upah kepada orang kafir yang bekerja baginya”.

Orang Yahudi Mempunyai Kedudukan Hukum yang Lebih Tinggi

Baba Kamma 37b, “Jika lembu seorang Yahudi melukai lembu kepunyaan orang Kanaan, tidak perlu ada ganti rugi; tetapi ,jika lembu orang Kanaan sampai melukai lembu kepunyaan orang Yahudi maka orang itu harus membayar ganti rugi sepenuh-penuhnya”.

Orang Yahudi Boleh Mencuri Barang Milik Bukan-Yahudi

Baba Mezia 24a, “Jika seorang Yahudi menemukan barang hilang milik orang kafir, ia tidak wajib mengembalikan kepada pemiliknya”. (Ayat ini ditegaskan kembali di dalam Baba Kamma 113b),

Sanhedrin 57a, “Tuhan tidak akan mengampuni seorang Yahudi ‘yang mengawinkan anak-perempuannya kepada seorang tua, atau memungut menantu bagi anak-lakinya yang masih bayi, atau mengembalikan barang hilang milik orang Cuthea (kafir)’ …”.

Orang Yahudi Boleh Merampok atau Membunuh Orang Non-Yahudi

Sanhedrin 57a, “Jika seorang Yahudi membunuh seorang Cuthea (kafir), tidak ada hukuman mati, Apa yang sudah dicuri oleh seorang Yahudi boleh dimilikinya”.

Baba Kamma 37b, “Kaum kafir ada di luar perlindungan hukum, dan Tuhan membukakan uang mereka kepada Bani Israel”.

Orang Yahudi Boleh Berdusta kepada Orang Non-Yahudi

Baba Kamma 113a, “Orang Yahudi diperbolehkan berdusta untuk menipu orang kafir”.

Yang Bukan-Yahudi adalah Hewan di bawah Darjat Manusia

Yebamoth 98a, “Semua anak keturunan orang kafir tergolong sama dengan binatang”.

Abodah Zarah 36b, “Anak-perempuan orang kafir sama dengan ‘niddah’ (najis) sejak lahir”.

Abodah Zarah 22a – 22b, “Orang kafir lebih senang berhubungan seks dengan lembu”.

Ajaran Gila di dalam Talmud

Gittin 69a, “Untuk menyembuhkan tubuh ambil debu yang berada di bawah bayang-bayang tandas, dicampur dengan madu lalu dimakan”.

Shabbath 41a, “Hukum yang mengatur keperluan bagaimana kencing dengan cara yang suci telah ditentukan”.
Yebamoth 63a, ” … Adam telah bersetubuh dengan semua binatang ketika ia berada di Syurga”.

Yebamoth 63a, “…menjadi petani adalah pekerjaan yang paling hina “.

Sanhedrin 55b, “Seorang Yahudi boleh mengahwini anak-perempuan berumur tiga tahun (persisnya, tiga tahun satu hari)”.

Sanhedrin 54b, “Seorang Yahudi diperbolehkan bersetubuh dengan anak-perempuan, asalkan saja anak itu berumur di bawah sembilan tahun”.

Kethuboth 11b, “Bilamana seorang dewasa bersetubuh dengan seorang anak perempuan, tidak ada dosanya”.

Yebamoth 59b, “Seorang perempuan yang telah bersetubuh dengan seekor binatang diperbolehkan menikah dengan pendeta Yahudi. Seorang perempuan Yahudi yang telah bersetubuh dengan jin juga diperbolehkan kawin dengan seorang pendeta Yahudi”.

Abodah Zarah 17a, “Buktikan bilamana ada pelacur seorangpun di muka bumi ini yang belum pernah disetubuhi oleh pendeta Talmud Eleazar”.

Hagigah 27a, “Nyatakan, bahawa tidak akan ada seorang rabbi pun yang akan masuk neraka”.

Baba Mezia 59b, “Seorang rabbi telah berdebat dengan Tuhan dan mengalahkan-Nya. Tuhan pun mengakui bahawa rabbi itu memenangkan debat tersebut”.

Gittin 70a, “Para rabbi mengajarkan, ‘Sekeluarnya seseorang dari tandas, maka ia tidak boleh bersetubuh sampai menunggu waktu yang sama dengan menempuh perjalanan sejauh setengah mil, konon iblis yang ada di tandas itu masih menyertainya selama waktu itu, kalau ia melakukannya juga (bersetubuh), maka anak-keturunannya akan terkena penyakit ayan”.

Gittin 69b, “Untuk menyembuhkan penyakit kelumpuhan campur kotoran seekor anjing berbulu putih dan campur dengan balsem; tetapi bila memungkinkan untuk menghindar dari penyakit itu, tidak perlu memakan kotoran anjing itu, kerana hal itu akan membuat anggota tubuh menjadi lemas “.

Pesahim 11a, “Sungguh terlarang bagi anjing, perempuan, atau pohon kurma, berdiri di antara dua orang laki-laki. Kerana musibah khusus akan datang jika seorang perempuan sedang haid atau duduk-duduk di perempatan jalan “.

Menahoth 43b-44a, “Seorang Yahudi diwajibkan membaca doa berikut ini setiap hari, ‘Aku bersyukur, ya Tuhanku, kerana Engkau tidak menjadikan aku seorang kafir, seorang perempuan, atau seorang budak belian’ “.


Kisah-kisah Holocaust oleh Romawi

Di dalam Talmud, ayat Gittin 57b ada dikisahkan tentang dibantainya 4 juta orang Yahudi oleh orang Romawi di kota Bethar. Gittin 58a, mendakwa bahawa 16 juta anak-anak Yahudi dibungkus ke dalam satu gulungan dan dibakar hidup-hidup oleh orang Romawi.
Demografi tentang zaman kuno menyatakan orang Yahudi di seluruh dunia pada masa penjajahan oleh Romawi tidak sampai berjumlah 16 juta, bahkan 4 juta pun tidak ada).

Pengakuan Talmud

Abodah Zarah 70a, “Seorang rabbi ditanya, apakah anggur yang dicuri di Pumbeditha boleh diminum, atau anggur itu sudah dianggap najis, kerana pencurinya adalah orang-orang kafir (seorang bukan-Yahudi bila menyentuh guci anggur, maka anggur itu dianggap sudah najis). Rabbi itu menjawab, tidak perlu dipedulikan, anggur itu tetap halal (‘kosher’) bagi orang Yahudi, kerana majotiri pencuri yang ada di Pumbeditha, tempat dimana guci-guci anggur itu dicuri, adalah orang-orang Yahudi”. (Kisah ini juga ditemukan di dalam Kitab Gemara, Rosh Hashanah 25b).

Ibadah Orang Farisi

Erubin 21 b, “Rabbi Akida berkata kepadanya, ‘Berikan saya air untuk mencuci tangan saya’. Ia menjawab, ‘Air itu tidak cukup bahkan untuk diminum, apalagi untuk membasuh tanganmu’ keluhnya. ‘Lalu apa yang harus saya perbuat ?’ tanya seseorang lainnya, ‘padahal engkau tahu menentang ucapan seorang rabbi diancam dengan hukuman mati?’ ‘Saya lebih baik mati daripada menentang pendapat kawan-kawan saya’ ” (Ritual cuci tangan ini terakam dikutuk Nabi Isa a.s. dalam Injil Matius 15 : 1- 9).

Pembunuhan Dihalalkan oleh Talmud

Perjanjian Kecil, Soferim 15, Kaidah 10, “Inilah kata-kata dari Rabbi Simeon ben Yohai, ‘Tob shebe goyyim harog’ (“Bahkan orang kafir yang baik sekali pun seluruhnya harus dibunuh”). Orang-orang Israeli setiap tahun mengikuti acara nasional ziarah ke kuburan Simon ben Yohai untuk memberikan penghormatan kepada rabbi yang telah menganjurkan untuk menghabisi orang-orang non-Yahudi.2

Di Purim, pada tanggal 25 Februari 1994 seorang perwira angkatan darat Israel, Baruch Goldstein, seorang Yahudi Orthodoks dari Brooklyn, membunuh 40 orang muslim, termasuk anak-anak, tatkala mereka tengah bersujud solat di sebuah masjid. Goldstein adalah pengikut mendiang Rabbi Meir Kahane, yang menyatakan kepada bilik berita CBS News, bahawa ajaran yang dianutnya mengatakan orang-orang Arab itu tidak lebih daripada anjing, sesuai ajaran Talmud”.3 Ehud Sprinzak, seorang profesor di Universiti Jerusalem menjelaskan tentang falsafah Kahane dan Goldstein, “Mereka percaya adalah telah menjadi iradat Tuhan, bahawa mereka diwajibkan untuk melakukan kekerasan terhadap ‘goyyim’, sebuah istilah Yahudi untuk orang-orang non-Yahudi”.4

Rabbi Yizak Ginsburg menyatakan, “Kita harus mengakui darah seorang Yahudi dan darah orang ‘goyyim’ tidaklah sama”.5 Rabbi Jacov Perrin berkata, “Satu juta nyawa orang Arab tidaklah seimbang dengan sepotong kelingking orang Yahudi”.6

Pemarah dan Bersabar

via flickr

Hanya seorang yang pemarah yang bisa betul-betul bersabar. Seseorang yang tidak bisa merasa marah tidak bisa disebut penyabar, karena dia hanya tidak bisa marah. Sedangkan seorang lagi yang sebetulnya merasa marah, tetapi mengelola kemarahannya untuk berlaku baik dan adil adalah seorang yang berhasil menjadikan dirinya bersabar. Dan bila Anda mengatakan bahwa untuk bersabar itu sulit, Anda sangat tepat, karena kesabaran kita diukur dari kekuatan kita untuk tetap mendahulukan yang benar dalam perasaan yang membuat kita seolah-olah berhak untuk berlaku melampaui batas.


~ Mario Teguh

Derita Sepasang Merpati Tua

Cerpen: Soeseno, Rm

Satu bulan sudah aku berada di Desa Ponclot karena ikatan dinas untuk mengajar di sebuah sekolah dasar di desa yang terpencil ini. Syukurlah, tempat mengajarku tidak begitu jauh dari rumah induk semangku karena letaknya di ujung kampung. Setiap pergi pulang mengajar, aku harus melewati rumah penduduk yang sebagian besar semipermanen, dan juga beberapa rumah panggang.

"Dik Kris, hati-hati kalau lewat rumah panggung tua yang di ujung kampung itu!" kata Pak Kosim sembari menunjuk ke arah rumah tua.

Sebuah rumah panggung yang tidak bertetangga. Terkucil! Peringatan kedua dari Pak Kosim kembali membuat aku mengernyitkan kening.

"Iya, Nak Kris...! Ki Dirja itu punya ilmu santet," sambung Pak Danu, pemilik rumah induk semangku. "Selain itu, dia juga punya tuyul."

"Jadi, kalau Nak Kris punya uang, jangan dibiarkan lepas. Uang lembaran itu harus dijepit, terus taruh cermin di tempat uang, jangan lupa... bawang putih tunggal," sela Pak Kosim.

"Untuk apa itu semua, Pak?" tanyaku tak bisa menyembunyikan keherananku mendengar syarat-syarat yang disebutkan Pak Kosim.

"Itu lho... uang yang dijepit biar susah mengambilnya. Cermin... tuyul itu kan anak-anak, kalau dikasih cermin, dia bisa lupa tugasnya, ngaca melulu... Nah, bawang putih... banyak menyengat, dan biasanya ditakuti makhluk halus." paparnya.

Aku hanya bisa mengangguk-angguk mendengar uraian Pak Kosim. Karena dalam hal ini aku kurang paham. Namun sepengetahuanku, itu pun menurut cerita dari mulut ke mulut, bahwa kalau orang punya "piaraan" biasanya akan hidup makmur dan mewah. Kok ini berbeda jauh dengan kehidupan Ki Dirja. Rumah panggungnya sudah tua dan hendak ambruk karena tidak terawat.

Hati kecilku sendiri sebenarnya menolak omongan orang-orang kampung ini. Sebab, kemarin pagi aku sempat bertemu langsung dengan Ki Dirja dan istrinya, saat membersihkan halaman rumah.

"Permisi, Ki... numpang lewat," aku memulai sapaanku. Aku melihat dengan jelas, pasangan suami istri yang renta itu tersenyum senang. Pikirku, mungkin jarang sekali orang yang mau menegur mereka.

"Mau pergi ke mana, Nak...?" Ki Dirja membalas sapaanku.

"Sekolah, Ki.... Mari ditinggal dulu...."

Itulah pertama kalinya aku bertemu dan bertutur sapa dengan mereka. Jauh, jauh sekali dari yang kubayangkan sebelumnya. Sosok tua yang ringkih, kesedihan yang membias di mata mereka.... Ah, nuraniku memilih iba ketimbang takut.

Sore hari.

"Nak Kris ini gimana sih? Bapak kan sudah memperingatkan. Kok malah nekat mau berkunjung ke rumahnya," kata Pak Kosim yang tampak khawatir. Dia berusaha mencegah langkahku.

"Ya, ndak apa-apa kok, Pak! Saya hanya ingin mengenalnya lebih dekat."

"Tapi, Nak...," suara Pak Kosim terhenti ketika dilihatnya aku mulai beranjak tidak memedulikan kekhawatirannya.

Suasana senja mewarnai desa terpencil ini. Tak berapa lama, ketika mendekati rumah tua itu, hatiku mulai berdebar keras. Entahlah, aku sendiri tak mampu menahan debaran jantung yang makin kencang ini. Apalagi tak ada seorang pun di sekitar sini. Suasana lengang, sementara matahari makin turun, seolah hendak bersembunyi.

"Permisiii...," teriakku lebih keras lagi. Heran! Sepertinya tak ada orang di dalam rumah. Jangan-jangan....

"Lho, ada tamu rupanya...," sebuah suara mengagetkanku. Hmm... ternyata Ki Dirja dan istrinya muncul di belakangku.

"Eh, Ki... nggg. Begini, Ki... saya ke mari cuma mau main."

"Ealah, apa ndak salah... main kok ke mari?" sahut Ki Sudirja, nama lengkapnya.

"Nek, Si Jalu* ini mau main katanya he... he... he...."

Ki Dirja tiba-tiba terkekeh panjang dan istrinya pun ikut-ikutan terkekeh. Aku bingung memandang mereka bergantian. Tanpa disadari bulu kudukku merinding mendengar suara tawa pasangan tua ini.

Ki Dirja tiba-tiba terkekeh panjang dan istrinya pun ikut-ikutan terkekeh. Aku bingung memandang mereka bergantian. Tanpa disadari bulu kudukku merinding mendengar suara tawa pasangan tua ini.

"Apa yang lucu, Ki?" tanyaku polos.

"Lha, iya... lucu sekali kau ini. Sebab, orang-orang kampung pada takut ke mari, eh... kau malah mau main segala. Apa kau ndak takut, Nak?"

Hmm, aku menarik napas lega. Kini aku mengerti.

"Ya, ndak Ki. Saya ke mari ingin sowan, boleh kan?"

"Ya, sudah... kalau begitu maumu," kata Ki Dirja yang kemudian mengajakku untuk duduk di sampingnya. Aku menurutinya.

"Nek, ambil minuman untuk Si Jalu!"

Suasana hening sejenak.

"Sungguh kejam orang-orang kampung ini, Nak...," jawab Ki Sudirja dengan mata nanar saat aku menyinggung sikap orang-orang kampung kepada mereka berdua. Nek Jum, panggilan akrab Nenek Jumsih, istrinya tertunduk ketika mendengar ucapan Ki Dirja.

Dulu, kata Ki Dirja, mereka punya anak empat orang. Tapi semua anaknya itu meninggal satu per satu. Ki Dirja sendiri mengaku tidak tahu sebabnya.

"Maklum, kami orang bodoh dan miskin. Kami kira anak-anak sakit demam biasa atau kena cacar. Karena kulitnya bintik-bintik merah, hidungnya keluar darah... kayak mimisan," tuturnya.

Namun orang-orang tidak mau tahu, mereka menuduh Ki Dirja "mengorbankan" anak-anaknya satu per satu, untuk mencari kekayaan dengan cara melakukan pesugihan. "Kau lihat sendiri.... Apa aku ini orang kaya harta? Ndak kan! Aku masih punya iman, Nak.... Tak mungkin aku harus mengorbankan anak-anak kesayangan kami hanya untuk mencari kekayaan yang dibenci oleh Gusti Allah. Tidak!!" suara Ki Dirja terdengar serak.

Sepintas kulihat mata tuanya berkaca-kaca, dan dadanya naik turun menahan gejolak batinnya. Dan di sebelahnya, Nek Jum tergugu menangis, yang sekali-sekali mengusap air matanya dengan ujung baju kumalnya. Kedua tubuh pasangan suami istri yang ringkih itu berguncang hebat. Aku tercekat. Sungguh tak kusangka bila di hari tua mereka yang seharusnya hidup tenang, mereka justru menyimpan penderitaan yang amat berat.

"Sejak itulah, orang-orang kampung mengucilkan kami, Nak! Jadi engkaulah orang pertama yang datang ke mari setelah dua puluh tahun lalu...," ungkap Ki Dirja pasrah.

"Sudahlah, Kek.... Orang sabar itu kan selalu bersama Gusti Allah." Nek Jum meraih tangan suaminya. Ia sendiri berusaha menghapus sisa tangisnya.

"Eh, iya... aku udah cerita. Sekarang giliranmu, Nak...!" kata Ki Dirja mengalihkan pembicaraan.

"Euu... namaku Krisanto. Cukup panggil Kris saja, Ki. Aku ditugaskan pemerintah untuk mengajar di sekolah dasar di desa ini."

"Apa kau sudah punya momongan, Nak?" tanya Nek Jum. Aku bersipu.

"Aku masih perjaka, Nek!"

Mereka tertawa mendengar pengakuanku. Namun, Ki Dirja tiba-tiba terdiam sambil memandangiku tajam. Aku jadi heran melihat perubahan mimik pada raut wajah lelaki tua itu.

"Kenapa dan ada apa, Ki?"

"Kalau anak sulung kami si Somad masih hidup, mungkin kini seusiamu. Tapi dia sudah dipanggil Gusti Allah.... Kami merasa sangat kehilangan. Sedih, Nak!"

"Kalau begitu, anggap saja aku ini si Somad," aku menghiburnya.

Mereka tampak sumringah.

Bila ada waktu luang, hampir setiap hari aku mengunjungi Ki Dirja dan istrinya, meski sekadar mengobrol ngalur ngidul. Tak kupedulikan omongan orang-orang kampung yang menganggapku sudah "kena" ilmu guna-guna Ki Dirja. Aku tak berubah pikiran.

"Pak Kosim, sesungguhnya anak mereka itu meninggal akibat serangan demam berdarah. Bukan dikorbankan untuk mencari kekayaan dengan cara pesugihan atau tumbal untuk memiliki ilmu santet dan lainnya. Mereka itu orang lemah, Pak. Kasihan mereka," kataku mencoba menjelaskan duduk persoalannya.

"Ah, kau ini tahu apa sih? Bukankah Nak Kris baru tiga bulan di desa ini? Bapak? Bapak sudah karatan, lebih tahu daripada Nak Kris," kata Pak Kosim ketus.

"Kalaupun kata-katamu itu benar, berarti Nak Kris harus melawan pendapat seluruh penduduk sini. Padahal, sudah bertahun-tahun Ki Dirja dan istrinya dikucilkan penduduk kampung. Dan kini, Nak Kris mau mendobraknya," sela Pak Danu mencoba menenangkan hatiku.

Aku diam saja. Padahal, batinku berkecamuk berbagai perasaan. Ada marah, kesal, jengkel, tak berdaya... jadi satu. Sebagiannya, justru orang-orang kampunglah yang membesar-besarkan persoalan. Karena mereka sendiri yang percaya dengan hal-hal mistik berbau takhayul. Bahkan, merekalah yang menyebarkan fitnah busuk itu turun-temurun kepada anak cucu mereka.

"Nak Kris, ndak perlu sering-sering sowan ke mari. Apa kata orang nanti...!!" pernah Ki Dirja memperingatkanku. Aku tersenyum kecut mendengarnya.

Kamis petang.

"Ki Dirja mati.... Ki Dirja mati...!!" teriak Arif, anak Karang Taruna, sepanjang jalan desa. Teriakannya mengejutkan orang-orang. Aku yang sedang membereskan buku-buku untuk mengajar besok segera keluar.

"Ada apa, Rif? Bapak dengar, Ki Dirja meninggal? Kapan?"

"Benar, Pak! Kabarnya sih sudah dua hari ini...," sahut Rif sambil berlalu.

"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un," gumamku. Kemudian aku menghambur menembus kegelapan malam.

Selama seminggu ini, memang aku ditugaskan kepala sekolah untuk mengikuti penataran di kantor Diknas Kecamatan. Untuk menghemat ongkos dan waktu, maka aku menetap di kota kecamatan karena bila pergi pulang jaraknya jauh. Dan baru sore tadi aku kembali ke desa.

Pada malam itu, jalan menuju rumah Ki Dirja yang biasanya lengang, mendadak ramai. Bahkan, banyak kaum ibu dan anak-anak ramai memperbincangkan kematian lelaki tua yang malang itu. Dari ucapan mereka, aku sempat menangkap selentingan, "Itulah, kalau orang punya ilmu hitam, matinya juga ndak ketahuan...." Ada pula yang berkata, "Kalau dia mati, kampung kita bakal aman...."

Aku hanya menghela napas.

Begitu tiba di depan rumah Ki Dirja, aku menyibak kerumunan orang, untuk bisa segera tiba. Alamak, Ki Dirja dalam kondisi yang sangat mengenaskan di kamar sumpeknya. Darah bertebaran di pelupuh. Agaknya ia batuk darah sebelum meninggal. Semua orang sibuk menonton dan berkomentar. Namun tidak seorang pun yang berinisiatif memperlakukannya seperti layaknya seorang manusia meninggal.

"Kenapa tidak dimandikan?" akhirnya aku berteriak kesal bercampur marah. Tak peduli meski aku ini hanya tamu di kampung ini.

"Wah, ndak ada yang berani, Pak Kris!" sahut seorang ibu di dekat pintu depan rumah.

"Panggil Kosim ndak mau, katanya sih ndak berani, Pak! Pak Kosim kan orangnya penakut, Pak," sahut ibu lainnya.

Semula, aku hendak menyuruh orang untuk memanggil Pak Danu, induk semangku. Tapi aku ingat, Pak Danu sejak pagi tadi keluar desa, menengok anaknya. "Kalian semua sungguh biadab...," gerutuku.

Aku bergegas keluar rumah. Tujuanku tak lain ke rumah Pak H Wahid di kampung tetangga. Aku berharap, orang tua ini bersikap lebih arif karena ia berpendidikan dan seorang tokoh masyarakat yang disegani. Sekitar satu jam kemudian....

Akhirnya, aku dan Pak H Wahid yang memandikan mayat Ki Dirja yang sudah mulai lembam. Setelah dishalatkan, malam itu juga, jenazah Ki Dirja dikebumikan di belakang rumahnya sendiri. Jika menunggu izin untuk dikubur di pemakaman umum, akan membutuhkan waktu lama dan bertele-tele. Sedangkan kondisi mayat Ki Dirja sudah sedemikian memprihatinkan. Aku khawatir, bila mayat lelaki tua itu dibiarkan lebih lama lagi, akan membusuk.

Malam makin larut, Satu per satu penduduk kampung pulang ke rumah masing-masing. Sementara aku dan H Wahid belum beranjak.

"Nek Jum...," aku memanggil wanita tua itu yang duduk di pojok rumah. Ia diam saja dan matanya tampak nanar. "Nenek harus tawakal menghadapi cobaan berat ini." hiburku.

"Nak Kris, sekarang Nenek sendirian," wanita tua itu terisak.

"Kan ada aku, Nek!"

"Kemarin pagi, aku kira si Dirja tidur nyenyak ndak mau diganggu, ndak tahunya... pergi untuk selamanya."

"Sudahlah, Nek! Sekarang kita tidur saja. Doakan saja, semoga Tuhan menempatkan Ki Dirja pada tempat yang layak."

Malam itu, aku dan H Wahid tidur di rumah panggung tua itu, menemani Nek Jumsih yang sangat terpukul dengan kematian suami tercintanya.

Seminggu sejak kematian Ki Dirja, kudengar desas-desus yang berbau takhayul makin sengit beredar di kalangan penduduk kampung. Bahkan, rumah tua Ki Dirja tambah angker di mata penduduk.

Walau begitu, aku tetap setia mengunjungi Nek Jum, kadang berlama-lama dan menemani tidur. Aku sering menyesali ketakberdayaanku. Tak mampu rasanya aku menghapus duka yang begitu dalam milik wanita tua itu, wajah yang makin tirus dimakan usia dan penderitaan selama bertahun-tahun. Ibarat sepasang merpati tua, Ki Dirja dan Nek Jumsih hidup sebatang kara penuh derita.

"Nak Kris, Nenek sudah ndak sanggup lagi.... Dulu, waktu Ki Dirja masih hidup, Nenek punya kawan. Tapi sekarang... Nenek ingin menyusul Ki Dirja!"

"Jangan bicara begitu, Nek!" aku menghapus air mata yang menggenang di sudut mataku.

Dunia ini terlalu kejam untuk orang tua ini. Ah, jika aku dapat membawanya pergi ke luar dari desa ini.... Tapi, ikatan dinasku!!

Beberapa bulan kemudian. Minggu pagi, setelah selesai mencuci, seperti biasanya aku selalu sowan ke rumah Nenek Jumsih untuk menemaninya.

"Nek Jum...," panggilku seraya langsung masuk ke rumah tua itu.

Di sini sudah seperti rumahku sendiri. Jadi, aku tak sungkan lagi masuk-keluar rumah. "Nekk...!" panggilku lagi. Tidak ada sahutan. Aku celingukan mencari wanita ringkih itu. Lalu kulongokkan kepalaku ke dalam kamarnya.

Ada. Sedang tidur. Aku mendekat untuk membangunkannya. "Nek, sudah siang... bangun!" Juga tak ada sahutan. Aku mencoba mengguncang-guncang tubuhnya. Aku panik, karena tubuhnya terguncang semua. Tubuh tua itu terbujur kaku."Nekk...!!" seruku. Dan tangisku meledak tak tertahan.

Kini, tak akan kudengar lagi suara lembut milik Nenek Jumsih. Tak akan ada lagi sosok ringkih yang menyambutku di rumah itu. Tak akan kudengar lagi suara pasrahnya yang bercerita tentang luka hatinya, kerinduannya pada anak dan suaminya. Tak akan lagi....

Kini, sepasang merpati tua itu telah tiada.

* Si Jalu = anak laki-laki belum menikah

Dimuat di Suara Pembaruan pada 04/06/2003

Ilustrasi Palestina-Israel

 
Airpun mereka tak punya

 
Israel hanya mengenal bahasa kekerasan

 
Tembok rasis

 
Cape deh~..

Sebuah poster gerakan perdamaian: bendera Israel dan Palestina dan kata-kata perdamaian dalam bahasa Arab dan Ibrani.
*Barnard Wiraharja, 10 Juni 2010, 08:04 via KOMPAS
.
.

Ketahuilah Olehmu

Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia..
Allah SWT tahu betapa keras engkau sudah berusaha.


Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih…

Allah SWT sudah menghitung airmatamu.


Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berlalu begitu saja…

Allah SWT sedang menunggu bersama denganmu.


Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menghubungimu …

Allah SWT selalu berada di sampingmu.


Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi…

Allah SWT punya jawabannya.


Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan…
Allah SWT dapat menenangkanmu.


Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan…
Allah SWT sedang berbisik kepadamu.


Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur…

Allah SWT telah memberkatimu.


Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban…

Allah SWT telah tersenyum padamu.


Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi…

Allah SWT sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.


Ingat bahwa di manapun kau atau ke manapun kau menghadap…

Allah MAHA TAHU & MAHA MENDENGAR

 .
.

Hati Menemukan Kedamaian dengan Mengingat Allah

Oleh: HARUN YAHYA

Menurut penelitian oleh David B Larson dan timnya dari the American National Health Research Center [Pusat Penelitian Kesehatan Nasional Amerika], pembandingan antara orang Amerika yang taat dan yang tidak taat beragama telah menunjukkan hasil yang sangat mengejutkan. Sebagai contoh, dibandingkan mereka yang sedikit atau tidak memiliki keyakinan agama, orang yang taat beragama menderita penyakit jantung 60% lebih sedikit, tingkat bunuh diri 100% lebih rendah, menderita tekanan darah tinggi dengan tingkat yang jauh lebih rendah, dan angka perbandingan ini adalah 7:1 di antara para perokok. 1
Ibadah dan keimanan kepada Allah memiliki lebih banyak pengaruh baik pada kesehatan manusia daripada keimanan kepada apa pun yang lain.

Dalam sebuah pengkajian yang diterbitkan dalam International Journal of Psychiatry in Medicine, sebuah sumber ilmiah penting di dunia kedokteran, dilaporkan bahwa orang yang mengaku dirinya tidak berkeyakinan agama menjadi lebih sering sakit dan mempunyai masa hidup lebih pendek. Menurut hasil penelitian tersebut, mereka yang tidak beragama berpeluang dua kali lebih besar menderita penyakit usus-lambung daripada mereka yang beragama, dan tingkat kematian mereka akibat penyakit pernapasan 66% lebih tinggi daripada mereka yang beragama.
 
Para pakar psikologi yang sekuler cenderung merujuk angka-angka serupa sebagai "dampak kejiwaan". Ini berarti bahwa keyakinan agama meningkatkan semangat orang, dan hal ini berpengaruh baik pada kesehatan. Penjelasan ini mungkin sungguh beralasan, namun sebuah kesimpulan yang lebih mengejutkan muncul ketika orang-orang tersebut diperiksa. Keimanan kepada Allah jauh lebih kuat daripada pengaruh kejiwaan apa pun. Penelitian yang mencakup banyak segi tentang hubungan antara keyakinan agama dan kesehatan jasmani yang dilakukan oleh Dr. Herbert Benson dari Fakultas Kedokteran Harvard telah menghasilkan kesimpulan yang mencengangkan di bidang ini. Walaupun bukan seorang yang beragama, Dr. Benson telah menyimpulkan bahwa ibadah dan keimanan kepada Allah memiliki lebih banyak pengaruh baik pada kesehatan manusia daripada keimanan kepada apa pun yang lain. Benson menyatakan, dia telah menyimpulkan bahwa tidak ada keimanan yang dapat memberikan banyak kedamaian jiwa sebagaimana keimanan kepada Allah. 2

Apa yang mendasari adanya hubungan antara keimanan dan jiwa raga manusia ini? Kesimpulan yang dicapai oleh sang peneliti sekuler Benson adalah, dalam kata-katanya sendiri, bahwa jasmani dan ruhani manusia telah dikendalikan untuk percaya kepada Allah. 3

Kenyataan ini, yang oleh dunia kedokteran pelan-pelan telah mulai diterima, adalah sebuah rahasia yang dinyatakan dalam Al Qur'an dengan kalimat ini "...Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar Ra’d, 13:28). Alasan mengapa orang-orang yang beriman kepada Allah, yang berdoa dan berharap kepada-Nya, lebih sehat secara ruhani dan jasmani adalah karena mereka berperilaku sesuai dengan tujuan penciptaan mereka. Filsafat dan sistem yang tidak selaras dengan penciptaan manusia selalu mengarah pada penderitaan dan ketidakbahagiaan.

Kedokteran modern sekarang sedang mengarah menuju pemahaman tentang kebenaran ini. Seperti kata Patrick Glynn: "Penelitian ilmiah di bidang psikologi selama lebih dari 24 tahun silam telah menunjukkan bahwa, ... keyakinan agama adalah satu di antara sejumlah kaitan paling serasi dari keseluruhan kesehatan jiwa dan kebahagiaan."
"Penelitian ilmiah di bidang psikologi selama lebih dari 24 tahun silam telah menunjukkan bahwa, ... keyakinan agama adalah satu di antara sejumlah kaitan paling serasi dari keseluruhan kesehatan jiwa dan kebahagiaan." ~ Patrick Glynn.

1. Patrick Glynn, God: The Evidence, The Reconciliation of Faith and Reason in a Postsecular World (California: Prima Publishing: 1997), 80-81.
2. Herbert Benson, and Mark Stark, Timeless Healing (New York: Simon & Schuster: 1996), 203.
3. Ibid., 193.
4. Glynn, God: The Evidence, The Reconciliation of Faith and Reason in a Postsecular World, 60-61. 

.
.

Renungan

Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar - Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.

Sebelum engkau mengeluh mengenai makananmu - Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan/ bahkan mencari makan di tempat sampah.

Sebelum engkau mengeluh tentang suami atau isterimu - Ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan meminta pasangan hidup.

Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu - Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi meninggalkan dunia.

Sebelum engkau mengeluh tentang ayah ibumu - Ingatlah betapa banyak yg tidak pernah merasakan kasih dan cinta mereka..

Sebelum engkau bertengkar karena rumahmu yang kotor, Dan tidak Ada yang membersihkan atau menyapu lantai - Ingatlah akan orang gelandangan yang tinggal di jalanan.

Sebelum merengek karena harus menyetir terlalu jauh - Ingatlah akan sesorang yang harus berjalan kaki untuk menempuh jarak yang sama.

Dan ketika engkau lelah Dan mengeluh tentang pekerjaanmu - Ingatlah akan para penganguran, orang cacat Dan mereka yang menginginkan pekerjaanmu.

Sebelum engkau menuding atau menyalahkan orang lain - Ingatlah bahwa tidak Ada seorang pun yang tidak berdosa Dan Kita harus menghadap pengadilan Tuhan.

Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu - Pasanglah senyuman di wajahmu Dan berterima kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup Dan Ada di dunia sampai saat ini.

"What u think.. what u say.. n what u do.." Itu yg akan mnentukan hidup kalian.. Have a nice day.. God Bless YouO:)

Oleh: Harry Wirjadi via Aisha pada 29 Mei 2010 jam 9:41
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
23