Dia dan Pembelajaran Sejatinya

Dia terlahir tak tahu apa-apa. Pada masa kecil, sebelum dia bisa memutuskan sesuatu, lingkungan mengajarkan banyak hal kepadanya. Baik dan buruk, benar dan salah.

Sampailah dia di usia yang cukup untuk memutuskan arah hidupnya. Pada saat pertama kali dia mulai memutuskan, dia telah memiliki memori dan acuan yang tanpa sadar telah tertanam di dirinya, akibat pengajaran semasa kecil. Dan apa yang tertanam di dirinya itu, akan kuat berpengaruh pada bagaimana cara dia memandang dunia selanjutnya.

Maka dia telah memiliki apa yang dinamakan kepercayaan, karakter, ilmu, wawasan, pengalaman masa lalu dan keinginan dalam skala tertentu.

Lalu dia melihat dunia dalam perbedaan-perbedaan yang luar biasa. Perbedaan pendapat, perbedaan keinginan, perbedaan tujuan yang di antaranya memunculkan perdebatan, percekcokan, bahkan pertumpahan darah. Dia tak tahu siapakah yang benar, siapakah yang salah.



Dan dia pun mendapat informasi tentang Tuhan sebagai yang menciptakan alam raya ini. Tuhan pemilik kebenaran. Tuhan yang tahu mana yang benar dan mana yang salah. Tuhan yang kekuatan dan kekuasaannya tak terbatas.

Maka dia memutuskan untuk mengambil Tuhan sebagai Gurunya. Yang akan menuntunnya mengarungi sisa hidupnya dari tempat dia berdiri sekarang, dari apa yang telah ia jalani sejauh ini, dari kepercayaan, karakter, ilmu, wawasan, pengalaman dan keinginan yang telah melekat sebelumnya.




Tapi sejauh dia memandang, dia sungguh tak tahu apa-apa tentang kebenaran, yang dia tahu adalah hanya Tuhan yang tahu tentang kebenaran. Bagaimana dia selanjutnya bertindak?

Di tengah ketidak-tahuannya tentang kebenaran, dia berusaha melakukan saja apa yang dia anggap paling baik.

Bermohonlah dia kepada Tuhan untuk ditunjukkan mana jalan yang benar menurutNya. Bermohon sambil mengakui kelemahan dan kebodohannya. Bermohon petunjuk sambil mengembalikan lagi kepadaNya apa saja yang telah diyakini dan dijalani selama ini.

Tak mau ia menyembunyikan sesuatupun di hadapan Gurunya. "Inilah Guru, aku kembalikan semua pemahamanku, hanya Engkau yang tahu hakikat kebenarannya. Selanjutnya bimbinglah aku".

Maka pada saat itu dia dalam keadaan kosong, berserahlah dia atas apa yang akan dikehendaki Tuhan kepadanya setelahnya, karena percaya bahwa Tuhan adalah Guru sejati, yang tak akan mencelakakannya.

Setelah meminta petunjuk itu, dia kembali menjalani kehidupannya.




Sekali lagi, sejauh dia memandang, dia sungguh tak berhasil tahu tentang hakikat kebenaran.

Di tengah ketidak-tahuannya itu, dia lakukan apa yang dia anggap paling baik. Membaca kitab yang dianggap suci, memperhatikan alam, memperhatikan masyarakat, memperhatikan dirinya sendiri, dan berbuat apa yang dia anggap terbaik berdasar pemahamannya.

Dia bermohon lagi kepada Tuhan untuk ditunjukkan mana jalan yang benar menurutNya. Bermohon sambil mengakui kelemahan dan kebodohannya. Bermohon petunjuk sambil mengembalikan lagi kepadaNya apa saja yang telah diyakini dan dijalani selama ini.

Tak mau ia menyembunyikan sesuatupun di hadapan Gurunya. "Inilah Guru, aku kembalikan semua pemahamanku, hanya Engkau yang tahu hakikat kebenarannya. Selanjutnya bimbinglah aku".

Maka pada saat itu dia dalam keadaan kosong, berserahlah dia atas apa yang akan dikehendaki Tuhan kepadanya setelahnya, karena percaya bahwa Tuhan adalah Guru sejati, yang tak akan mencelakakannya.

Setelah meminta petunjuk itu, dia kembali menjalani kehidupannya.



Lagi lagi, sejauh dia memandang, dia sungguh tak pantas menyatakan diri tahu tentang hakikat kebenaran.

Di tengah ketidak-tahuannya, tetap dia lakukan apa-apa yang dia anggap paling baik.

Kembali dia membaca kitab yang dianggap suci, memperhatikan alam, memperhatikan masyarakat, memperhatikan dirinya sendiri, dan berbuat apa yang dia anggap terbaik berdasar pemahamannya.

Dia memohon lagi kepada Tuhan untuk ditunjukkan mana jalan yang benar menurutNya. Memohon sambil mengakui kelemahan dan kebodohannya, memohon petunjuk sambil mengembalikan lagi kepadaNya apa saja yang telah diyakini dan dijalani selama ini.

Tak mau ia menyembunyikan sesuatupun di hadapan Gurunya. "Inilah Guru, aku kembalikan semua pemahamanku, hanya Engkau yang tahu hakikat kebenarannya. Selanjutnya bimbinglah aku".
"Inilah Guru, aku kembalikan semua pemahamanku, hanya Engkau yang tahu hakikat kebenarannya. Selanjutnya bimbinglah aku."
Maka pada saat itu dia bermohon dalam keadaan kosong lagi, benar-benar kosong, nol dan tak tahu apa-apa lagi.

Berserahlah dia atas apa yang akan dikehendaki Tuhan kepadanya setelahnya, karena percaya bahwa Tuhan adalah Guru sejati, yang tak akan mencelakakannya, justru akan membawanya pada kenikmatan terbaik.

Setelah meminta petunjuk itu, dia kembali menjalani kehidupannya.

Begitulah seterusnya, hingga akhir hayatnya.

wallohu a'lam


Rahasia Dibalik Gaya Hidup Misterius Orang Jepang

Orang Jepang selalu terlihat misterius. Mereka biasanya jarang tersenyum, kaku dan terlihat sering saling tingkah. Mengetahui ada apa dibalik kebiasaan yang sering dilakukan mungkin dapat sedikit menyibak kemisteriusannya.

Kimono, sumo, sumpit dan sake adalah empat hal yang selalu berkaitan dengan Jepang. Ketiga hal itu juga banyak mempengaruhi cara hidup mereka.

Kimono. Kimono misalnya, baju tradisional ini ternyata bukan sekedar penutup tubuh. Banyak falsafah hidup yang terkandung di dalamnya. Mengenakan kimono tidak boleh sembarang. Ada aturan baku yang harus diikuti. Tidak hanya itu, banyak hal unik yang dilakukan masyarakat berkaitan dengan hal-hal tersebut.



Pakaian Kimono sebagai pakaian tradisional Jepang memberikan identitas bagi masyarakat Jepang yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal dan adat ketimuran dalam hal ini ada beberapa nilai yang dapat dipelajari dalam pakaian kimono yaitu:
  • Pakaian kimono menunjukkan konsistensi masyarakat Jepang yang tidak mudah goyah terhadap arus perubahan yang terjadi di era globalisasi sekarang ini.
  • Nilai kearifan lokal yang menonjol dalam pakian kimono terletak pada karakter dan corak pakaian tersebut. Karakter yang selalu menonojol adalah kerapaian, kebersihan dan kelengkapan membentuk karakter manusia Jepang untuk selalu patuh dan taat pada tradisi lokal.
  • Pakaian kimono adalah salah satu produk budaya yang berdaya cipta luhur sesuai dengan spirit kejepangan.
  • Pakaian kimono mempunyai makna filosofis yaitu penghargaan terhadap leluhur dan mecintai keharmonisan.
  • Pakaian kimono sebagai simbol penghargaan atas kaum perempuan

    Sumpit. Sumpit tidak bisa dipisahkan dalam tata cara makan. Sebagian besar orang Jepang akan mematahkan sumpitnya menjadi dua bagian selesai makan. Menurut adat, apabila sumpit tidak dipatahkan, mereka akan terserang suatu penyakit akibat makanan tersebut. Namun, saat ini tradisi tersebut hanya dilakukan saat bersantap di restoran. Untuk bersantap di rumah, setiap anggota keluarga menyimpan sendiri sumpit masing-masing. Bertukar sumpit tabu dilakukan karena dapat dianggap membawa sial.


    Budaya yang dipengaruhi agama Budha juga mempengaruhi pentingnya benda ini. Masyarakat Jepang selalu menyediakan semacam sesaji untuk arwah kerabatnya yang berbentuk semangkuk nasi dengan sepasang sumpit yang tertancap tegak lurus ditengah nasi. Sepintas benda ini akan berbentuk seperti kuburan dengan sumpit sebagai nisannya.

    Sumo. Kita mungkin bertanya mengapa pemain Sumo selalu berbadan gendut dan besar. Memang , syarat utama pemain Sumo adalah, lelaki dengan struktur tulang besar, dan mampu dan mau menambah berat badannya. tidak semua pemain sumo besar sejak kecil. Malah, banyak yang menjadi besar dan gendut setelah masuk pelatihan khusus. Ketika seseorang sudah diterima sebagai pemain sumo, ia harus mampu menjaga “kebesaran” badannnya.


    Banyak anak muda yang bercita-cita sebagai pemain sumo. Hal ini dapat dimengerti karena seorang juara sumo mendapat tempat istimewa dalam masyarakat. Setiap pemain dianggap dewa daerah asalnya. Dua orang petarung dianggap mewakili Dewa Gunung (Yamasachichiko) dan Dewa Lautan (Umisachichiko). Sebagai juara dia berhak memperoleh fasilitas mobil lengkap dengan bahan bakarnya selama setahun penuh (bensin sangat mahal di Jepang). Ia juga berhak memperoleh seribu jamur shiitake dan seekor sapi setiap kali makan. Selain itu, ia juga berhak mengkonsumsi minuman cola sesuka hatinya.

    Sake. Minuman tradisional ini harus diminum dalam cangkir yang kecil. Hal ini berkaitan dengan tradisi Jepang Kuno. Nenek moyang mereka selalu makan dengan tempat yang terbuat dari kulit kerang besar. Sedangkan kulit kerang kecil digunakan sebagai cawan air. Maka, saat ini minuman harus selalu ditempatkan di wadah kecil. Sedangkan makanan dalam wadah yang lebih besar. Setiap orang yang hendak minum, harus menuangkannya untuk temannya terlebih dulu. Pada acara minum, pantang menuangkannya untuk diri sendiri.

    Sake tanpa disaring di Gyu-Kaku
    Mabuk setelah minum sake adalah hal yang biasa. Apalagi minuman dengan kadar alkohol tinggi ini (sekitar 20%) harus selalu hadir dalam setiap acara. Sejak remaja mereka sudah boleh minum sake. Namun, tentu saja hanya satu atau dua cangkir. Sake selalu disajikan dalam tiga kategori. Dari yang biasa sampai spesial. Jenis sake yang paling biasa disebut nikyu. Kualitas yang diatasnya disebut ikkyu. Sedangkan yang spesial disebut tokkyu. Untuk acara seperti pernikahan, perayaan karena promosi jabatan atau hanya sekedar makan malam romantis tentu saja harus sake spesial. Tingginya kadar alkohol di dalam sake membuat kesan orang Jepang suka sekali mabuk. Selain sake, mereka juga suka sekali minum whisky dan bir.

    Selain ketiga hal diatas, banyak tradisi lain yang menarik. Saling bertukar kartu nama seperti yang sering kita lakukan saat bertemu kenalan baru, dipercaya berasal dari Jepang. Oleh karena itu, kartu nama adalah hal yang penting seperti halnya telepon genggam. Sebagian besar perusahaan Jepang mencetak kartu nama karyawannya dengan kertas dan bentuk yang menarik. Semakin bagus kartu namanya, semakin bergengsi perusahaannya. Masih menganggap orang Jepang misterius?

     
    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
    23